Dilema

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 10 March 2016

Hai.. pria yang jauh dari pandangan setiap sudut. Bagaimana keadaanmu saat ini, apakah masih terlihat lebar senyuman itu di wajah mungilmu? Semakin hari, makin tak menentu perasaan ini. Resah, gelisah tanpa ada kabar dari dirimu. Rasa resah, rindu, dan gelisah terbayar dengan melihat hadirmu berada di pondok kostku. Walau tujuan hadir di kostku bukan untuk melihatku, setidaknya aku dapat melepas rindu melihat wajah dan tingkah konyol dari padamu.

“Kenapa harus dia? Apa yang kau lihat dari dia? Apa dia sesuai dengan kriteria yang yang buat?” Banyak pertanyaan yang menghampiriku. Bahkan tak sedikit dari temanku menentang dan melarangku atas perasaanku padamu. Salahkah bila rasa itu jatuh pada dirimu? Siapa yang salah? Aku yang telah mengagumimu diam-diam, atau bahkan kamu yang salah telah membuat aku kagum pada dirimu. Tak seorang pun dapat disalahkan, sebab rasa itu hadir sendiri pada diriku.

Awalnya, aku hanya penasaran pada dia. Setelah rasa penasaran makin meningkat. Aku mulai mengagumi apa yang ia miliki pada dirinya. Aku tahu apa yang ada dalam dirinya, dan aku mulai tahu sedikit tentang dirinya. Aku benci melihat lelaki perok*k, mungkin itu salah satu kriteria yang tak sesuai. Tapi, aku yakin bahwa dia merok*k bukan dasar dari dirinya. Dan aku yakin bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang tak dimiliki pria lain. Semakin hari rasa kagum itu berubah menjadi rasa sayang. Munafik bila aku bilang aku nggak sayang dia. Di balik rasa sayang itu, aku mulai belajar untuk tidak terlalu menyayanginya. Sehingga suatu ketika aku bercerita pada kakak tingkatku, yang aku percaya bahwa bercerita padanya aku akan dapat pencerahan atas tingkahku ini.

Sebenci-bencinya aku padanya, aku rindu bisa ngobrol dengannya lagi. Aku benci dengan keadaan sekarang yang banyak diamnya. Aku rindu dengan bully-bullyannya, dan tingkah konyolnya. Iya, susah buat untuk bisa mengutarakan pada diriku bahwa saat ini aku mulai menyayangi dia. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku tak bisa bertingkah seperti yang wanita lainnya untuk menunjukkan rasa simpati bahkan menunjukkan rasa sayangnya pada dia. Dan aku tahu bahwa aku seorang wanita yang memiliki gengsi yang besar. Setiap kali aku ingin mencari tahu sedang apa dirinya, “Aku selalu berpikir.. astaga betapa jatuhnya harga diriku melakukan hal itu.”

Kring.. Kring.. Kring.. Suara handphone-ku berdering. Aku kira telepon dari Mamaku, ternyata telepon dari Wijaya sahabat baikku. Waktunya tepat sekali, setiap kali aku merasa tidak baik. Waktunya selalu tepat untuk ada di sisiku. Betapa kuatnya kontak batin kami sebagai sahabat. Awalnya ia bercerita kisahnya yang ia rasakan ketika pergi jalan bersua dengan teman kami parando yang semua orang mengira bahwa mereka telah menjalani hubungan.

“Ka Ra.. ada ceritaku.. lucu loh,”
“Apa dek? ceritalah.”
“Kemarin kan aku jalani ini ke rumah Parmo. Eh seru banget tahu kak, naik ke puncak bareng parando,”
Hahaha.. sembari sambil bercerita. Aku pun sembari tertawa, “Hahaha.. dasar adik konyol.”

“Hoam..” sejam teleponan melepas rindu dengan si adik kecil sekaligus sahabat itu, aku mulai mengantuk. Wajar saja mengantuk secara jam menunjukkan pukul 12. 30 WIB. Aku pun mengakhiri telepon dengan ucapan, “Selamat tidur adekku sayang.” Risih melihat tingkah laku dan perbuatan konyol jika kami berdua. Tak ada bedanya walaupun jarak telah terbentang jauh. Dan tak ada cerita yang terlewatkan antara kami. Sehingga segala seluk beluk tingkah bodohnya kami saling tahu.

Usai sudah aku melihat foto-foto semasa SMA, tiba-tiba moodku berubah sedih nggak jelas. Betapa lemahnya aku saat ini, aku tak suka dengan keadaanku saat ini. Kenapa harus sekarang, kenapa di waktu yang tak tepat? Kenapa dan selalu Kenapa? Inikah pilu menyimpan rasa sendiri? Inikah yang dinamakan sakit hati? Perihnya mengagumi seseorang yang tak tahu perasaan kita. Sedih ketika orang yang kita kagumi lebih dekat pada teman baik kita, teman kita sering sama dengan kita. Aku nggak cemburu, aku juga paham bahwa kedekatan mereka tak dapat aku pungkiri. Yang salah siapa? Iya saya kan?

Terkadang, aku merasa memandangku seakan terlihat aneh dengan sorotan mata mereka yang melihat aku cerita tentang dia. Tapi, aku nggak bisa menahannya sendiri. Rasanya aku ingin berbagi dengan mereka, berbagi betapa sesaknya yang ku rasakan saat ini. Aku tak dapat menjelaskannya. Iya Tuhan, rapuhnya diriku. Aku berharap cepat atau lambat, aku bisa mengontrol emosionalku. Aku berharap bisa mengasihinya menyayanginya dengan hati yang tenang tanpa membuat orang di sekitarnya dan di dekatnya sekarang merasa ilfil dengan tingkahku yang seakan over pada dirinya.

Hai, pria yang telah membuatku sedih karena mengagumi dan menyayangimu dari kejauhan. Tak ada harapan yang lebih besar dalam diriku untukmu, semoga di mana pun engkau berada. Tetaplah menjadi lelaki luar biasa. Doaku padamu, semoga apa pun tanggung jawab yang saat ini engkau emban dalam hari-harimu, tetap semangat dan semangat terus sampai tanggung jawabmu selesai di bulan april mendatang. Aku bahagia dapat mengagumi, menyayangimu, dan mengasihimu. Walau terkadang air mata membasahi pipi ini, namun senyummu adalah semangat buat diri ini.

Cerpen Karangan: Era Elfriana Sitanggang
Facebook: Eraelfriana Sitanggang

Cerpen Dilema merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Sebuah Angin

Oleh:
Matahari menyinari halaman sekolah yang dipenuhi para siswa. Mereka akan segera melaksanakan upacara sekaligus pengumuman para juara dalam Lomba Pionering yang berlangsung dua hari yang lalu. Upacara berlangsung dengan

Il Vero Amore

Oleh:
Namaku Doni Eka. Biasa dipanggil Doni. Aku lahir dan besar di Jakarta. Tahun 1997 keluargaku memutuskan untuk pindah rumah ke Bogor di kampung halaman Kakekku dikarenakan Kakekku sakit parah

Shakti dan Shinta

Oleh:
Shinta Dunia ini begitu indah. Begitu juga dengan hidup. Aku selalu mewarnai hidupku dengan senyuman. Aku ini termasuk gadis berkepala batu dalam urusan emosi, karena selama 19 tahun aku

Anugerah Cinta Terindah

Oleh:
Anugerah cinta? Aku hanya berpikir apakah ini anugerah cinta terindah yang diberikan Tuhan untukku. Cinta yang hanya sebatas kata tanpa memiliki tapi itu indah. Berhenti melihat dari jauh karena

Gara Gara Diary

Oleh:
Aku melangkah menelusuri jalan setapak yang setiap hari kulewati. Aku menatap rumput-rumput kecil yang melambai-lambai tertiup angin. Jadi teringat pada puisi yang kutulis di diary. Ngomong-ngomong masalah diary. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *