Dinda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 19 June 2017

Malam Minggu yang sangat dingin setia menemaniku yang sedang termangu menunggu bus Budiman di halte Yasmin. Aku hendak pulang ke kampung halaman karena mendapat kabar bahwa Umi sakit. Saat itu waktu mulai menunjukkan pukul 19.00, aku berharap masih ada bus yang terakhir yang akan mengantarku pulang. Setengah jam aku menunggu sembari menggigil kedinginan, akhirnya bus yang aku tunggu mulai tampak, bus jurusan Tasik-Parung.

Di dalam bus hanya tersisa satu kursi yang kosong dari dua kursi berjejer, betapa beruntungnya aku. Kursi itu berada di barisan tengah dan sudah ada seorang ibu-ibu yang menduduki kursi sebelahnya. Tanpa melihat ke arah si ibu-ibu, aku langsung duduk di kursi bus. Saat mungkin sekitar lima menit setelah aku duduk, aku mencium wangi parfum yang sangat segar, terasa amat menyejukkan, meskipun tadinya aku kedinginan. Lama-lama aku mulai penasaran dengan ibu-ibu yang ada di sampingku ini, kenapa aroma ibu ini sangat harum.

Tak terasa waktu menunjukan pukul 11 Malam, dan aku terdiam dengan mata yang masih melek, masih memikirkan bagaimana kondisi Umi, dan aku merasa ibu yang ada di sampingku sudah tidur beberapa jam yang lalu. karena masih penasaran, aku memutarkan leherku ke kiri untuk melihat ibu yang ada di sampingku itu. Setelah aku melihatnya, seketika aku terkejut sekaligus kagum, ternyata yang sedari tadi ada di sampingku adalah seorang gadis yang mungkin seumuran denganku. Wajahnya sangat manis, meskipun matanya tertutup. dengan menggunakan kerudung berwarna merah muda, gadis ini semakin manis saja. Tak sadar aku terus memandanginya, aku merasa nyaman melihat wajahnya, apalagi ditambah dengan harum parfumnya yang menyejukkan.

Sudah cukup lama aku memandanginya. Tanpa sadar, karena bus yang belok tajam ke kanan, badanku bergerak ke kiri tanpa bisa aku kontrol. Badanku mengenai gadis di sampingku, dan pipiku sedikit mengenai kepalanya. karena lumayan panik, aku langsung membenarkan posisi dudukku lurus ke depan. Gadis di sampingku terbangun, masih dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, dia bertanya, “a, ini masih jauh ya?”, keringat dingin keluar dari dahiku, apakah dia bertanya kepadaku? Apakah dia tahu akulah yang membuatnya terbangun?. Pandanganku masih tetap lurus ke depan, dan berpikir mungkin dia bukan bertanya padaku. “Eh a maaf ya! Saya sudah tidak sopan”, lanjutnya kemudian. Aku yang masih belum yakin dia bertanya padaku, dengan ragu dan perlahan memandang sedikit demi sedikit ke arahnya, dan saat aku melihat matanya, matanya sedang melihat ke wajahku. “Sekali lagi maaf a, saya sudah tidak sopan tadi tiba-tiba bertanya”, katanya dengan suara yang… terdengar lembut. “Ka.. kamu bicara ke saya?”, tanyaku konyol. Dengan tersenyum dia menjawab, “memangnya sama siapa lagi? Di sini kan hanya ada saya dan Aa”, senyumannya mampu membuatku terdiam mungkin selama 7 detik, “oh.. oh i.. iya tidak apa-apa”, jawabku gelagapan. Dia kembali tersenyum padaku dan memalingkan wajahnya ke jendela bus, mungkin dia tidak bisa tidur lagi untuk saat ini.

Senyumannya benar-benar telah membuat beberapa uratku putus, dengan memberanikan diri aku bertanya, “memangnya mau ke mana teh?”, dia menoleh ke arahku dan menjawab, “Tasik a, jangan panggil teteh a! Panggil saja Dinda”, jawabnya sambil kembali melontarkan senyumannya yang begitu hangat dan manis bagaikan bajigur. Dan kembali aku terdiam, dia menyuruhku memanggilnya Dinda!!? Sejanak aku terbawa perasaan, ah itu karena namanya Dinda, bukan karena apa-apa. “Ta..Tasik? Tasiknya daerah mana?”, tanyaku, karena tempat tujuannya ternyata sama dengan tempat tujuanku. “Kawalu a”, jawabnya. Singkat tapi membuatku merasa ingin mendengar jawaban itu berkali-kali, karena lagi-lagi daerah yang lebih spesifik yang dia tuju dengan daerah yang aku tuju adalah sama. kemudian aku bertanya dengan nada yang terdengar sangat penasaran “kawalu???”, “Iya a, memangnya kenapa?”, tanyanya dengan dahi berkerut tanda keheranan. “Mamat, sebut saja saya Mamat”, perbedaan nama yang jauh kelasnya antara Dinda yang elegan dengan Mamat yang seadanya. “Saya juga mau ke Kawalu”, lanjutku, “wah kebetulan sekali ya”, ucapnya sambil lagi-lagi tersenyum, “memangnya Dinda dari mana?”, tanyaku, untuk pertama kali aku menyebut namanya, “saya dari Bogor mat, dari IPB Mau pulang kampung hehe”, jawabnya manis, dan untuk pertama kali juga dia menyebut namaku “saya juga dari IPB Din”, jawabku girang, “kamu dari jurusan apa?”, tanyaku kemudian, “jurusan komunikasi masyarakat, Mamat jurusan apa memangnya?”, jawab Dinda yang kemudian bertanya balik, “saya jurusan Silvikultur”, jawabku senang, “eh maaf Dinda, gara-gara saya kamu jadi tidak tidur lagi”, lanjutku meminta maaf, “bukan salah mamat kok, saya memang sudah tidak ngantuk lagi sekarang”, jawabnya ramah menenangkan.

Kemudian bus berhenti di rest area, Dinda keluar dari bus untuk ke kamar kecil. “Mau saya antar Din!?”, tawarku konyol, “Tidak usah, saya bisa sendiri”, jawabnya santai, masih mempertahankan senyumnya yang manis. Aku melihat di bawah di dekat telapak kakiku ada sebuah kartu tergeletak, kemudian aku mengambilnya dan melihatnya, ternyata kartu itu adalah sebuah kartu Mahasiswa, tertulis nama “Dinda Maryam”, dengan foto gadis yang berwajah cantik dan manis. Entah apa yang ada di pikiranku, aku menyimpan kartu Mahasiswa milik Dinda itu ke saku jaketku. “Maaf ya Din, ini yang nantinya akan menjadi alasanku untuk bertemu kamu lagi”, ucapku dalam hati.

Dinda sudah kembali ke dalam bus, dan entah kenapa sejak Dinda dari luar tadi sikapnya padaku menjadi dingin, Dinda hanya tersenyum sekejap kepadaku dan duduk sambil memandangi jendela bus. Aku juga tidak mau mengganggu kenyamanannya, dan saat bus kembali melaju, aku mulai mengantuk dan tertidur.

Mungkin Beberapa jam Kemudian terdengar suara seseorang yang membangunkanku “Maaf Mat bangun! Ini busnya sudah sampai di terminal”, ternyata itu suara Dinda, “oh iya Dinda”, kataku sedikit masih mengantuk. Aku kemudian berdiri dan mempersilakan Dinda untuk keluar terlebih dahulu. Kemudian aku mengambil tasku yang agak berat di atas tempat penyimpanan. “Yu mat”, ajak Dinda, “yo silahkan Dinda”, ucapku. Aku dan Dinda berjalan keluar dari bus, saat itu menunjukkan pukul 3.45, saat aku dan Dinda keluar, Dinda menghampiri seorang laki-laki yang sudah stand by di atas motor, “mat, saya duluan ya”, ucap Dinda ramah, “Assalamu’alaikum”, lanjutnya. Belum sempat aku menjawab, laki-laki yang membonceng Dinda menjalankan motornya dengan segera, “wa’alaikumsalam”, jawabku. Aku lihat Dinda semakin menjauh dari pandangan, tapi aku masih bisa melihat senyumnya yang manis yang masih menempel di wajahnya yang terus melihat ke arahku, aku membalas senyumnya.

Aku berharap suatu saat nanti, aku bisa melihat wajah Dinda yang cantik dan senyumannya yang manis, bisa memperhatikan sikapnya yang hangat dan ramah, dan bisa mencium aroma parfumnya yang menyejukkan. Aku sangat berharap semuanya akan terjadi lagi. Oh ya, aku merasa cemburu saat melihat Dinda bersama laki-laki tadi, apakah aku telah jatuh cinta?

Cerpen Karangan: Ai Rahmatillah
Facebook: rahmat illahi ai

Cerpen Dinda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sapu Tangan Merah

Oleh:
Musim hujan banjir, musim kemarau kering, musim kopi berhamburan rezeki. Seperti hati ku, saat sedang musim cinta, hanya di banjiri bayangan bayangan wajah si dia. Sore ini cuaca agak

Surat Untuknya

Oleh:
Ia berdiri di sana, sedang berbicara dengan seorang pelayan yang hendak mengantar pesanan. Tubuhnya tinggi, tegap, dan yang pasti, menawan. Baiklah, ini mudah. Aku hanya perlu mendekatinya dan menyerahkan

Beneran Dajavu

Oleh:
Pagi hari yang sangat dingin. Kurebahkan tubuhku di kasur yang empuk. Rasanya malas sekali unuk bergerak. Untuk menyapa mentari saja lewat jendela kamar rasanya sangat enggan. Aahhh aku hanya

Never Leave You (Part 1)

Oleh:
-Jatuh cinta dan patah hati itu udah sepaket kayak paket COMBO di KFC- Andika Pov Setiap manusia di dunia pasti sudah familiar dengan yang namanya “Sahabat”. Pastilah. Suka duka

Khayalan Semu

Oleh:
Malam yang sunyi, hening, sepi, kosong, hampa. Yaaa… Begitulah yang kurasakan malam ini. Kutatap langit dari dalam jendela kamarku, tak terlihat satu bintang pun yang berkelip. Apakah langit ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *