Doa Untuk Rembulanku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 10 May 2017

“H-Handy… Aku ingin mengatakan bahwa aku akan pulang ke Pakistan esok lusa. Ayahku telah menjodohkanku dengan anak seorang tuan tanah dari Lahore,” ucapnya berlinangan air mata.

Seketika perkataannya menusuk hatiku. Pikiranku yang melambung tinggi seketika terhempas oleh kenyataan. Impianku untuk tetap bersamanya seakan hancur berkeping-keping. Aku harap ini hanya mimpi buruk dan aku ingin segera terbangun dari tidurku.

“Ayahku melakukannya hanya demi mengangkat martabat keluarga. Ia juga berkata bahwa hidupku akan lebih baik jika menikah dengannya. Andai saja dia memberiku pilihan, aku lebih baik tinggal di sini dan merajut masa depan bersama Rudi,” jelasnya.
“Apakah tak ada cara lain untuk membatalkan perjodohan itu? Mungkin kau dapat membujuk ayahmu secara halus agar kau tak hidup dalam keterpaksaan,” ucapku mendesak.
“Hal itu sudah kulakukan. Sayangnya itu tidak berhasil. Ayahku orang yang keras dan setiap kehendaknya tak suka diabaikan. Bahkan ibuku tak mampu membantuku karena sikap ayahku itu. Rasanya aku ingin lari dari kenyataan dan mati,” ucap Nazea terdengar putus asa.
“Tidak, Nazea! Jangan lakukan itu! Apapun yang mereka lakukan selama itu untuk kebaikanmu, terima saja itu. Bukankah kau juga ingin melihat mereka bahagia?” ucapku sambil memegang kedua bahunya dan menatap matanya yang berkaca-kaca.
“Tidak Handy! Bagaimana aku bisa membuat mereka bahagia sementara aku hidup dalam keterpaksaan? Ini benar-benar sulit,” ucapnya terisak.

Mendengar perkataannya membuat diriku bagai dihadapkan dengan sebuah cermin. Keterpaksaan. Benar-benar menyiksa. Itulah yang kurasakan selama ini. Sejujurnya aku tak pernah rela jika Nazea menjalin hubungan cinta dengan lelaki lain. Apalagi sampai melupakanku demi lelaki yang dicintainya. Tetapi di sisi lain aku harus bisa menahan kecemburuan itu. Pikiranku tetap membungkam mulutku untuk mengungkapkan perasaan cinta yang bergejolak dalam hati. Aku tahu, kata “cinta” bagaikan sebilah pisau yang akan memutuskan tali persahabatanku dengannya. Aku hanya bisa memeluknya dengan rasa empati dan membuang jauh keegoisanku akan perasaan ini. Nazea tak berhenti menangis dalam pelukanku. Aku mengelus kepalanya dan berharap bisa sedikit meredakan kesedihannya.

“Nazea, dengarkan aku! Seberapa sulit kau menghadapinya kau harus tetap kuat. Singkirkan egomu dan pikirkan kebaikan orang tuamu. Aku yakin waktu akan menghapus semua kegelisahan dan keterpaksaan dalam menghadapi kenyataan. Aku harap kelak suamimu begitu menyayangimu dan bisa memberimu kebahagiaan yang lebih dari ini. Yakinlah Tuhan selalu memberikan jalan kebahagiaan meskipun menurut kita itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Semua ada waktunya, mungkin suatu saat nanti kau bisa menerima kehadiran suamimu dengan tangan terbuka. Hapus air matamu dan tersenyumlah. Apapun yang terjadi kau pasti mampu mmenghadapinya. Berjanjilah padaku, kau akan tegar menghadapi semua ini.” ucapku.

Kulepaskan pelukanku dan menyeka air matanya. Wajah Nazea yang semula begitu sedih perlahan-lahan melukiskan segaris senyum di bibirnya. Hatiku cukup lega melihat senyumannya.
“Terima kasih atas saranmu, Handy. Aku tak tahu harus bagaimana. Berkat keberadaanmu hatiku merasa tenang. Aku harap suatu saat nanti aku bisa menemukan seseorang sepertimu bahkan aku mengharapkan suamiku juga bisa membuatku nyaman sepertimu. Aku janji, aku akan berusaha untuk tegar menghadapi semuanya,” ucapnya sembari tersenyum kecil.
Aku membalas senyumannya meski kenyataan pahit harus kutelan. Hati kecilku masih tak rela melepasnya. Aku tak bisa berbuat banyak selain merelakannya pergi dan tidak membuat situasi ini semakin memburuk.

“Handy, jangan sampai Rudi mengetahui hal ini. Aku tak ingin membuatnya sedih dan kecewa,” ucapnya memohon.
“Baiklah, apapun itu akan kulakukan demi kebaikan kalian berdua.”

Malam semakin larut, aku mengantarnya pulang ke rumah bibinya yang letaknya tak jauh dari rumahku.

Lima hari berlalu. Semuanya terasa berubah tanpa kehadiran Nazea. Rembulanku lenyap terhalang gerhana. Malamku gelap kehilangan rona cahaya rembulan yang teduh. Langkahku hampa tanpa gairah. Ia yang membuat jantungku berdetak telah pergi. Separuh nyawaku telah dibawanya hingga negeri lain. Meski Nazea selalu menghubungiku lewat media sosial dan bercakap-cakap via Skype, tetapi rasanya jauh berbeda dengan kehadirannya di sini.

Di sisi lain aku melihat hal berbeda dari Rudi. Ia tak pernah mempertanyakan soal Nazea kepadaku. Aku selalu melihatnya menggandeng seorang wanita dengan mesra. Seketika aku merasa ragu akan cintanya pada Nazea. Jika Nazea melihatnya, mungkin ia akan terlihat lebih sedih dan kecewa. Bahkan aku lebih terpukul melihat perilaku Rudi seperti itu. Tetapi setidaknya kepergian Nazea adalah pilihan tebaik agar tidak melihat penghianatan Rudi yang amat menyakitkan.

Suatu ketika aku menerima sebuah pesan singkat dari Nazea melalui akun Whats App-nya. Ternyata yang mengirimkan pesan bukanlah Nazea melainkan ibunya. Ia memintaku untuk datang ke acara pernikahan Nazea. Hal yang cukup berat bagiku untuk menghadiri sebuah pesta di mana sang pujaan hati bersanding dengan lelaki lain. Mulanya aku menolak dengan alasan sibuk kuliah tetapi setelah mendengar kabar buruk tentang kesehatan Nazea aku merasa khawatir dan akhirnya menerima permintaan ibunya.

Aku segera mencari passport yang pernah kugunakan tahun lalu untuk liburan ke Hongkong. Tak lupa aku mengurus visa untuk berkunjung ke negaranya. Aku membawa uang tabunganku untuk biaya selama di sana. Awalnya kedua orangtuaku tak menyetujuinya karena tindakanku dianggap berlebihan. Aku menjelaskan tentang kondisi Nazea saat ini, mereka pun berempati dan mengizinkanku untuk pergi ke sana. Aku sangat berterima kasih pada mereka berdua.

Sebuah tekad yang kuat telah membawaku tiba di Karachi, Pakistan. Setibanya di bandara kulihat seorang lelaki bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam legam melambaikan tangan ke arahku. Setelah ku merenung mengingat wajahnya, ternyata ia adalah sepupu Nazea, namanya Ajmal. Ia tak lain adalah putra dari bibi Nazea yang tinggal di dekat rumahku. Ia sudah tiga tahun tinggal di Pakistan untuk mengurus bisnis keluarga.
Ia segera membawaku ke rumah Nazea menggunakan mobil. Setibanya di rumah Nazea, aku merasa canggung dengan keadaan sekitar. Rumahnya tak begitu besar namun banyak orang berkumpul di sana. Mereka becakap-cakap menggunakan bahasa Urdu sembari menatapku dengan tatapan yang membuatku merasa sangat asing bagi mereka. Tak berapa lama seorang wanita paruh baya mengenakan gamis dan kerudung menghampiriku. Ia adalah ibu Nazea. Wajahnya yang keriput semakin kusut dengan raut wajah cemberut. Ia langsung menghampiriku.

“Assalamu alaikum,” sapaku sembari menunjukkan salam seperti warga Muslim di sana.
“Wa alaikum salam. Syukurlah kau sudah datang kemari. Tante benar-benar membutuhkan bantuanmu, Nak,” jawabnya cemas.

Ibu Nazea kemudian menarik tanganku untuk menjauhi orang-orang di sekitar halaman rumahnya. Rumahnya cukup menarik. Meski terlihat sederhana namun begitu luas rupanya. Banyak ruangan di dalamnya. Ibu Nazea membawaku ke lantai dua. Setibanya di sebuah ruangan ia membuka sedikit tirai yang menutupi isi ruangan itu. Kulihat seorang gadis bertubuh kurus kering menatap jendela. Ia mengenakan gaun anarkali penuh pernik. Keindahan pakaian itu seakan tak berarti melihat wajahnya yang pucat dan sayu.

“Nak, apa kau lihat itu? Dia Nazea. Setelah dia tiba di rumah ini dia seperti kehilangan gairah. Nafsu makannya berkurang, kondisi kesehatannya pun menurun. Sepanjang hari ia habiskan hanya untuk melihat keadaan sekitar di balik jendela. Aku sudah memanggil dokter untuk memeriksa kesehatannya. Dokter berkata bahwa ia hanya terkena demam biasa. Kekhawatiranku tak cukup sampai di situ saja mengingat tanggal pernikahannya sudah semakin dekat. Setiap malam dia mengigau dan menyebut namamu. Kukira dia sangat merindukanmu, maka dari itulah aku mengundangmu datang kemari,” jelas ibu Nazea cemas.
“Lalu apa yang bisa aku lakukan untuknya?”
“Nak, kau bisa membantu kami membujuknya untuk melakukan segala aktivitas yang pernah dia lakukan. Kembalikan gairah hidupnya dan buatlah dia pulih kembali hingga hari pernikahannya tiba. Aku sudah melakukan segala cara bahkan membujuknya. Tetapi dia tidak menanggapi sama sekali, dia hanya mengangguk tanpa melakukan apa yang kami minta bahkan ayahnya merasa kesal sehingga memarahinya hampir tiap hari. Hal itu membuatnya depresi. Nak, tante mohon dengan sangat,” pintanya
“Baiklah, aku akan membantu Tante sesuai dengan kemampuanku”
“Tapi ingat pada batasanmu,” suara ayah Nazea dengan nada membentak terdengar dari tangga.
Ia menghampiri kami dan berkata, “kau harus ingat! Nazea akan menikah tiga hari lagi, aku tak ingin ada fitnah dan kesalah pahaman yang terdengar hingga pihak mempelai pria. Mengerti?”
“Baiklah, saya mengerti. Apa yang Paman inginkan akan saya lakukan, saya paham betul dengan batasan saya dan apa akibatnya jika saya melanggar batasan itu. Saya juga ingin melihat Nazea bahagia di hari pernikahannya.”

Ayah Nazea terdiam. Ia segera pergi bersama ibu Nazea ke lantai bawah. Ayah Nazea memang terlihat galak, tetapi aku menyadari bahwa apa yang dilakukannya hanya untuk meningkatkan martabatnya. Aku pun melihat kembali Nazea dari balik tirai yang menutupi kamarnya.

“Nazea! Nazea!” sahutku.
“Handy? Kaukah itu?!” sahutnya dari balik tirai.
“Benar, ini aku. Nazea, mengapa kau jadi seperti ini? Bukankah kau telah berjanji akan berusaha untuk tegar?”
“Ini sulit, Handy. Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menerima kenyataan. Tapi rasanya begitu berat tanpa kehadiranmu di sini. Aku benar-benar lemah dan putus asa.”
“Hm, baiklah kalau begitu. Aku akan membantumu untuk menghadapi semuanya hingga hari pernikahanmu tiba. Tapi ingat! Aku tak akan selamanya ada bersamamu. Aku akan segera kembali ke Indonesia setelah upacara pernikahanmu selesai.”
Hening. Nazea tak membalas perkataanku dari balik tirai.

“Nazea, apa kau mendengarku?” tanyaku cemas.
“Baiklah, Handy. Aku mengerti. Sejujurnya hidupku terasa berat tanpamu. Menjalani hari-hari menjelang pernikahan itu rasanya bagai menjalani sisa hidup menjelang kematian bagiku. Maka dari itu aku ingin menikmati hari-hariku bersama orang-orang yang kusayang, termasuk kau, Handy,” ucapnya lirih.
Mendengar ucapannya membuat hatiku semakin berat melepasnya. Apa yang ia rasakan saat ini rupanya sama denganku. Hal yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menikmati sisa hidupku bersama Nazea. Udara yang kuhela sebentar lagi hilang. Saat terakhir akan kulewati bersama sisa nafasku yang berarti.

Hari-hari yang kulewati bersama Nazea sudah berlalu. Pernikahan Nazea dengan putra seorang tuan tanah telah tiba. Kegiatanku bersama Nazea pun cukup terbatas. Menatapnya dari jarak jauh dan berbicara dengan isyarat bahkan bercakap-cakap pun terhalang oleh tirai walaupun itu tidak lama. Tapi aku sangat menikmatinya karena sisa pertemuan kami dapat dilalui bersama.

Upacara pernikahan segera dimulai pagi ini. Semua orang bersuka cita. Mereka mengenakan pakaian khas Pakistan yang mewah. Aku meminjam gamis dari Ajmal karena tak ingin dianggap asing lagi bagi orang-orang sekitar. Mempelai pria sudah datang bersama kerabatnya. Wajahnya ditutupi cadar dari rangkaian bunga. Ia kemudian duduk di depan penghulu. Nampaknya ia sudah cukup siap menjalani kehidupannya bersama Nazea. Melihat suasana ini hatiku terasa lebih berat daripada sebelumnya. Bagai raga yang hendak berpisah dengan nyawanya. Aku hanya jasad tak bernyawa yang siap terkubur bersama kenangannya. Aku menghela napas dalam-dalam berusaha menerima keadaan yang menyakitkan di depan pelupuk mata.
Di tengah suasana meriah, tiba-tiba ibu Nazea menghampiriku. Wajahnya tampak panik dan pucat. Ia segera membawaku ke ruang ruas pengantin. Kulihat Nazea terbaring lemas di atas sofa. Gaun anarkali merah dengan pernik emas yang dipakainya sama sekali tak berarti saat ia lemah.

“Nazea, kau kenapa?” tanyaku sembari memegang tangannya yang gemetar.
“H-handy aku gugup. Aku takut menghadapinya,” ucapnya dengan suara parau.
“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin kau mampu menghadapinya.”
“Tidak Handy. Aku tak bisa melakukannya. Bantulah aku agar bisa bersanding dengan mempelai pria. Kumohon,” pintanya.

Aku pun mengangguk meski aku tahu berdiri di sanpingnya adalah hal mustahil bagiku. Mungkin rasa berat hatiku secara tidak langsung telah membebani hatinya juga. Aku harus benar-benar melepasnya dengan ikhlas tanpa beban sehingga ia dapat menjalani pernikahannya dengan tenang dan penuh suka cita. Aku pun membantu Nazea terbangun dari sofa dan memapahnya dengan bantuan ibunya juga.
“Tersenyumlah, Nazea. Masa depan yang indah sudah menunggumu di sana,” ucapku.
Nazea tersenyum dan menatapku, “terima kasih Handy.”

Aku pun memapahnya hingga daun pintu. Kulihat Nazea bisa menghadapinya dengan baik. Sosok wanita pujaanku perlahan menjauh dari pandanganku. Ia menghampiri seseorang yang telah menantinya di gerbang masa depan. Ijab qabul mengikatnya erat dalam sebuah janji pernikahan. Aku di sini hanya bisa menatapnya dari kejauhan tanpa pernah mengungkapkan rasa cinta yang ada. Nazea, rembulanku tak pantas bersanding dengan lelaki pengecut sepertiku yang hanya bisa memendam sebuah rasa. Biarlah ia berjalan bersama takdir yang telah dikehendaki Tuhan. Aku hanya bisa pasrah berharap rembulanku tak kehilangan lagi ronanya.

Rembulanku, bersinarlah terang. Akan kusertakan namamu dalam setiap doaku. Keselamatan dan kebahagiaan selalu menyertaimu. Biarlah namamu selalu terukir dalam hatiku. Nazea Rahman Haider, bulan purnama terindah yang menerangi malamku.

Cerpen Karangan: Ira Solihah

Cerpen Doa Untuk Rembulanku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dalam Diam

Oleh:
“Kring… kring.. kring..” jam beker ku berbunyi sangat nyaring pada pukul 06.30 yang sengaja ku setel untuk membangunkan ku dari tidur panjangku. Aku sontak terbangun dan dengan langkah sempoyongan

Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
Hari Senin, hari yang sangat melelahkan itu karena aku mengawali hariku dengan upacara yang sangat membosankan ditambah aku anggota OSIS, hari itu sebenarnya bukan tugasku menjadi petugas, tapi Mika

Bintang Tak Tergapai

Oleh:
Langit. Langit biru cerah di pagi hari ini menyambutmu dengan harap bahagia. Awan. Awan putih suci menggambarkan suasanamu hari ini. Mentari yang bersinar pun kini telah menaungi segala cerita

Aku Selalu di Ujung Sini

Oleh:
Aku menempati kursi penonton terdepan namun berada di paling ujung. Selalu. Agar kedua mata yang banyak orang menyebutnya belok ini tetap dapat melihat dengan utuh potongan tubuh atletisnya dengan

Mr Cool Terpaksa Jatuh Cinta

Oleh:
Menyebalkan deh! Si jenius yang ganteng itu bener-bener bikin hati mendidih. Dia terlalu baik. Terlalu mempesona bahkan terlalu menyihir perempuan. Semua hampir jatuh cinta padanya. Untung aja ‘hampir’ ya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *