Dua Kali Seumur Hidup

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 5 April 2017

Masih ingatkah kau ketika aku pertama kali mengirimimu pesan? Waktu itu kau belum mengenalku, aku pun juga.
Masih ingatkah ketika aku dengan beraninya mengajakmu untuk bertemu? Bertemu untuk kepentinganku. Aku tidak sendirian menemuimu, tapi aku mengajak temanku.
Aku masih teringat begitu jelas ketika kita bertemu pertama kalinya, waktu itu aku menunggumu cukup lama. Dan akhirnya kau pun tiba. Saat itu, kau menatapku. Kau sudah mengira jika itu aku. Aku pun juga. Itu pertemuan pertama.

Pertemuan kedua. Waktu itu hari sudah sore. Pertemuan kedua ini aku juga mengajak temanku. Waktu itu aku menunggumu sungguh sangat lama. Hingga aku harus misscall nomormu sampai beberapa kali. Dan ternyata kau tertidur. Hingga akhirnya kau baru tiba ketika matahari benar-benar sudah enggan menampakan sinarnya.
Aku masih ingat jelas dan detail bagaimana kita bertemu waktu itu. Bahkan percakapan kita waktu bertemu pun aku masih ingat jelas.

Satu lagi, masih ingatkah kau ketika aku dengan anehnya mengirimimu pesan melalui BBM? Dan kau selalu membalas pesanku dengan singkat?
Aku tahu, mungkin itu aneh bagimu karena aku adalah orang yang baru kau kenal. Tapi kau harus tahu, waktu itu aku berusaha agar bisa selalu berkomunikasi denganmu. Entah apa alasannya. Hingga baru kusadari ternyata aku punya perasaan suka padamu.

Sebenarnya aku tidak semudah ini. Tidak mudah untukku membuka hati. Apalagi pada orang yang baru ku kenal sepertimu. Tapi kau perlu tahu. Aku sudah tahu banyak hal tentangmu hingga hatiku terikat padamu. Kau tak perlu tahu dari mana aku mengetahuinya.

Dulu, ketika aku masih mememiliki kontak BBM mu, aku sering menunggumu mengubah foto profilmu atau hanya sekedar membuat status. Aku begitu sangat senang ketika ada perubahan pada foto profilmu ataupun statusmu. Itulah yang bisa aku lakukan, karena aku takut untuk mengirimu pesan lagi. Hatiku tidak cukup kuat untuk melihat balasan pesanmu yang sangat singkat. Bahkan hanya kau baca tanpa kau balas. Kau harus tahu itu sangat menyakitkan bagiku. Tapi aku tidak menyalahkanmu karena kau tidak tahu apa yang sedang terjadi pada hatiku. Dan kau memang tidak salah.

Tahukah kau, dulu aku selalu berharap bisa melihat wajahmu lagi meski dari kejauhan. Ketika berangkat ataupun pulang sekolah aku selalu memperhatikan setiap pengendara motor yang melewati jalan dari atau menuju rumahmu, aku berharap salah satu dari pengendara itu kau. Bahkan ketika melewati sekolahmu pun aku juga memperhatikan satu persatu murid yang terlihat di sana. Berharap salah satu murid itu kau.

Tapi, Tuhan tak pernah menunjukan wajahmu lagi setelah pertemuan kedua itu. Hingga pada suatu hari, aku kehilangan kontak BBM mu karena BBM ku error. Sedih yang kurasakan saat itu. Aku tidak bisa melihat statusmu lagi, aku tidak bisa lagi menunggumu mengubah foto profilmu. Bahkan aku tidak tahu lagi bagaimana kabarmu.

Dan aku baru teringat. Sebelum kita bertemu dengan disengaja, sebenarnya kita pernah bertemu. Kita pernah berada di lokasi yang sama, tapi belum ada yang saling mengenal. Tapi waktu di lokasi itu aku sempat melihatmu meski wajahmu begitu asing di mataku, waktu itu.
Tapi aku akan selalu menganggap, kita baru bertemu dua kali. Karena dua pertemuan itulah kita saling mengenal.

Dan saat ini aku begitu sangat jauh darimu. Kau ada di sana, sedang menuntut ilmu di tempat lain. Dan aku di sini, masih di kota kelahiran kita. Dan semenjak aku kehilangan kontakmu, aku hanya bisa mendapat kabarmu dari Instagrammu. Dan lagi, aku hanya bisa memandangi foto yang kau unggah di sana. Hanya bisa membaca percakapanmu dengan teman lelaki ataupun teman perempuanmu di kolom komentar. Meski begitu aku tetap senang ketika ada hal baru yang terlihat di akunmu.

Aku memang sengaja tidak mengikuti Instagram atau sosial media milikmu lainnya. Dan saat ini kau hanya aktif di Instagram, jika suatu saat nanti Instagram itu kau privacy maka aku tidak akan lagi bisa melihatmu meski dari jauh sekalipun, aku akan sangat kesulitan mendapat kabarmu.
Aku tak tahu mengapa hingga sekarang aku masih mempertahankan perasaan ini. Mungkin karena kamu berbeda. Meski banyak yang lebih baik darimu. Tapi aku melihat perbedaan darimu yang tak pernah kutemui pada lelaki lainnya. Mungkin karena itu. Dan ketika aku mencoba untuk membuka hatiku pada orang lain, tetap tak bisa.

Aku tak tahu perempuan manakah yang ada di hatimu saat ini. Yang kutahu kau sekarang tak punya kekasih. Semenjak kau memutuskan hubunganmu pada perempuan itu tak kulihat lagi kau menyerukan status sendu di sosial mediamu. Menurutku, kau kini lebih baik. Kau lebih sering menghabiskan waktumu dengan hobimu, musik. Dan kau juga lebih dekat dengan alam. Kukira kau tidak suka dengan petualangan. Ternyata aku salah. Kini kau sering mengunggah fotomu dengan alam.

Aku mengharapkan suatu saat kau mengunggah foto dengan calon pendamping hidupmu. Aku akan merasa senang. Atau bahkan foto pernikahanmu kau unggah aku akan sangat senang. Pikiranku memang terlalu jauh, tapi dengan itu aku bisa tahu bahwa bukan akulah yang ditakdirkan bersamamu. Dan aku jadi tahu, jika suatu saat kita bertemu tidak akan ada kisah yang berlanjut di antara kita atau bahkan ketika bertemu pun kita tidak saling mengenal.

Kini, aku hanya bisa berkhayal jika suatu saat nanti kita akan kembali dipertemukan dan akan berlanjut menjadi kisah. Tapi aku juga tidak tahu, jika takdir hanya mempertemukanku denganmu hanya dua kali seumur hidupku.

Wallahu’alam.

Cerpen Karangan: Nur Hidayati
Blog: wannagoodlife.blogspot.com
Aku manusia yang sedang berusaha melawan diri sendiri. Bye!

Cerpen Dua Kali Seumur Hidup merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sarung Coklat

Oleh:
Pesona senja enam sore di ibukota memang cukup cantik. Namun tak sedikit pun memikat Zizi yang sedari tadi membujukku setengah mati untuk menaruh sajadah ke masjid. “Bia… Febia, ayo

Mas Yayan

Oleh:
Mas Yayan adalah pemuda yang bisa dibilang tak lagi muda. Usianya sudah lebih dari kepala tiga dan dia sama sekali belum memiliki keinginan untuk menikah. Tekad untuk mencari pasangan

Menanti Cinta Hingga Senja

Oleh:
Elsa. Itulah nama seorang gadis yang penuh dengan pengharapan. Hampir setiap malam sebatang pena biru berdansa di atas kertas. Ratusan halaman diary sudah tertulis. Lembaran demi lembaran mengisahkan cinta

Hanya Memberi

Oleh:
Perkenalkan, namaku Renata Syavira atau Rina. Aku bersekolah di salah satu sekolah favorit di daerah Boyolali. Sekarang aku duduk di kelas 3 SMP. Sebentar lagi lulus. Aku belum terlalu

Jarum Cinta

Oleh:
Melati hari ini datang paling awal di kelas, karena hari ini dia ada tugas untuk piket. Saat dari rumah suasana hati melati sudah sangat gembira bagaikan kupu kupu yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *