Dua Pelangi Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 22 September 2016

May Malika Hasna’ Zafirah, itulah namaku. Aku sering di panggil May oleh banyak orang. Aku adalah seorang gadis yang sangat menyukai pantai. Entah sejak kapan aku menyukainya, tapi yang jelas aku sangat menyukainya. Aku pun tidak tau apa yang membuatku menyukai pantai. Hanya saja, aku merasa nyaman saat di pantai apalagi saat senja hari. Aku dapat melihat indahnya mentari yang mulai merangkak pergi untuk bersembunyi, langit yang indah berwarna orange kemerah-merahan, melihat gulungan-gulungan ombak yang berlarian menghampiriku atau bahkan menabrak karang-karang dan mencipta butiran-butiran murni yang menyejukkan, dan melihat burung-burung yang pulang dari travellingnya. Suasananya akan lebih indah saat aku memejamkan mataku, aku merentangkan kedua tanganku dan kudengarkan bisikan-bisikan ombak membujukku serta hembusan angin menghempaskan rambutku yang hitam tergerai. Kubiarkan diriku menari-nari bersama hembusan angin. Bagai sang kupu-kupu yang menari-nari di angkasa. Aku tidak pernah bosan untuk datang ke pantai dan bahkan rumahku sangat dekat dengan pantai. Setiap senja aku pasti menghabiskan waktuku di pantai. Bahkan ayahku sampai membuatkanku sebuah gubuk kecil yang indah untukku. Sebuah rumah yang sederhana seperti rumah panggung yang terbuat dari kayu.

Kulirik jam tangan mungilku yang berwarna biru muda dan nampak jam tanganku menunjukkan pukul 06.00 sore. Kuturuni tangga rumah kecil itu dan kulangkahkan kakiku menuju rumahku yang tidak jauh dari situ.
“Assalamu’alaikum”, ucapku saat aku memasuki rumah.
“Wa’alaikumsalam”, jawab mamah dari ruang makan.
“May, tadi ada temen kamu nelepon”, kata mamahku sambil mengambil beberapa makanan ke piringnya untuk makan malam.
“Teman? siapa mah?”, tanyaku sedikit heran dan mendekati mamah di meja makan.
“Itu lho… Sahabat kamu waktu kamu kecil… Emm… Siapa namanya ya, mamah agak lupa?”, ucap mamah seraya mengingatnya.
“Siapa mah?”, tanyaku seraya mengambil makanan.
“Itu lho yang dulu sering nginep disini”, jawab mamah seraya mengingatnya.
“Oh, Rena?”, tanyaku meyakinkannya.
“Nah itu yang mamah maksud. Katanya dia mau main kesini, soalnya dia sama keluarganya mau pulang ke sini”.
“Benarkah? Hari apa mah? jam berapa? mamah nyimpan nomor teleponnya?”, pertanyaan ku utarakan bertubi-tubi seakan menandakan kebahagiaan dan ketidaksabaranku untuk menyambutnya.
“Kamu ini tanya mulu! nanti saja bicaranya, ayo kita makan!”, perintah mamah dengan sedikit kesal.
“Ah mamah… jangan marah dong! Nanti cantiknya ilang lho!”, godaku pada mamah.
“Biarin, yang penting papah kan tetep sayang sama mamah. Iya kan Pah”, jawab mamah sambil meminta pendapat papah.
“Yah, kalau mamah marah trus mamah mukanya jadi keriput, mendingan sih papah cari istri lagi”, jawab papah menggoda mamah.
“Betul betul betul… hahaha… dengerin tuh mah! Jangan marah terus, nanti papah cari istri lagi”, godaku pada mamah.
“Kalau papah cari Istri lagi ya kamu punya mamah tiri dong?”, tanya mamah sedikit memojokkanku.
“Iya ya… Kalau begitu papah jangan cari istri lagi deh. Aku nggak mau punya mamah tiri!”, kataku seraya melihat papah yang sedang asik makan.
“Iya deh…”, jawab papah mencerna lirikan dan perkataanku.

Setelah selesai makan malam, kurebahkan tubuhku ke tempat tidurku. Kupandangi langit-langit kamarku yang berwarna biru muda dengan awan-awan putih. Serasa aku sedang memandang langit biru nan cerah saat kulihat langit-langi kamarku. Apalagi tembok-tembok di sekeliling kamarku begitu indah dan cantik dengan lukisan bentang alam. Seolah-olah aku sedang berada di sebuah bukit yang hijau dan aku sedang berteduh di pohon yang rindang. Banyak binatang-binatang cantik menemaniku. Fikiranku selalu berkelana dalam imajinasiku yang tak pernah aku gapai itu. Bukit hijau, pohon yang rindang, kupu-kupu dan bunga yang berwarna-warni. Aku memang begitu menyukai suasana alam seperti itu. Sayangnya, di zaman yang semakin maju seperti ini, sangat sulit untuk menemukan tempat yang masih alami dan asri seperti yang selalu ada di angan-anganku. Semuanya telah berubah menjadi bangunan-bangunan pencakar langit yang sangat membuatku merasa bosan. Beruntung rumahku masih dekat dengan pedesaan yang cukup asri jadi tidak terlalu membuatku bosan. Pantai dekat rumahkupun masih tergolong sepi karena jauh dari perkotaan. Membuatku merasa kalau pantai ini milikku, karna hanya orang-orang sekitar tempat tinggalku saja yang datang kemari.

Terdengar kebisingan dari alarmku yang membuatku terpaksa bangun. Meski rasa lelahku belum terobati tapi aku harus bangun. Kalau aku tidak segera bangun, aku akan mendengarkan kebisingan yang jauh lebih bising dari alarmku. Apalagi kebisingan itu diiringi api yang berkobar-kobar. Itulah gambaran untuk mamahku saat membangunkanku. Dia akan teriak-teriak dengan muka yang menyeramkan dan berkata “Anak perempuan itu nggak boleh bangun siang nanti rezekinya dipatok ayam lho”. Yah itu adalah kata-kata andalan mamah saat membangukanku dan sepertinya itu adalah kata-kata andalan yang turun-temurun dari nenek moyang. Soalnya nenekku juga selalu berkata seperti itu dulu saat dia masih hidup. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi dan segera mandi. Setelah itu kurapihkan kamarku yang sangat berantakan bak kapal pecah kalau kata mamahku. Kubuka jendela kamarku dan kuhirup udara segar dari luar dan kupandangi pantai yang indah itu. Kebetulan jendela kamarku lurus dengan pantai. Aku segera ke luar untuk sarapan. Saat aku ke luar kulihat sesosok wanita yang sangat aku kenal.
“Rena?”, ucapku saat kulihat dirinya sedang menyiapkan makanan.
“Hay May, apa kabar?”, tanyanya dengan sangat lembut dan senyum yang merekah di bibirnya.
“Baik… bagaimana dengan kamu dan keluargamu?”, tanyaku balik kepadanya.
“Baik juga May”, jawabnya dengan ramah.
“Kapan kamu sampai? kok kamu udah dateng dan bawain makanan ajah?”, tanyaku heran.
“Oh… tadi malam pukul 11.00 malam. Ini yang masak mamah kamu, aku cuma bantuin mamah kamu bawa ke meja makan”, jawabnya dengan pelan dan lembut.

Rena adalah sahabatku sejak aku dan dia masih kecil. Aku sangat dekat dengan dia dan kami menganggap seperti saudara. Setelah sarapan, kulangkahkan kakiku ke ruang tamu. Memandang pantai di luar jendela dan melihat mobil ayah telah melaju pergi meninggalkan rumah. Hari ini semua orang sangat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ayah sibuk bekerja di kantornya, sedangkan ibu sibuk mengurus kebun bunganya dan dia sedang tidak ingin aku mengganggunya. Yah, memang keluargaku sangat suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan alam. Keluargaku tidak hanya memiliki taman bunga di depan rumah, tetapi juga memiliki kebun buah, sayur dan obat-obatan di belakang rumahku. Rasa kesepian ini membuat fikiranku melayang entah kemana. Tidak kusadari Rena sedang memperhatikanku yang sedari tadi melamun. Ia menghampiriku dan duduk di sebelahku.

“Hey, kenapa kok dari tadi ngalamun mulu?”, tanyanya sambil menyadarkanku dari lamunanku.
“Hm… nggak papa kok?”, jawabku.
“Ah kamu bohong. Jelas-jelas kamu ngalamun dan kelihatannya masalahnya serius?”, tanya Rena.
“Nggak kok…”, jawabku mengelak.
“Bosen yah kayak gini…”, keluh Rena.
“Makanya dari tadi aku melamun soalnya aku bingung mau ngapain”, ucapku seraya menghela nafas.
“Ke cafe yuk…”, ajak Rena.
“Cafe? Ngapain?”, tanyaku sedikit enggan pergi.
“Makan makanan kesukaan kita di cafe Alam…makan Plant Cake”, bujuk Rena.
“Ok deh… lagi pula kita dah lama nggak pergi kesana dan makan makanan itu”, jawabku menyetujui usul Rena.
“Yey”, ucapnya dengan ekspresi yang sangat senang.

Di Cafe…
“May, aku mau pesen makanan sama minumannya dulu ya? Masih sama seperti dulu kan?”, tanya Rena.
“Iya kok. Aku juga mau ke toilet sebentar ya Ren?”.
“Ok”.

Setelah dari toilet…
“Ups…”, teriakku saat aku terpeleset.
“Bisa saya bantu?”, tanya seseorang sambil mengulurkan tangannya.
“Oh terima kasih”, jawabku.
“Lain kali hati-hati ya!”, katanya seraya pergi.

Kulangkahkan kaki menuju meja no 21 di caffe itu yang aku dan Rena pesan tadi. Perlahan aku duduk di kursi berwarna coklat yang mirip dengan potongan kayu asli. Entah kenapa fikiranku masih terasa di waktu yang lalu. Seakan-akan waktu terus berlalu tapi aku masih saja terpaku di masa lalu. Terngiang di benakku wajah seseorang yang rasanya tidak asing bagiku, tapi aku sedikit lupa tentang dirinya. Hatiku terasa berdegup kencang saat kutatap wajahnya itu. Tampan, yah dia memang tampan. Lembut suaranya menyapaku bagaikan bisikan-bisikan angin manja membelai telingaku. Sering aku melihat seorang pria sepertinya tapi kali ini aku merasa jauh berbeda. Hatiku begitu berdegup kencang dan lututku merasa lemas tak berdaya. Perasaan apa yang sedang aku rasakan ini.

“Hey”, ucap Rena menerpa lamunanku.
“Ya ampun Rena kamu ngagetin aku aja deh!”, ucapku padanya.
“Kamu juga sih, ngalamun terus… Mikirin apa sih?”, tanya Rena
“Tau ah ndut…”, jawabku.
“Ndut…?”, ucap Rena kaget.
“Iya… endut…”, ucapku.
“Enak aja bilang aku endut. Aku itu langsing tau”, elak Rena.
“Iya langsing kalau dibandingin sama sumo”, ucapku.
“Enak aja… kamu juga endut tau… Cuma beda 1 kg aja udah sombong”, ucap Rena.
“Iya deh My Rainbow Friend… kita sama-sama endut”, ucapku mencoba menerpa kemarahannya.

Plant Cake yang aku makan hari ini rasanya jauh lebih manis dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Hari ini bunga-bunga di taman rumahku bermekaran sangat indah dan semerbak wanginya. Merona wajahku dan senyum yang sendari tadi merekah menandakan bahwa hatiku sedang berbunga-bunga. Langit malam ini pun nampak sangat indah dengan bintang-bintang yang bersinar dengan sangat terang. Pantai nampak indah dengan gulungan-gulungan ombak yang berlarian kesana kemari. Serasa aku adalah orang yang paling bahagia hari ini. Kuraih handphoneku dan kubuka medsos Fbku. Kulihat orang-orang yang meminta pertemanan padaku, dan pandanganku tertuju pada satu nama yaitu Naufal Arif. Nampak foto profinya sangat aku kenal. Yah Naufal Alif itulah nama seorang pria yang aku temui tadi di cafee. Seperti namanya Naufal artinya pemuda yang tampan dan Alif artinya lemah lembut. “Pemuda yang tampan yang lemah lembut” arti dari sebuah nama yang sangat indah.
“Oh… aku baru ingat sekarang. Dia itu kan Kakak kelasku waktu SMP dulu…”, ucapku saat aku mengingat siapa dirinya.

Alarmku berdering menandakan aku harus bergegas bangun dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Pagi ini mentari menyapaku dengan senyuman hangat setelah semalaman dia bersembunyi. Bulan nampak tertidur pulas karena lelah semalaman dia menemaniku. Udara segar memasuki seluruh ruanganku dan memasuki ruangan paru-paruku. Burung-burung bernyanyi merdu memberikan semangat untukku. Sinar mentari pagi yang mulai menghangatkanku dan seluruh ruangan kamarku. Kulangkahkan kakiku dengan penuh semangat menuju ruang makan dan sarapan.

Di sekolah…
“Ups…”, ucapku saat aku hendak terjatuh karena terpeleset. Tapi ada seseorang yang menarik tanganku ke depan sehingga aku tidak jatuh ke belakang.
“Kau selalu melamun, sampai-sampai kau sering terjatuh. Ini untuk ke 2 kalinya aku memergoki kau terjatuh karena melamun”, katanya dengan lembut.
“Ma’af”, ucapku sambil menunduk.
“Untuk apa?”, tanyanya.
“Aku merepotkanmu… dan terima kasih telah menolongku”, ucapku seraya menengadahkan wajahku. Kaget dan senang yang aku rasakan saat itu saat kutau kalau orang yang telah menolongku itu adalah Kak Naufal. Dia tersenyum manis dan melangkah pergi. Senyuman manisnya itu yang membuat jantungku berdegup sangat kencang dan lemas. Yah… aku memanggilnya Kakak karena dia adalah kakak kelasku.

Sepulang sekolah…
Aku tidak pernah tau mengapa aku sangat gemar melamun. Seperti saat pulang sekolah seperti ini pun aku masih saja melamun. Aku pulang sekolah dengan berjalan kaki sambil melamun.
“Mau ikut apa nggak?”, tanya seseorang yang menerpa lamunanku.
“Hah… ada apa Kak Naufal…?”, tanyaku kaget dan bingung.
“Mau ikut apa nggak…?”, tanya Kak Naufal.
“Emm…”, ucapku bingung.
“Nggak baik tau kalau jalan sambil ngelamun…! Hm… by the way kamu mau ikut aku apa enggak…?”, tanya Kak Naufal lagi.
“Hm… Iya deh Kak…”, ucapku seraya mengangguk.

Di sepanjang jalan…
“Kamu kenapa sih seneng banget ngelamun?”, tanya Kak Naufal.
“Aku juga nggak tau kenapa”, jawabku.
“Masa sih nggak tau…?”, tanya Kak Naufal heran.
“Iya… enggak tau…”, jawabku.
“Stop…”, ucapku yang membuat Kak Naufal mengerem sepeda motornya mendadak.
“Kenapa?”, tanyanya heran.
“Udah sampai Kak!”, ucapku.
“Hm… Ok sampai jumpa…”, ucap Kak Naufal seraya melambaikan tangan.
“Sampai jumpa… terimakasih…”, ucapku.

Di Rumah kecilku…
Seperti biasa, aku selalu menghabiskan waktuku di sebuah gubuk kecil dan memandang laut lepas.
“Ngelamun lagi?”, ucap seseorang dari belakangku yang membuatku kaget.
“Kak Naufal…?”, tanyaku kaget saat melihat Kak Naufal.
“Kenapa?”, tanyanya.
“Nggak papa kok Kak…”, jawabku.
“Kamu kenapa sih ngelamun mulu May?”, tanyanya yang membuatku terkejut.
“Lho kok kakak tau namaku?”, tanyaku heran.
“Kenapa? Nggak boleh ya?”, tanyanya balik kepadaku.
“Bukan begitu, tapi kita kan belum pernah kenalan?”, ucapku.
“Ok… kalau begitu ayo kita kenalan!”, ucapnya lagi seraya mengulurkan tangannya.
“May Malika Hasna Zafirah”, ucapku sambil menjabat tangannya.
“Naufal Arif”, ucapnya menyebutkan namanya.
“Kamu lahir bulan Mei ya?”, tanyanya sedikit membuatku heran.
“Hah? Iya… emangnya kenapa?”, tanyaku.
“Ya karna nama kamu May. “May” dalam bahasa indonesianya kan Mei yang berasal dari bahasa inggris”, jelasnya.
“Nama kakak bagus deh artinya, sesuai dengan kakak…”, ucapku sedikit malu-malu.
“Oh ya? emang kamu tau apa arti nama kakak?”, tanyanya padaku.
“Tentu… “Pemuda tampan yang lemah lembut”…”, jawabku dengan mantap.
“Nama kamu juga punya arti yang bagus, “Ratu cantik yang sukses yang lahir di bulan Mei”… benar kan?”, ucapnya.
“Yap… 100 untuk kakak”, ucapku dengan senyum.
“Apa?”, tanyaku pada kak Naufal ketika ia mengulurkan tangannya kepadaku seolah-olah meminta sesuatu.
“Katanya 100?”, tanyanya penuh teka-teki.
“Yah kakak mah nggak peka”, ucapku.
“Hehehe… becanda kali May…”, ucapnya seraya menyenggolku.
“Aduh…”, teriakku saat aku terjatuh.
“Loh… kok malah jatuh sih?”, tanya Kak Naufal.
“Kakak tuh yang udah bikin aku jatuh!”, jawabku.
“Lembek banget sih?”, ucap Kak Naufal seraya mengejekku.
“Aku kan cewek…”, timpalku.
“Ratunya ngambek nih…”, ucapnya lagi.
“Apaan sih…”, ucapku seraya tersenyum.
“Nah gitu kan cantik…”, ucap Kak Naufal.
“Aduh hujan… ayo berteduh kak”, ucapku seraya menarik tangan Kak Naufal tapi tangan Kak Naufal menahan tanganku seolah tidak membiarkanku pergi.
“Tunggu sebentar…”, ucapnya.
“Kenapa?”, tanyaku.
“Lihat itu…”, ucap kak Naufal seraya menunjuk ke langit.
“Indah, cantik, menawan, dan mempesona…”, ucapku setelah melihat apa yang Kak Naufal tunjuk.
“Seperti kamu…”, ucap Kak Naufal yang membuatku tersipu malu.
“Hm… tapi bohong…”, ucapnya lagi.
“Ih… nyebelin deh…”, ucapku.
“Enggak kok… becanda. kamu cantik kok”, ucapnya lagi.
“Gombal…”, ucapku.
“Gombal…? Gombal itu kan kalau rambutnya nggak pernah dicuci pake sampo…?”, ucapnya.
“Itu gimbal kak…”.
“By the way, anyway, busway… Apa pendapatmu May”, tanya kak Naufal.
“Hah? tentang apa?”, tanyaku.
“Tentang Pelangi”, ucapnya seraya memandang pelangi itu.
“Menurutku, pelangi itu seperti Indonesia…”, ucapku dengan penuh semangat.
“Indonesia…?”, tanya Kak Naufal heran.
“Iya. Indonesia adalah negara yang memiliki banyak keanekaragaman. Indonesia memiliki banyak perbedaan. Layaknya pelangi yang memiliki banyak warna. Tetapi, segala perbedaan itu disatukan dalam ikatan persatuan dan mencipta keindahan serta keajaiban yang tidak dimiliki oleh negara lain”, ucapku.
“Wow…”, ucap Kak Naufal seraya bertepuk tangan.
“Kalau Kakak…”, tanyaku.
“Apa?”, tanya Kak Naufal.
“Apa pendapat Kakak tentang pelangi?”, tanyaku lagi.
“Pelangi itu ibarat kebahagiaan yang Tuhan berikan untukku. Setelah hujan datang, akan tercipta sebuah pelangi yang selalu memberikan makna untukku bahwa setiap cobaan yang ku alami pasti tuhan sedang merencanakan suatu kebahagiaan untukku yang sangat indah”, ucapnya seraya memandangku.
“Tepat sekali”, ucapku.
“Aduh… udah hampir maghrib nih… hari sudah mulai malam aku harus pulang… sampai jumpa”, ucapku seraya pergi dan melambaikan tangan pada Kak Naufal.
“Tunggu…”, ucapnya menghentikan langkahku.
“Ada apa?”, tanyaku heran.
“Ini…”, ucap Kak Naufal seraya menyodorkan jaketnya.
“Untuk apa…?”, tanyaku.
“Pakai ini agar kau tak kedinginan”, ucapnya.
“Terimakasih…”, ucapku seraya tersenyum.
“Sama-sama”, ucapnya seraya membalas senyumanku.

Setelah sampai di rumah, aku segera mandi menggunakan air hangat agar tidak sakit. Setelah itu aku dan keluargaku pun melaksanakan sholat maghrib. Lalu kurebahkan tubuhku ke tempat tidurku. Kupandangi jaket kak Naufal yang berwarna biru muda itu. Senang rasanya hari ini karena aku bisa bersamanya. Senja ini tuhan memberikanku 2 pelangi yang sangat indah. Pelangi sesungguhnya dan pelangi untuk hatiku. Aku benar-benar tidak menyangka secepat itu aku bisa dekat dengannya. Selama ini aku hanya memandangnya dari kejauhan dan hari ini aku bisa dekat denganya. Senja ini adalah senja yang paling indah bagiku karena senja ini aku menghabiskan waktuku bersama orang yang aku sukai. 2 pelangi menemani senjaku dan menghiasi hidupku… Thanks a lot God…

Cerpen Karangan: Rismah Salimatun
Facebook: Iin Ririez Rismach

Cerpen Dua Pelangi Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nostalgia di Putih Abu Abu

Oleh:
Masih ku ingat saat-saat aku masih memakai seragam putih abu-abu, saat ku jatuh hati pada guru ku sendiri, pacaran bersama pacar sahabatku, saat ku menangis karena lelaki yang sangat

Secret Admirer

Oleh:
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, gak ada yang istimewa dalam hidup gue. Setiap hari cuma bangun, mandi, sekolah, pulang sekolah, gitu aja terus sampe kiamat. Ngebosenin banget kan? “Nungky,

Belum Berani

Oleh:
Aku masih ingat betul ketika ia menyapaku dari balik kaca jendela kelasnya. Meski itu hanya sekedar lambaian tangan dan senyuman dari bibir mungilnya saja. Tapi sesederhana itu perasaan yang

Janda Sholihah

Oleh:
Mia, awal perbincangan kita di samping mushola. Kau terlalu sibuk dengan ponselmu. Sesekali kau menjawab manja dengan lirikan seorang janda. Ahay, kau sedikit menunduk. Parasmu yang cantik. Lamat lamat

I Really Love You

Oleh:
Ingin kuakhiri semua ini, namun aku hanya bisa menatap senyumannya yang selalu terpancar di wajahnya… “Hai” seseorang telah mengagetkanku dari lamunan. “ada apa? Kamu membuat aku terkejut” “kamu liat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *