Fate

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 February 2018

“Angga, aku suka sama kamu..”
Gak ada badai salju, gak ada hujan meteorit, bahkan gak ada tsunami akhir zaman di kelas. Tapi, entah kenapa cewek berciri-ciri memakai cardigan cokelat muda, berkerudung putih dan setinggi kira-kira 165 cm yang satu ini malah menyatakan perasaannya pada Angga Ardiansyah, Ketua Osis yang dikenal paling cuek kalau urusan cewek.
Masih mending kalau di kelas saat itu lagi sepi. Lah, kalau lagi jam pelajaran kosong gegara gurunya gak masuk alias absen? Apalagi kalau diliatin dan digosipin sama anak sekelas. Lain lagi ceritanya.

“Woy, woy! Ada yang nembak Angga, loh!”
“Iya. Kayaknya bakal seru, nih!”
“Dih, tapi siapa tuh ceweknya?”
“Anak kelas mana, ya? Gak kenal..”
“Murid baru mungkin. Jarang keliatan.”
“Masa murid baru udah kenal sama Angga. Pake acara nembak pula!”
“Angga kan terkenal. Wajar, dong..”

Kelas masih berisik membicarakan tentang Angga dan si cewek aneh tadi hingga Angga angkat bicara.
“Hah?” Cuma itu yang diucapkan Angga. Jangan tanya soal ekspresinya saat ini. Itu sangat sulit untuk dideskripsikan. Rian yang ada di sebelah Angga saja sampai melongo melihat keberanian cewek aneh itu.

Mungkin yang ada dipikiran Rian saat ini adalah “Daebak, Sugoi, Amazing! Ini cewek emang bodoh atau gak tau sifat aslinya si Angga? Salut gue.. Eh, tapi kayaknya gue kenal ama ni cewek.. Siapa, ya?”

“Iya, aku suka sama kamu, Angga..” ulang si cewek menegaskan. Kali ini dia tersenyum lebar, seakan yakin kalau pernyataan cintanya bakal diterima. Anak-anak cewek di kelas mulai histeris. Kagum sekaligus iri akan keberanian si cewek yang dengan terang-terangan nembak Angga di kelas.
Angga mendengus, “Sori aja. Tapi, cewek aneh yang gak aku kenal kayak kamu bukan termasuk levelku..” sinisnya sambil kembali berfokus pada buku kimia yang belum selesai dia baca. “Hush! Gak boleh gitu lo, Ngga! Ntar kualat jadi jomblo seumur hidup!” bisik Rian menyenggol bahu Angga dengan taatapan tajam. Angga hanya balas mencibir, “Bodo amat.”

“Hee? Kamu gak kenal sama aku? Kalau begitu, perkenalkan, namaku Dilla! Seangkatan sama kamu juga loh, Angga!” kata si cewek aneh tadi memperkenalkan dirinya sebagai Dilla dengan riang. Dia bahkan berpose ‘peace’ ala cewek narsis.
“Gak nanya..” ucap Angga cuek. Sedangkan Rian malah menatap Dilla dengan pandangan heran. Namanya Dilla? batin Rian kaget.
“Terserah kamu mau bilang apa. Tapi, kamu harus ingat,” Dilla menudingkan telunjuk ke wajah Angga sambil menyeringai, “Suatu saat, kamu pasti mengenaliku lebih dari siapapun dan bakal nyaman sama aku! Daah”

Anak cewek di kelas langsung heboh mendengarnya. Sebagian histeris karena ucapannya Dilla sangat berani untuk ukuran cewek yang gak dikenal sama Angga.

Dilla langsung melenggang pergi setelah selesai bicara barusan. Dia bahkan sempat melambaikan tangannya sebentar ke arah Angga dan Rian—dimana Angga dengan kesal membuang muka ke lain arah dan Rian yang balas melambaikan tangan patah-patah.

“Ciee.. Ciee.. Angga ditembak sama cewek aneh!”
“Pajak nolak cewek lagi dong, Ngga!”
“Dengan ini, sudah genap tiga puluh cewek yang ditolak mentah-mentah sama Angga! Rekor baru, guys!”
“Hahahaha!”

Kalau ibarat ini adalah dunia anime, sudah dipastikan siku-siku imajiner tanda kemarahan sudah berkumpul di kepala Angga. Ini nih yang dia benci kalau ada cewek yang bilang cinta ke dia.
Langsung diledekin abis-abisan!
Kan ngeselin, tuh!

Maka, dengan kekuatan Ketua Osis yang Absolut dalam memberikan perintah sekaligus horor dalam memberikan hukuman, Angga menggebrak meja di depannya dengan sepenuh hati, “DIAM! JANGAN ADA YANG BICARA LAGI! INI PERINTAH!” seru Angga kesal.
Siiiiinggggg…
Kelas hening seketika. Gak ada yang berani bicara lagi. Siapa juga yang mau seminggu dapet hukuman dari Ketos horor yang satu ini?
Ogah banget, deh!

Begitu sudah tak ada yang histeris lagi, Angga kemudian menoleh tak suka ke arah Rian. Rian yang dipandang seperti itu pun dibuat merinding. Jujur saja, baru kali ini ada cewek yang fanatik sefanatik-fanatiknya orang yang fanatik boros banget, nih, kata-katanya. sama si Angga.

“Coba kamu jelasin siapa dan kelas berapa si Dilla itu.” Tuntut Angga datar tapi menusuk.
“Dan setelah kamu jelasin, aku minta kamu buat ngejailin anak itu. Dia udah ngeganggu kelas, khususnya aku.”
“Engg..” Rian meneguk ludah susah payah, “Satu hal penting, Ngga.. Nama cewek itu bukan Dilla.”
“Hah?” Angga mengerenyit bingung, “Terus namanya siapa? Tadi kan dia bilang kalo namanya itu Dilla..”

“Bukan. Namanya Mutia Rizqa Firdiah. Panggilannya Risa. Dia anak kelas XI IPA 2. Jarang gaul sama anak-anak selain anak kelasnya. Setahuku dia masuk ke tipe siswi cuek stadium 2 di sekolah. Karenanya, gak ada satupun cowok yang masuk ke kategori ‘tipe cowok idaman’nya Risa. Dia juga cuek banget sama cowok; mungkin dia cerminan kamu, Ngga.. Tapi, versi cewek,” Jelas Rian panjang lebar sambil menunjukkan buku angkatan sekolah pada halaman yang menjelaskan tentang cewek bernama Dilla yang sebenarnya bernama asli Risa.

“Kalo dia cuek, kenapa dia sampe-sampe nyatain cintanya ke aku?” bingung Angga.
“Entahlah.. Aku gak tau.” Rian mengendikkan bahunya sepintas.
Angga menghela nafas panjang.

“Kalo gitu, tugasnya aku ganti. Selidikin penyebab si Risa itu bilang suka. Dan tanyain kenapa dia pake nyamar jadi Dilla segala. Oke?”
“Siip. Percayakan aja sama aku, Ngga!”

Satu jam sebelum itu..
Kelas XI IPA 2 sedang sepi. Sebagian murid masih berada di lab komputer; belum selesai mengerjakan tugas yang diberikan Bu Nisa, guru TIK mereka. Hanya beberapa orang yang sudah mengerjakannya dan kembali ke kelas.
Termasuk Risa dan Dilla.

“Ayolah, Ris.. Lo tau kan kalo gue itu paling kicep sama makhluk yang namanya cowok? Jadi tolong sampein rasa suka gue ke Angga!”
Cewek berkerudung hitam dan berkacamata bernama Dilla itu memohon-mohon pada Risa. Risa hanya mencibir sambil membuang muka.
“Enak aja lo ngomong kayak gitu! Angga kan selalu barengan sama Rian! Mana berani gue ngomong kalo ada Rian disitu! Lo lupa kalo gue suka sama Rian?!” omel Risa.

“Lo milih ‘Dare’ dalam permainan ToDnya, kan, Ris?! Jadi, tantangan dari gue ya itu! Bilang suka ke Angga tapi lo nyamar jadi gue dan ganggu dia selama seminggu!” rengek Dilla menarik-narik cardigan cokelat Risa dengan wajah memelas.
“Gue malu kalo harus bilang di deket Rian, Dil!” gemas Risa.
“Kalo lo nyamar jadi gue ngapain lo harus takut?! Yang bakalan jadi gosip kan nama gue, bukan nama lo, Ris!” bantah Dilla sepenuh hati.
“Tapi,”

“Gak ada tapi-tapi! Semua yang lo pilih harus lo laksanakan. Itu sih sebenernya salah lo. Kenapa lo milihnya Dare. ” ketus Dilla.
“Aaarrggghh… Kalo tau gini gue gak bakal mau milih Dare!” kesal Risa mengacak acak jilbabnya emosi.
“Ayolah, Ris..”
“Iya-iya-iya! Gue laksanain sekarang!”

Risa dengan sebal tapi terpaksa berlari keluar kelas dan menuju kelas tempat Angga dan Rian belajar. Kelas XI IPA 3. Gak jauh sih. Tapi, yang bikin dag-dig-dug itu dia harus bicara kayak gitu di deket Rian juga. Cowok yang dari dulu dia suka dalam diam.
Huufftt… Tenang, Ris.. Ini Cuma Dare bodoh dari sahabat lo yang kadang suka kelewatan kalo ngasih hukuman.. batin Risa menenangkan dirinya. Begitu sudah tenang, ia pun masuk ke kelas —yang untungnya lagi gak ada gurunya itu dan berlagak seperti Dilla yang overactive.
Berjalan sambil senyum-senyum kedepan Angga yang tengah belajar kimia bersama Rian.

Tap, tap..
Risa sudah berada tepat di depan Angga. Ia menarik nafas sebelum mengeluarkan kata-kata keramatnya,
“Angga, aku suka sama kamu..”
Dan, semuanya berlanjut seperti air yang mengalir.

Jam istirahat pun tiba.
Suasana kantin sudah cukup ramai. Terlihat dimana-mana siswa siswi berbaju putih abu-abu berseliweran di sana sini. Risa dan Dilla tampak di salah satu meja kantin yang terletak agak pojok dekat dengan kaca bangunan kantin yang terpisah dengan gedung kelas utama.

Di sisi lain, tampak Rian dan Angga yang sedang memantau kedua gadis tadi dengan tatapan berbeda-beda. Angga menatap Risa dengan pandangan tidak suka dan memandang Dilla dengan tatapan bingung; ia tidak mengenalnya. Sedangkan Rian malah salah fokus ke Dilla dengan sedikit rona di wajahnya.
Sepertinya, ada yang menarik di sini.

“Weh, Rian.. Salfok gitu ngeliatin temennya Risa. Kalo suka, bilang aja ke orangnya langsung..” goda Angga begitu tahu bahwa sang sahabat malah memandang ke arah Dilla.
“Diem, Ngga! Daripada kamu, gak suka ama siapa-siapa.” Cibir Rian kesal.
“Yayaya… Whatever.” Angga memutar matanya

“Gak lupa soal kerjaan yang harus kamu lakukan, kan?”
“Iye. Bawel, nih..” gerutu Rian.
“Hey, hey.. Gak ada salahnya, kok! Tambahannya, kalu bisa tahu siapa nama cewek yang dari tadi kamu liatin terus..” tawa Angga. Dia menepuk bahu sahabatnya sambil nyengir dengan pandangan semoga-berhasil.
Rian menepis tangan Angga. Ia kesal sudah digoda berkali-kali oleh sahabatnya yang satu itu. Suka-suka dia dong mau liatin siapa. Mata pun punya dia sendiri. Gak minjem ke Angga.

Tanpa banyak bicara, Rian kemudian berjalan ke arah Risa dan Dilla yang asik memakan sandwichnya.
Harus Rian akui bahwa ia sudah menyukai Dilla sejak lama. Namun karena dia terlalu malu untuk bertanya, alhasil sampai sekarang dia tidak tahu siapa nama gadis yang ia sukai. Mencari tahu dari buku angkatan pun dia tak berani. Apalagi bertanya langsung. Gengsi, bro!

“Eh, Ris! Liat, deh. Siapa yang datang..” bisik Dilla saat tak sengaja melihat Rian yang tengah berjalan ke arah mereka.
Risa menoleh tak minat. Namun, sebentar kemudian dia merona. Ia komat kamit mengucapkan sebuah kalimat tanpa suara.
Itu Rian, itu Rian, itu Rian, itu Rian, itu Rian, itu Rian.

Begitu Rian sudah sampai di depan mereka, ia langsung bertanya to the point.
“Risa, aku mau bicara sesuatu.” kata Rian tegas. Ia sempat melirik ke arah Dilla yang menatapnya dengan wajah polos khas anak bocah yang baru pertama kali melihat sesuatu yang ia anggap menarik.
Kontan ia kembali merona meski tak begitu terlihat.
“Ehh.. Bicara denganku?” Risa gelagapan.

“Iya. Sekarang, ikut aku ke tempat yang tidak terlalu ramai. Ini menyangkut hal penting..” lanjut Rian berusaha terlihat datar.
“O-oke..”
Rian kemudian berlalu. Mendahului Risa tanpa banyak prosedur. Risa menoleh sejenak ke arah Dilla yang tersenyum mengizinkan. Meski senyum Dilla terlihat seperti mengejek.
Cieee… Langsung diajak bicara gitu.. goda Dilla lewat senyumannya.

Jangan lupakan Risa untuk menjitak Dilla begitu selesai bicara dengan Rian. Bocah itu sudah keterlaluan.
“Dadah.. Jangan lama-lama ya bicaranya~” Dilla melambaikan tangannya dengan cengiran. Rian dan Risa menoleh serempak. Risa mengacungkan kepalan tangannya. Tanda kekesalan.
Sendangkan Rian? Dia langsung ngacir meninggalkan Risa. Di pipinya terlihat rona merah. Sepertinya ia salah mengartikan lambaian tangan Dilla.

“Aku mau tanya, kenapa kamu tadi nyamar jadi seorang bernama Dilla saat menyatakan cintamu ke Angga?”
Risa melongo begitu ditanya seperti itu. Sedetik kemudian dia tergelak.
“Kamu pikir itu serius, Rian?” tawa Risa sambil memegang perutnya yang kram akibat tertawa terlalu keras.
Rian mengerenyit heran, “Hah? Jadi cuma bohongan?” tanyanya tak percaya.

“Mana mungkin aku suka sama cowok kayak dia? Ogah banget!” kata Risa masih sedikit terkekeh geli.
“Itu cuma ‘Dare’ dari sahabat aku, tau. Namanya Dilla. Dia suka sama Angga tapi gak berani ngungkapin. Jangan kasih tau ke orangnya, ya? Lagipula, gini-gini aku juga pengen bantu Dilla. Kan sahabat..” lanjut Risa tertawa kecil.

“Oh, gitu..” Rian menghela nafas.
“Ternyata cuma mainan toh!” batin Rian.
“Kalau boleh tahu, kamu sebenernya suka sama siapa, Ris?” tanya Rian kemudian.

Risa terdiam. Dia bingung harus bilang apa. Wong orang yang ia suka itu ada di depannya alias Rian. Tapi, masa harus terus terang juga? Mau di taruh dimana mukanya kalau sampai bilang kalo cowok yang dia suka adalah Rian?
“Ada. Orang itu udah deket sama aku, kok..” jawab Risa lirih.
Tapi, untungnya Rian tidak terlalu peka. Maklum, di kepalanya isinya gak hanya soal cewek. Masih banyak yang harus ia pikirkan selain itu. Yaa, misalnya dia masih belum menyelesaikan tugas kimia yang baru diberikan kemarin atau hafalan qur’an juz 28nya masih belum kelar di murajaah.
“Bagus dong! Semoga beruntung, ya!” kata Rian polos.

Risa menepuk jidatnya. Ia tak pernah berpikir bahwa Rian itu gak peka kalo masalah cewek. Tapi bagus juga sih. Jadinya gak terkesan bilang terang-terangan.
“Oke deh! Makasih infonya! Cuma itu yang ingin aku tanyakan! Aku pergi dulu.. Daah..” Rian melambaikan tangannya. Berlari menjauhi Risa sambil tersenyum lebar.
“Iya.. Dadah..”

Risa bertekad dalam hati untuk tidak sembarangan lagi memilih permainan yang akan ia mainkan dengan Dilla.
Takut kualat!

“Jadi, Cuma mainan?”
Angga nyaris tertawa. Anak perempuan zaman sekarang kalo lagi maen serem ternyata. Sampai bawa-bawa soal cinta! Apa banget coba?
“Iya. Dan sebenernya, orang yang bernama Dilla lah yang suka sama kamu, Ngga..” tambah Rian kemudian.
“Yaelah.. Kirain apaan! Tapi kok, dia mau ya ngelaksanain tantangan kayak gitu? Temennya yang namanya Dilla itu jahat banget.” Kata Angga sambil geleng-geleng.
“Entah lah..” Rian Cuma angkat bahu.

“Jadi ngejailin dia gak? Tumben kamu biasa aja pas ada cewek yang bilang suka ama kamu.”
“ITU KAN KARENA DIANYA TERPAKSA!” seru Angga sebal, “Kalau gak terpaksa juga aku bakalan ngejailin dia!”
“Cie, cieee.. Tsundere gitu, Ngga..”
“Aku gak tsundere!!”
“Jujur ajalah.. Capek tau kalo bohong..”
“Terserah!”
Angga buang muka. Tapi sebenarnya ia juga heran saat tahu kalau Risa yang nyamar jadi Dilla tadi Cuma karena mainan bodoh. Mana pernah dia tidak jadi menjahili cewek yang sudah menyatakan cinta padanya?
Ada yang berbeda dengan dirinya.
Entahlah, ia pun tak begitu tahu.

“Oh! Apa itu karena kamu juga jadi suka sama Risa? Omedetto, Angga! Kamu sudah mendapat cinta pertamamu!”
“ENAK SAJA!”

Hari senin, hari pertama tantangan ‘Dare’..
“Angga! I love You! Would you be my prince?”
“Gak mau.”

Hari Rabu, hari ketiga tantangan ‘Dare’..
“Angga! Jawab dong~ Jangan buat aku menunggu jawabanmu ~”
“Bodo amat.”

Hari jum’at, hari kelima tantangan ‘Dare’..
“Angga! Aku bawakan bento spesial untukmu ~ Dimakan ya ~”
“Gak usah. Udah bawa sendiri.”

Angga hanya menghela nafas panjang. Ia sedikit aneh dengan dirinya pagi ini. Bisa-bisanya ia tak merasa terganggu akibat kemunculan Risa —yang ia sudah tahu sedang nyamar jadi Dilla— setiap saat. Padahal sudah nyaris seminggu Risa menggodanya.
Ia juga merasa sedikit senang saat melihat Risa masih datang untuk mengganggunya dengan gangguan ala sepasang kekasih.
Apa jangan-jangan dia suka dengan Risa?

“Rian, apa ciri-ciri jatuh cinta? Dan bagaimana cara untuk membuat kita jatuh cinta pada seseorang?”
Pagi-pagi, Rian sudah mendapat sms seperti itu dari Angga. Hari ini hari minggu. Libur. Jadinya Rian hanya bermain gadget di kamar.
“Haha.. Rupanya dia sudah sadar.” Kekeh Rian.
“Nyurufufufu.. Kau suka dengan Risa ya?”
Rian tersenyum-senyum sendiri. Ia yakin nun jauh di sana, Angga tengah memakinya karena langsung membalas to the point.
“Sialan kau, Rian! Jangan terus terang begitu dong!”
Rian tertawa begitu membaca sms dari Angga. Pikirannya tepat.

“Maaf. Tapi, benar kan? Kau suka dengan Risa?”
“Uuugh.. Iya.. Tapi bukan cinta! Aku kagum dengannya!”
Rian tak bisa berhenti tertawa. Ke-tsundere-an sang sahabat ternyata sudah mendarah daging. Bilang suka saja ribetnya minta ampun.
“Baguslah. Kau tandanya masih normal..”
“APA KAU BILANG?!”
“Hahaha! Maaf, Angga. Just kiddding.”

Tak ada balasan. Sepertinya Angga benar-benar kesal. Rian tersenyum miring. Ia harus minta maaf lagi kalau begini jadinya. Selain tsundere, Angga sangat sensitif.
“Yayaya.. Aku minta maaf, Angga. Tapi, kalau kau memang benar menyukainya, kenapa tak langsung bilang? Daripada dia direbut orang lain. Hanya menyarankan.”

Lima menit kemudian, datang balasan sms dari Angga. Rian dengan cepat membukanya. Cukup panjang. Tapi bukan itu yang membuatnya berbeda.
“Iya. Aku maafkan. Dan jangan ulangi lagi! Itu membuatku kesal.
Oh ya. Aku ingin bilang sesuatu. Dan jangan marah padaku.
Kalau orang yang bernama Dilla ternyata adalah orang yang kau sukai bagaimana? Aku sempat mencari nama Dilla di buku angkatan karena penasaran. Dan hasilnya, cewek yang kau pandangi ternyata bernama Dilla. Lengkapnya Anadilla Maulida Rustani, sekelas dengan Risa. Dia lumayan manis menurutku. Dia juga cukup genius. Peringkat satu di kelas dan selalu merebutkan peringkat itu dengan Risa. Rival kalau bisa kukatakan.
Ps: Aku juga sudah berbicara dengan Risa. Niatnya aku ingin bilang padanya bahwa aku suka dengannya. Dan ternyata, saat kutanyakan dia suka dengan siapa, Risa bilang dia suka denganmu. Alhasil aku tak jadi bicara. Kenyataan yang pahit bukan?”

Jleger!
Petir menyambar. Hujan mulai turun. Namun bukan hujan di bumi. Melainkan hujan dihati Rian —yang ia yakini juga tengah di hati Angga.
Menyukai gadis yang menyukai sahabatmu sendiri?

Sakit.
Tapi gak berdarah.

Cerpen Karangan: Blue Phantom
Facebook: Alya Nurul
Hanya seorang author galau yang terjebak antara dua dunia. Dunia Anime dan Dunia penuh kenyataan.
Sering menulis tapi tidak pernah diselesaikan dengan alasan Writer Block padahal pingin fokus main game online.

Cerpen Fate merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Village Recycle

Oleh:
Aku terbangun, masih dalam suasana yang sama, beranjak dari tempat pengungsian. Dingin, rusak, kacau dan tak beraturan. Sisa badai kemarin telah menghancurkan rumah warga, masjid, juga sekolahku. Aku pun

Pemeran Utama

Oleh:
Suara dering yang telah dinanti pun terdengar. Menghela nafas, mengolet, berteriak tak jelas, bahkan mengutuk guru yang baru saja keluar. “ah, abaikan. Ayo” Lingling langsung menggeret tanganku. Yang lain,

Dan Hanya Bebas

Oleh:
Atas perintah Mamanya, di pagi yang cerah, seorang gadis cantik nan baik hati bernama Nury pergi ke pasar untuk belanja sayur-mayur dan beberapa keperluan lainnya. Tubuhnya yang mungil begitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Fate”

  1. NabilaEka says:

    Likeyy uwaah:”)) lanjutin dong.. seru nih(nanggung gitu:”))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *