Friend or Love? (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 April 2019

“Hufft lega..” ucapku sembari duduk di bawah pohon beringin besar ini. Nyaman rasanya berteduh di sini. Rindang, sejuk, dan cukup untuk bersembunyi dari kejaran massa, ehh kejaran temen maksudnya.

“Ternyata lo di sini.” aku terperanjat kaget, hampir saja aku berteriak, tapi untung saja tanganku ini langsung membungkam mulutku ini. “Please jangan dong, jangan ya. Ido ganteng deh.” ucapku memelas kepada cowok yang bernama Ido sambil menangkupkan kedua telapak tanganku di depan wajahku. “Haha lo lucu deh kalau kayak gini.” ucapnya sambil tertawa. ‘Huh’ dengusku sebal.

“Kesh…!” panggilnya, aku pun menoleh. “Happy Birthday..” ucapnya sambil mengoleskan krim yang sudah dipersiapkan sejak tadi bersama teman temanku. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-16 tahun. Dan sejak tadi aku berlari larian untuk menghindari mereka. Tapi, apa ini? Sahabatku sendiri juga berpartisipasi dalam rencana konyol ini.

“Guys!! Sini sini yang lagi ultah di sini orangnya.” teriak Ido sambil melambai lambaikan tangannya ke teman temanku. Aku coba bangkit dan berlari. Sh*t!! Tanganku ditarik oleh Ido dan dibawa ke tengah tengah mereka. Dapat kurasakan telur, tepung, air, dan krim mendarat di tubuhku. Rasanya lengket. Kubuka mataku yang sedari tadi kututup ini. Tak hanya aku yang kotor, mereka pun juga. Tapi, mereka tidak separah denganku.

‘Cekrek’ kudengar suara bidikan kamera. Aku menoleh dan mendapati Ido di sana dan nyengir kuda enggak jelas. Sudah kupastikan dia memotretku tanpa izin, dan hasilnya pasti wajahku terlihat bodoh.

“Kesh happy birthday ya..” ucap teman temanku bergantian. Aku hanya membalasnya dengan ucapan terima kasih. Walau mereka telah mengerjaiku tapi, seenggaknya aku berterima kasih karena mereka masih ingat dengan ulang tahunku.

“Pulang dulu ya Kesh.” pamit teman temanku yang hampir bersamaan. “Ya.” jawabku sambil mengangguk.

Setelah kupastikan mereka semua pulang, aku menghampiri Ido yang masih asik dengan kameranya. “Liat apaan sih.” ucapku sambil merebut kameranya, tapi nihil. Alhasil Ido mengabadikan objek di depannya, aku yang belepotan dan melongo. Aku pastikan sebentar lagi dia tertawa terbahak sambil memegangi perutnya. Dan benar dugaanku. “Haha lo… lo… lucu banget..” ucapnya sambil menahan tawa. “Udah dong jangan ngambek entar cantiknya ilang lho.” godanya karena melihat bibirku yang mengerucut ini, manyun. Aku bisa merasakan pipiku yang panas dan beribu ribu kupu kupu beterbangan di bawah sana. Cowok ini selalu saja bisa membuatku salah tingkah. Hanya cowok ini.

“Pulang yuk.” ajakku sambil berusaha menutupi kesalah tingkahanku. “Lo mandi dulu sana!” perintahnya sambil membuka tasnya. Sebuah kantung kresek hitam yang isinya baju, lengkap dengan handuk, sisir, dan peralatan mandi. Aku pun menerima kantung itu, dia selalu tau apa yang kubutuhkan. “Titip tas ya.” ucapku sambil menunjukkan tempat dimana tasku berada. Segera ku berlari menuju kamar mandi siswa di SMA ku.

Setengah jam kemudian aku baru selesai. Aku segera keluar dan menghampiri Ido. “Mbatik ya neng? Kok lama amat.” ucapnya sembari menengok jam tangannya. “Hehe, maaf lengket banget nih.” “Nih tas lo. Ayo pulang.” aku pun menerima tasku dan memasukkan seragamku yang kotor. Biasanya Ido membawa motor ninja kesayangannya pergi ke sekolah. Tapi, lain dengan hari ini. Motornya itu masuk bengkel karena mogok kemarin, jadi terpaksa kami berdua jalan kaki.

Di sepanjang jalan tidak ada yang bersuara. Hanya terdengar Ido yang bersenandung kecil dengan earphone putih menyumpal di kedua lubang telinganya. “Ido..” panggilku, tak ada respon apapun darinya. “Do…” panggilku sekali lagi, dan dia tidak merespon apapun. “IDO…” teriakku sambil menarik paksa earphonenya. “Apaan Kesh?” tanyanya dengan wajah yang seperti tak punya dosa. “Enggak jadi, dari tadi dipanggilin juga enggak nyaut sama sekali.” ucapku ngambek dan mempercepat langkahku. “Iya deh iya. Lo pasti nungguin ini kan?” dia menarik tanganku dan menyodorkan kotak dengan coklat yang kusuka di atasnya. “Makasih.” ucapku malu malu, karena memang aku sudah menunggu kado darinya. Dia mengacak rambutku, lagi lagi entah kesekian kalinya pipiku bersemu merah karena dibuatnya. “Jangan dibuka sekarang ya kadonya, kalau coklatnya boleh dimakan sekarang.” tuturnya lembut. Aku pun menurutinya, dan membuka bungkus coklat itu dan memakannya. Tak kubagi? Jawabannya Ido enggak suka coklat katanya ‘Coklat itu terlalu manis, gue enggak suka yang kayak gitu. Ntar kalau kebanyakan coklat trus diabetes, siapa yang mau jagain kamu?’ ucapnya kala itu. Kata kata itu sampai sekarang masih terngiang ngiang di benakku. Ah sudahlah lupakan itu!!

‘Tin tin’ suara klakson motor terdengar sampai di dalam rumahku. “Ma, Pa, Keshya berangkat dulu ya.” pamitku sambil mencium telapak tangan kedua orangtuaku. “Hati hati jangan lari larian kayak anak kecil.” teriakan mamaku yang masih bisa kudengar sampai di depan pagar rumah. Aku menaiki ninja merah Ido, “Yuk berangkat!” perintahku sambil menepuk bahunya. “Ye lo kira gue tukang ojek? Pake tepuk tepuk bahu segala.” jawabnya kesal. “Tukang ojek enggak sih, tapi mirip.” ejekku dengan tertawa. “Orang adiknya Justin Bieber kok dikatain mirip tukang ojek, awas lho nanti gue aduin sama abang gue.” balasnya dan melajukan motornya. “Adiknya Justin Bieber kok jelek amat sih.” aku mencubit pingganggnya dan dia pun mengaduh kesakitan.

Tak butuh waktu lama kami sampai di sekolah. Sekitar 20 menit kami sudah berada di tempat parkir. Aku pun turun dari motornya dan segera berjalan duluan meninggalkan Ido di tempat parkir. “Kesh tungguin dong.” teriaknya tapi tak kuhiraukan saja. Aku mendaratkan pantatku ke kursi kesayanganku ini. Paling pojok belakang sebelah barat. “Cepet amat sih jalannya.” ucap Ido sambil terengah engah. “Ye gitu aja gak bisa ngejar, katanya cowok, mana?” “Tapi kan…” baru saja Ido akan menyelesaikan kalimatnya, tapi terpotong gara gara ucapan Lisna, salah satu temanku yang juga ikut dalam insiden kemarin. “Cie, jam tangannya couple, jadi iri nih. Kapan ya bisa couple sama doi kayak kalian.” ucapnya dramatis yang membuatku ingin muntah dan syok. Maksudnya apaan coba??

Bersambung

Cerpen Karangan: Nisa Syahru Ramadani
Facebook: Nisa Syahru
Penulis Amatiran

Cerpen Friend or Love? (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Yang Tak Kukenal

Oleh:
Aku meletakkan sepatuku di rak khusus alas kaki yang terbuat dari kaca. Aku memasuki rumah sederhana yang terletak di sebelah selatan Surabaya. Hari ini, Aku pulang sangat terlambat. Biasanya,

Mungkinkah Kau Malaikatku?

Oleh:
Suara hingar bingar memenuhi kelas seperti biasanya.. Aku dan sahabatku Herma sedang duduk di sudut kelas sambil memainkan PSP yang biasa aku bawa sembari menunggu datangnya guru. Disaat tengah

Rasa Yang Terpendam (Part 1)

Oleh:
Zoey adalah gadis remaja yang menginjak usia tujuh belas tahun. Dia anak seorang janda bernama Zara yang kini sedang terbaring lemas karena sakit keras yang dideritanya. Sejak usia Zoey

Jam Kosong

Oleh:
“Kriinggg… Kringgg…” Lonceng masuk pun berbuunyi. Pelajaran pertama adalah Bahasa Inggris, sebelum bu Sriwahyuni masuk kami baca do’a belajar, setelah baca do’a. Ada pengumuman dari multimedia “Semua Guru beserta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *