Hanya Ingin Kau Tahu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 12 November 2015

Segelas cappucino di atas meja belajar itu kini tak lagi sehangat saat pertama ia mengaduknya. Ia abaikan semua yang telah dimulainya. Cappucino, tumpukan buku tugas penuh pr, beberapa rumus matematika dan kimia menunggu untuk dihafalkan, dan ponselnya yang sembari tadi berbunyi nyaring menandakan ada pesan atau panggilan masuk. Semua itu seperti tiada. Hanya ada sebuah angan yang berawal dari selembar foto seorang gadis cantik dengan senyuman manis terarah ke kamera saat dipotret. Kini bayang kenangan saat foto itu diambil melayang terbawa oleh angannya.

“Zaky udah bagus belum poseku?”
“Eh, jangan asal foto loh!”
“Udah? Pasti aku jelek banget ya, sampai buat kamu ketawa kek gitu.”
“Yah, kamu nggak bakat jadi fotografer! Liat ini backgroud langitnya nggak dapet tahu!”

Suara gadis dalam foto itu yang kadang terdengar manja dan usil, kini seperti mengalun lembut, memenuhi pendengarannya. Suara tawa, jeritan, kata-kata usil dan manja. Semua seperti hidup di angannya, membuat ia sesekali tersenyum tanpa sebab dan tertawa kecil memperlihatkan kebahagiannya: kepada tumpukan buku tugas di atas meja belajarnya yang menunggu untuk dikerjakan. Segelas cappucino yang putus asa akan nanti jika nasibnya berakhir di freezer atau masih akan tetap diminum walau sudah dingin dan tak enak untuk sekedar teman belajar. Rumus-rumus matematika dan kimia kini ikut risau jika nanti ia tak mau menghafalkan mereka, bisa-bisa nilai ulangannya besok turun drastis dan reputasinya sebagai siswa teladan pun akan tercoreng, walau hanya karena masalah angka nilai ulangan matematika dan kimia.

Hanya karena cinta kini semua seperti terlupakan. Ada dan tiada yang sebenarnya nyata ada di depan mata, tapi kini cinta kian membutakan matanya. Membuatnya seperti anak kecil yang acuh tak acuh dengan apapun. Seharusnya saat ini ia sudah menghafal setengah dari daftar rumus matematika dan kimia yang wajib dihafalnya, tapi kini satu pun belum ia hafal. Cinta terkadang memang membuat seseorang lupa akan segalanya, seperti pemuda kutu buku ini yang ternyata tengah dilanda cinta. Entah cinta apa, mungkin cinta monyet.

Akhirnya setelah menunggu lama, segelas cappucino yang sudah dingin itu kini diteguknya hingga habis dan tumpukan buku tugas pun mulai dibukanya satu per satu. Pr baginya adalah perkerjaan ringan, karena semua soal yang diberikan oleh para guru sudah pernah dikerjakaannya. Jadi pr menurutnya hanya seperti hiburan antara kata dan angka yang klise. Setelah dirasa puas dengan semua pr yang telah selesai ia kerjakan, kini gilirannya menghafal. Mungkin akan sedikit memakan waktu, sebab ia kurang pandai di hafalan. Saat jam weker mungil yang ada di atas meja belajarnya menujukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit, beberapa rumus matematika dan kimia sudah ia kuasai. Dia tidak hafal, tapi paham, karena ia langsung menguji coba rumus-rumus itu dengan beberapa soal yang sesuai. Ya seperti itulah caranya belajar, bukan hanya hafal saja, tapi juga harus paham.

Kantuk yang datang merasuk seakan tiada guna saat ia kembali terbang dengan angannya bersama bayang gadis dalam selembar foto itu, hingga ia tak sadar jika dirinya telah jatuh cinta. Entah cinta monyet atau cinta apa, tapi yang pasti baru sekali ini ia merasakan ada yang aneh di hatinya saat memandang rona wajah wanita itu. Sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan sajak merayu atau kumpulan rumus matematis yang dikuasainya.

Jika kau memintaku untuk mendiskripsikan wanita dalam selembar foto itu, aku sebagai penulis cerita ini menolaknya, karena setelah ku diskripsikan bisa saja kau akan jatuh cinta padanya. Mungkin hanya akan tersirat kata-kata pujian seperti: ia begitu cantik, senyumnya merona manis, dan mata indahnya yang merayu manja. Cukup Zaky saja yang tergilagila kepadanya dan kamu setelah selesai membaca cerita ini semoga bisa lebih menghargai apa itu cinta. Coretan ini hanyalah catatan kecil milik sahabatku yang ku tulis ulang agar bisa ia persembahkan kepada sang pujaan hati.

Jarum jam menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Kantuk sudah berusaha semampunya untuk melelapkan dan membawa si kutu buku ke alam mimpi, namun hanya sia-sia saja. Meski kantuk telah menyelimuti dirinya hingga ia beberapa kali menguap, tapi matanya masih terjaga. Ia tak bisa tidur malam ini, karena mungkin tengah dilanda kerisauan akan apa yang esok ia berikan kepada wanita itu di hari sweet seventeennya. Ia bingung ingin mengado apa, sebab ia tak begitu tahu tentang wanita, apalagi hal-hal yang mereka sukai.

Bagi anak kutu buku sepertinya mungkin akan menjadi hal yang tak biasa jika harus berpuitis seraya memberikan sekuntum mawar merah kepada seorang wanita. Dia bukanlah pujangga yang bernapaskan sajak dan kata merayu, ia hanyalah remaja berkacamata peminat kamus dan rumus dalam buku-buku tebal penuh huruf dan lambang-lambang asing. Meski akan terkesan aneh, tapi ia tertarik untuk mencobanya. Mungkin akan menjadi sesuatu yang baru dan tak terlupakan di hidupnya. Ya, memang. Pikirkan saja jika seorang kutu buku bermetamorfosis menjadi pujangga romantis yang puitis bersama mawar merahnya.

“Assalamualaikum. Selamat ulang tahun my sweety girls. Tambah semangat sekolahnya ya, semoga semua mimpimu dapat kau gapai dengan indah, panjang umur, sehat selalu, tambah cantik ya biar aku nggak bosen kalau kamu lagi manyun, dan aku selalu mendoakanmu. Aku menyadari jika semua rumus yang pernah ku pelajari tak akan bisa memecahkan masalah tentang cinta. Kau pasti tahu, tapi aku tiada menahu tentang cinta, karena baru pertama ini aku jatuh cinta dan itu pun padamu. Akankah kau membalas rasaku? Semoga mawar ini bisa mewakili hadirku bersama goresan pena ini.” seperti itulah yang ia tulis di selembar kertas semalaman suntuk.

Pagi-pagi sekali ia sudah sampai di sekolah dengan sekuntum mawar merah dan surat cinta terlipat rapi di dalam amplop merah jambu yang kemudian ditaruhnya di locker meja wanita itu bersama harumnya aroma mawar. Hanya ini yang bisa ia perbuat untuk menyatakan ucapan selamat ulang tahun serta perasaannya. Sebenarnya ia ingin sekali berlutut di depan wanita itu saraya menyodorkan sekuntum mawar bersamaan dengan kejujuran hati yang ke luar membentuk serangkaian sajak dan kata rayu siratan cinta pungguk pada bulan. Namun tiada bisa ia seperti itu, karena dia bukanlah pujangga yang bernapaskan sajak dan kata rayu mendayu.

Waktu berlalu cepat dan kini sudah banyak murid yang berdatangan, tapi waktu seperti mengendap hingga terasa sangat lama baginya yang kini tengah risau menunggu di tempat duduknya dan sesekali ia memandang bangku wanita itu yang masih kosong. Kerisauannya semakin bertambah saat wanita yang ia tunggu datang bersama sebersit senyum terarah kepadanya, lantas ia hanya membalasnya dengan senyuman yang terkesan kaku. Matanya tak bisa berpaling sedetik pun saat ia lihat wanita itu mengambil mawar dan membaca surat cintanya. Perasaannya semakin tak karuan saat ia lihat wanita itu tersenyum kemudian membungkam bibirnya dengan telapak tangan.

“Zaky tahu nggak kamu kalau ada someone yang mengirimkan mawar dan sepucuk surat cinta padaku?” tanya wanita itu saat jam istirahat tiba.
“Tidak, apa kau tidak tahu siapa orangnya?” sahut Zaky.
“Aku nggak tahu, yang nulis surat lupa nulis namanya sendiri kayaknya.” wanita itu tersenyum sambil geleng pelan, kemudian ia tertawa renyah dan Zaky hanya bisa tersenyum simpul. Ia memang sengaja tak menyertakan namanya agar wanita itu tidak menjahuinya jika nanti ia mendapat jawaban tidak darinya.

“Hai, Bunga.” sapa seseorang.
“Eh, Randy!” sahut wanita itu pada seorang siswa yang kebetulan lewat di depan mereka. Entah kebetulan atau ia memang ingin menemui wanita itu.
“Ini bunga buat kamu.” diberikannya sekuntum mawar merah itu pada Randy yang sebenarnya adalah bunga tanda cinta Zaky padanya dan kini si kutu buku itu hanya bisa berdiam membisu melihat wanita yang ia cintai tanpa sengaja telah menyakiti hatinya.
“Oh, ya? Makasih.” Randy menerimanya kemudian mencium aromanya yang masih harum. “Maaf ya, aku nggak bisa ngasih kamu apa-apa. Ini kamu malah yang ngasih aku mawar, so sweet banget sih kamu cantik.” tambahnya yang semakin membuat hati anak kutu buku itu hancur berkeping-keping hingga hanya menyisakan rasa sakit dan sesal akan dirinya yang tak seharusnya mencintai wanita itu saat ia melihatnya pergi bersama orang lain dengan genggaman tangan di antara mereka.

Di hari yang sama ia harus menahan kepedihan saat wanita itu mengajaknya ke sebuah tempat dengan senja terindah. Tempat itu beralaskan rerumputan hijau, diteduhi oleh sebuah pohon rindang, dan terdapat hamparan ilalang di sekitarnya. Angin di sana berhembus lembut seakan merayu mereka untuk memejamkan mata sesaat agar rayuannya sampai ke hati. Wanita itu menatap matanya begitu dalam seraya senyumnya mengembang dan pemuda berkacamata itu hanya bisa membalasnya dengan senyuman kaku. Senja semakin indah dengan warna-warna sendunya. Sesaat mereka hanya terdiam membisu saat mentari mulai kembali keperaduannya. Para burung kecil terbang perlahan menuju sarangnya dan langit pun mulai menampakkan selimut malam yang mungkin akan setia menemaninya dalam kepedihan yang tiada bisa dijelaskan dengan apapun selain air mata.

“Bunga?” panggilnya pada wanita itu.
“Iya Ky. Ada apa? Apa senja di tempat ini kurang terasa di hatimu?”
“Ada perasaan lain yang menyita ruang di hatiku, sehingga senja hanya terasa hambar. Kau tahu Bunga?”
“Ada apa denganmu? Tak biasanya kamu seperti ini. Dan tahu tentang apa, kalau tahu tentang kamu yang belum ngucapin selamat ulang tahun ke aku sih iya!”
“Tak ada apa-apa, hanya saja kau harus tahu bahwa aku sudah mengucapkannya lewat tulisan yang telah kau baca bersama mawarnya tadi pagi. Aku kira kau akan menyimpannya, tapi aku tahu itu tak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku telah jatuh cinta padamu Bunga.”

Bunga hanya bisa terdiam membisu saat sahabatnya itu mengatakan kata-kata yang mampu membuat air matanya mengalir begitu saja bersamaan dengan tangannya yang membungkam bibir. Dipeluknya ia dengan erat bersama air mata yang terus mengalir sampai malam menyapa.
“Maafkan aku.” wanita itu berucap seraya semakin mempererat pelukannya dan malam pun juga mempererat pelukan kepada mereka dengan sentuhan gigil.

Cerpen Karangan: Garin Afranddi
Facebook: Garin Afranddi
Spesial thanks to Dzaky Rais.

Cerpen Hanya Ingin Kau Tahu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jatuh Cinta Itu Mudah

Oleh:
Siang itu, udara sangat terik dan kami merasakan lelah yang sangat setelah dinas malam, dan sungguh hari yang melelahkan karena penghuni di bangsal penyakit dalam ini sebagian besar pasien

If You’re Not The One

Oleh:
Aku salah satu siswa SMA Garuda. Di situlah dimulainya kisah cinta pertamaku. Bagiku tak semua cinta berakhir bahagia dan ini kisah cinta pertamaku. Entahlah perasaan ini layak disebut cinta

Diamku

Oleh:
“kyaaaaaaaaaaaaa” teriak sita sahabat baikku “astagfirullah” kagetku “Apa-apaan sih kamu, teriak-teriak gaje” “coba lihat di sana” “iya aku lihat kok, memangnya ada apa?” “itu kan cowok yang kamu suka,

Because Of You (Part 3)

Oleh:
Setiba di rumah besar itu, Fino langsung mengantarku ke kamar Jonathan. “Ini kamarnya, Tita juga ada di dalam, kamu masuk aja,” ucapnya. “Kamu gak ikut masuk,” tanyaku pada Fino

Tegarnya Nuna

Oleh:
Hai, namaku Nuna. Tadi, aku sempat melamun. Entah memikirkan apa. Hanya saja tatapanku kosong. Lampu dari kendaraan bermotor pun menyorotiku tapi ku hanya diam, tak menghiraukan. Tatapanku masih kosong,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *