Hanya Sebuah Angin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 October 2017

Matahari menyinari halaman sekolah yang dipenuhi para siswa. Mereka akan segera melaksanakan upacara sekaligus pengumuman para juara dalam Lomba Pionering yang berlangsung dua hari yang lalu.
Upacara berlangsung dengan lancar dan khidmat meskipun diselingi dengan ambruknya beberapa murid yang tidak kuat diterpa terik matahari.

Tibalah saatnya pengumuman sang juara. Satu per satu mereka maju dengan raut gembira meskipun masih tersisa gurat-gurat lelah. Sorak-sorak mulai menggelegar ketika sang kapten basket maju. Dia adalah Andika Rasya Prastawa.
Pekikan dari para siswi menggema mulai dari angkatan kelas tujuh sampai dengan sembilan. Kecuali beberapa siswi yang memang tidak mengidolakan Andika.

Seorang siswi menatap sang kapten basket dengan senyum lembut “kau selalu membuat sekolah bangga. Sungguh, aku iri denganmu,” gumamnya pelan.
Rona di pipinya menyebar “tapi aku juga menyukaimu,” ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga “kenapa aku harus mempunyai perasaan ini?”
“Dian!”
Bahunya menegang
“Astaga! Aku kira siapa… ternyata kamu Lia,” ujar Dian sambil memegangi dadanya. Lawan biacaranya alias Lia menyengir sambil merangkul bahunya
“Maaf, gue lihat lo asik banget natap doi, makanya gue kagetin aja biar lo gak ketahuan anak-anak,” Jelas Lia sambil menggenggam sebelah tangan Dian “iya-iya aku maafin,”

Dian mengajak Lia untuk mundur ke barisan belakang “Dika beruntung ya, bisa punya banyak fans. Aku saja yang kemarin juara OSN IPA gak punya fans apalagi temen sejati. Aku cuma punya sahabat sejati yang ada di sebelahku ini,” Gerutu siswi itu dengan sedih.

Lia menatap sahabatnya dengan kesal “Udah! Lo gak perlu ngungkit pengkhianatan itu, gue gak suka ngelihat lo sedih. Lebih baik kita langsung baris, gue gak mau jadi objek utama gara-gara seruan guru olah raga kita. Ayo!”

Dian menatap siswi di depannya dengan haru, tidak pernah ada yang sebegitu peduli dengannya termasuk kedua orangtuanya.

“Hei! Ayo!”
Matanya mengerjab pelan lalu wajahnya mulai berseri kembali
“Iya,”

Para pemain basket mulai memasuki ruang olah raga karena mereka akan mulai mendapat pembinaan dari pelatih. Masing- masing mulai membuka loker dan mengambil seragam olah raga, terkecuali Dika yang hanya menatap bengong isi lokernya.

“Dik! Lo kenapa, sih?” Tanya Aldo menatap sahabatnya yang masih bengong.
“Gue bingung,”
Dahi Aldo mengkerut “Maksud lo?”
“Gue dapat surat cinta dari orang yang sama lagi, gue bingung surat ini lebih baik dibuang atau disimpan buat dikembalikan ke yang buat?” Sahut Dika dengan nada bingung. Sahabatnya nampak sedang berpikir keras.
“Kayaknya lebih baik lo simpan dulu itu surat karena gue yakin lo juga nyimpan surat-surat sebelumnya, kan?”
Dika menatap sahabatnya sambil menyengir
“Tahu aja lo, emangnya kenapa?”
“Lo bisa nyelidikin siapa orang yang ngirim, caranya lo harus pura-pura bilang kalau lo jatuh cinta sama sang pengirim misterius. Gimana? Lo setuju?” Tawar Aldo sambil mengambil seragam olah raga diikuti dengan Dika.
“Oke, gue setuju. Kapan gue mulai drama ini?” Tanya Dika sambil menyembunyikan ‘surat cinta’ itu di sakunya.
“Tergantung lo, tapi saran gue lebih baik hari ini,” Jawab Aldo sambil bergegas keluar kelas.
Dika menghela napas pelan lalu melangkah keluar menuju ruang ganti.

Empat menit kemudian, para pemain sudah siap di lapangan. Pak Tegus selaku pelatih sudah siap dengan kepala sekolah yang berada di sampingnya.
Suasana langsung sunyi ketika pelatih menjelaskan perihal pertandingan bulan depan yang sayangnya tidak didengarkan oleh Dika. Entah apa yang ada di pikirannya hingga tidak mendengarkan penjelasan yang sangat penting tersebut.

“Maaf pak, boleh saya izin ke belakang,” izin Dika dengan tiba-tiba, mengejutkan seluruh orang yang ada di lapangan itu.
“Baik, jangan lama-lama. Nanti, kamu tanya dengan yang lain saja,” Sahut Pak Teguh langsung melanjutkan penjelasan.
Dika yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan segera bangkit lalu berlari menuju ke toilet.

Sesampainya di dalam toilet, Dika segera merogoh sakunya lalu membuka isi surat.

Apa kamu tahu?
Surat ini melambangkan isi hatiku
Sekali lagi aku ingin menegaskan
Bahwa aku tidak tahu…
Aku tidak tahu kenapa aku bisa menyukaimu
Yang aku tahu awalnya aku hanya iri padamu
Iri karena kau diperhatikan orang banyak
Sedangkan aku seperti sosok upik abu
Selalu diinjak-injak bahkan dikhianati oleh sahabatku
Aku hanya sebutir debu
Tidak terlihat oleh siapapun
Hingga tiba-tiba kau menolongku
Menghancurkan segala presepsi buruk tentangmu
Aku bingung
Aku bimbang
Kau tidak perlu tahu siapa aku
Cukup kenali aku sebagai sang angin
Yang tidak bisa kau lihat tapi bisa kau rasakan

Tertanda
Si angin

Dika tertegun setelah membaca surat itu, tekadnya semakin kuat untuk menemukan sang penulis surat.
“Gue pasti ketemu sama lo, si angin,”

Cinta tidak hanya meledak-ledak
Cinta juga dapat mengalir seperti air
Cinta juga dapat samar seperti angin

Ketika bel istirahat pertama berbunyi, para siswa mulai berhamburan keluar kelas. Seketika kantin, lapangan, dan taman dipenuhi murid-murid yang ingin menghabiskan waktu istirahat
Tiba-tiba suasana di lapangan menjadi ricuh. Hal itu menarik perhatian Dian dan Lia. Mereka mendekati gerombolan itu, mencoba mengintip siapa sebenarnya biang dari kericuhan itu

“Tolong semuanya minggir sebentar!” Seruan Aldo menggelegar diikuti dengan beberapa pemain basket yang mengawal Dika.
“Itu kan…”
“Dika,” sambung Lia melanjutkan ucapan Dian yang belum sempat selesai karena terkejut dengan kehadiran Dika.
“Kita sebaiknya pergi dari sini, perasaanku tidak enak,” ajak Dian sambil menarik tangan Lia.
Bukannya melangkah ke belakang, Dian tertarik ke depan karena ditarik oleh Lia.
“Hey!”
“Kita harus tahu apa yang terjadi, gak biasanya Dika dikawal. Pasti ada sesuatu yang mau dia utarakan ke penjuru sekolah.” Jelas Lia sambil menggenggam tangan Dian, meyakinkan sahabatnya yang sedang khawatir
“Tenang aja, kalau ada sesuatu yang membuat lo makin khawatir… cukup genggam tangan gue,” Tutur Lia dengan lembut yang ditanggapi Dian dengan anggukan kecil. Ia mengeratkan genggaman tangannya ketika Dika maju ke depan bersiap untuk bersuara.

“Hai semua!”
“Haiiii!!!”
“Gue akan ngungkapin satu hal,” ucap Dika dengan lantang. Sontak semua yang ada di lapangan menjadi hening. Dian semakin mengeratkan pegangan. Dia tidak ingin menyakiti perasaannya jika yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
“Gue akan ngungkapin perasaan gue sama si angin,”
Dian terdiam, meresapi tiap kata yang keluar dari mulut Dika.
Murid-murid menatap Dika dengan pandangan terkejut.

“Ya, gue jatuh cinta sama sang angin… sosok misterius yang selalu ngawasi gue dari jauh, gue cuma ingin bilang sama dia yang gue yakin dia ada di sini… kalau gue suka sama dia. Gue akan tunggu balasan lo, gue beri waktu seminggu… setelah pulang sekolah temui gue di pohon besar, gue akan selalu nunggu lo angin, semuanya… gue permisi,” Jelasnya panjang lebar.
Dika dan kawan-kawan segera beranjak pergi meninggalkan lapangan yang mulai bising termasuk Dian yang masih membeku di tempatnya.
“Ini tidak mungkin. Aku…”

Suasana di dalam kelas VIII A sangat ricuh karena hampir satu kelas membahas tentang pernyataan cinta dari sang kapten basket. Mereka masih tidak percaya jika sang kapten jatuh cinta kepada orang yang bahkan belum ditemuinya.

“Sumpah! Gue masih syok!”
“Iya, gue iri banget sama orang yang disebutin Dika tadi,”
Begitulah cerocosan dari Indah dan Dewi. Mereka merupakan biang gosip di kelas. Jadi, jangan heran kelas akan menjadi sepi tanpa kehadiran mereka berdua.

Sedari tadi Dian tampak terdiam di bangkunya. Lia sedang ada urusan dengan salah seorang siswa yang tidak dikenalnya membuat ia harus pasrah duduk dengan bosan.

Dian juga masih termenung dengan ucapan dari Dika. Ia masih tidak menyangka bahwa sosok yang wibawa seperti Dika ternyata bisa menjadi sosok yang blak-blakan.

“Ternyata kamu juga bisa jadi seperti itu,” kepalanya tertunduk “Aku terkejut dengan tindakanmu tadi,”
Kepalanya ia senderkan ke meja sambil menghadap ke jendela. Memang dia kesepian karena ia adalah tipe anak yang sulit bergaul semenjak kejadian penghianatan sahabatnya beberapa bulan yang lalu. Meskipun begitu, dia bukan termasuk anak nerd karena dia sendiri tidak memakai kaca mata tebal ataupun mengepang rambutnya.

“Eh kuno! Cepetan ke sini!”
Dian mendengus pelan ketika mendengar teriakan dari Dewi.
“Iya, kenapa?” Tanyanya setelah menghampiri Dewi beserta Indah dan Luna sang mantan sahabat.
“Lo dari pada gak ada kerjaan, lebih baik lo bawain barang kita,” Perintah Indah dengan nada angkuh serta tatapan menghina dari Luna yang tidak ia hiraukan.
“Maaf, aku gak mau. Kalau kalian cuma mau bilang itu aku permisi,” Sahutnya datar sambil hendak melangkah pergi, namun tertahan karena rambutnya ditarik oleh Luna.
“Lo jangan kurang ajar ya! Kita itu udah minta baik-baik jangan sok—”
“Kamu juga diam aja. Apa kamu gak ngaca? kamu itu seorang PENGHIANAT. jangan lupakan itu, aku permisi,” Ucapnya dengan datar sambil melepaskan cengkraman Luna di rambutnya. ia juga menekankan kata ‘pengkhianat’ membuat mantan sahabatnya itu membeku di tempat
Dian meninggalkan ketiga sosok yang terkejut mendengar penuturannya yang terkesan dingin. tersirat rasa penyesalan di mata Luna namun ia segera menggelengkan kepalanya. Dewi dan Indah menatapnya bingung.

“Lo kenapa?”
Luna menatap Dewi dengan santai “Gak pa-pa. Gue cuma terkejut kalau si Kuno itu ternyata bisa jadi es batu,”
“Tapi, kenapa dia tadi nyebut lo pengkhianat?” Indah menatapnya dengan penuh selidik.
Dengan gugup Luna menjawab “Ng, dulu gue sempet jadi temennya… tapi, lo tahukan dia gimana? Akhirnya gue mutusin buat ngejauhin dia,”
hening.

Sejenak, suasana di antara ketiganya menjadi kaku, namun akhirnya cair karena celetukan dari Dewi “Huh! Syukur deh. Gue kira gara-gara lo beneran ngehianatin dia. Lo tau kan, kita berdua itu gak suka sama penghianat,”
Luna hanya membalas dengan mengangguk pelan dan menampakkan senyum kecilnya, menyembunyikan segala ketakutan yang muncul. Ia tidak menyadari bahwa cerita yang dia mainkan kelak akan menjadi bom telak baginya.

Ego, keserakahan, dan nafsu
Ketiganya adalah musuh di balik selimut
Ketika kau kalah terhadap ketiganya
Tinggalah menunggu kapan kau akan hancur

Cerpen Karangan: Ismi Tazkiyatul Aulia
Facebook: Ismi Tazkiyatul

Cerpen Hanya Sebuah Angin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamatkan Ekosistem Laut

Oleh:
Suatu hari tinggallah seorang pemuda yang suka memancing. Ia seorang yang suka membersihkan dan bertanggung jawab kepada ekosistem laut. Pemuda ini bernama Anto. Jika Anto memancing pasti Anto mengajak

Just Give Me A Reason

Oleh:
Teringat masa SMP. Masa dimana aku tak pernah punya sahabat. Teman memang banyak, namun tak ada satupun dari mereka yang bisa disebut sahabat. Aku kadang penasaran bagaimana rasanya mempunyai

Kisah Kita

Oleh:
Ya, tepat tanggal 04 November 2015 di hari Rabu. Mungkin menurut orang-orang itu hari yang biasa. Tapi, tidak untukku dan seorang lelaki. Lelaki itu adalah temanku saat di perkemahan

Bakpao (Part 1)

Oleh:
“Dia nerima lamaran gue, Va.” Haiva diam. Terpukul. “Kasih selamat dong buat kakak lo ini.” “Selamat ya Kang.” Kang, begitu panggilan Haiva kepada laki-laki bernama Arya itu. Mereka memang

Keringat Darah

Oleh:
Remuk. Kurasa kata itulah yang pantas untuk melukiskan keadaanku saat ini. Hanya rasa nyeri yang menambatkan diri di seluruh tubuhku. Tulangku bagai dihunjam ribuan jarum, persendianku bagai kehilangan fungsinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *