Harapan Langka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 April 2017

Sekolah ini, penuh dengan anak-anak yang cantik-manis dan ganteng-cool. Tapi itu kebanyakan, ya. Karena aku berpikir kami (aku dan Veni, sobatku) tidak secantik-manis yang mereka kira.

Kelasku, kelas 8A, adalah kelas yang menjadi pusat perhatian di angkatan 7. Wuissh, tentu saja aku senang. Di kelasku ada Cecil si cantik yang gayanya bak model, Santi yang mukanya imut-imut gitu, atau Rio yang tampannya luar biasa dan gayanya keren abis. Dulu aku sempat suka, tapi setelah tahu hidupnya yang terlalu bebas, aku berhenti. Move on, baby!

Tapi kekurangan dari kelas ini tuh muridnya bodoh-bodoh semua. Bahkan aku yang dulunya ranking 9-10 langsung melaju jadi ranking 2. Yah, segelnya memang bagus sih, tapi dalamnya ancur. Setiap pelajaran matematika mereka semua berbondong-bondong datang ke mejaku dan Veni. Saking bodohnya, mereka tidak tahu hasil dari 10 dikali 2. Dan tentunya mereka membuatku kesal setengah mati, rasanya ingin kabur dari kelas ini.

Sebenarnya ini hal yang wajar, karena di angkatanku, cowok-cowoknya rata-rata bodoh semua. Aku jadi malas bertemu dengan tampang-tampang mereka, sekaligus malu dengan angkatan sendiri. Jadilah wajahku seringkali menoleh ke lantai paling atas. Dimana anak-anak kelas 9 berada. Mereka pintar-pintar semua, dan tentunya ganteng-ganteng, walaupun gak seganteng Rio.

Naksir? Sama angkatan 6? Pasti. Aku terpesona dengan seseorang di kelas 9B. Orangnya tinggi, ganteng, pintar lagi! Tapi tak mungkin aku memilikinya. Tinggiku aja cuma sepundak, dan kepintarannya jauh beda. Aku tidak tahu apa yang spesial dari diriku. Tapi semua orang tahu apa yang spesial dari dirinya. Dia, si Ryan!. Aku tidak pernah mengobrol sedikit pun dengan Ryan sampai kejadian ini:

Semua orang sudah pulang. Aku tertinggal sendirian sampai jam 3. Ayahku tak kunjung menjemput. Benar-benar menyebalkan! Wajahku cemberut menunggu. Setiap ada suara knalpot aku selalu menoleh, berharap bahwa itu Ayahku.
Karena bosan menunggu di balkon depan kelas, akhirnya aku pergi ke UKS. Ruangan itu sangat dingin dan aku bisa tidur-tiduran di sana. Suasananya juga tenang, tidak berisik seperti di kelas. Akhirnya aku turun lalu melangkah ke UKS.
Tiba di sana, aku langsung membuka pintu lalu merebahkan badanku di kasurnya. Sangat tenang, damai, sepi. Aku mengarahkan pandanganku ke atas. Di atas UKS, tepat dimana kelas 9 berada. Dan anehnya, aku mendengar suara orang yang sedang bernyanyi. Aku sangat terkejut. Masih adakah yang belum pulang?
Disebabkan oleh rasa penasaran yang teramat sangat, aku bangun lalu bergegas pergi ke atas lagi. Setidaknya dia dapat menemaniku. Semakin dekat suara itu semakin jelas. Namun ketika aku berada tepat di depan kelasnya, suara itu berhenti. Jantungku berdegup kencang. Apa yang terjadi?

Perlahan-lahan aku membuka pintu kelas. Tanganku gemetar. Lalu tiba-tiba..
“HAAAAAA!!!”
“AAAA!!!”
Aku melompat ketakutan. Teriakanku mungkin terdengar sampai ke kelasku jika ada orang di sana. Ternyata Kak Ryan! Aku tidak kesal karena dikageti, malah aku senang sekali dan hatiku semakin berdebar-debar!
Maksudku, coba bayangkan. Berdua di sekolah bersama orang yang kita sukai, dan lebih parah lagi kita dikagetinya seperti saudara sendiri. Aku melongo sebentar, sampai akhirnya dia menepuk pundakku. Aku menoleh gugup melihat wajahnya yang super tampan itu.

“Hahaha. Maaf ya udah ngagetin. Belum dijemput?”
Hatiku semakin berdebar. “Hahaha. I..iya. Ayah belum datang juga, hehe..”
Dia tersenyum. Aku terpesona. Aku kembali lagi ke alam bawah sadarku, dan membayangkan cerita tentang kita berdua. Lalu dia menepuk pundakku lagi.
“Oy! Sadar, dek! Hahaha.” ujarnya tertawa. Aku kembali sadar. Tapi terpesona lagi.
“Hehehe. Udah ngantuk, sih. Kakak juga belum dijemput?” kataku mendongak karena aku hanya sepundaknya. Ia mengangguk.
“Tadi lu denger gua nyanyi-nyanyi gak jelas, ya?”
“Hahaha. Iya. Kayak orang gila.” DEG! Aku tak tahu mengapa aku mengatakan hal itu. Hatiku langsung diselimuti rasa cemas, melihat wajah bengongnya dengan alis terangkat.
“WUAAAHHAAAHAA!!” Ia tertawa terbahak-bahak, agak menyinggungku. Tapi setidaknya dia tidak marah, lah. Nyaris saja. Aku tertawa dipaksa. Daripada diam seperti anak dungu yang tidak tahu apa yang lucu.
“Sori, sori! Hahaha. Gua merasa kaget, karena ternyata semua orang dari semua kalangan sadar bahwa gua itu gila. Dan dengan beraninya lu ngasih tahu! Duh, dek, lu seru juga, ya!”
Mendadak aku langsung merasa kegeeran berlebihan. Geernya tingkat dewa. Biasalah, orang yang sedang jatuh cinta, cepat geer walaupun dia cuma senyumin aja. Dia masih berusaha menghentikan sisa-sisa ketawanya, dan aku berusaha menghentikan sikapku yang gede rasa ini.

Tiba-tiba..
“Aisy!! Yuk, pulang! Maaf ya Ayah kelamaan, tadi ada tamu penting.”
Ah, Ayah. Selalu datang di saat-saat bahagia. Dan merusak semuanya.
Yah, jadi seperti itu kisahnya. Tamat.

Makanya sampai sekarang, aku sering menyapa Kak Ryan dan berusaha basa-basi sebentar denganya. Mungkin banyak yang cemburu melihat keakrabanku dengannya. Dan aku tahu rasanya cemburu dengan Kak Ryan. Karena aku sering merasakannya, saat melihat seorang gadis angkatanku yang cantik jelita plus manis yang suka mengobrol dengan Kak Ryan. Lebih sering dariku. Obrolannya juga kelihatan sangat akrab. Aku sangat kesal melihatnya. Ya kalau minta Kak Ryan milih sih, pasti milih gadis itu. Namanya Amira. Dia berada di kelas 8B.

Kebetulan sedang ngomongin Amira, aku melihatnya datang kepadaku, lalu menarik tanganku entah mau dibawa kemana. Aku terus dibawanya lari sampai tiba di aula.
“Hosh, hosh.. Sori, ya, aku bawa-bawa kamu sampai ke sini. Jadi gini, besok kan ada lomba menggambar, kamu mau ikutan, gak?” ucapnya. Wajahnya yang manis kok, malah meluluhkan hatiku. Tapi tetap saja aku sebal denganya. “Hei? Mau gak? Soalnya aku dengar kamu suka..”
“Ya udah. Kapan lombanya?” kataku memotong. Ia nampak terkejut dengan sikapku. Tapi dengan sabar gadis itu berusaha tersenyum.
“Besok. Kebetulan aku juga mau. Jadi aku ajak kamu sebab gak ada lagi yang mau ikutan. Kita latihan bareng, yuk, pulang sekolah?” tanyanya mengharapkan jawaban, ‘ya’. Yah, mungkin aku sudah bersikap kurang ajar kepadanya. Aku bisa mengganti rasa bersalah itu.
“Baiklah. Di kelasku, ya?”
“Hore! Oke, aku akan datang ke kelasmu secepat mungkin seperti jet yang lepas landas!”
Aku dan dia tertawa kecil.

Waktu berlalu dengan cepat. Aku menyiapkan buku sketsaku yang selalu kubawa. Sekaligus sibuk menjawab pertanyaan dari teman-temanku tentang apa yang mau kulakukan. Setelah semuanya pulang, Amira datang. Ia juga membawa buku sketsanya yang satu kali lipat lebih besar dariku. Dia pun duduk di meja Veni.
“Mmm.. Kita coba menggambar manga, yuk!” ucapnya berusaha memecah keheningan. Aku mengangguk. Kami mulai menggambar. Melihat manga buatannya, aku jadi merasa minder. Mata yang ia buat sangat indah, apalagi bentuk mukanya. Berbeda jauh denganku, padahal katanya karyaku adalah yang terbaik di kelas ini.

“Rambutnya bagus. Kayak ada efek gemerlap gitu. Ih, aku jadi iri deh.” ucapnya pura-pura sebal. Aku nyengir.
“Makasih. Kamu juga matanya bagus kok, aku malah minder sama gambarku.”
Kami lanjut komentar-komentar, atau membicarakan tentang manga sampai curhat tentang masalah masing-masing. Aku pun merasa dekat dengannya. Gadis ini seru juga kalau diajak mengobrol. Sampai aku ingat permasalahanku dengannya. Kecemburuan. Ini waktu yang tepat menurutku. Akhirnya aku membuka mulut.

“Mmm.. Amira?”
“Iya?” jawabnya sambil terus berkutat dengan gambarannya. Menghias tangan si manga dengan gelang-gelang cantik.
“Kamu kok akrab banget sama Kak Ryan? Kayaknya setiap ketemu itu ngobrol deh, bahkan pernah berduaan di balkon depan kelas. Kalian pacaran?”
Amira senyum-senyum sendiri, lalu tiba-tiba mengarahkan pensil gambarnya ke mukaku, “Cemburu?”
Aku jadi salah tingkah. Aku diam saja sampai dia angkat bicara.
“Aisy, Aisy. Dia itu kakakku! Aku sangat dekat dengannya, tak terkecuali di sekolah. Kamu masih punya harapan, kok.”
Aku melongok. Kakak? Jadi saudaraan, nih? Beneran? Aduuh.. Bodohnya aku. Pipiku bersemu merah karena malu. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Sedangkan Amira malah tertawa.
Kemana aku selama ini?

Cerpen Karangan: Alia Rahmani Dharma
Blog: storyseasonblog.wordpress.com
Alia Rahmani Dharma
Penulis pemula (amatiran)
1 SMP
12 tahun

Cerpen Harapan Langka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakit Hati

Oleh:
Saat ini aku merasa persahabatan ku dengan riko semakin dekat bahkan aku merasakan sesuatu yang aneh terhadap Iko seperti perasaan sayang lebih dari sahabat, aku mencoba untuk memungkiri perasaan

Aku Membencinya

Oleh:
Di suatu sekolah terdapat siswi SMA kelas 1 yang pintar, Tiza namanya. Sifat Tiza sangat berbeda dengan Zein. Zein adalah siswa yang malas, bodoh dan selalu mencontek PR Tiza.

November Rain And Anonim

Oleh:
Sebelum muncul di langit yang cerah, matahari terbit sudah ku dahului. Aku sudah menunggu di halte, selalu masih pagi-pagi buta, menunggu bus datang, sebagai alat transportasiku menuju sekolah. Ku

Golden Swan

Oleh:
Suara teriakan gadis ini terdengar nyaring beradu dengan petir menyambar memecah hujan. “aarghh! baju seragamku jadi kotor! dasar pengendara mobil tidak tau sopan santun” jeritnya dengan nada penuh kemarahan

Aku, Kamu dan Kalian

Oleh:
“Hoaammm…”. Kurenggangkan tubuh sambil menggeser gorden di atas kepalaku. Pagi itu adalah pagi yang sama, pada pagi-pagi biasanya. Kubangunkan tubuhku dan bergegas menuju kamar mandi. Yahh.. seperti biasa hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *