Harapan yang Tak Sesuai (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 February 2019

Ini aku. Seorang yang sangat suka berkhayal. Entah itu berkhayal tentang mimpi ataupun berkhayal tentang masa depan. Dan, suatu hari, saat aku sedang asyiknya berkhayal, tiba-tiba aku didorong oleh seseorang. Mengagetkan saja! Khayalanku terpotong karena dia. Sebenarnya sangat kesal, tapi jika tidak dihentikan aku bisa ditabrak oleh truk.

“Kalau jalan itu hati-hati. Seenaknya saja jalan, memangnya jalan ini punyamu?” protesnya. Kutatap dia, seragam sekolahnya sama denganku.
“Siapa kau?” tanyaku.
“Baiklah, kalau ini maumu. Kuperkenalkan aku Luis Anderson,” jawabnya.

Aku melangkahkan kakiku. Suara derap kaki dapat terdengar karena sekarang aku berada di tempat yang sepi. Rasanya aku capek menghadapi realita. Mengapa semua ini hanya terjadi padaku saja? Apakah tidak ada yang lain yang sama denganku? Tentu saja, itu karena aku berada di 2 garis yang berbeda. Bingung rasanya jika aku harus memilih di antara keduanya. Apakah aku harus memilih dia atau dia?

Flashback
Aku Denanta Gaustina. Biasanya aku dipanggil Dea. Aku selalu saja suka melamun, entah apa yang spesial tapi tetap saja kegiatan itu selalu ada. Hingga suatu hari, seseorang berhasil mengalahkan lamunanku itukan diriku ini, “Luis Giantama,” ujarnya. Oke, namanya Luis.

“Buat apa kamu di sini? Bukannya kamu ini adalah tim pramuka yang termasuk dalam bidang penting?” tanyaku.
“Itu karena aku harus jajan dulu. Sekalian ingin memberitahukan ke orangtua juga. Eh, kamunya malah melamun sambil jalan. Pake acara enggak lihat truk lagi. Untung ada aku, coba tidak, kamu bakal digilas jadi adonan tuh,” jawabnya. Kuakui orangnya sangat humoris. Tapi, itu hanya berlaku sebentar. Dia terkenal oleh cewek-cewek di kelasnya. Yang kutahu dari temanku, dia menyukai salah seorang murid perempuan di kelasnya, Mia.

“Kenyataannya, dia enggak bakal menyukaimu, pertolongan itu juga hanya keberuntungan saja,” ujar temanku, Tiara.

“Ya, sejak dia tahu kalau aku menyukainya, dia tidak pernah menyapaku sama sekali. Ternyata memang benar kalau dia tidak menyukaiku. Dia menyukai orang lain. Mungkin saja, saat itu aku hanya jadi bahan pelampiasan,” ujarku. Baiklah, dia menyukai yang lain, aku biasa-biasa aja. Toh, mungkin kita masih belum ditakdirkan. Lebih baik, aku membiarkannya saja.

Namun, selalu saja ada anak yang membuat gosip tentang hubunganku dengan Luis. Ya Tuhan, mau mereka apa? Hingga pada suatu hari, aku mendengar suatu gosip yang sangat menyakitkan hatiku.

“Eh, dengar-dengar si Luis udah pacaran sama si Mia,”
“Hah? Yang bener? Lalu si Dea gimana?”
“Katanya sih si Luis pernah marahi si Dea gara-gara si Dea sering ngejar dia. Lalu Luis ilfeel sama Dea dan berpindah ke Mia,”
“Kayaknya sih ya, si Luis emang udah suka sama Mia sejak dulu, cuma si Mia-nya aja tidak peka. Lalu si Dea datang dan Luis jadiin Dea bahan pelampiasannya deh,”
“Apa? Pelampiasan? Pasti sakit banget tuh ya. Bayangkan kalau jadi Dea, mungkin aku udah bunuh diri karena enggak kuat menahan realita,”

Aku terkejut. Apa benar perkiraanku selama ini? Aku hanya menjadi bahan pelampiasan saja. Sementara, perasaanku selama ini tidak pernah diperhatikan. Aku memegang dadaku. Jadi, selama aku ada di sini, aku hanya dianggap ada sebentar saja? Maaf Luis, aku harus menjauh darimu.

Selain itu, aku juga pernah dimarahi olehnya. Ya, bukan marah sih, cuma ditegur saja. Ini karena aku sering bertemu dengannya. “Maaf, kali ini jangan pernah mendekati aku lagi,” kata-kata itulah yang membuatku jauh darinya. Baiklah, lagian sudah akhir semester dan aku akan bertemu dengan orang lain yang lebih pantas untukku. Semoga harapan itu selalu ada dan sesuai.

Setelah liburan akhir semester
Apa kabar? Ini masih dengan ceritaku. Sekarang sudah saatnya aku membuka lembaran yang baru. Aku bersiap-siap melangkahkan kaki masuk di sekolah. Aku bertemu dengan kawan lamaku. Aku duduk dan berdiri di teras depan. Saat aku menoleh ke arah samping, aku melihat dia masuk ke dalam kelas yang tepatnya berada di samping kelasku. Apakah ini kesialan atau keberuntungan?

Hari-hari berjalan seperti biasa. Aku berkenalan dengan teman-teman sekelasku. Sekarang, aku bertemanan dengan seorang murid laki-laki, dia adalah Layreno Jessgerbert. Biasanya orang-orang memanggilnya Lay. Tapi, aku memanggil dia Alay, karena lebih enak didengar dan lebih sesuai dengan sikapnya yang alay tapi humoris itu.

“Alay,” panggilku.
“Apa sih? Minta tolong yang MTK?”
“Ya. Aku bingung yang ini, susah banget!” seruku. Alay juga pintar dalam akademis.
“Oke, jadi ini ditambah ini dan ini tambah ini…,”

Omong-omng soal Luis, aku tidak pernah tahu kabarnya. Yang jelas, kabar terakhir yang kudengar adalah dia sekelas dengan orang yang disukainya dan makin lama penggemarnya sangat banyak. Ya, kuharap dia bisa lebih bahagia dibandingkan aku yang masih mengaguminya secara diam-diam.

Saat ini, aku masih menutupi hatiku. Aku tidak mau jatuh cinta duluan. Rasanya sakit jika suatu saat aku tahu bahwa aku adalah seorang pelampiasan, seorang pelarian. Aku tak mau jika itu terjadi. Saat ini, aku berjalan bersama Lay. Ini karena kerja kelompok dan anggota kami pada kabur semua dan tersisalah kami berdua. Saat itulah, aku dan Lay bertemu dengan adiknya Lay, Yasen. Adiknya masih kecil. Sekitar 4 tahunan gitu. Lay menggendong adiknya yang masih kecil itu. Aku melihat ke arah mereka. Adiknya sangat imut, aku sampai mau mencubitnya. Lay mendekati adiknya kepadaku.

“Ho!” Lay mengagetkanku.
“Ihhh… Alay!!! Apa yang kau lakukan? Aku sampai kaget,” seruku. Lay menggendong adiknya dan berjalan menuju lorong sekolah. Aku mengikutinya.
“Habis kamu melamun sih, entar ketabrak, kamu baru tahu,” katanya. Aku tersentak. Kepalaku memutar kembali ingatan saat pertama kali aku bertemu dengan Luis. Dimana, Luis menyelamatkanku dari tabrakan maut. “Dan,” suara itu mengagetkanku lagi. “Aku tak mau kalau itu terjadi,” sambungnya.

“Kakak, beli permen yuk!” ajak Yasen. Lay mengangguk. Yasen bergerak senang di gendongan Lay. Aku tersenyum melihatnya. Tiba-tiba, sandal Yasen terlepas. Aku berhenti dan membungkuk dengan tujuan mengambil sandalnya, bertepatan pula Lay juga melakukan hal yang sama. Kepala kami terantuk.
“Aw!!” jeritku. Aku memandang ke arahnya. Kami terdiam sesaat. Yasen hanya tertawa kecil.

“Pasti akit kan?” tanya Yasen. Kami menoleh ke arah Yasen. Lalu tertawa.
“Ya iyalah. Masa enggak sakit,” Lay memasangkan sandal Yasen. Lay menggendong Yasen lagi. Yasen tertawa di gendongan Lay. Aku pun mengikuti Lay sambil tertawa. Tingkah imut Yasen membuatku lupa bahwa sekarang, aku sudah melampiaskan seseorang yang bahkan sudah bisa membuatku tertawa lepas untuk kedua kalinya, selain dia.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Ariki Taruka
Blog / Facebook: Silvia Anggelina
Yo!!! Bertemu lagi dengan Ariki Taruka, seorang penulis cerpen yang sangat suka sekali berkhayal. Kira-kira dari sebagian alur cerpen, ada yang merupakan kisah nyata dari hidup Ariki. And, hope you like it, guys!!! Arigatou gozaimasu… ^^

Cerpen Harapan yang Tak Sesuai (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


KetentuanMu

Oleh:
Sejak awal tak pernah ada niat Putri untuk sekolah di tempatnya sekarang berdiri, jangankan untuk sekolah untuk menginjakan kaki di depan pintu gerbang saja mustahil fikirnya. Bukan karena dia

Mr Sooneth A.K.A Smith (Part 1)

Oleh:
Kriinggg…!!! Kriiinggg…!!! Kriiingg…!!! Suara alarm memberisikan tidurku saja. Tak sadar kulihat jarum jam menunjukkan pukul 9 pagi, aku langsung terbangun dari tempat tidurku mengingat akan ada rapat dengan pimpinan

Harapan Palsu

Oleh:
Pagi itu aku melangkahkan kakiku untuk menuju ke sekolah. Aku Aqilah seorang gadis yang duduk di bangku kelas 8 SMP. Memang masih terlalu dini untuk merasakan Cinta. Tapi mau

Suara Tengah Malam

Oleh:
Ayam berkokok, menandakan sang fajar telah terbit. Aku pun segera beranjak dari tempat tidur untuk mandi, lalu mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, karena hari itu Sabtu, 23 Desember

Class Sweet Class

Oleh:
Angin kencang melanda bulan Oktober. Bagi kami yang tak dapat menikmati tidur siang di rumah, hal ini menjadi sangat menyebalkan. Berbagai macam raut sebal, bosan, jenuh, ngantuk dan malas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *