Hilangnya Rasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 January 2019

Aku menghela nafas. Di depanku, Ata masih diam dengan fikirannya. Kalau hanya untuk berdiam seperti ini kenapa harus bertemu? Ata tampak membenarkan posisi duduknya, membuka mulut, namun urung mengatakan apapum. Aku meresap kopi yang kupesan. Pahit. Bagaimana aku bisa lupa kalau pelayannya belum menaruh gula.

“Kapan kau datang?” Akhirnya ia bersuara. Aku menghentikan tanganku. Kutatap ia lamat lamat. Aku memalingkan wajah, mendesah lirih. Mata coklatnya yang terhalang kaca mata frame hitam selalu tak bisa membuatku bertahan lama saat menatapnya. Aku menggigit bibir bawah, menahan semua rasa itu. Tak boleh kembali, tak akan kembali.

Ata menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Melihat perempuan di depannya yang memalingkan wajah membuatnya bingung apa ia berbuat salah.

“Kau menginap di sini?” Suara kedua. Lagi lagi aku menatap matanya. Kali ini aku berani lebih lama.
“Begitu penting kah?” Sarkastik. Aku berusaha sedatar mungkin mengucapkannya. Ata nampak kikuk. Ia menuang creamer dalam kopi hitamnya, lantas meresapnya dan menaruhnya kembali.

“Sudah lama kita tak menanyakan kabar.” Suara ketiga. Sudah lama sekali. Bahkan kita sama sekali tak pernah menanyakan kabar secara intens, hanya lewat group kelas yang untungnya masih terbentuk. Hanya alibi, basa basi. Ata membuka mulut, siap berbicara. Namun dengan cepat aku sanggah.
“Sejak 2 tahun yang lalu tepatnya.” Sanggahku. Menebalkan nada pada bagian 2 tahun. 2 tahun yang menyakitkan. 2 tahun aku terpuruk dan akhirnya bangkit lagi. 2 tahun aku melarikan diri dari bayangan. 2 tahun yang langsung sia sia saat 2 menit aku kembali dalam bayangan. 2 tahun yang terbayar dengan 2 menit.

“Bagaimana sekolahmu di Jepang? Kau sudah tak menggunakan motor bukan?” Ia bertanya, atau di telingaku lebih tepatnya mengklarifikasi kehilanganku. Sungguh ia sudah tau bahwa di Jepang, tepatnya Otsakai, pelajar tak boleh membawa kendaraan bermotor. Kami sama sama melihatnya di video 2 tahun yang lalu.
“Kau pasti tau apa yang terjadi.” Ata tertohok oleh ucapanku -dapat aku lihat dari ekspresinya yang terkejut- barusan.

2 tahun yang lalu. Ata datang ke barisan laki-laki kelasku. Belum aku tau kalau namanya Ata. Belum aku tau bahwa ada yang salah sejak aku bertemu dengannya. Ia di sebelahku saat sebelumnya sempat bergurau dengan teman satu kelasku yang sudah mengenalnya terlebih dahulu. Kami mengikuti upacara. Khikmad. Ia menginjak kakiku saat istirahat di tempat. Ia menunduk, meminta maaf. Aku hanya tersenyum. Upacara berjalan lagi. Tak ada yang salah. Yang salah hanya ujung mataku yang sesekali mempergoki Ata sedang memandangku.

Kami terlibat kerja kelompok. Beberapa perempuan kelasku sudah terpikat dengannya. Kami sering berbicara dan berdebat-lebih banyak berdebat- di kelas. Anime dan kelas satu satunya yang membuat kami berbicara. Kami terlibat kontak chat lewat aplikasi. Hanya tentang kelas lagi lagi. Kelas mencurigaiku suka dengannya namun dengan tegas kujawab tidak. Oh Tuhan kalau saja aku tau sudah ada tunas rasa itu pasti aku akan memusnahkannya saat itu juga.

Kami dekat. Selayaknya teman. Bertanya tugas, dan lainnya. Kadang bertukar judul anime. Kadang aku yang terlalu banyak mendominasi percakapan kami di chat pribadi. Ia hanya menjawab 15 huruf dengan 3 kali pengiriman. Hanya sekedar ‘iya’ ‘tidak’ atau bahkan kadang hanya dibaca untuk membalas omonganku yang banyak.

Dia menjauh saat teman laki-laki satu kelas kami menjadikannya bahan olok-olok. Mungkin malu atau sengaja menjauh tapi aku tak terlalu memikirkannya. Teman teman perempuanku di kelas juga mulai menjauhiku. Hanya mendekat jika ingin bertanya atau hanya sekedar menjawab singkat saat aku bertanya. Tak apa aku masih menerimanya. Hanya sahabatku Anes yang tak pernah menjauhiku. Ia dekat denganku, juga dengan Ata.

Ya Tuhan sungguh aku tak tau kalau kau punya rencana lain untuk pertemuanku. Sungguh aku tak tau bahwa ada yang salah dengan Anes dan Ata. Sungguh aku tak tau kalau mengenalkan teman kepada sahabat sendiri itu tak pernah salah, namun hanya kurang beruntung saja aku kali ini.

Bersambung.

Cerpen Karangan: Fitria Choerunnisa
Blog / Facebook: Orihara Choerunnisa
Karya ketiga di cerpenmu.com hehe
Thanks buat cerpenmu.com yang udah publish 2 cerpen saya terdahulu

Cerpen Hilangnya Rasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Bangsa

Oleh:
Rasa kesal di hati membuatku geram. Seperti kata guru seniku bahwa Angklung LAGI LAGI diklaim negara tetangga. Apa-Apaan mereka itu!. Seperti tidak ada kebudayaan Hai, namaku Ara. Aku adalah

Gara Gara Amplop

Oleh:
“hei, hei, anak baru, siapa nama lo?” “nathan” “setan? Buset dahh, yang gue tanya nama bukan wujud lo.” “nathan woi, nathan” “oh, santan, lo blasteran, ya?” “iya, ayah gue

Rasa Terpendam

Oleh:
Safanya, itulah yang aku tahu tentang namamu, pertama aku melihatmu, mataku seolah tak bisa berkedip, seperti melihat pelangi yang indah di atas sana, aku tahu namamu dari ibumu, ibumu

Hal Yang Tidak Bisa Kukatakan

Oleh:
Hari itu, hari pertama ku di SMP. Aku sangat senang karena aku sekarang sudah SMP, teman baru, kehidupan baru, bahkan cinta pertama.. seseorang yang aku sangat cintai.. dia adalah

Menata Hati

Oleh:
Catatan Kecil Syira Terkadang cinta itu indah.. Hingga semua rasa tak pernah terucap.. Terpendam diam dalam sukma.. Mengikuti setiap rasa yang menghampiri.. Kadang cinta itu sakit.. Jika seseorang membuatnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *