Isi Hatiku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 11 September 2015

Di satu sekolah yang sama dan satu angkatan. Di saat aku belum mengenalimu, saat aku belum tahu apapun tentang dirimu, perasaanku biasa-biasa saja. Padahal sejak dulu aku sering melihatmu di depan kelasmu. Tak ada perasaan spesial sedikit pun di benakku. Hampir tiga tahun lamanya kita satu sekolah, aku belum tahu namamu dan sosok dirimu yang sesungguhnya. Namun di saat hampir mencapai puncak kita sekolah, barulah aku merasa sesuatu yang berbeda.

Kala kamu pernah bertanya siapa namaku. Saat aku berjalan menuju ruang kelas melewati depan dirimu, kamu komentar tentang cara aku berjalan. Aku diam saja karena sedang malas bicara. Aku tak menoleh ke arahmu dan diam menunduk sambil terus melangkah. Tak ada perasaan sedikit pun di dadaku. Tapi akhir-akhir ini saat kamu melewati depan kelasku, kamu sering memandangiku sambil senyum-senyum entah bercanda bersama teman di sampingmu, entah kamu tersenyum serius memandangku. Aku pun melihatmu dan memerhatikan bola matamu. Tadinya aku kira bola matamu menuju teman sebangku aku yang memang cantik. Tapi jika diperhatikan bola matamu ternyata memanah bola mataku, itu perasaanku. Aku tak tahu apa itu benar atau tidak. Itu sering kau lakukan hingga akhirnya aku sadar ternyata kamu sedang memerhatikanku.

Aku pun jadi sering terpikirkan dengan sikapmu yang aneh. Tiba-tiba hatiku terserang virus yang berbentuk seperti hati yang tertular melewati tatapan matamu. Setiap hari aku sering membayangkan dirimu. Aku jadi menyukaimu. Tak ada seorang pun tahu tentang ini. Ku bayangkan terus wajahmu. Kita pernah berpandangan jarak dekat di tengah keramaian teman-teman. Ternyata sungguh indah. Subhanallah, sungguh indah ciptaan-Mu Ya Allah. Andai kamu tahu tentang perasaanku saat ini. Aku suka padamu, meski di dalam keramaian tak apa tak kau sadari. Bagaimana dengan perasaanmu padaku? Apakah kamu juga merasakan hal yang sama? Apakah kamu menyukaiku? Jika iya, aku ingin kamu mendekatiku dan mengajakku berkenalan lebih dekat. Jika tidak, untuk apa kau terus memandangiku dengan senyuman ramahmu? Apa arti dari semua itu?

Suatu malam aku bermimpi pulang sekolah bersamamu jalan kaki. Tiba-tiba ada serangan peluru. Kamu melindungiku hingga kau tertembak peluru. Sekujur tubuhmu bertetesan darah. Belum sempat aku menolongmu, aku dipanggil Ibu dan terbangun. Ternyata hanya mimpi, aku merasa lega. Namun perasaanku tidak enak. Apa arti mimpiku itu? Aku menjadi takut.

Di sekolah mataku mencari sosok dirimu. Ku cari-cari tak ada batang hidungmu. Aku sempat berpikir mungkin kamu sedang malas ke luar kelas. Tapi aku juga berpikir mungkin kamu tidak berangkat sekolah.

Malam harinya aku bermimpi kembali, aku tanya pada cewek teman sekelasmu yang juga sahabat dekatku. Katanya kamu tidak masuk karena sakit. Benar saja saat di sekolah, aku bertanya pada orang, tempat, pertanyaan dan jawaban yang sama dengan di dalam mimpi. Sungguh mimpi burukku menjadi kenyataan. Jantungku berdegup kencang. Sudah dua hari kamu tidak berangkat sekolah. Sakit apa sih kamu? Malam harinya aku bermimpi kamu lagi. Tiga malam berturut-turut aku bermimpi tentang kamu. Tapi kali ini aku mimpi naik mainan semacam odong-odong yang berkeliling kota. Tiba-tiba kamu tepat berada di belakangku dan tersenyum ramah padaku. Esok harinya kamu belum juga berangkat sekolah. Aku kira dengan tersenyumnya kamu di dalam mimpi, kamu sudah sembuh. Malah sampai satu minggu kamu sakit.

Latihan Ujian pun kamu belum berangkat. Aku menangis di kamar. Hatiku ingin meledak tak kuat menahan perasaan ini. Ingin curhat sama teman tapi takut ditertawakan. Akhirnya aku menangis di pangkuan Ibu. Ibu bertanya kenapa aku menangis dan jawabanku bohong banget. Aku menjawab menangis karena pusing memikirkan Ujian. Kenapa aku harus memikirkanmu di saat menghadapi Ujian? Sampai kapan terus begini? Semoga kamu cepat sembuh dari sakit ya?

Tak berapa lama pun kamu masuk sekolah. Hatiku merasa lega. Makin tampan saja wajahmu itu. Tapi masih terlihat pucat di wajahmu. Namun kamu jadi berubah sikap. Tak memandangiku lagi apalagi tersenyum sedikit. Mungkin kamu pikir tak ada gunanya melakukan itu padaku. Karena aku tak pernah merespon dari luar. Tapi asal kamu tahu isi hatiku Aku bertekad untuk mencoba melupakanmu. Namun apa yang terjadi? Kamu malah duduk dekat di tempat aku berada. Namun aku gengsi dan menjauh. Kenapa aku harus gengsi seperti ini? Aku malah menjauh darimu. Kau pun pergi. Aku sangat menyesal, hatiku menjerit memanggil namamu untuk jangan pergi. Tetaplah di situ.

Hari-hari mendekati Ujian Madrasah. Aku mulai bisa melupakanmu. Kau pun sepertinya tak pernah memandangiku lagi. Aku bisa fokus pada pelajaran. Hasilnya Alhamdulillah meningkat. Namun ada juga yang belum memuaskan. Tiba-tiba setelah UM -Ujian Madrasah- dan UAMBN -Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional- selesai, kenapa kau kembali bersikap itu lagi. Kau membuatku sangat bingung. Ayolah jika kamu punya perasaan, kenali aku lebih dekat. Aku berjanji akan tersenyum untukmu.

Ya Allah jika dia orang yang baik untukku, dekatkanlah kami berdua meski hanya sebatas teman. Dekatkanlah kami agar saling mengenal lebih dekat. Karena sesungguhnya dalam Agama Islam mengajarkan untuk ber Ta’aruf atau saling mengenal. Jika kita berpisah sekolah nanti, aku hanya akan sedikit meneteskan air mata dan mencari bayangan wajahmu saja. Kalaupun bayangan wajahmu hilang dari ingatanku, akan ku coba melupakanmu.

Jika takdir tak menyatukan hatiku dan hatimu, semoga tatapan mata kita bisa menjadi kenangan. Ku tuliskan kisah ini dalam sebuah cerpen. Semoga kamu membacanya.

28-Mar-2014.

Cerpen Karangan: Endang Wiji Astuti
Facebook: Endang Wijia Wijia

Cerpen Isi Hatiku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pandangan Pertama (Part 1)

Oleh:
Seperti halnya kota metropolitan yang lain dimana masyarakatnya setiap hari sibuk dengan urusannya demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mencekik untuk segelintir orang. Aku pun demikian, menginjak

Let Your Eyes Be Lost In Mine

Oleh:
Pagi ini di kafe Valerie, ku pesan segelas machiatto dengan roti isi untuk mengawali hari. Ritual pagiku memang tak jauh-jauh dari candu yang bernama kopi, ya walau memang tak

Salah

Oleh:
Lelah batinku membohongi diri sendiri yang terkadang membuatku merasa bersalah hingga menyalahimu yang tak bersalah. Aku gadis yang kau kenal cukup ramah, selalu ceria, bahkan aku mampu menutup rapat

Cinta Bisu

Oleh:
Bagaimana caranya mencintai? Sedangkan ia terus berusaha lari tanpa menghirukan kejaran dariku. Bagaimana cara memanggilnya? Sedangkan ia terus berpaling tanpa menatap bagian belakang kehidupannya. Ya. Aku yakin dia sama

Kau Yang Sempurna

Oleh:
Pagi saat udara Bandung masih terasa dingin, aku sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Hari ini adalah hari penentuan ku, Sidang kelulusan ku. Perasaan ku saat ini sangat bergejolak,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *