Istimewa (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 March 2018

“Woy! Apaan tuh merk tas lo?”

Aku berdecak sebal mendengar sorakan cowok yang memakai ninja hitam tanpa helm tersebut, aku bahkan tidak mengenalnya. Seenak jidatnya saja menanyakan merk tasku yang sudah kupastikan itu bukan pertanyaan, melainkan sindiran terhadap sebuah gantungan kunci yang tergantung manis di resleting tas biru bermotif kotak-kotak milikku. Apa yang salah dengan gantungan kunci itu? Kenapa dia bisa mengklaim bahwa benda itu adalah merk tas. Sungguh tidak masuk akal.

Oke, sekarang aku tidak memedulikan dia lagi. Targetku sekarang adalah mempercepat langkahku, agar segera sampai ke tujuan. Ya, sekolah.

Aku melihat ke arah kiri dan sedikit menundukkan kepala. Di sana aku melihat seseorang yang tangannya kugenggam sejak tadi –adikku yang lucu– dia sangat manis dengan seragam merah putih yang dipakainya, disertai dengan rambut hitam halusnya yang dikucir dua. Tampang polosnya membuat aku mendaratkan ciuman lembut ke pipinya yang chubby.

“Ayo dek, buruan!” ajakku padanya.

Aku duduk pada salah satu kursi di dalam ruangan yang pintu masuknya bertuliskan ‘Welcome to Class VIII 3’. Aku melipat tanganku di atas meja dan merebahkan kepalaku di sana.

“Woy, Lista! Pagi-pagi udah tiduran aja.” Tiba-tiba Sari datang dengan memukul mejaku sangat keras dan menduduki kursi di sebelah kananku.

“Kurang ajar lo! Kaget gue tau, nggak?! Untung aja gue nggak punya riwayat penyakit jantung.” Aku terbangun dan mengelus dada, sedangkan Sari hanya tersenyum tanpa dosa.

“Sar, hari ini kita belajar nggak, sih?” tanyaku pada Sari yang hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar dan mendapati teman-teman yang pada umumnya belum kukenal. Memasuki hari ketiga di kelas delapan, baru beberapa teman yang sudah kuketahui, dan itu pun yang sekelas denganku di kelas tujuh. Memang, kemarin-kemarin masing-masing dari kita sudah memperkenalkan diri ke depan kelas. Tapi entahlah, aku tidak mengingat semuanya.

“Assalamu’alaikum.” Tiba-tiba, seorang guru bertubuh gendut memasuki kelasku. Ya, dia yang kemarin memperkenalkan diri sebagai walikelas.

Namanya Bu Kiya, dia memberikan kultum panjangnya padaku. Oh, bukan, bukan padaku saja tapi pada kami semua di kelas VIII 3. Salah satu isi kultumnya yaitu, dia mengatakan bahwa mulai hari ini PBM (Proses Belajar Mengajar) akan dimulai dan sebelum itu, dia akan mengatur kembali susunan tempat duduk kami.

Aku senang, ternyata aku tidak dipindahkan dan tetap duduk bersama Sari, di bangku nomor dua dari depan bagian tengah.

Setelah Bu Kiya keluar dari kelas, aku melirik ke samping kiri, terlihat seorang cowok yang sedang duduk sembari memerhatikan sudut-sudut ruangan kelas. Aku mengernyitkan dahiku, sepertinya aku baru melihatnya. Walaupun aku belum mengenal semua orang di sini, tapi ingatanku sangat kuat, bahwa dia memang tidak ada di sini dua hari yang lalu, ataupun kemarin, dan hari ini … sepertinya dia datang terlambat.

Cowok itu balas menatapku menyadari kalau aku memerhatikannya sejak tadi. Aku langsung membuang muka ketika mengetahui itu. Tetapi, ada yang membuatku heran, kenapa saat melihatku tadi dia sedikit terkejut dan mengangkat salah satu sudut bibirnya? Sudahlah, tidak usah dipikirkan.

Tak lama setelah Bu Kiya keluar, akhirnya masuk seorang pria –yang menurutku agak rada-rada gimana, gitu– ke kelas kami untuk memberikan materi pembelajaran PKN. Seketika, kegaduhan di kelas ini berubah senyap.

Jika kemarin pelajaran pertama dimulai dengan PKN, beda halnya dengan sekarang yang dimulai dengan pelajaran matematika. Aljabar. Materi pembuka yang diberikan oleh Bu Yuni.

Kami memerhatikan dengan seksama saat guru itu menerangkan dari variabel, koefisien, sampai pada operasi hitung aljabar. Karena semuanya sudah selesai menyalin tulisan-tulisan di papan tulis, guru berkepala tiga itu pun memberi kami latihan. Banyak yang luntang-lantung, bolak-balik, tanya sini-tanya sana, karena belum mengerti dengan soal yang diberikan. Padahal, ketika Bu Yuni bertanya ‘apakah ada yang belum mengerti?’ semuanya hanya diam.

Saat aku akan melangkahkan kaki ke depan –bertanya tentang penyelesaian soal nomor lima yang sedikit lebih rumit dari soal-soal lainnya– tiba-tiba ada yang menarik ujung lengan bajuku. Huh, sungguh sangat tidak sopan!

“Apa?!” tanyaku dengan kasar seraya menoleh ke belakang dan mendapati cowok yang kemarin datang terlambat.
“Ajarin gue dong,” pintanya, sambil menyodorkan buku yang berisi lima buah soal pemberian Bu Yuni dengan tulisan yang tidak bisa dibilang bagus.

Aku menautkan kedua alisku. “Lo belum bikin sama sekali?”
“Udah, soalnya.”
“Maksud gue jawabannya?”
“Gue nggak ngerti.”

Lagi-lagi alisku bereaksi, dengan terangkat ke atas. “Masa nggak ngerti semuanya. Nih, yang nomor satu gampang banget tau.” Aku mengarahkan telunjukku pada buku tersebut.
“Gue ngelamun. Lo mau ngajarin gue nggak, sih? Kalau mau cepetan, kalau nggak mau … ya, harus mau.” Dia sedikit terkekeh.
“Hah?” Pilihan macam apa itu?

Aku sedikit berpikir, entah dorongan dari mana, akhirnya aku menganggukkan kepalaku. “Oke, gue ajarin lo.” Aku menggeser kursiku menghadap ke samping meja cowok itu.
“Nah, gitu dong dari tadi. Oh iya, gue Hamid. Lo?”
“Lista.”

Surga dunia. Karena di dua jam pelajaran sebelum pulang ini, guru yang bersangkutan tidak hadir disebabkan … entah karena apa dan untung saja guru itu tidak meninggalkan tugas.

Seperti biasa kalau pelajaran kosong seperti ini, akan disertai dengan kegaduhan sana-sini. Tenggorokanku sampai kering karena terus-terusan mendengar ocehan panjang Sari yang dengan terpaksa harus kuberi respon yang cukup panjang pula. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengambil tupperwareku. Saat aku akan membuka tas, ada masalah dengan resletingnya. Aku terus memaksanya memaju mundurkan sampai akhirnya benda itu terlepas dan melambung tepat ke…

“Ini punya lo?” tanya Hamid dengan resleting plus gantungan kunci milikku di tangannya.
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal sambil cengir kuda. “Hehe … iya.”
“Nih.” Dia memberikan benda yang ada di tangannya itu padaku.
Aku menghela napas lega, ternyata dia tidak marah saat benda berwarna kuning itu mendarat tepat di atas kepalanya.

Dia masih memerhatikanku. “Lo nggak nutup tas lo?” tanyanya.
“Lo bego … atau gimana sih? Resleting tas gue ‘kan copot, gimana mau ditutup,” jawabku diselingi tawa, takut dia marah soalnya.
“Siniin tas lo.” Agak ragu, aku memberikan barang yang dimintanya.

“Nih, orang bego udah masangin lagi.” Dia mengembalikan tasku dengan kondisi seperti semula.
“Ya, sorry, jangan marah dong.”
“Dasar spongebob!” gumamnya.

Aku akan menyahut, namun dia menyela, “Lo sayang banget ya sama adek lo?”
“Hah?” Pertanyaan macam apa itu.
“Sampe dicium-cium gitu adeknya di tengah jalan, terus pas nyampe di sekolah tempat duduknya dicariin.”

“Kok lo tau gue nyariin tempat duduk buat adek gue. Jangan-jangan lo nguntit gue ya?” tanyaku dengan tatapan curiga.
“Masa lo nggak ingat, sih? Gue itu yang bilang kaya gini nih kemaren ‘woy! Apaan tuh merk tas lo?’ ”
“Ooh… Jadi itu elo?”

Hamid menganggukkan kepalanya. Percakapan kami berlanjut, hingga tak terasa bel pulang sudah berbunyi. Dia pun membereskan buku-bukunya bersiap akan pulang, begitu pula denganku. Tiba-tiba, ada sesuatu yang terlintas di benakku.

“Hm, Hamid!” panggilku.

Dia berdehem. “Hm, besok … besok….”

Dia masih mendengarkanku. Tapi sialnya, aku lupa apa yang akan kukatakan padanya. Akhirnya dia memotong, “Besok lo pulang sama gue,” ucapnya cepat lalu pergi meninggalkanku yang masih membeku dengan mulut setengah terbuka.

Omongan Hamid waktu itu kupikir hanya main-main. Tapi ternyata dugaanku salah, dia benar-benar mengantarkanku pulang dan itu membuat hubungan kami semakin dekat. Begitu juga dengan sorot cemburu dari sepasang mata yang tak bisa kuhindarkan. Dibalik kebersamaan kami ada rasa tidak senang dari seseorang yang tak lain adalah teman sebangkuku sendiri. Ya, Sari dia sudah lebih dulu memendam rasanya pada Hamid.

Aku tersenyum. “Sar, lo jangan marah lagi ya sama gue, gue janji gue bakal jauhin Hamid dan bantuin lo buat deketin dia.”
Sari memandangku dengan mata berbinar. “Serius?” tanyanya, lalu dia kembali memindahkan tasnya ke kursi di sampingku.

Tak apalah demi sahabat, aku rela menjauhi Hamid yang menurutku itu hanya cinta monyet semata.

Cerpen Karangan: Addini Safitri
Facebook: Addini Safitri

Cerpen Istimewa (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1 Detik

Oleh:
18 agustus 2016, perlombaan memperingati hari kemerdekaan diadakan di sekolahku. Saat itu, aku hanya melihat sebuah pemandangan yang berisikan peserta lomba. Aku tertawa melihat mereka yang dengan lucunya mengambil

Rejection

Oleh:
Hai! Namaku Dika. Umur 17 tahun, dan bersekolah di SMA Wowow dekat rumah. Saat ini di sekolah, aku menjalani kegiatan tahunan yang selalu membuat hati deg-degan. Bila berjalan lancar,

IX SMP

Oleh:
Kelas IX adalah dimana saatnya muncul rasa bosan dan malas untuk belajar. Kata malas dan bosan untuk belajar adalah kata yang tepat buat Alex, siswa SMP S. Pembda 2

Cinta di Ujung Purnama

Oleh:
Cinta. Tak seorang pun tahu kapan ia akan merasakan nya, dengan siapa akan menjalaninya, dimana ia mendapatkannya dan bagaimana ia merasuk ke dalam hati. Mengusik usik otak ini, sehingga

Surat Yang Tak Tersampaikan

Oleh:
Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Entah kenapa tidak ada yang membuatku tertarik untuk keluar, selain mencoret coret kertas di hadapanku dengan sebuah drawing pen. Sambil menegak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *