Jatuh Cinta Sendirian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 10 March 2016

Bahagia itu sederhana, saat kita bisa melepas rasa sakit dan menderita. Bahagia itu sederhana, saat kita mampu menerbangkan segala kesedihan. Merubahnya menjadi senyum dan tawa. Dan kebahagiaan itu sederhana, saat keyakinan kita akan sebuah cinta dan jadi alasan untuk bertahan. Bertahan untuk tersenyum, bertahan untuk menyimpan rasa dalam diam, dan bertahan untuk hidup.

Sejak dua puluh empat april dua ribu empat belas, setelah satu tahun kita bersama. Kamu menyelinap dalam ruang hatiku. Menjadi sosok baru yang nampaknya menarik. Kamu menyukai apa yang aku suka. Tapi, kenapa kamu tidak pernah menyadari semua kenyataan bahwa kita mempunyai banyak kesamaan. Kita sudah saling tahu sejak satu tahun lalu. Pertemuan pertama kita terekam jelas di otakku. Aku sering memainkannya dalam gerak lambat. Mengingat mereka, merasakan setiap helai gerakanmu. Kita bertemu dalam sebuah ruangan kecil berwarna biru langit. Kamu ada di sana, aku ada di sana. Tidak saling mengenal.

Dalam diam aku mengagumi dirimu. Dalam diam juga rasa kagum itu tumbuh menjadi cinta. Cinta yang sederhana. Sesederhana hatiku memilih kamu, Farhan. Sesederhana aku menyimpan rasa ini sendirian. Rasa yang tidak pernah hilang. Datang dan pergi sesuka hati. Yang dapat mendatangkan rindu. Mencintaimu dalam diam… Bagaikan pungguk merindukan rembulan. Tapi bukankah cinta tidak harus memiliki dan terikat. Farhan, teman sekelasku sekaligus nama yang selalu mengisi setiap ruang kecil di dalam hatiku. Laki-laki baik dan menyebalkan. Laki-laki yang selalu membuatku tertawa dengan segala canda yang dia punya. Aku mencintainya, tapi sayang Farhan mencintai Tara. Perempuan yang sudah lama dia kenal, jauh sebelum aku dan dia bertemu pada akhirnya.

Aku menatap jauh ke dalam ruangan berwarna kelabu. Dia ada di sana. Duduk di sebuah bangku urutan kedua. Ruangan itu tampak sepi. Gerak tangannya begitu lincah saat dia memainkan ponsel berwarna hitam miliknya. Lalu, dia mengeluarkan headset berwarna putih miliknya. Mendengarkan sebuah lagu. Tak lama, aku melihat mulutnya komat-kamit melapalkan lagu jet lag milik simple plan yang merupakan lagu kesukaanku. Ah, Farhan kita begitu sama. Tapi kenapa kamu masih tidak menyadari semua itu.

“Jadi, dia laki-laki yang sudah membuatmu seperti ini, Al?” kata Lulu yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Eh, hei Lu. Sejak kapan kamu di situ?” tanyaku salah tingkah.
“Sejak kamu memperhatikan Farhan diam-diam.” Jawab Lulu datar. Aku tersenyum simpul dan mencoba sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang di dekat Lulu. Aku tidak ingin orang lain tahu tentang perasaanku. Aku takut mereka menertawaiku, karena Farhan merupakan orang yang paling dibenci oleh teman-teman kelas.

“Kamu suka sama dia, Al?” Tanya Lulu. Aku hanya menggelengkan kepala. Perasaanku seketika tak menentu.
“Kamu bohong, Al!”
“Aku gak bohong, kok. Beneran deh.”
“Mata kamu gak bisa bohong, Alisa. Aku sahabat kamu, aku udah kenal kamu lama, Al.” tukas Lulu.
“Hhh I-iya deh aku jujur. A-aku suka sama Farhan, Lu.” Kataku gugup.

“Serius? Kok bisa sih kamu suka sama laki-laki individualis yang dingin itu? Semua orang di kelas benci sama dia. Tapi kamu, kamu malah suka sama dia.” Kata Lulu heran.
“Ya, terkadang jatuh cinta adalah hal yang paling tidak demokratis. Kita nggak bisa milih bahkan nolak untuk tidak menyayangi seseorang.” Kataku santai.
“Bener juga sih, Al. Kalau gitu, kamu harus pertahankan rasa yang kamu punya buat dia. Kalau bisa sih kamu deketin dia. Siapa tahu dia punya rasa yang sama kayak kamu.” Kata Lulu sumringah.

Aku tersenyum dan mematung. Memikirkan apa yang Lulu katakan. Bagaimana bisa aku mendekati Farhan. Laki-laki itu sangat dingin. Sudah satu tahun kita bersama, tapi kita tidak pernah bertegur sapa. Kita seperti dua kapal yang berpapasan sewaktu badai. Kita telah bersilang jalan satu sama lain. Tapi kita tidak membuat sinyal, kita tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kita tidak punya apa pun untuk dikatakan. Ditambah, aku tahu bahwa Farhan mempunyai rasa untuk Tara, bukan untukku.

Apa ada yang lebih sakit daripada ditinggalkan seseorang yang paling kau sayangi? Tentu saja ada. Ada yang lebih sakit daripada itu. Mencintai seseorang yang begitu dekat, tapi cinta yang selalu bertumbuh itu tidak pernah menyentuh dan menjamah. Seperti awan yang selalu bersama-sama dengan langit. Aku adalah awan dan Farhan adalah Langit. Meskipun kita selalu bersama, tetap saja awan tidak akan pernah bisa menyentuh langit. Sangat menyakitkan. Tapi aku sangat bahagia dan bersyukur karena Tuhan selalu berbaik hati mempertemukan kita. Seperti hari ini, guru mata pelajaran biologi ingin kita berkelompok. Entah takdir atau sekedar kebetulan, aku dan Farhan ada pada kelompok yang sama. Tapi untukku, kebetulan itu tidak ada. Yang ada itu takdir dan rencana Tuhan yang terkadang tidak kita sadari.

“Oh, ya jadi kapan kita akan kerja kelompok?” tanyaku memulai percakapan.
“Gimana kalau hari minggu aja.” Jawab Alan, sahabat Farhan yang kebetulan satu kelompok denganku.
“Oke aku setuju sama kamu, Lan. Tapi di mana?” tanyaku lagi.
“Di rumah kamu aja, Alisa.” Jawab Farhan. Aku mengangguk pelan tanda mengiyakan. Aku bahagia karena bisa mempunyai waktu lebih lama untuk bersama dengan Farhan. Meskipun hanya sekedar untuk belajar bersama yang menurut orang lain tak seberapa. Namun untukku ini sangat luar biasa.

“Kamu mau membantuku kan, Lan?” Tanya Farhan sesampainya dia di rumahku.
“Tergantung. Memangnya membantu apa?” Tanya Alan penasaran.
Farhan terdiam sejenak saat dia tahu aku sedang memperhatikannya secara diam-diam.
“Tara..” ujar Farhan dengan tune suara yang pelan. Namun, aku masih mendengarnya.
“Tara? Kamu masih menyukainya, Han? Dia kan sudah punya pacar.” Ujar Alan.
“Iya aku tahu, Lan. Tapi setiap orang punya hak untuk mencintai seseorang, kan?” kata Farhan. Alan hanya terdiam lalu memandangi aku yang tidak fokus dengan apa yang aku kerjakan.

Mungkin Alan paham apa yang terjadi pada diriku. Sangat menyakitkan memang saat kita mendengar orang yang kita cintai membicarakan orang lain yang dia cintai. “Udah seharusnya kamu membuka hati untuk yang lain, Han. Siapa tahu di dekat kamu ada orang yang tulus mencintai kamu. kamu harus peka dengan dunia yang ada di sekitar kamu. Apa kamu sadar bahwa ada orang yang sangat dekat dengan kamu mencintai kamu dengan tulus, Han?” ujar Alan. “Kamu tahu kan Al siapa orang itu?” Tambahnya. Aku terkejut. Kenapa Alan bisa bertanya seperti itu padaku. Aku seperti tersudutkan. Apa mungkin dia tahu bahwa aku sedang jatuh cinta pada sahabatnya. Jatuh cinta sendirian.

“Aku gak tahu, Lan.” Kataku.
“Serius kamu gak tahu?” Tanya Alan lagi. Aku mengangguk mengiyakan. Kenapa Alan seperti menyudutkanku. Apa Lulu bercerita tentang rasa yang ku punya pada Alan.
“Kalau misalnya ada yang tulus cinta sama aku, kenapa aku gak bisa tahu itu? Kenapa aku gak bisa lihat dia?” Tanya Farhan penasaran. “Karena kamu menutup rapat hati kamu, Han.” Jawab Alan.

“Ya, aku memang menutup rapat hatiku, Lan. Kenapa aku gak bisa membukanya? Kenapa aku cuman bisa menyimpan satu nama di hati aku? Kenapa, Lan?” Tanya Farhan lagi.
“Kamu gak usah tanya kenapa. Karena sejuta kata kenapa gak akan bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di hati kita. Dan sejuta kenapa lama-kelamaan akan membuat kita mempertanyakan keputusan Tuhan. Bukankah sebaiknya kita selalu berprasangka baik sama Tuhan.” Ujarku, lalu memfokuskan diri pada layar laptop di depanku.
“Nah! Aku setuju sama Alisa.” Ujar Alan.

Farhan hanya diam. Dia tidak menghiraukan aku dan Alan. Dia benar-benar dingin dan datar. Seperti mati rasa. Aku benar-benar seperti tidak bermakna. Tak punyai arti apa-apa. Seandainya dia tahu, kita mempunyai peran yang sama di panggung drama ini. Sebagai orang yang tersakiti karena telah mencintai seseorang yang tidak pernah menganggap kita ada. Orang yang tersakiti karena kita memendam rasa ini sendirian. Tapi, bukankah cinta yang sebenarnya adalah cinta yang bermekaran di hati. Hanya kita yang merasakannya.

Setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai. Memilih untuk diam, memperhatikan dari jauh, atau mendoakan diam-diam. Setiap orang punya caranya sendiri untuk jatuh cinta tanpa membaginya dengan orang yang dia cinta. Setiap orang juga punya cara sendiri untuk berbagi tawa dan menyembunyikan tangisnya sendiri.

“Al, maafkan aku ya telah memberitahu perasaanmu pada Alan. Dia yang memaksaku, Al.” kata Lulu yang sedang duduk manis di sebelahku. “Gak apa-apa kok, Lu.”
“Beneran, Al? sekali lagi maafkan aku ya, Al.” ujar Lulu. Aku mengangguk pelan. Lalu memfokuskan diri pada novel yang baru saja aku beli kemarin.
“Oh, ya jadi sampai kapan kamu akan memendam rasa yang kamu punya?” Tanya Lulu.
“Entahlah, Lu. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku mencintainya. Itu saja.” Jawabku santai.

“Kalau aku jadi kamu, aku pasti akan berhenti mencintainya sebelum aku jatuh terlalu dalam, Al. Karena untuk aku, bertahan mencintai orang yang tidak pernah mampu memcintai kita miliki itu seperti berdiri di bawah siraman hujan. Awalnya memang menyenangkan, tapi lama-lama akan membuat kamu sakit. Kamu bahkan gak bisa berlari lagi karena kamu terlalu menggigil kedinginan.” Ujar Lulu panjang lebar.
“Lulu, jika kita benar-benar menginginkan cinta, maka cintalah yang pada akhirnya akan menunggu kita. Kamu percaya itu kan, Lu? Dan, jika kita ingin melakukan sesuatu karena cinta, lakukanlah hal itu dengan sekuat tenaga yang kamu miliki, sabar, tulus dengan sepenuh hati tanpa mengeluh. Kelak pada waktunya nanti, maka dia akan datang padaku.” Kataku.
“Kamu hebat, Alisa. Bisa bertahan mencintai seseorang yang tak pernah menyadari akan hadirnya cinta yang tulus itu. Aku salut sama kamu.”

Aku tersenyum. Sebenarnya bukan keinginanku untuk terus memendam cinta. Bukan kemauanku untuk terus diam meskipun ada perasaan yang sangat dalam. Diamku, bisuku, dan rasa bertahan untuk tidak mengungkapkan itulah yang membuat cinta yang aku rasakan justru terlihat ada dan nyata. Lalu, dari jauh aku hanya bisa menatapnya, berharap dia bisa merasakan perasaanku tanpa harus aku ungkapkan. Setiap hari, aku hanya bisa mendoakannya, meyakini bahwa Tuhan akan selalu menyelimuti dia dengan kebahagiaan. Namun, sampai kapan aku bertahan untuk diam?

Jatuh cinta sendirian adalah jatuh yang memberikan sejuta rasa. Rasa sakit karena harapan tidak sesuai kenyataan. Rasa khawatir saat dia tidak masuk sekolah atau terlihat seperti yang sedang sakit. Juga rasa bahagia karena bisa melihatnya tertawa lepas. Meskipun kita sadar, alasan dia tertawa bukanlah kita. Jatuh cinta sendirian, dalam doa ku sapa dirimu. Semoga kamu akan mengetahuinya, Farhan. Suatu saat nanti.

Cerpen Karangan: Nur Annisa
Blog: annisa-naunjam.blogspot.com
Mahasiswa fakultas ilmu komunikasi yang hobi menuliskan cerita tentang waktu, menggambar, dan tidur.

Cerpen Jatuh Cinta Sendirian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Biarkan Aku Saja

Oleh:
Setelah tiga hari lamanya aku harus menjalani MOS, ini saatnya aku bertemu dengan teman dan kelas baruku. Aku masuk di kelas ketiga dari lima kelas, satu kelas hanya 25

Aku Mencintaimu Sahabatku

Oleh:
“edo..” panggil seseorang dari kejauhan Dan gue tahu dan gue kenal suara itu, dia sahabat gue laila tapi panggilannya lala, gue udah sahabatan lama sama lala dari SD, lala

Menolak Rasa (Part 1)

Oleh:
Namamu siapa? Belakangan ini pertanyaan konyol itu selalu memenuhi pikiranku. Konyol karena baru kali ini aku ngerasa penasaran dengan nama seseorang, dan itu laki-laki. Padahal untuk tahu namamu semudah

Am I Cinderella? (Part 1)

Oleh:
“Yosi bangunnnnn. Jam 6 lebih banyak banget nih. Kakak mau upacara. YOSI!… YOSI!…” “YOSIIIIII.” Teriakku sambil berjalan ke kamar. “KEBLUK! YOSI! Bangun! Jam 6 lebih nih kamu belum mandi

Teman

Oleh:
“Kita kan berteman, Lisa.” Itu adalah kalimat andalan Bayu. Dan entah kenapa kalimat itu selalu membuat hati aku sakit. Kata ‘teman’, yang seharusnya aku syukuri terdengar sangat menusuk di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *