Julita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 21 August 2017

Dipagi hari, aku ditemani oleh secangkir kopi mocacino. Pandanganku terpaku pada sudut jendela kamarku yang terlihat oleh cahaya matahari pagi, dan diselimuti hawa dingin yang terasa sampai dalam hati. Memang tak bisa dipungkiri, kini aku sedang memikirkan pada sosok gadis yang bernama Julita, sahabat yang selalu menghantuiku dalam mimpi. Mimpi yang sama seperti hari-hari kemarin. Mimpi yang mengingatkanku pada dirinya satu bulan yang lalu. Awalnya kuanggap seperti bunga tidur saja, tapi setelah kupikir-pikir aku sadar dengan perasaanku padanya ternyata masih tertinggal di sini di hatiku dan kini mulai menampakkan diri lagi dalam ingatan dan rasaku. Tak kusangka dan tak kukira, entah perasaan apa yang datang menghampiriku setelah mengenalinya. Memikirkan dia sahabatku yang aku cintai dan yang kusayangi. Mungkin aku takkan bisa menuliskan karya-karyaku, tanpa kehadiran dia di sisiku, iya bisa disebut dia adalah INSPIRASIKU.

Rasa ini dimulai dari pertama kali aku mengenal ketika dia bergabung di Media Tabloid Pelita. Dia adalah mahasiswi baru di Universitas Tribhuwana Tunggaadewi. Sejak dia bergabung di Media Tabloid Pelita. Aku jatuh cinta padanya saat pandangan pertama, aku hanya mengaguminya. Aku hanya mampu melihat senyumnya. Wanita yang aku suka terlihat cantik dengan gaya khasnya, aku suka itu. Matanya sangat indah, aku suka dia. Semakin hari persahabatanku merasa semakin dekat bahkan aku merasakan sesuatu yang aneh terhadapnya seperti perasaan sayang lebih dari sahabat, aku mencoba untuk memungkiri perasaan ini tapi aku tidak bisa. Setiap dia bersamaku, aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatiku. Aku tidak tau kenapa ini bisa terjadi. Sejujurnya aku takut jatuh cinta pada dirinya, karena dia adalah sahabatku.

Jatuh cinta, berjuta rasanya! Benarkah?
Orang yang tengah dilanda asmara mungkin akan dilalai bersyair “Cintaku padanya seluas angkasa yang biru, rinduku padanya sedalam lautan Atlantik, kasih suci seputih melati. Atau jangankan ke Ethopia, ke kutub utara sekalipun aku ikut padanya!!” Sebuah kata-kata yang hiperbola. Seorang penyair berkata, “Demi Tuhan tidaklah cinta menawan orang yang dimabuk cinta melainkan ia akan membelah jiwanya”.

Cinta itu unik. Kita tidak akan pernah tau kapan kita akan jatuh cinta. Tidak akan tau siapa yang akan meluluhkan hati kita. Dan tidak akan pernah tau apakah cinta itu akan berbalas ataukah hanya tersimpan rapi di dalam hati. Cinta itu misteri. Penuh teka teki yang membuat kita harus berusaha memecahkannya sendiri. Cinta, lima huruf satu kata penuh makna. Begitulah orang-orang mendefinisikannya. Tak ada yang tahu secara pasti definisi cinta yang hakiki. Meskipun kata cinta sering terdengar di telinga, namun sampai detik ini aku masih belum bisa menafsirkan apa itu cinta.

Jika diibaratkan larutan, dia adalah larutan elektrolit kuat. Daya hantar listriknya sangat baik. Jika diuji pakai alat uji larutan, dia menghasilkan nyala lampu terang. Seterang kulit tubuhnya, secerah pipi chubbynya. Semerah bibir tipisnya. Seindah jari-jemarinya, membuatku terkesima. Sorot cahaya matanya berkilau, puncak hidungnya memukau. Dia menyimpan daya tarik yang luar biasa. Siapa yang tak terpana oleh gemerlap lenggak-lenggok gemulainya, halus tutur katanya, dan lemah lembut budi bahasanya. Dan jika dia satelit, dia adalah bulan paling memukau di malam hari. Saat menatapnya aku selalu melihat saat purnama paling sempurna. Selalu bercahaya di awal, di tengah dan di ujung malam yang gelap. Dia lebih cantik dari bintang di langit. Dia lebih indah dari bunga yang sedang mekar. Dia lebih cepat mengalir dari air di sungai. Dia lebih manis dari madu. Aku terpikat kepadanya.

Jujur, di dalam benakku, aku ingin bisa mendapatkan dirinya dan memiliki dirinya seutuhnya milikku, bukan milik orang lain. Tapi kenyataannya? Haha!

Memang aku tak pernah jujur padanya untuk hal ini. Entah kenapa bibirku kaku mengatakannya kalau aku mencintainya. Belajar mengungkapkan memang sulit dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ternyata praktek tidak segampang teori. Mungkin aku adalah orang yang paling frustasi di dunia ini, atau aku adalah orang paling bahagia, mungkin juga aku adalah orang yang paling menyedihkan ketika aku sedang jatuh cinta. Tapi kini kusadari aku hanyalah insan biasa yang tak mungkin bisa memilikinya. Jikalau mungkin, itu hanya sebuah mimpi karena aku sadar dia tidak pernah mengharapkanku. Maafkanlah aku apabila aku ungkapkan perasaanku ini lewat sebuah cerpen yang kurangkai hanya untukmu. Jujur, aku bukan lelaki yang populer di kampus, aku hanya lelaki kutu buku yang sehari-hari hanya berkutat dengan buku di perpustakaan maupun di kos-kosan. Memang sulit untuk mengakui ini semua, aku hanya takut, jika aku jujur padanya, aku takut dia berubah terhadapku, aku takut kehilangan sosoknya disisiku.

Aku sering terluka, bila dia curhat padaku tentang pasangannya yang mengecewakannya, hatiku seperti terpotong menjadi partikel atom-atom, dan dipotong kembali menjadi sebuah bom nuklir, yang akan meledak dan menghancurkan jagad raya dengan kekuatan tiada taranya. Di dalam hatiku aku menggerutu, “hey kamu, sadarkah kamu? Lelaki yang tidak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini yaitu AKU sahabatmu”. Yah itulah, kata-kata gerutku jika mendapatkan cerita saat dia jatuh cinta dengan lelaki-lelaki lain di luar sana. Lelaki yang selalu berakhir dan membuat dia KECEWA.

Sekarang aku hanya dapat sandarkan semua ini kepada Tuhan, baiknya untukku bagaimana dan untuknya. Saat ini aku hanya dapat berusaha dan berdoa, agar aku bisa mengikhlaskan semua kenyataan ini, dan aku terus kuat serta aku meminta pada Tuhan agar aku selalu ada untuknya. CINTA INI UNTUKMU.

Cerpen Karangan: Nomasdedo
Blog: nomasdedo.blogspot.com
Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Cerpen Julita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pergi

Oleh:
Entah berapa lama aku harus tinggal dalam kesepian yang begitu sangat menggangguku, apa yang sebaiknya aku perbuat dengan segala situasi yang sangat tidak menentu ini? Mencoba melihat sekeliling dan

Jingga

Oleh:
Kampusku tidak pernah menyisakan ruang untuk jiwa beristirahat. Langit kota yang telah sesak dengan angan ribuan mahasiswa melamun di siang bolong, akhirnya menghembuskan napas panjang. Angin membelai jutaan rambut

Last Letter

Oleh:
Aku berdiri di depan rumahku. Menunggu sahabatku datang. Sepertinya pagi ini dia terlambat. Yah dia yang setiap harinya berangkat ke sekolah bersamaku. Pria yang selalu di dekatku. Aku menyukainya?

See You Again

Oleh:
Hari ini aku lewati seperti hari-hari biasa. Bangun pagi, mandi, bersiap untuk berangkat bekerja dan bertemu dengan “dia”. Aku Danisha Putri, umurku 19 tahun tapi aku sudah bekerja di

10 Januari

Oleh:
Waktu cepat berlalu, namun tak akan mampu mengikis rasa rinduku yang semakin hari kian mendalam, harapan dan asa yang kupunya bagaikan sebuah dermaga yang luas dan tak pernah mengering,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *