Kakak Kelas Menyebalkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 January 2018

Sayup sayup terdengar suara adzan subuh. Aku pun menghentikan kegiatanku berkutat dengan angka angka. Jadwal pertama UAS yang sangat menakjubkan ini membuatku tak bisa tidur semalaman. Entahlah apa yang guruku pikirkan saat menyusun jadwal hari pertama adalah Matematika. Berkali kali aku menguap menahan kantukku. Semoga saja aku bisa mengerjakan soal dengan fokus.

Seperti biasa sebelum memasuki ruang ujian, siswa siswa akan belajar terlebih dahulu di sekitar ruangan mereka untuk persiapan yang lebih matang. Seperti aku saat ini. Aku sekarang sedang duduk di lantai depan pintu ruangan dan dikelilingi oleh teman temanku yang juga sedang mengulangi apa yang mereka pelajari. Sesekali kami bercanda dan bercerita seperti perempuan pada umumnya. Jika dibandingkan dengan gerombolan lain, mungkin gerombolan kami yang paling ramai.

Kring!!! Kring!!! Kring!!!
Suara bel 3 kali menandakan waktu ujian akan segera dimulai. Seketika suara kegelisahan mulai terdengar. Sungguh, kami semua belum siap.

Akhirnya pintu ruang ujian dibuka. Kami pun masuk kelas. Kutaruh tasku di depan kelas lalu aku mencari namaku yang tertempel di meja. Ah, ketemu juga. Ternyata kakak kelas sudah datang terlebih dahulu dan syukurlah sesuai harapanku. Dia perempuan. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman jika aku duduk dengan lawan jenis.

Di sekolahku, sebelum kegiatan pembelajaran selalu dimulai dengan kegiatan tadarus. Sebelumnya aku sudah membawa Al-Qur’an kecilku. Saat aku mulai membuka halaman yang terakhir kali kami baca, tiba tiba ada yang menggoyangkan kursiku dari belakang. Aku pun menoleh.

“Apa?” tanyaku pada Iqbal –teman sekelasku.
“Bukan gue..” jawabnya sambil menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke sampingnya. Aku menghela nafas sebentar.
“Hehe..” ucap laki laki yang dimaksud Iqbal sambil cengengesan.

“Apa kak?” tanyaku dengan nada lebih sopan, sebagaimana adik kelas kepada kakak kelasnya.
“Pinjem Al-Qur’an lo, dong. Gue nggak bawa nih” pintanya. Aku pun melihat ke arah Iqbal.
“Dia nggak bawa juga” tambahnya. Aku diam sebentar dan melirik ke arah kakak kelas di sampingku. Sepertinya dia membawa. Aku menghela nafas panjang.

“Ya udah deh, nih” aku pun memberikannya.
“Hehe, makasih ya!” ucapnya sambil tersenyum dan aku kembali duduk menghadap ke depan.

Selama ujian berlangsung, aku tidak bisa mengerjakannya dengan tenang. Dua laki laki di belakangku ini tak henti hentinya tertawa. Aku juga heran dengan Iqbal. Bisa bisanya ia asyik ngerumpi saat mengerjakan matematika yang melihatnya saja membuatku ingin menyobeknya. Sesekali aku batuk dengan maksud membuat mereka diam. Bahkan pengawas pun sering menegur mereka. Tapi tetap saja mereka masih terus bercanda dengan santainya. Sungguh sangat yang menyebalkan.

Hari kedua UAS kali ini sedikit lebih ringan dari kemarin, sehingga semalam aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku memasuki ruang ujian dan duduk dikursiku seperti kemarin. Kami memulai ujian hari ini dengan tadarus melanjutkan yang kemarin. Aku baru sadar kalau Al-Qur’an ku belum dikembalikan oleh orang di belakangku ini. Aku pun menengok ke belakang. Saat kulihat, dia sudah membawa Al-Qur’an sendiri. Ini artinya aku bisa meminta Al-Qur’an ku kembali.

“Kak, Al-Qur’an gue masih lo bawa kan?” tanyaku.
“Hah? Al-Qur’an? Emang gue minjem ya kemaren?” dia malah balik bertanya.

“Tuh, kan. Masa ilang sih? Balikin dong!” ucapku sedikit membentak.
“Lah, emang gue nggak bawa. Ini punya gue” jawabnya santai.
“Auk, ah. Nyebelin!” aku pun berbalik duduk menghadap ke depan dengan perasaan kesal. Bisa bisanya aku ketemu sama satu orang pikun ini. Menyebalkan.

Di mata pelajaran ke dua ini, aku cepat cepat duduk di bangkuku. Kali ini anak anak kelasku lah yang duluan datang. Sepertinya jadwal mata pelajaran kakak kelas kali ini adalah matematika. Terlihat dari wajah mereka yang terlihat tegang. Balas dendam pikirku. Aku tertawa dalam hati. Tapi entah kenapa kakak kelas yang duduk di belakangku terlihat sangat santai. Ia masih bisa tertawa dengan lepas. Saat ia berjalan melewati kursiku ia tersenyum ke arahku. Deg. Seketika jantungku berdetak tak karuan. Aku mematung menghadap ke depan. Apa yang sedang terjadi kepadaku? Entahlah. Tiba tiba lamunanku dibuyarkan dengan goyangan kursiku. Aku menoleh ke belakang.

“Nih, Al-Qur’an lo. Sorry kemaren kebawa” ucap kakak kelas itu dengan tersenyum. Dia memberikan Al-Qur’an ku dan aku menerimanya. Aku hanya tersenyum singkat dan kembali duduk menghadap ke depan. Jantungku kembali berdetak tak karuan. Perasaan yang aneh, pikirku sambil tersenyum.

Hari ini benar benar melelahkan. Tanpa buang buang waktu aku pun langsung menuju parkiran untuk pulang.
Sesampainya di rumah, aku mengucapkan salam yang dibalas oleh adikku. Sepertinya dia di rumah sendiri. Aku langsung masuk kamar. Karena saking capeknya, tanpa ganti baju dulu aku langsung berbaring di atas tempat tidurku. Aku melihat langit langit atap kamarku dan tiba tiba saja teringat dengan kejadian tadi. Senyuman dari kakak kelas menyebalkan yang membuat jantungku berdetak tak jelas. Saat mengingatnya entah kenapa aku menjadi senyum senyum sendiri. Aku bangun dari kasur dan kuambil tasku yang tergeletak di lantai. Kubuka tasku dan kuambil Al-Qur’an kecil milikku. Lagi lagi aku tersenyum. Aku membuka halaman pertama Al-Qur’an ku. Tanpa kusadari, ternyata ada sebuah tulisan kecil di halaman itu.

“Makasih ya udah mau minjemin Al-Qur’annya. Maapin yak kalo gue kelupaan. Hehe ^_^” bunyi tulisan itu. Aku tau siapa ini. Kakak kelasku yang menyebalkan tentunya. Aku tertawa lagi. Sepertinya hal ini membuatku gila.

UAS masih tersisa 4 hari lagi. Entah kenapa dengan diriku hari ini, yang biasanya tidak ingin berangkat sekolah karena muak dengan UAS, kali ini aku ingin cepat datang ke sekolah. Sepertinya senyuman kakak kelas yang menyebalkan itu membuatku lebih bersemangat untuk datang ke sekolah. Sudah jelas sekarang kalau aku sedang jatuh cinta.

Selama belajar di depan pintu ruang ujian, mataku selalu mencari keberadaannya. Oh, ternyata dia ada di sana, sedang belajar dengan teman temannya juga. Sesekali dia juga tertawa dan bercanda dengan teman temannya. Senyumannya membuatku juga ikut tersenyum.

Hari demi hari selama UAS aku selalu mengamatinya. Aku selalu mencari informasi tentang dirinya. Saat sedang ujian, aku melihat namanya yang tertempel di meja. Muhammad Fadhilah. Nama yang bagus pikirku. Aku pun mengingatnya dan saat sesampainya di rumah aku mencari akun social medianya. Aku tertawa kecil saat melihat foto fotonya.

UAS telah usai. Berbeda dengan siswa pada umumnya yang akan senang saat UAS telah usai, aku malah sedikit kesal. Aku jadi tidak bisa melihatnya tersenyum lagi saat melewati bangkuku dan tidak bisa mendengar tawanya saat ujian berlangsung. Tapi tak apalah, walaupun begitu aku masih bisa melihatnya di lingkungan sekolah walaupun tidak setiap hari.

Saat ini aku kelas 11 dan berarti kakak kelas menyebalkan itu kelas 12. Ini berarti waktuku melihatnya tinggal menghitung bulan. Sebentar lagi dia akan lulus dan aku tidak akan sering melihatnya di lingkungan sekolah lagi. Pastinya dia akan melanjutkan kuliah, tapi aku belum mengetahuinya dia akan kuliah di mana. Aku memang sengaja tidak akan mencari tau ia akan kuliah di mana. Jika memang jodoh, pasti kita akan bertemu lagi, pikirku.

Tahun demi tahun berlalu. Sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswa di UGM. Aku berjalan terburu buru di koridor sambil merapikan buku buku yang aku bawa. Tanpa memperhatikan orang sekitar, tiba tiba..
“BRUKK!!” buku buku yang aku bawa terjatuh. Sepertinya aku menabrak seseorang.

“Maaf ya, gue nggak sengaja” ucapku sambil memunguti bukuku yang berserakan di lantai. Orang yang aku tabrak tadi pun membantuku.
“Iya gak papa. Lain kali hati hati” ucapnya. Suaranya seperti tidak asing bagiku. Aku pun mengangkat kepalaku dan menyadari siapa yang aku tabrak. Dia adalah kakak kelasku yang menyebalkan.

Cerpen Karangan: Fatika F
Facebook: facebook.com/fatika.febriyanti
seorang manusia biasa yang suka mengungkapkan perasaan lewat karya

Cerpen Kakak Kelas Menyebalkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Emang Kebetulan

Oleh:
Namaku Yurenda Ainun Khofifah. Tapi aku lebih suka dipanggil Rere Senja. Bukannya nggak menghargai orangtua. Aku seneng aja pake nama itu. Aku kelas 2 SMP di salah satu sekolah

Pertemuan

Oleh:
Pagi itu matahari sedang bersemangat untuk menebar sinar hangatnya di bumi pertiwi ini. Aku pun tak mau kalah dengannya karena sekarang adalah saat yang aku tunggu yaitu saat aku

Yakin Aja Sama Allah

Oleh:
Bagai Vampire yang haus darah, di usiaku yang genap delapan belas tahun ini, aku sangat haus akan ilmu. Terutama ilmu keagamaan. Aku bukan orang yang mudah percaya begitu saja

Senior High School

Oleh:
“Yeayyy masuk lagiii!!! Gue menang!!” Serunya setelah mendrible bola basket yang terakhir ke dalam ring “Huh curang lo.. tapi kali ini gue ngaku kalah deh, dasar kecil” (walaupun beda

Obat Rasa Jeruk (Part 2)

Oleh:
Sesaat kemudian aku terbangun aku sudah ada di bangku milikku, kepalaku juga sudah tak sakit lagi, dan pelajaran olahraga telah usai, semua orang telah kembali ke kelas. “Serius Belle?”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *