Kamu, Di Penghujung 2015

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 7 January 2016

“Fi, ini ada cokelat. Mau?” pukulan halus Niken di pundakku mengagetkanku yang tengah mengetik pesan di BBM.
“Eh iya, ini udah ada,” jawabku.
“Ya udah kasih ke teman-teman yang lain.”
“Iya,” jawabku singkat sembari menerima bungkusan plastik berisi coklat-coklat kecil dan memberikannya kepada teman-temanku.

Aku sedang berada di dalam bus yang menuju Pulau Bali. Aku tidak sendirian. Bersama 250 orang lainnya, aku akan pergi ke Bali untuk mengikuti SKAL (Studi Kenal Alam dan Lingkungan). Saat ini perjalanan masih sampai di Kota Batu, mungkin sekitar satu jam lagi kami akan sampai di tujuan pertama yakni Universitas Brawijaya (UB). Sudah sekitar 3 jam bus ini meninggalkan Kota Kediri namun aku masih asyik berselancar di handphone-ku yang lama tidak ku buka karena aku tinggal di pondok pesantren saat di Kediri.

Aku mengaktifkan akun-akun sosial mediaku dan mulai asyik dengan “mereka.” Aku belum berhenti karena aku pun tidak mempunyai aktivitas lain, mengobrol pun tak ada teman karena teman duduk sekursiku sedang tidur juga teman di seberang kursiku. Aku juga sudah memejamkan mataku sejenak, 1 jam yang lalu. Akhirnya aku tidak menghentikannya sampai memasuki halaman UB, baru aku memasukkannya ke dalam tas kecil yang ku bawa.

Kami pun bersiap untuk turun dari bus dan menghadiri sejenak pertemuan dengan pihak UB dan alumni sekolah kami yang saat ini tengah menempuh pendidikan di UB. Mungkin sekitar 1 jam saja dan dilanjutkan berkeliling UB. Kami pun memasuki aula UB untuk menghadiri pertemuan itu. Kami disambut baik oleh para alumni dan orang-orang dari UB sendiri. Satu kotak roti menemani kami selama pertemuan itu berlangsung. Setelah usai, kami langsung menuju bus dan makan siang di sekitarnya.

Lalu segera melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Bali. Aku pun kembali membuka hp setelah teman-temanku sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Ada beberapa pesan yang masuk di BBM-ku. Saat pertemuan tadi profil silent ku aktifkan, sebagai penghormatan atas pertemuan yang jarang ku temui tadi. Pesan ku buka satu persatu, ada salah satu nama kontak bbm yang mengirimiku sebuah pesan dan membuatku tersenyum. Speechlees, kaget, dan bahagia tentu saja.

Dia menghubungiku, dia yang dari sejak aku mengaktifkan BBM-ku hari ini ku tunggu pesan darinya. Dan bukankah memang seharusnya aku sangat bahagia? Dia menanyakan kabarku seperti biasa saat menghubungiku, lalu bertanya sedang di mana dan ada acara apa? Obrolan kami berlangsung singkat, tapi perhatiannya dan kata-katanya membuatku merasa ini lebih dari sekedar cukup bagiku. Karena dia selalu punya cara sendiri untuk melengkungkan senyumanku meski hanya dengan komunikasi singkat yang kami jalani.

Aku mengenalnya masih 6 bulan yang lalu, saat liburan kenaikan kelas dulu. Dia teman dari sahabatku yang kelasnya satu tingkat di atasku. Kami memang tidak berada di sekolah yang sama. Kami pun mulai berkomunikasi melalui BBM dan pesan singkat, yaa meski hanya berkomunikasi 1 bulan sekali saat aku pulang ke rumah. Dia menunjukkan perhatiannya meski lewat kata-kata sederhana dan chatting singkat di setiap pertemuan kita baik langsung maupun di BBM atau pesan singkat. Seperti itu yang ku jalani selama 6 bulan dengannya, entahlah hubungan ini akan berakhir bagaimana aku tak tahu yang terpenting aku menjalaninya dengan bahagia.

Setelah 4 hari di Pulau Bali dan bisa dibilang berlibur juga di sana, kami pulang ke Kediri dan sampai di sekolah sekitar pukul 8 pagi. Kami pun langsung bubar dan mencari orangtua yang menjemput kami sendiri-sendiri. Rasanya ingin segera pulang dan beristirahat di atas kasur yang nyaman di rumah. Aku sampai di rumah sektar pukul 10, maklumlah rumahku agak jauh dari sekolahku maka dari itu aku tinggal di pondok setiap harinya saat sekolah. Setibanya di rumah aku langsung membuka oleh-oleh dan membongkar barangku serta menatanya dan segera mandi lalu langsung tidur karena badanku rasanya sudah tidak kuat berdiri lagi.

Sore ini aku sedang chatting dengannya lewat BBM, dia menyuruhku untuk beristirahat setelah pagi tadi aku datang dari Bali. Aku menyangkalnya, karena aku sudah istirahat selama siang tadi. Kami pun mengobrol ringan seperti biasanya. Sampai obrolan kami berakhir di balasanku, “Ini lagi sama orang rumah. Kamu ngapain?” yang masih bertuliskan huruf R di pojoknya tanpa ada balasan darinya. “Mungkin dia sedang ada keperluan,” batinku. Malamnya aku melihat BBM-ku sebentar dan belum ada balasan pesannya. Aku pun beranjak tidur karena memang malam sudah larut.

Ini hari ketiga BBM-ku tanpa pesan darinya. Aku masih mencoba berpikiran positif, mungkin dia sedang ada acara yang membuatnya tidak sempat membuka BBM. Aku pun iseng membuka WA-nya, kosong tanpa ada chatting-ku dengannya karena kami memang jarang berkomunikasi lewat WA. Aku kaget saat melihat tulisan dibawah nama kontaknya, “Terakhir dilihat hari ini pukul 12:07,” 3 menit yang lalu. Aku penasaran, ku tunggu tulisan itu berganti.

Benar saja, selang 3 menit tulisannya berganti menjadi “online,” berarti dia sedang menulis pesan kepada seseorang. Aku masih tertegun, tapi tak sedikit pun jariku bergerak untuk mengetik pesan untuknya, karena aku tak pernah sekali pun mengawali chatting ataupun pesan kecuali memang sangat penting. Aku masih menatap kosong layarku dan berpikir. “kalau dia on WA, harusnya BBM juga on. Terus kenapa dia nggak bales bbm-ku? Masa iya centang sampai 3 hari?” batinku dan sekali lagi hanya dalam hati. Tak berapa lama aku melihat foto profil WA-nya berganti. Ini membuatku semakin bingung dengan sikapnya.

Aku membuka BBM-ku dan saat melihat timelineku, aku terpaku lagi. Dia mengganti foto profil BBM-nya juga dengan foto yang sama di WA. Aku langsung berpikiran macam-macam. Hatiku tak karuan rasanya. Dia tidak menghubungiku sama sekali sedangkan seharusnya dia sempat untuk sekedar menghubungiku. Kenapa? Apa salahku? Malam itu pun aku menangis sesenggukan, menangisi semua harapanku yang seketika itu luruh tak terbendung.

Menangisi semua keluguanku yang terlalu menganggap semua perhatiannya sebagai bentuk rasa lain untukku. Padahal, aku ingat bahwa aku pernah mendengar dia pernah dekat dengan seseorang awal tahun ini dan aku tau dari teman-temannya bahwa dia bukan tipe orang yang sering berganti pasangan meskipun hanya sekedar dekat. Bahkan aku sudah sering mengobrak-abrik facebooknya yang tanggalnya menunjukkan itu dikirim bulan-bulan awal tahun ini, dan memang benar dia seringkali saling mengomentari foto ataupun status dengan gadis itu.

Dan, bukankah seharusnya aku sudah menghentikan angan, menepis harap dan merendahkan asaku saat mengetahui itu? Ah, bodohnya diriku. Tapi, lalu apa arti semua perhatiannya lewat kata-kata itu, sempatnya dia menghubungiku saat aku pulang ke rumah, sempatnya mengirimiku suaranya menyanyikan lagu “More Than This” dari “One Direction” dengan alunan gitarnya itu? Ya, mungkin saja semua itu biasa baginya. Dan hanya karena aku menyayanginya, semua itu menjadi spesial bagiku. Iya, harapanku terlalu tinggi kepadanya.

“Sudahlah, mungkin memang dia hanya digariskan oleh-Nya untuk menjadi sekedar temanku. Semoga dia mendapat yang terbaik,” doaku.

Hari ini hari terakhir liburan, aku sudah akan memberikan hp-ku pada ibuku saat ada pesan BBM masuk. “Sebentar ya Bu, ada pesan,” pintaku pada ibuku. “Iya, gak apa-apa. Wong sebentar lagi sampeyan sudah gak bawa hp lagi di pondok,” jawabnya. Orangtuaku memang tidak mengekang penggunaanku terhadap hp, selagi batasan yang mereka tetapkan tak ku langgar. Aku pun bergegas membuka hp-ku dan membuka pesan BBM-ku, ku lihat ada satu pesan dari nama yang sudah tak ku harapkan menghubungiku lagi untuk saat ini.

“Balik ke pondok sekarang?” begitu isi pesannya. Aku hampir saja mengetik balasan untuknya, namun aku ingat bahwa aku sudah bertekad untuk menenggelamkan rasaku padanya. Agar hanya aku dan Allah yang mengetahui bahwa aku pernah menyimpan rasa padanya. Maka untuk saat ini, aku belum berani berhubungan dengannya lewat apa pun, termasuk pesan BBM ini.

Biarlah, nanti saja saat aku sudah berani untuk sekedar menatap namanya di kontak hp-ku, aku akan menghubunginya kembali dengan keberanianku. Aku pun mengurungkan niatku lalu segera mematikan data selulerku dan memberikan hp-ku pada ibuku. Tepat saat itu, aku tiba di halaman pondokku, aku pun mencium tangan kedua orangtuaku, berpamitan lalu segera ke luar dari mobil dan melangkahkan kaki dengan pasti menuju gerbang pondok.

Liburan telah usai. Desember telah pergi. 2015 melambai bayanganku di belakang sana.

Cerpen Karangan: Chaliafi Aini Robby
Facebook: Chaliafi Aini Robby
Remaja hobi nulis sama baca.
Twitter: @fifichaliaa

Cerpen Kamu, Di Penghujung 2015 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ingatan Yang Pertama (Part 1)

Oleh:
Kata orang, masa kuliah itu adalah masa yang paling menentukan hidupmu. Masa depanmu, pekerjaanmu, gaya hidupmu kelak, bahkan… pasangan hidupmu. Diterima si salah satu universitas favorit di kotaku menjadi

Dia Berbeda

Oleh:
Aku berjalan sendiri di gang yang begitu sempit, dan agaknya sedikit kumuh. Berhenti sejenak untuk memperhatikan selembar kertas yang aku pegang. Kertas itu bukanlah sekedar kertas biasa, di atas

Happy Birthday

Oleh:
“Besok Mr. anu ulang tahun”. “Yeahhh!” Aku menyebutnya Mr. anu, ya.. Dia adalah orang yang ku sukai lebih dari dua tahun ini tapi cinta ku masih saja jadi cinta

Lembaran Baru Dalam Rahasia Hati

Oleh:
Malam bertabur bintang. Beralaskan atap, berselimutkan langit, dan dengan bantal tangan menyilang aku menikmati suasana malam ini. Aku tidak sendiri karena Tramp selalu ada di sampingku. Ya, Tramp adalah

Pengagum Rahasia

Oleh:
Hari masih sedikit berkabut, daun-daun menyapaku dengan lambaiannya, matahari juga terbit dari ufuk timur, aroma udara terasa segar, segera ku tancapkan sepeda motorku ke sekolah yang kira-kira 30 menit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *