Kebahagiaan Sementara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 May 2017

Seperti biasa, aku ke sekolah dengan mengendarai angkutan umum. Aku berjalan dari rumah menuju halte tempatku biasa menunggu angkutan yang jaraknya tidak begitu jauh, “Cuaca hari ini sedikit mendung.” gumamku dalam hati sambil sesekali memandangi langit yang sedikit nampak gelap.

Sesampainya di sekolah, aku berjalan menuju kelasku yang terletak di lantai dua. “Pantas saja sekolah masih sepi, ternyata baru jam 06.22.” aku melirik jam tangan merah muda yang melingkar di tanganku.
Kelas masih kosong, belum ada siswa lain yang datang selain aku. Tidak lama setelah aku datang.

Tiba-tiba nampak seorang pria yang muncul dari balik pintu. Sontak membuatku kaget, “Hufftt, aku kira makhluk penunggu sekolah ini.” gumamku dalam hati sambil menghela nafas karena masih sedikit ketakutan. Ternyata yang datang adalah Rama, teman kelasku. Kami hanya sekedar tahu nama masing-masing, belum saling mengenal satu sama lain lebih dalam. Aku baru mengenalnya ketika kami berdua dipertemukan dalam satu kelas selepas MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), yang seperti biasa diperuntukkan bagi peserta didik baru sebelum menjadi siswa resmi di sebuah sekolah.

Di kelas hanya ada aku dan Rama. Tapi suasana masih saja hening, tidak ada suara apapun. Mungkin karena aku dan Rama masih belum akrab, sehingga masih sama-sama canggung untuk mengobrol satu sama lain. Dan karena memang tidak ada hal penting pula yang harus diperbincangkan.

Hari berganti hari, semakin lama aku pun mulai akrab dengan teman kelasku, meskipun belum semuanya. Kami pun mulai mengenal karakter dan sifat satu sama lain. Tapi disaat aku mulai mengenal akrab dengan sebagian teman kelasku, keakraban ini tidak terjadi pada diri aku dan Rama. Kata teman-teman, aku gadis yang ramah dan bisa dibilang hal itu membuat aku mudah bergaul dengan siapapun sekali pun dengan orang yang baru aku kenal.

Tapi entah kenapa, kalau dengan Rama aku sedikit sulit berkomunikasi dengannya. Saat berada di sekitar Rama, aku justru memilih untuk menghindar dan menjauh darinya. Aku selalu saja gugup dan gemetar saat Rama berada di sampingku. “Apa mungkin aku suka sama Rama?” pertanyaan yang terbesit dipikiranku yang membuatku terus bertanya-tanya. Aku pun mulai stalking semua akun sosmed milik Rama, mulai dari Facebook, BBM, Instagram, dan lain sebagainya. Tapi aku belum berani invite atau follow satu pun dari semua akun sosmed Rama. Tak disangka-sangka, justru Ramalah yang invite dan follow aku di sosmed. Tapi aku tidak boleh GR dulu, siapa tahu Rama hanya ingin menambah teman di sosmednya. Ataupun hanya sekedar untuk bertanya ketika ada tugas nanti.

Hari-hari aku menjadi semangat ke sekolah, karena di sekolah aku jadi bisa ketemu sama Rama. Di kelas belum ada seorang pun yang tahu kalau aku suka sama Rama, sekalipun itu teman dekatku. Aku tidak ingin jika ada yang tahu kalau aku suka sama Rama, karena hal itu bisa saja sampai ke telinga Rama. Kalau Rama sudah tahu semuanya, pasti dia akan menghindar dan menjaga jarak dengan aku. Aku tidak ingin semua itu terjadi dan membuatku semakin tidak bisa dekat dengan Rama. Kebahagiaanku saat ini adalah bisa satu kelas dengan Rama, sehingga tidak terlalu sulit untuk dekat dengannya.

Belum lama aku menikmati kebahagiaan ini, tiba-tiba ada kabar kalau aku harus pindah dari kelas 10 IPA 2 ke 10 IPA 4. Aku belum bisa menerima semua ini, tapi apa boleh buat. Ini sudah menjadi aturan sekolah, dan sebagai siswa yang baik aku tidak mungkin menentang ini semua. Berat rasanya aku melangkahkan kaki keluar dari kelas ini, aku harus pisah dengan Rama. Belum sempat aku akrab dengannya, sudah terkendala dengan ini semua.

Jarak antara kelasku dengan kelas Rama sedikit jauh, karena kelas kami dipisahkan oleh sebuah tangga. Hal itu membuat aku menjadi sulit ketemu Rama, ataupun hanya sekedar melihatnya saja. Di kantin pun, aku hanya sesekali bertemu dengannya. Itu pun aku tidak berani menyapanya, jadi saat di sampingnya hanya bisa diam. Padahal ada niat untuk menyapanya ataupun sekedar senyum kepadanya, tapi apa daya. Perasaan ini telah melumpuhkan segalanya, bibir ini hanya terbungkam saat melihatnya.

Tapi, aku sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberiku kesempatan untuk bisa lagi berada dalam satu ruangan dengan Rama. Ya, aku satu bimbingan dengan Rama. Kami sama-sama ikut bimbingan Bahasa Jerman di sekolah, itu pun cuman hari Jumat saja. Dan waktunya hanya 3 jam, hal itu tentunya aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Hanya 3 jam aku bisa satu ruangan dengannya, tidak masalah yang penting aku bisa satu ruangan lagi dengan Rama.

Entah, sampai kapan perasaan ini aka bertahan. Mungkinkah hanya gara-gara aku jarang bertemu dengan Rama, perasaan ini akan hilang begitu saja. Atau justru akan bertahan, sampai semua orang tahu mengenai perasaan terpendamku kepada Rama. Hanya Tuhanlah yang tahu, bagaimana kedepannya.

Cerpen Karangan: Riska Yupitasari
Blog / Facebook: smileblog22.blogspot.com / Riska Yupitasari
Menulis cerpen adalah caraku untuk berkarya.

Cerpen Kebahagiaan Sementara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bocah di Sudut Pasar

Oleh:
Aku sekarang duduk di bangku kelas IX SMP tapi Ayah masih juga belum menambah uang sakuku. Kadang aku kesal, ketika melihat teman-temanku membeli aksesoris cantik yang harganya cukup mahal.

Jendral Ketumpahan Kopi

Oleh:
Tahun 2017 adalah tahun dengan banyak tren aneh di dalamnya. Mari ambil contoh, fidget spinner misalnya. Mainan yang cara mainnya cuma diputer-puter dan gak menghasilkan kesenangan apapun untuk layak

Gara Gara Diary

Oleh:
Aku melangkah menelusuri jalan setapak yang setiap hari kulewati. Aku menatap rumput-rumput kecil yang melambai-lambai tertiup angin. Jadi teringat pada puisi yang kutulis di diary. Ngomong-ngomong masalah diary. Aku

Confused (Part 1)

Oleh:
Cowok keren yang satu ini ialah Rendy Ferdinant yang merupakan seorang mahasiswa fakultas kedokteran semester tiga di salah satu perguruan tinggi di Bogor, Jawa Barat. Ia juga seorang mahasiswa

Oh, Kesempatan Ke 4 (Part 1)

Oleh:
Siang itu Rasanya panas sekali, karena takut kulit putihku terbakar matahari, jadi sepulang sekolah aku langsung minta jemput papa. Oh iya, Namaku Rizia, remaja perempuan yang masih duduk di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *