Kita yang Tidak Saling Mengerti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 October 2017

“loe ga waras ya, Bel? Cewek secantik Vina loe tolak! Mau cari yang kayak gimana lagi bro.”
Ibel hanya senyum-senyum mendengar ocehan Radit yang tak jelas baginya.
‘siapa yang menolak coba? Gue cuman beri dia kesempatan buat cari cowok yang lebih baik dari gue. Itu doang.’ Ibel cuek beh sambil berlalu.
Melihat tingkah temannya yang menyebalkan itu, Radit gondok abis-abisan.
‘loe tuh nggak bersyukur di beri wajah cakep nggak digunain. Mubazir tau nggak!’

Di tengah-tengah kesebalannya, tiba-tiba Zahira lewat. Radit mencegatnya dan memintanya menjulung barang milik Ibel.
“ko’ aku?” Zahira heran. Kenapa harus dia? Dan kenapa harus Ibel? Dia tak bisa.
“ini hadiah dari Vina buat Ibel, tapi dia buang dan gue nggak mau jadi tempat penitipan barang-barang dia. Terserah loe mau beri ke dia atau loe buang.” Radit menyodorkan benda berbungkus kado ke arah Zahira dengan paksa. Dan pergi begitu saja.
‘apalagi aku, Dit… bicara sama Ibel aja nggak pernah. Ahhh, Radit kamu nggak tau sih …’ gerutu gadis itu kesal. Tapi apa boleh buat, benda itu sudah ada di tangannya dan ia harus menyerahkannya pada lelaki itu. Lelaki yang paling ia benci sekaligus ia cintai.

Zahira berfikir pasti Ibel tebar pesona lagi sama cewek-cewek dan melarikan diri ketika mereka jatuh cinta dengan pesonanya. ‘dasar cowok brengsek!’ Zahira keki jika mengingat kelakuan-kelakuan lelaki itu dengan para gadis.

Sesampainya di kelas Zahira tidak melihat keberadaan Ibel di kursinya. Ia lega, berarti ia bisa meletakkan kado itu di atas mejanya tanpa harus bertemu. Setelah diletakkannya, Zahira bergegas pergi ke tempat duduknya yang ada di pojok namun sial baginya, Ibel mengetahuinya.
“loe ngapain, Ra? Kado itu udah gue buang. Kenapa loe ambil?” tanya Ibel ketus, matanya memerah menahan marah. Zahira tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya berusaha menahan air matanya yang hendak tumpah. Ia terkejut kenapa Ibel harus seketus itu padanya. Ibel mengambil kado itu dengan kasar dan membuangnya di bak sampah dan keluar kelas.

Zahira menangis tersedu-sedu di kursinya sambil menelungkupkan wajahnya. Ia benar-benar tidak menyangka Ibel bersikap seperti barusan. Hatinya sakit sekali diperlakukan seperti itu oleh orang yang ia sukai selama ini. Tapi tetap saja, ia tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Ibel. Sekeras apapun ia berusaha.

Sedangkan Ibel berjalan ke lorong kelas mencari Radit dengan mukanya yang seram. Seperti ingin memakan manusia.
“loe gila ya, Dit? Loe kenapa nyerahin kado itu sama Zahira? Kalo loe mau, loe bisa ambil!! sebenarnya loe tuh suka sama Vina kan? Loe nggak usah sok bijak nasehatin gue biar nerima dia, bilang aja loe suka. Ya kan?!!”
“iya, gue suka sama Vina! Emang kenapa?? Dan gue benci menerima kenyataan kalo Vina suka sama cowok brengsek kayak loe! Suka mainin perempuan. Kapan loe mau berubah Bel? Sampai kapan loe begini terus.”
Ibel hanya tersenyum kecut mendengar pernyataan Radit. Nggak nyangka ternyata Radit bisa juga bicara kayak tadi. Sekarang ia malah kasihan dengan sahabatnya itu, ia pun menepuk pundak Radit dan berlalu.

Rania dan Zahira menyusuri lorong kelas sambil bergandengan tangan, tiba-tiba dari belakang datang seseorang memutuskan gandengan mereka. Keduanya terkejut. Laki-laki itu tertawa.
“Kampret loe, Bel!! Sakit tau nggak sih!” Rania keki bukan main.
“apanya yang sakit?” tanya Ibel nyengir kuda.
“jantung gue! Masa mata gue. Kalo gue jantungan pokoknya loe harus tanggung jawab sepenuhnya.”
Ibel hanya tertawa, sedangkan Zahira tersenyum kecut pura-pura tidak peduli karena jika bukan karena lelaki itu Ibel, dari tadi dia juga sudah marah-marah.
“tanggung jawab? Berarti gue harus nikahin loe dulu dong?” canda Ibel. Zahira yang mendengarnya semakin menjadi-jadi, jadi setress maksudnya.
“idih! Amit-amit jabang bayi. Sampai mati pun gue nggak bakalan nikah sama makhluk kayak loe. Playboy cap kapak! Semua pria di dunia ini matipun dan cuman ada loe, tetep gue nggak bakalan. Mending gue jomblo seumur hidup!” sahut Rania sadis. Mendengar itu Ibel malah semakin tertawa ngakak. Membuat Zahira di sampingnya semakin iri dengan kedekatan keduanya, ia juga ingin sedekat itu dengan Ibel. Pasti menyenangkan. Ia ingin sedetik saja Ibel memandangnya kali ini.
“nggak usah muna deh loe! Liat aja nanti.” Ujar Ibel pede sambil berlalu tanpa sedikitpun melihat Zahira.
“dasar setress! Belum pernah kelilipan sendal gue tuh anak!”
“kalian kayaknya deket banget ya, Ran?” Zahira akhirnya bersuara setelah kepergian Ibel.
“hah? Emmm gimana ya, nggak tau juga sih. Dia kan orangnya emang gitu. Sedikit geblek. Hehe”
“nggak kok. Kayaknya cuman sama kamu deh, Ran.”
“masa sih? Kok gue nggak nyadar ya? Tapi dia anaknya asyik sih, loe liat kan tadi? Haha bener-bener gila tuh anak.” Mata Rania terlihat berbinar-binar bahagia.
“dan gue baru sadar ternyata gue suka sama dia, Ra. Semenjak dia deket sama gue. Kayaknya dia juga suka deh sama gue. Bukan ge-er ya… tapi seperti yang loe bilang tadi, cuman sama gue doang dia berani ngejahilin perempuan.”

Pengakuan Rania mengejutkan Zahira. Ternyata dugaannya selama ini benar, Rania hanya pura-pura tidak menyukai Ibel, padahal sangat jelas terlihat di diwajahnya bahwa ia sangat bahagia ketika Ibel menjahilinya. Seperti barusan.
“eh, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya.”
Zahira hanya mengangguk tak bisa berkata apa-apa. Sekarang ia tidak tahu rasa sakit yang seperti apalagi yang ia rasakan. Ia sudah terbiasa melihat wanita-wanita lain mengejar Ibel, tapi jika temannya sendiri, sahabatnya sendiri? Aduh, apa yang harus ia lakukan sekarang. Haruskah ia melupakan Ibel yang sudah sangat lama ia sukai.
“Ra, loe jangan bilang siapa-siapa ya?” ulang Rania sambil mengguncang pundak gadis itu. Zahira hanya tersenyum kecut sambil mengangguk-ngangguk, bingung merespon dengan apa dan bagaimana. Tiba-tiba ia jadi sedih.

Sesampainya di kelas Zahira duduk di kursinya dengan lesu sedangkan Rania terlihat sebaliknya.
“Bel, loe kemaren mau pinjem buku gue kan?” Rania mendekati Ibel sambil menyerahkan buku Biologinya.
“thanks” jawab Ibel singkat. Rania jadi salah tingkah. Tumben Ibel nggak nyolot kayak biasa, pikirnya.
“eh, nggak jadi deh… tulisan loe kan nggak bagus. Ntar gue nggak ngerti bacanya. Cariin yang lain dong!”
‘sialan! Ternyata gue salah’ ucap Rania dalam hati. Nggak mungkin makhluk yang satu ini nggak cari gara-gara sama dia.
“kambing loe, Bel. Catatan gue itu paling lengkap nomer 2 setelah Zahira tau nggak sih Loe.”
“ya udah, kalo gitu gue minjem yang nomer 1.” Jawab Ibel santai, sedangkan Zahira yang mendengarnya jadi dag dig dug duar tak karuan. ‘ini beneran kan? Ibel minjem buku aku?’
“Ra, loe mau minjemin buku biologi loe ke dia nggak?” tanya Rania sambil memberi kode untuk tidak meminjamkannya pada Ibel. Matanya mendelik-delik. Zahira tak punya pilihan selain diam dan tersenyum, padahal jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat ingin meminjamkan bukunya pada Ibel.
“dia nggak mau, loe nggak usah sok perfect deh Bel. Udah untung gue mau minjemin buku gue”
Ibel tertawa sambil memasukkan buku Rania ke dalam tas. Rania tersenyum senang di belakang sedangkan Zahira semakin sedih.

Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran telah selesai. Zahira membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja, namun ada satu buku yang tidak ia temukan.
“Ran, liat buku biologi aku nggak?”
“eh, gue pinjemin sama Ibel. Ehe” Rania nyengir kuda. Sedangkan Zahira seperti mendengar kabar buruk. Aduh! Ya ampun! Gadis itu menepuk jidatnya. Langsung menoleh tempat duduk Ibel. Tak ada lagi. Tanpa berfikir dua kali, Zahira langsung cabut mengejar Ibel yang baru saja ke luar kelas.
Zahira panik mencari Ibel yang sudah tak ada lagi di mana-mana. Namun bagaimanapun caranya ia harus menemukan lelaki itu, nasibnya terancam.

“Ibel!!” teriak Zahira setelah melihat lelaki itu hendak pergi dengan motornya. Secepat kilat Zahira mengejar dan menangkap tangannya. Refleks Ibel mengibas tangannya kasar.
“Buku biologi… aku nggak bisa pinjamin kamu”. Ucap Zahira terengah-engah sekaligus gugup berhadapan langsung dengan lelaki yang ia cintai selama ini.
“Oh, ya udah…” Ibel mengeluarkan buku dari dalam tasnya dengan santai. Kemudian pergi meninggalkan Zahira yang masih terengah-engah tanpa menolehnya. Membuat hatinya terluka.
Zahira berjalan kembali ke kelas dengan langkah gontai.
“aku baik-baik saja.” Hibur hatinya.

Saat Zahira mempersiapkan buku-buku untuk pelajaran besok, ia melihat buku yang terlihat asing baginya di dalam tas.
‘hah?? Buku Ibel??’ Zahira terkejut setengah mati.
‘berarti buku kemaren yang di kembalikannya itu salah dong? Aduuuhh, bukuku.. gimana nih, di sana kan ada curhatan aku tentang Ibel. Ya ampun, apa yang harus kulakukan?’
Zahira panik setengah mati. Rasanya ia pengen malam itu juga ke rumah Ibel, tapi itu tidak mungkin. Setelah gila beberapa saat gadis itu mencoba menenangkan diri. Ia berdoa semoga Ibel tidak menemukannya, semoga Ibel tidak menyadarinya.

Zahira mencoba melihat-lihat tulisan Ibel. Tidak sadar ia merasa bahagia bisa memiliki buku Ibel saat ini. Sekarang ia bisa melihat tulisan lelaki itu. Dibukanya satu persatu lembaran buku Ibel dan terhenti pada satu tulisan yang membuat jantungnya bisa berhenti berdetak saat itu juga. Tangannya seketika dingin membeku.
Betapa aku rela menukarkan apa yang kupunya hanya demi memiliki sebuah kejadian denganmu. Telah lama aku begini, Ra. Maka kali ini saja, biarkan aku mengalami. Tapi kejadian itu membuatmu terluka.
Ah, aku menyesal, Ra. Seharusnya aku tidak berlebihan ketika kamu memberikan kado itu padaku. Aku membuatmu menangis. Tapi, aku benar-benar marah, kenapa harus kamu yang memberikannya? Orang yang aku cintai.
‘bukankah ini tentang aku?’ tanya Zahira melankolis.
‘ini tentang aku bukan?’ tanyanya sekali lagi. Meyakinkan diri. Entah berapa banyak kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Sungguh, rasanya Zahira ingin berteriak keluar jendela kamarnya mengabarkan pada dunia bahwa ia sedang bahagia.
Tak sadar Zahira menari-nari di atas kasurnya sambil melompat-lompat kegirangan. Ternyata selama ini ia tidak jatuh cinta sendirian.

Sedangkan jauh di seberang sana, Ibel melakukan hal yang sama. Jingkrak-jingkrak tak karuan karena ia telah mendapati kertas tulisan Zahira tentang dirinya.
Sungguh, aku tidak perlu diajak bicara, kehadiranku tidak perlu kau konfirmasi, namaku tidak perlu kau ingat, dan kita tidak perlu menyandang status teman.
Aku, cukup kau lewati setiap kalinya dan aku tak perlu kau hiraukan.
Karena jika kau berbalik ke belakang, kamu justru hanya akan membuatku jatuh ke dalam jurang perasaan yang kuciptakan sendiri.
Bel, bolehkah aku mengagumimu dari jauh saja?
Atau haruskah aku menyerah saja, Bel?

‘Ternyata selama ini hanya kita yang tidak saling mengerti.’ Ucap keduanya dalam hati masing-masing sambil tersenyum.

Cerpen Karangan: Sa’adah Fatyh
Facebook: ukhti sa’adah

Cerpen Kita yang Tidak Saling Mengerti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kutunggu Abu Abu

Oleh:
Aku masih berada dalam buaian mimpi indahku, saat tiba-tiba seseorang meneriakkan namaku. Membuatku seketika melonjak mendapati Anya sudah ada di kamarku. Menggoyang-goyangkan tubuhku, memaksaku untuk bangun. Aku hanya menggeliat,

Taruhan Jadi Jadian

Oleh:
Tet, Tet, Tet. bel pulang berbunyi bersamaan dengan turunnya hujan. Aku duduk di teras kelas menunggu ayah menjemput. Sambil menunggu ayah datang aku bercerita dengan teman-temanku. Aku, Irfan, Putra,

Apakah Ia Seorang Psikopat? (Part 2)

Oleh:
Aku mengantongi HP di saku celanaku, aku terkejut mendapati ada dompet di sakuku. Ternyata itu dompet Rukov, aku lupa mengembalikannya saat ia mengembalikan HP-ku. Aku merasa orang yang paling

Indah Pada Waktunya

Oleh:
Pertemuan dengan seorang cowok di ruangan exkul itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati vivi. Seorang gadis berusia 15 tahun, entah mengapa ada getaran yang begitu hebat dan

Not Now, Gas

Oleh:
Pagi ini, seperti hari-hari sebelumnya, seorang gadis mungil dengan hijab yang menutupi kepalanya, duduk dengan tenang di mejanya. Beberapa anak seumurannya mulai datang memasuki kelas 12-3 yang sudah cukup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *