Lebih Lama Lagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 13 January 2018

Pohon beringin itu selalu menjadi tempat favorit Filda. Ukurannya yang besar mampu menutupi tubuh Filda yang mungil. Tatapannya menuju ke arah satu titik, Demian. Terselip pensil di jemarinya yang sedang mencoret sesuatu di buku. Tepatnya buku diary berwarna merah muda itu. Terlihat sebuah gambar di kertas itu. Ya, Filda tengah menggambar Demian yang sedang membaca buku di taman kampus. Kelakuan Filda ini dilakoninya sejak 2 tahun lalu, pertama kali memasuki kampus ini. Ia mengambil jurusan Seni Rupa. Yang membuatnya selalu terinspirasi adalah laki-laki itu, Demian.

Mungkin Filda kini sebagai secret admirer Demian. Bibirnya selalu mengembang ketika melihat Demian dari balik pohon ini. Di perasaannya, dia menyukai semua tentang Demian. Tentang cara ia tersenyum, fokus, tertawa dan semuanya. Wajahnya mengkerut saat mendapati seorang wanita menghampiri Demian. Ia menutup bukunya lalu mendengarkan dengan seksama, namun tempat ia berada terlalu jauh sehingga tak dapat mendengarkan apapun dari sana.

“Dem, lu udah selesai bacanya? yuk anterin gue ke kantin?” Ajak Yumna, kekasih Demian. “Udah kok, mau ngapain ke sana?” Ujar Demian, membereskan buku-bukunya. “Makanlah, laper banget ini” Yumna memegang lengan Demian, tak sabar ke kantin karena perutnya dari tadi bergemuruh. “Bentar bawel” Demian selesai membereskan bukunya, lalu menggandeng lengan kekasihnya itu. Mereka berdua meninggalkan taman kampus menuju kantin. Sedangkan Filda, menunduk sedih.

“Yum, peje dong! masa iya gue gak dikasih peje?” Ilma, sahabat karib Yumna melihat kesal Yumna. “Halah, gue gak punya uang Il” Yumna menunjukkan isi dompet birunya ke Ilma “Tuh liat,” Lanjut Yumna.
“Oh iya, lu mau makan apa?” Demian menyodorkan daftar menu kantin ke Yumna. “Mie ayam deh sama es sirup.” Yumna menunjukkan menu yang akan ia santap siang ini. “Ya udah tunggu ya, gue pesen dulu,” Demian berdiri, Ilma menyahut cepat “Eh gue juga dong! masa iya gue jadi obat nyamuk di sini? sekalian pejenya haha” Demian mengiyakan.

“Fil, udah selesai tugas lu?” Rendi, ia adalah anak dari kepala sekolah kampus. Namun ia selalu memalaki siapapun, yang tidak mau memberinya uang maupun tugas. Filda menggeleng. “Bohong lu!” Rendi menarik tas Filda lalu menumpahkan isinya. Rendi mengambil tugas Filda yang akan dikumpulkan hari ini. Filda mencegahnya, tapi terlambat. Rendi tertawa remeh. “Hahah, kasian. Ntar lu juga bakal dihukum. Btw, makasih ya!”

Filda membereskan isi tasnya di lantai. Filda menahan tangisnya, ia mengusap dahinya yang berkeringat. Hingga ia melihat kaki di depannya, ia mendongak. “Hai, Filda? habis diapain kamu sama Rendi?” Wajahnya tak asing bagi Filda, ia Gerdi. Tetangga sekaligus teman kecil Filda. Filda tersenyum lalu menggeleng pelan. “Tugas kamu diambil lagi kan?” Tatap Gerdi cemas, Filda tetap tersenyum kepadanya.
Filda menulis sesuatu di buku memonya. “Aku gak apa-apa Di, gak usah khawatir ok?” Ia menunjukannya ke Gerdi. Wajah Gerdi yang tadinya cemas kini tenang.

Jam dinding kelas menunjukkan pukul 4. Kini waktunya meninggalkan kampus. Filda sesegera mungkin membereskan peralatannya, setelah semuanya tertata ia berlari menuju tempat favoritnya. Di tengah perjalanan, ia menabrak orang. Ia menyatukan tangan sambil membungkuk, namun orang itu menarik tangannya. “Eh, lu Filda kan? anak Seni Rupa itu?” Ditatapnya wajah orang itu, dia Yumna. Sempat Filda melotot sebentar. Filda mengangguk. “Salam kenal ya!” Yumna menjabat tangan Filda. Mereka berdua tersenyum.

Filda berdiri di balik pohon beringin itu, melirik Demian yang selalu duduk di sana. Namun ia tak menemukan sosoknya di bangku itu padahal ia sudah mempersiapkan peralatannya. Filda melihat ke atas gedung, ia terkejut. Yumna melihatnya sekarang. Yumna melipat tangannya, ekspresinya menjadi bingung. Yumna sepertinya menuruni tangga menuju ke tempat Filda sekarang. Filda cepat-cepat meninggalkan pohon beringin itu.

Kejadian kemarin itu membuat Filda resah, bagaimana kalau Yumna memberitahu Demian? Apakah Demian akan membencinya? Atau Filda akan dipenjara?

Filda duduk di kursinya, resah memikirkan itu. Pundaknya disentuh Gerdi, Filda menoleh ke belakang. “Jangan ngalamun lagi, gak baik.” Ujar Gerdi. “Jangan-jangan kamu punya gebetan? haahaha” Ucapan Gerdi membuat Filda tersenyum malu, mengingat Demian. “Duh, ternyata diem-diem punya gebetan?” Gerdi mengacak rambut Filda, Filda memukul pelan lengan Gerdi.

Filda memutuskan tetap menjadi secret admirer Demian. Apapun yang terjadi, karena Demianlah yang menjadi inspirasinya. Dia duduk di bawah pohon besar itu, ditemukannya sosok Demian yang sedang berbicara dengan seseorang. Seseorang itu tak lain adalah Yumna. Yumna kelihatannya tengah mengucapkan sesuatu ke Demian, kemudian meninggalkan Demian. Dengan raut wajah sebalnya, Demian menghampiri pohon yang ditempati Filda.

Filda terbelalak, ia tak sempat membereskan buku diarynya karena Demian berjalan sangat cepat. “Lu ngapain di sini! lu stalker gue ya!” Filda menggeleng, giginya berdetak. “Gue risih tau gak distalkerin! Lihat! Yumna, pacar gue, mutusin gue gara-gara lu dikira siapa-siapa gue! kenapa lu nyetalkerin gue! jawab!” Filda membuka buku memonya, menulisnya dengan cepat. Demian yang emosinya sedang memuncak merebut buku memonya lalu merobeknya. “Ini apa lagi! jawab gue! malahan nulis!” Demian mengambil buku diarynya, Filda mencoba mengambil kembali. Demian membuka buku itu, “Oh, ini ya! gue bakal jadiin ini bukti di kantor polisi, tunggu aja” Demian memasukkan buku itu ke tasnya, meninggalkan Filda.

Filda menangis hebat, hatinya telah dihancurkan oleh orang yang dicintainya. Ia menutup wajahnya, sampai ia tak menyadari seseorang jongkok di depannya. “Fil? kamu kenapa? Demian apain kamu?” Dilihatnya seseorang itu dari balik jemarinya. Ia menghela nafas lega, Gerdi melihatnya bingung. Filda mengambil buku tulisnya lalu menulis di atas kertas itu. Tulisannya banyak, menandakan Filda menceritakan apa yang terjadi padanya.

“Di, aku bingung pada diriku ini. Sebenarnya aku mungkin adalah sebagai secret admirer. Ketika aku melihat Demian, aku tertarik padanya. Dia selalu membuatku terinspirasi. Namun kegiatanku ini diketahui oleh Yumna, kekasih Demian. Yumna memutuskan Demian karena aku. Tadi dia marah besar kepadaku, sampai-sampai buku diaryku diambil olehnya. Katanya aku akan dilaporkan ke polisi. Aku harus bagaimana?” Gerdi membaca seksama tulisan dan maksud Filda. Gerdi akan memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Gerdi menenangkan Filda, meyakinkan bahwa masalah ini akan selesai. Gerdi mengantarkan Filda kerumahnya, Filda sangat berterima kasih kepada sahabatnya itu.

Gerdi mengetuk pintu rumah Demian, “Dem! keluar lu!” teriak Gerdi, tak lama itu pintupun dibuka. Gerdi tersenyum puas kehadiran Demian, tujuan Gerdi kemari adalah untuk menyelesaikan masalah sahabatnya, Filda. “Lu ini beraninya sama perempuan ya!” Demian bingung mendapati Gerdi di depannya.
“Asal lu tau ya! Filda, sahabat gue. Dia niatnya baik! dia bukan stalker lu!”

“Trus? dia buat gue risih dengan gambar-gambar gue di bukunya!”
“Lu itu inspirasi buat dia! Dengan teganya lu marah-marah sama perempuan! apalagi dia gak bisa bicara! lu gak punya hati ya!”
Demian terdiam menganggap ucapan Gerdi, ia yakin itu bohong.

“Apa? dia gak bisa bicara?”
“Ya, dia bisu! kenapa hah!” Gerdi mengusap matanya yang basah karena mengatakan kalimat itu.
“Kenapa dia gak bilang?”
“Dia udah ngomong tapi lu nyegah dia! dia nulis itu artinya dia ngomong sama lu! Oh iya, ini alamatnya. Minta maaf sama dia!” Gerdi meninggalkan Demian yang mematung.

Demian menuju alamat yang diberikan Gerdi. Di bangku mobil sebelahnya terdapat buku diary Filda yang sudah ia sobek sebelumnya. Demian merasa sangat bersalah atas tindakannya tadi siang.

“Permisi,”
Filda muncul dari balik pintu, ketika mendapati Demian disana. Ia menutup cepat pintunya. “Fil, gue gak jadi laporin lu ke polisi, gue mau minta maaf. Gue salah” Filda tak percaya ucapan Demian, pasti dia membawakan polisi ke rumahnya dan ia akan dipenjara. “Sumpah!” Teriak Demian, Filda pun membuka pintu rumahnya perlahan. Filda mempersilahkan Demian masuk. “Gue tau lu gak bisa bicara kan? gue tau gue ini inspirasi kamu kan? Sorry ya” Filda mengangguk memaafkan. Filda membuka bukunya dan menulis, Demian menunduk bersalah.

Di dalam tulisannya, Filda menceritakan bagaimana ia bisa tak bisa bicara, itu karena ia mendonorkan pita suara untuk adiknya. Adiknya ingin tau rasanya berbicara, lagian juga Filda mengambil jurusan seni rupa. Filda melakukan itu karena ia sayang adiknya, karena ia juga ingin mengasah kemampuan menggambarnya.

Akhirnya Demian pun memperbolehkan Filda untuk menggambarnya kapanpun. Namun Filda lebih suka menggambar di balik pohon beringin itu. Karena di sanalah Filda pertama kali melihat dan mengagumi Demian. Filda menyarankan agar Demian kembali ke Yumna, meskipun Demian tak tahu bahwa Filda mencintainya. Filda tau, kini posisinya dapat membuat hubungan Demian akan renggang. Makannya Filda selalu menyimpan perasaannya dan menahannya lebih lama lagi dan lagi.

Cerpen Karangan: Latania Rokhim
Facebook: Tataniaa

Cerpen Lebih Lama Lagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu

Oleh:
Aku memiliki teman-teman yang ramah, sopan dan baik hati. Mereka bernama Bunga, Nurul, Dewa, Hassa, Tia dan Tifal. Mereka anak-anak yang pintar di bidangnya, mereka sering mendapat peringkat 10

Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
Hari Senin, hari yang sangat melelahkan itu karena aku mengawali hariku dengan upacara yang sangat membosankan ditambah aku anggota OSIS, hari itu sebenarnya bukan tugasku menjadi petugas, tapi Mika

Dementia

Oleh:
“DASAR BODOH!!! LU KERJA PAKE OTAK GAK?!! itu berita yang turun minggu kemaren kenapa bisa sampe muncul lagi di edisi tadi pagi, hah?! Punya otak gak sih lo?! Apa

Bait Puisi di Penghujung Senja

Oleh:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan, kayu kepada api yang menjadikannya abu..” Layaknya Senja-senja sebelumnya, Tania dan Dani duduk santai di balkon depan kamar

Rumah Kaca dan Tulip Merah

Oleh:
Hampir setiap pagi aku memandangimu. Di saat sinar mentari menerpa wajahmu, di saat kau tersenyum kepada tukang koran yang lewat di depan rumahmu setiap pagi, di saat kau mengantarkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *