Love Hour (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 November 2015

“Na, bukannya itu kecengan kamu?”

Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Lauren saat gadis itu menatap ke luar jendela kelasku. Sontak aku menoleh padanya dan memelototinya.
“Jangan keras-keras!” tegurku, “Kamu bikin malu tahu!”
“Santai aja sih, Na. Toh di kelas ini nggak ada banyak orang,” jawabnya santai.
“Gimana bisa santai kalau kamu ngomongnya sekeras itu!” balasku kesal, “Kalau dia denger gimana?”
“Astaga, Ariana! Kamu tahu kelas ini ada di lantai berapa? Lagi pula jendelanya kan tertutup, jadi suaraku nggak akan terdengar sampai ke luar”

Ada benarnya juga apa yang Lauren katakan. Kelasku berada di lantai tujuh dan tentu saja, di dalam ruang kelas dengan jendela-jendela yang tertutup suara nyaring Lauren tak akan terdengar sampai ke luar. Anak itu tak akan bisa mendengarnya.
“Itu coach Deva, kan?” tanya Ferdi.
“Benar juga. Coach tim basketmu kan, Fer?” sambung Kevin.

Emosiku mulai naik mendengar dua orang sahabat itu membicarakan orang yang sama dengan yang dibicarakan olehku dan Lauren.
“Hey, kalian cowok berdua! Nggak usah ikut nimbrung deh!” tegurku.
“Nimbrung? Siapa yang nimbrung? Itu coach tim basketku,” sanggah Ferdi sembari membetulkan posisi kacamatanya.
“Ya, benar!” tambah Kevin, “Lagi pula kita nggak peduli dengan urusan percintaan—”
“Nggak usah diperjelas ya,” potongku.

Bocah dengan Beats berwarna putih yang menggantung di lehernya itu terkikik pelan, sementara Ferdi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengelus dadanya.
“Astgafirullohaladzim,” ujar Ferdi dengan gaya bicaranya saat menjadi mentor di acara pengajian Jumat malam yang diadakan oleh DKM masjid kampusku, “Akhwat kok galak banget”
Aku menghela napas panjang, meredakan kekesalanku. Astaga, mengapa aku jadi begitu emosional setiap kali aku melihat atau mendengar sosok itu disebut?
“Na, mendingan kamu cepat ke studio sekarang,” tegur Lauren, “Lihat, sudah jam satu lebih lima belas. Kamu mau terlambat siaran?”

Aku melirik jam dinding di kelasku. Jarum panjang menunjuk tepat ke arah jam tiga, sementara jarum pendek berhenti di angka satu. Sial! Aku harus segera berangkat atau aku akan terlambat dan dimarahi program director-ku.
“Ah, aku harus pergi sekarang!” ujarku seraya membereskan buku-buku ke dalam tasku, “Dan kalian, jangan lupa request. Ingat, request!”
“White Shoes And The Couples Company!” seru Kevin, “Senandung Maaf”
“Oke! Request tersimpan!” jawabku.

Aku berlari ke luar kelas dan sesaat sebelum aku mencapai ujung koridor, aku segera berlari kembali ke kelasku. Orang-orang yang berada di kelas terkejut dengan kembalinya aku yang begitu tiba-tiba.
“Ada apa?” tanya Lauren.
“Jangan ada yang bahas tentang Deva!” tegasku.
“Ge er!” celetuk Ferdi, “Sudah, mendingan kamu cepat berangkat”
“Ya. Aku tunggu lagu request-ku diputar nih!” tambah Kevin.
Setelah yakin bahwa nama Deva tak akan beredar di percakapan orang-orang yang tersisa di kelas, aku pun segera berangkat menuju stasiun radio tempatku bekerja. Astaga, ini baru pukul satu namun jalanan telah ramai oleh kendaraan-kendaraan yang berseliweran di jalan raya. Semoga saja aku tak terjebak di kemacetan yang biasa ku temui di jalan Cihampelas.

“Ya, sekarang saatnya Ariana bacakan request berikutnya. Request berikutnya datang dari Kevin di kelas. Kelas yang mana ya? Kevin ingin request lagu Senandung Maaf dari White Shoes And The Couples Company. Pesannya, semangat untuk announcer yang sedang bertugas. Semoga—”
Aku menghentikkan kalimatku saat aku membaca kata-kata yang muncul berikutnya.
“Semoga tetap semangat. Ya, terima kasih Kevin untuk request-nya!”

Aku terpaksa mengubah pesan itu lalu kembali membacakan request-request yang masuk sembari mencoba meredakan kekesalanku. Sial! Beraninya anak itu menyebut nama Deva di pesan request-nya. Lihat saja apa yang akan ku lakukan terhadapnya besok di kelas.
“Ya, satu lagu dari White Shoes And The Couples Company, Senandung Maaf. Selamat mendengarkan”
Ku putar lagu bernuansa tahun delapan puluhan itu lalu ku sandarkan tubuhku pada kursi sembari mengatur napasku. Anak itu membuatku kewalahan. Jika saja aku benar-benar membacakan pesannya, apa yang para pendengarku akan pikirkan tentangku? Ku ambil ponselku di atas meja dan segera ku ketikkan pesan singkat untuk teman sekelasku itu.

“Kevin! Apa-apaan kamu sebut nama Deva di request kamu?!”
Tak lama kemudian, ku terima pesan balasan dari Kevin.
“Hahahaha! Habis kamu ngelarang kita untuk bahas Deva di kelas, jadi kita sepakat untuk bahas Deva di pesan request”
Aku meringis kesal. Di satu sisi, teman-temanku memang cerdik. Aku baru menyadari ucapanku dan aku merasa tak berdaya dengan kecerdikan mereka. Di sisi lain, kecerdikan mereka membawa bencana bagiku. Harusnya ku suruh mereka untuk tak membahas Deva di manapun.

“Mbak Ariana, mau Starbucks?” tanya Agung, operator yang hari ini bertugas menemaniku.
“Boleh. Seperti biasa ya, Gung,” jawabku, “Nanti bill-nya biar saya yang bayar aja”
“Jadi hari ini Agung ditraktir mbak Ariana nih?” tanya Agung antusias.
“Ya. Hari ini saya yang traktir,” jawabku seraya tersenyum.
“Terima kasih banyak, mbak! Agung balik lagi secepatnya!” ujarnya riang.

Operator muda itu pun meninggalkan ruang siaran dan ku lihat melalui tembok kaca, ia berlari ke luar lobi dan bergegas menuju lift. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya. Ku alihkan pandanganku ke luar jendela, menatap pemandangan kota dari ketinggian empat belas lantai. Sengatan matahari yang ganas tak menghentikan langkah-langkah kaki orang-orang dan deru kuda-kuda besi yang dari waktu ke waktu nampak semakin gagah.

Petang menjelang dan aku menapaki trotoar yang rimbun. Gedung Bank Indonesia berdiri megah di sisi selatan. Di timurnya, di seberang jalan, ku lihat menara Santo Petrus tak ingin melewatkan perpisahannya dengan matahari senja. Aku tiba di persimpangan dan dengan hati-hati menyeberangi jalanan yang mengerikan ini. Dalam hati aku mengumpat, mengutuk para pengendara mobil dan motor yang seolah-olah tak ingin sedetik pun membiarkanku meletakkan telapak kakiku di permukaan aspal jalan ini.

“Jembatan penyeberangan justru tak aman,” pikirku.

Aku tak berani menyeberang melalui jembatan penyeberangan sejak ku dengar kasus penodongan yang terjadi pada salah seorang temanku di salah satu jembatan penyeberangan di kota ini. Setelah tiba di seberang jalan, aku berjalan ke arah katedral Santo Petrus. Saat itu, di bawah sapuan cahaya senja, ku lihat seorang pria berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Langkahnya gontai, kepala tertunduk, dan headset yang menempel di telinganya. Jaket kulit hitam melindungi tubuhnya dan tasnya yang nampak lusuh tergantung di bahu kanannya. Aku terdiam sejenak menatap sosok tersebut berjalan ke arahku. Ia menaikkan dagunya dan matanya menangkapku tepat di mataku. Kami saling menatap untuk beberapa detik sebelum kata-kata terlontar ke luar dari mulutku.

“Hai, Deva. Apa kabar?”

Deva tak menyunggingkan sebuah senyum sama sekali. Ia hanya menatapku, menundukkan kepalanya dan kembali berjalan. Ia berjalan melewatiku begitu saja, membuatku tercengang. Apa ada yang salah dengan ucapanku? Aku berbalik dan melihatnya berbelok. Dengan dinginnya ia melewatiku begitu saja. Astaga, pria macam apa ia? Dan mengapa aku bisa menyukainya?

Bocah itu mengaduk isi mangkuknya. Aroma bumbu berempah seketika menyerbak.
“Makan mie ayam nggak pake saus sambal itu kayak buat cokelat panas tanpa gula,” celetuk Ferdi.
“Loh, memangnya salah?” tanya Lauren.
“Jelas salah!” jawab Ferdi, “Kamu mau minum cokelat panas yang pait?”
“Ini udah masuk era globalisasi! Artificial sweetener udah beredar!” tukas Lauren.
“Lagipula minum cokelat panas pahit enak juga kok,” sambung Kevin.
“Setiap minuman punya seninya masing-masing,” tambahku.
“Aduh, ampun deh kalau pakar kopi yang ngomong. Aku nyerah,” ujar Ferdi terpojokkan.

Bocah yang bahkan masih mengenakkan jersey tim basketnya itu mulai menyumpit mie ayam yang ia pesan. Aku, Kevin, dan Lauren pun mulai menikmati sajian makan siang kami.
“Tumben banget latihanmu sudah selesai jam setengah dua belas,” ujar Kevin.
“Ya. Coach De..”
Ferdi mengerem ucapannya lalu melirikku.
“Coach bilang d-dia harus pergi,” ujar Ferdi, sedikit terbata-bata.
“Pergi? Kemana?” tanyaku.
“Entahlah. Mungkin ia harus bekerja,” jawab Ferdi.
“Bekerja?”
“Memangnya kamu nggak tahu? Coach selama ini punya kerja sampingan. Malam hari coach bantu kerja di kedai punya Neneknya di dekat stasiun kereta”
Aku mengernyitkan dahiku.

“Na, kamu nggak tahu tentang hal itu?” tanya Lauren.
“Kalau kamu nggak tahu berarti kamu nggak lulus buat jadi kecengannya tuh,” sindir Kevin.
“Kev, ini bukan waktunya bercanda ya,” tegurku.
“Ferdi bilang kalau Deva kerja di kedai punya Neneknya di dekat stasiun kereta. Apa itu artinya dia tinggal di sekitar situ?” tanya Lauren.
“Entahlah,” jawab Ferdi, “Tapi yang pernah ku dengar sih coach seringkali bertengkar dengan Neneknya. Kemungkinan besar coach nggak akrab dengan Neneknya”
“Lantas, kemana orangtuanya?” tanyaku.
“Mereka tinggal di luar kota. Coach sejak SMP sudah tinggal dengan Neneknya,” jawab Ferdi.

Aku tertegun sejenak. Ucapan Kevin tiba-tiba menelusup pikiranku. Selama ini aku diam-diam mengaguminya, namun aku bahkan tak tahu banyak tentang sosok yang ku kagumi.
“Sejak kapan coach Deva punya kerja sampingan?” tanya Kevin.
“Entahlah, sudah cukup lama sih,” jawab Ferdi, “Tapi coach memang nampaknya pekerja keras. Maksudku, setelah beres latihan ia pasti ada kerjaan. Coach juga sempat ngajar les untuk anak-anak SMP”
Mendengar penuturan Ferdi, rasa kagumku pada Deva semakin besar. Di saat yang bersama, rasa ingin tahuku tentangnya semakin besar pula. Aku benar-benar ingin mengenalnya lebih dalam, mengetahui apa yang selama ini tak ku ketahui darinya. Sikapnya yang dingin justru membuatku semakin tertarik untuk bisa lebih dekat dengannya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Klaus Rachman
Blog: rocklafeller.blogspot.com
Nama: Klaus Rachman
Twitter: @rocklafeller

Cerpen Love Hour (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takdir, Aku dan Aries (Part 1)

Oleh:
Dear Aries… Ini adalah sebuah kisah tentang masalahku dengan takdir dan tentu saja, kamu. Kisah ini baru aku ceritakan sekarang padamu. Entah mengapa, takdir tak pernah memihakku. Aku selalu

Terima Kasih Shisil

Oleh:
“aku masih ingin di sini” kataku bersikukuh tanpa bergerak sedikit pun dari tempat aku duduk. “haha… apa kamu gila, come on Ge… move on, kamu masih mau nunggu orang

Aku Hanya Tahu Namanya (Part 1)

Oleh:
Hujan baru saja reda. Genangan air hujan yang terdapat di beberapa titik jalanan kecil yang menghubungkan sekolah dengan halte itu terlihat semakin berkurang karena kecipak-kecipak dari langkah kaki murid-murid

Usaha Yang Tak Berujung Indah

Oleh:
Cinta, cinta, cinta dan cinta. Itulah yang aku rasakan saat ini. Pasti semua orang pernah merasakan rasanya cinta kepada seseorang yang spesial bagi kita, tidak memandang wajah, fisik, harta

Pengorbanan Cinta

Oleh:
Secarik kertas putih di hadapanku, kugerakan tanganku, mulai menggoreskan tintaku dan merangkai kata. Seulas senyum dan semburat merah jambu menghiasi wajahku. Saat ini, aku tengah menulis surat cinta, iya..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Love Hour (Part 1)”

  1. Reyhan says:

    Wih, kren nih cerpen. kyak gk bisa brhenti baca. Amazing!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *