Mengagumi Itu …

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 4 September 2015

Jika aku memikirkan kata kagum, aku adalah orang yang mudah terkagum-kagum melihat apapun yang aku sukai. Termasuk mengagumi seseorang. Terkadang juga terpikir, apa enaknya sih mengagumi? Toh nanti kamu yang sakit hati, kalau orang yang kamu kagumi ternyata gak membalasnya. Ada juga kutipan dari seorang teman, “sesungguhnya hanya mengagumi tak akan pernah membuatmu memiliki orang yang kau kagumi itu”

Memang benar, tapi menurutku mengagumi bisa jadi menyayangi, mencintai dan ingin memiliki. Tapi mengagumi seseorang itu sangat menantang, kadang bisa buat kita tersenyum saat si dia merespon atau juga menangis gak karu-karuan saat tahu dia lagi deket sama orang lain.

Ketika aku tersenyum karena mengagumi.

Aku sering berhenti sejenak ketika berjalan untuk tersenyum ketika melihat orang yang aku kagumi berada dekat denganku, hanya sekedar untuk menatapnya, atau menyapanya. Aku bahkan bisa tersenyum sendiri melihat tingkah lakunya yang sangat konyol. Aku juga bisa teriak kegirangan saat dia membalas senyumku. Aku kadang menjadi sangat gila ketika dia menegurku duluan.

“Eh Riz, lihat tuh” kata seorang teman sambil menunjuk seorang laki-laki yang tengah ku kagumi sedang berjalan di dekatku, ia sedang berjalan seperti biasa dengan sebuah senyuman di wajah manisnya, dan cengirannya ketika menyapaku.
“hai” dia selalu sukses membuatku tersenyum-senyum kegirangan seperti orang gila.

Ketika pipiku memerah.

Saat dimana dia mengajakku berbicara dan menatap mataku, saat itulah, dimana kedua pipiku akan menunjukkan semburat rona merah yang akan membuat temanku meledek.
“pipimu merah Riz, ntar kalau yang lain lihat gimana?” ledek temanku.
“masa sih?” kataku sambil senyam-senyum.
“enek banget lihat senyummu” temanku menjadi sangat sewot karena aku senyam-senyum tak karuan.
Saat dia mulai curiga dengan gelagatku, dia hanya tersenyum. Lalu aku? Aku hanya menunduk canggung dan merasa tak karu-karuan.

Kamu juga akan merasakan sedih.

Sedih saat aku tidak dapat melihatnya hari itu. Lebih sedih lagi saat aku tahu dia sedang bersama teman-teman perempuannya. Ketika mengagumi membuat adrenalinmu meningkat namun tak bisa berbuat apa-apa.
“ayo Riz, sana dekatin orangnya” kata seorang teman, yang mengetahui kekagumanku ini.
“gak ah, aku terlihat bodoh kalau dekat-dekat dengannya”
“enggak kok, justru ini kesempatanmu. Mumpung dia sendiri” temanku sambil nyengir lihat ekspresiku yang kalang kabut antara maju mendekatinya, atau berjalan di belakangnya dan hanya melototin bahunya dari belakang.

Ketika kebetulan menjadi hal paling luar biasa.

“oh kalian di sini, masuk aja” sapa dia ketika aku dan temanku berteduh di kanopi yang sama dengannya dan aku berdiri di sampingnya.
“kamu gak bawa payung Riz?” tambahnya lagi.
“eh.. enggak mas” jawabku dengan sangat-sangat ragu, rasanya ingin hujan tidak cepat reda, aku sangat menikmati walaupun hanya berlama-lama berdiri dengannya, apalagi ketika kami mengobrol wajahku terus memancarkan rona bahagia, bahkan sudah sampai di rumah tetap senyam-senyum sendiri dan mengingat hal itu berulang-ulang.

Apapun yang dia lakukan
Tingkahnya
Senyumnya
Cara menyapaku
Semua aku suka, sangat suka

Jadi begitulah ketika aku sedang mengagumi seseorang, sama seperti saat kalian mulai jatuh cinta dan mencintainya secara diam-diam. Hanya saja ketika kamu mengagumi seseorang kalian tak akan pernah memilikinya. Cukup dengan menatapnya dari kejauhan, menikmati semua yang dia miliki, senyumnya, tingkahnya, dan semua yang ada pada dirinya.

Dan ketika kamu sedang mengagumi seseorang, semesta akan membiarkan kamu bertemu tanpa sengaja dengan orang tersebut terus-menerus, dan akan membiarkan kamu memilih menyimpan rasa itu atau mengungkapkan kekagumanmu.

Cerpen Karangan: Nikmatur Rizka
Facebook: Rizca Declan

Cerpen Mengagumi Itu … merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Cinta Dia

Oleh:
Desiran ombak bengitu riuh terdengar, gemercik air yang sesekali menghanyutkan butiran-butiran pasir yang berlinang-linag menjadi irama yang selalu menyanyikan lagu merdu menyelinap di lubang telingaku. Seperti biasa aku nikmati

Izinkan Aku Mencintainya

Oleh:
Malam ini rasanya mataku begitu sulit untuk dipejamkan. Aku tak tahu apa sebabnya. Mungkin karena aku sudah tak sabar menantikan hari esok dan menyongsong Natal untuk yang kesekian kalinya

Yang Takkan Pernah Ada

Oleh:
Hembusan angin dan rinai hujan mengiringi langkahku berjalan pada waktu pagi itu, dengan jiwa yang semangat untuk membuka lembaran baru dalam hidupku dan senyuman yang lepas kepada setiap insan

Little Chicken

Oleh:
Pagi itu, awan tak segendut biasanya. Langit pun warnanya cerah memancar menyilaukan mata. Dia berdiri, dia menatap ke arah yang sama disaat aku menatap. Matanya kecil, sedikit sipit. Bola

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *