Menolak Rasa (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 January 2016

Namamu siapa?

Belakangan ini pertanyaan konyol itu selalu memenuhi pikiranku. Konyol karena baru kali ini aku ngerasa penasaran dengan nama seseorang, dan itu laki-laki. Padahal untuk tahu namamu semudah membalikkan telapak tangan, tapi aku merasa malas saja. Bisa saja aku bertanya temanku, atau siapa saja yang kenal kamu, tapi aku ragu-ragu, takut nanti ada yang curiga. Lagian aku masih menikmati rasa penasaran ini, kata orang ‘biarlah waktu yang akan memberi jawabannya’, uhuk-uhuk, aku keselek. Sambel gado-gado hampir saja nyasar ke tenggorokan, gara-gara terlalu jauh melamun. Aku terbatuk-batuk.

“Minum Ren, ini nih.” Nabila segera menyodorkan es tehnya kepadaku.
“Huaahh, makasih Bil.” jawabku setelah menyedotnya hampir habis.
“Lagi ngapain sih, sampe keselek gitu? Mikirin apa?”
“Nggak ada sih, lagi nggak fokus aja, sambelnya pedes banget nih.”

“Eh buruan, udah mau jam tiga loh, jangan sampe telat ngumpul. Mau dibantuin ngabisin gak gado-gadonya?”
“Ihh dasar, nih abisin semua.” Aku sudah tak selera lagi setelah lamunanku buyar. Nabila tersenyum cuek sambil mengarahkan sendoknya ke piringku. Semenit kemudian isi piringku sudah tandas. Dasar nggak tahu malu nih anak, pinter-pinter tapi rakus juga. Ngomong-ngomong, tadi sampe mana ya ngelamunnya? Ah dilanjut nanti saja, sekarang aku harus buru-buru kumpul tim pelatih pasukan khusus pengibar bendera SMA-ku.

Sebagai mantan anggota passus, aku diberi tanggung jawab untuk menjadi tim pelatih passus pada tahun berikutnya. Nabila juga ikut, tapi dulu kami beda satuan pasukan, aku ada di pasukan delapan, sedangkan Nabila pasukan tujuh belas. Tugas ini aku jalani dengan semangat empat lima, karena di samping ada rasa bangga, juga punya kesempatan untuk ‘tebar pesona’ di depan para junior. Dua alasan itu cukup memberi energi ekstra walaupun harus rela pulang menjelang petang.

Sore itu agak mendung, sinar matahari hanya bisa menembus celah-celah awan yang menggumpal. Rumput yang tumbuh di taman-taman kelas nampak kering, tumbuh pendek-pendek dan tidak merata, akarnya tercerabut dari tanah. Musim kemarau masih panjang, mendung bukanlah jaminan bagi hujan. Latihan pun dimulai, sesi pertama adalah penjelasan umum. Temanku yang mantan komandan passus memberikan orasinya tentang apa itu passus, tanggungjawabnya, nilai-nilai yang harus dipegang, dan entah apalagi, yang jelas hal-hal abstrak. Aku berdiri di samping kanan barisan calon anggota.

Daripada nganggur, aku iseng mengamati wajah-wajah baru itu. Eh, itu kamu? Mataku tertuju pada siswa laki-laki yang badannya lumayan tinggi, tegap, dengan mimik sedang serius mendengarkan. Iya itu kamu!! Pandanganku turun ke arah badge namamu, ‘Brata Senna’ aku membaca lirih tulisan itu. Yes!! Ada kegirangan kecil yang aku dapatkan, akhirnya aku tahu juga namamu, nggak perlu repot-repot tanya siapa pun, Tuhan memang Maha Pemberi Petunjuk, hehe.

Aku masih punya beberapa menit untuk memperhatikan lebih detail sosokmu. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Sepertinya kamu lebih tinggi beberapa senti dariku. Rambutmu agak pendek, disisir rapi ke samping. Bahumu terlihat kuat, mungkin kamu atlet voli atau basket. Raut mukamu mengisyaratkan kamu bukan anak pemalu, bukan siswa cupu, kamu keren!! Dan yang paling membuat aku kagum adalah matamu yang berwarna madu, cukup sulit mencari nama yang pas, yang jelas mirip warna madu.

Latihan terus berlanjut. Sesi berikutnya adalah praktik gerakan dasar. Calon anggota dibagi dalam kelompok-kelompok. Aku mendapat tugas untuk berkeliling mengawasi kalau ada gerakan atau sikap yang salah dari mereka. Dengan langkah sedikit congkak, aku memutari barisan. Tepat saat di depan barisanmu, aku melihat sikapmu ada yang keliru, spontan saja aku menegurmu.

“Brata! Tanganmu kurang mengepal, nih lihat, gini.” Aku mencontohkan posisi yang benar, tapi karena dia masih saja salah, terpaksa tanpa canggung tanganku membantu membetulkan tangannya. Dia pasrah saja aku perlakukan seperti itu.
“Nah gitu baru bener, jangan salah lagi Brata!”
“Iya Kak, maaf.” Aku baru sadar, kita kan belum kenalan, kenapa aku main panggil-panggil aja ya? Nanti ketahuan pula kalau aku ngamatin kamu dari tadi. Duh! Semoga dia nggak berpikir macem-macem, malu juga kan.

“Untung cuacanya nggak panas ya Ren, cape juga ngurus segini banyak anak.” Nabila menghampiriku sambil menyeka keringat di lehernya.
“Iya sih, tumben aja hari ini mendung.” Timpalku.
“Eh udah lihat belum cowok yang di barisan itu? Ada yang cakep loh.”
“Cowok? Yang mana?” Aku mulai cemas, jangan-jangan yang dimaksud Nabila itu Brata.
“Itu tuh yang cowok putih tinggi, kelihatan nggak?” Nabila mendekatkan kepalanya ke pipiku sambil mengarahkan telunjuknya. Deg! Ternyata bener yang ditunjuk itu si Brata.

“Oh itu, menurutmu cakep?” tanyaku.
“Gile itu cakep banget, aku yakin dia bakal jadi ‘Rising Star’ di sekolah ini, hahaha.” Jawab Nabila bersemangat. Iya sih, kamu bener Bil, dia cakep, tapi aku gak mau ngakuin terang-terangan, gengsi ah, kataku dalam hati.
“Eh, ngomong-ngomong, gak terasa ya kita tinggal satu tahun lagi di sekolah ini.” Celetuk Nabila.
“Hhhmm, emangnya kenapa?”
“Ya berarti sayang aja kalau momen-momen terakhir kita di sekolah nggak dimanfaatkan dengan baik. Kalau nggak ada momen indah, entar nggak ada yang bisa dikenang. Apalagi jomblo kayak kamu Ren, hahaha.”

“Apaan sih, emang cuma yang pacaran yang punya momen? Jomblo juga bisa punya kali.” Aku membela diri.
“Oh I see, maksudmu momen kesendirian?” Nabila tertawa puas menggodaku dengan telak. Entah kenapa aku selalu mati kutu kalau adu ejek sama dia.
“Udah ah, pulang yuk, udah hampir Maghrib.”

Hari memang sudah mulai gelap, bisa-bisa aku ketinggalan angkot terakhir kalau ejekan Nabila ku layani. Aku segera melangkahkan kaki ke depan gerbang sekolah, menunggu angkot yang datang dari arah kanan. Beberapa menit menunggu, akhirnya ada angkot warna hijau mendekat. Aku menghembuskan napas lega. Dari dalam angkot terlihat lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Beberapa penjual makanan di pinggir jalan nampak sibuk di depan wajan-wajan besar, dengan api yang menjilat di bawahnya. Aku menghembuskan napas lagi, hari ini rasanya cukup melelahkan.

Ada momen yang membuatku tersenyum sendiri, tentu saja yang terlintas adalah sosok Brata. Namun sejenak kemudian mataku seperti menerawang sesuatu. Pandanganku tertuju pada tiang-tiang Jembatan Panjang di ujung sana, beton penopangnya terlihat semakin tua menahan aliran sungai yang membelah kota asalku ini. Benar kata Nabila, setahun lagi ya aku di sini? Lantas setelah itu ke mana? Pindahkah? Kalau iya, berarti harus meninggalkan semua yang ada di sini, termasuk kamu? Aku tersenyum getir, tanpa sadar aku menggigit pelan bibirku sendiri.

Besoknya, aku terjebak dalam situasi dilematis. Aku harus berpapasan dengan Brata di koridor kelas. Dari jauh aku sudah gelisah memikirkan bagaimana caranya menyapa. Setelah semakin mendekat, aku bermaksud memalingkan wajahku. Tapi di langkah terakhir….
“Hhhai… Brata, mau ke mana?” kata-kata itu yang akhirnya ku paksakan ke luar.
“Eeh… Kak Rena.” Brata terlihat tidak siap menerima sapaanku, mungkin dia tidak menyangka bakal disapa.
“Ini Kak, mau ke ruang guru. Oiya Kak, panggil aja aku Senna, jangan Brata, hehe.”
“Oh gitu ya, maaf, Senna.”
“Nggak apa-apa, duluan ya Kak.” Dia tersenyum sambil berjalan pergi.

Dasar o’on! Kenapa aku manggil namanya, salah pula, untung tadi nggak ada yang lihat. Eh! Tapi kalau tidak salah tadi dia nyebut namaku, tahu dari mana? Wah, jangan-jangan…
“Hei Ren!!” Sepasang tangan menepuk bahuku dari belakang, membuatku kaget setengah mati.
“Gimana undangan PMDK itu? Udah dikirim?”
“Maksudmu yang kemarin itu? Belum, sejujurnya aku nggak begitu tertarik sih, tapi aku mau aja kalau disuruh nyoba, iseng-iseng, kali aja berhadiah.”
“Enak ya kamu, pinter, bisa pede daftar ke mana aja.”
“Lah emangnya kamu lebih bodoh? Nggak usah merendah untuk meroket gitu deh.” Nabila hanya tertawa, riang seperti biasanya.

Hari-hari berikutnya, aku bisa semakin akrab dengan Brata, eh Senna. Ngobrol ringan di sela-sela latihan ternyata cukup meningkatkan kedekatanku dengannya, ya walaupun sebatas hubungan senior-junior. Aku mulai mengenalnya sebagai sosok yang lugas, percaya diri, dan sangat sopan, untuk ukuran seorang adik kelas. Beberapa kali dia bercerita tentang kehidupan pribadinya kepadaku, tentang mama-papanya, tentang masa kecilnya, tentang apa pun yang tidak semua temannya tahu.

Sejujurnya aku sedikit khawatir, gimana jadinya kalau aku naksir beneran? Memang susah untuk mengartikan perasaan ini, intinya aku cuma suka saja bertemu dengannya, ngobrol, ngelihatin matanya. Kalau hanya seperti itu, belum bisa disebut naksir kan? Okelah, apa pun jenis rasa ini, nggak apa-apa, yang penting aku nggak cerita ke siapa pun, termasuk Nabila. Aku memang bukan orang yang terbuka, yang bisa dengan mudah bercerita ke seseorang, apalagi dengan seorang laki-laki.

Beberapa bulan telah berlalu, musim kemarau sudah berganti. Sore itu, kantin sekolah sangat ramai. Di luar sedang gerimis, anginnya juga dingin, sehingga menyantap makanan adalah aktivitas yang sangat cocok sambil menunggu langit kembali terang. Di salah satu sudut kantin, aku duduk. Di seberang, terpaut satu meja, ada Senna dan temannya. Dengan posisi yang berhadapan membuatku memiliki banyak kesempatan memperhatikan Senna. Aku sedang menyendokkan makanan ke mulut, ketika tiba-tiba Nabila datang dan berteriak di telingaku.

“Ren!! Udah lihat pengumuman di ruang BK belum?”
“Pengumuman apa Bil?”
“Itu loh, PMDK-mu waktu itu, kamu diterima!! Selamat yaa!!” Nabila langsung memelukku. Aku yang dalam kondisi bingung, hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Sontak teman-temanku yang ada di kantin, langsung mendekat, bertanya-tanya membuat kantin menjadi riuh-rendah.

Di sela-sela keriuhan kecil itu, aku sempat melirik ke arahmu. Kamu terlihat masih sibuk dengan piringmu. Setelah membayar makanan, aku berjalan ke luar, melewati mejamu, sambil berharap kamu mau menyapa. Namun tidak ada suara apa-apa ketika aku sudah hampir sampai ke pintu. Entah kenapa aku sedikit kecewa. Aku hentikan langkahku tepat di samping pintu, kamu sedang setengah tertawa, mungkin sedang menanggapi candaan teman-temanmu. Mataku mulai sayu, bersamaan dengan itu kamu menoleh ke arahku, memandangku dengan rasa heran. Astaga! Aku ketahuan, buru-buru melangkahkan kaki sambil pura-pura menaikkan resleting sweater.

Sejak saat itu, aku jadi malas memperhatikanmu lagi, kalaupun papasan di jalan aku mau pura-pura dingin, tapi sampai sekarang juga belum pernah papasan lagi. Untung saat itu sudah selesai ujian akhir, jadi aku juga tidak sering ke sekolah lagi. Lagi pula, kamu tidak pernah berusaha mencari tahu kabarku. Hingga aku sadari, ternyata hari-hari terakhir kita bisa bertemu, bukan merupakan momen yang spesial bagimu.

Bersambung

Cerpen Karangan: Achor Mohammad
Facebook: Achor Mohammad

Cerpen Menolak Rasa (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mr Sooneth A.K.A Smith (Part 2)

Oleh:
Benar ternyata malamnya aku diajak nona biduan untuk menyanyikan lagu kesukaannya dia lagi, yaitu dangdut. Aku rasanya ingin pergi saja dari tempat ini, tapi mana mungkin. Dia masih punya

Kutukan

Oleh:
Hari kamis yang sangat indah, beginilah anak SMA tiap tidak ada guru di kelas pasti saja ribut kalang kabut, Para perempuan cuat-cuit sana sini, dan Para Lelaki selalu heboh

Mimpi

Oleh:
Suci menatap ke arah jendela, lalu ia membuka tirai jendela yang masih tertutup itu. Angin begitu kencang berhembus. Cahaya putih begitu cepat melesat, membuatnya terkejut. Setelah cahaya putih itu

Sepotong Cokelat Untuk Derby

Oleh:
“Aku ingin berjalan bersamamu. Dalam hujan dan malam gelap. Tapi aku tak bisa melihat matamu, Payung Teduh – Resah.” Pagi yang dingin. Tak biasanya sepagi ini aku sudah mendengarkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *