Mr Cool Terpaksa Jatuh Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 1 May 2017

Menyebalkan deh! Si jenius yang ganteng itu bener-bener bikin hati mendidih. Dia terlalu baik. Terlalu mempesona bahkan terlalu menyihir perempuan. Semua hampir jatuh cinta padanya. Untung aja ‘hampir’ ya, kalau sudah ‘semuanya’ bisa kiamat kecil nih dunia, atau khususnya IAIN Mataram, tempat si ganteng menimba air, eh menimba ilmu. Keseleo jari, hehe.

Dia benar-benar makhluk hidup yang mengagumkan! Dia sangat hebat deh pokoknya. Tak heran jika banyak mahasiswi yang jatuh hati padanya. Tapi, siapa sangka, en siapa kira, ternyata oh ternyata sang bintang kampus itu belum punya pacar lhoo.. Tentu saja hal itu membuat kaum hawa semakin belomba-loma untuk meraih cintanya. Kayak sayembara gituh. Tapi, tak mudah ditebak siapa yang akan jadi pemenanganya. Dia itu sosok yang dingin terhadap perempuan, sangat tidak mudah untuk menaklukkan hatinya. Wanita seperti apa sih yang bisa meluluhkan hatinya? Seperti Oki Setiana Dewi? atau seperti Cinta Laura? Tak ada yang bisa menebak. Dia sosok yang sangat misterius.

Ngomong-ngonomng, siapa sih si ganteng itu? Hari gini masih bertanya tentang namanya?? Waduh ditertawakan tuh sama semut, because dia itu selebriti kampus lho, sudah sangat terkenal. Jadi ketahuan yang gak kenal dia berarti ketinggalan kereta informasi tuh namanya.
Alkindi. Na’am. Itu nama sang bintang kampus itu. Seorang mahasiswa jenius jurusan Pendidikan IPA Biologi IAIN Mataram yang hatinya begitu sulit untuk ditaklukkan. Hatinya sekeras batu kali ya.. Waduh!

Terlepas apakah hatinya sekeras batu, sekeras baja, sekeras batu karang di lautan, atau sekeras apapun, dia itu punya seseorang yang dekat lho dengan dirinya. Perempuan imut bernama Laura. Anak Biologi juga, semester satu. Tapi kedekatannya itu dipandang orang seperti antara adik dan kakak. Seorang Alkindi yang dewasa dan berwibawa sementara Laura anak semester satu yang tentu saja tingkahnya masih kekanak-kanakan. Dia sering manja pada Alkindi, yang membuat hati para ‘pemburu Alkindi’ keriting karena iri. Tapi bagi sebagian orang, semua itu tidak apa-apa. Karena wajar saja orang yang sudah seperti adiknya sendiri manja pada dia.

Berburu Alkindi merupakan hal yang tidak asing lagi, terutama bagi kaum perempuan tuh, atau bagi yang cowok juga ya, h*mo donk! Yaw lah, siapa sih yang gak ingin kenal dekat sama makhluk hidup kayak Alkindi. Bagi yang cowok, siapa tau ganteng dan jeniusnya itu bisa nular kalau dekat sama dia, nah, bagi yang cewek, tentu saja bukan berharap gantengnya Alkindi menular, secara gitu, gak ada kan cewek ganteng, hehe.. So para cewek mengejarnya tentu saja karena ingin menjadi kekasihnya.

Hmm.. Ngomong-ngomong tentang cewek yang mengejar Alkindi, siapa saja sih mereka itu. Perlu dicek kayaknya, siapa tau ada dari golongan jin, hehe.. Gak lah yaw..
Ehm, kalau yang mau tau, salah satu pemburu sejati Alkindi adalah Prisma Anggita, si cantik yang diburu juga sebenarnya. Tapi dia tidak pernah memperhatikan orang yang memburunya, karena hanya fokus pada Alkindi. Bahagia benar Alkindi itu ya. Pak satpam pasti iri deh sama dia. Hm

Awal Anggita ketemu sama Alkindi adalah saat ada sebuah permainan persahabatan antara jurusan Pendidikan Biologi dengan Matematika IAIN Mataram. Saat itu, ada semacam uji kemampuan antara mahasiswa Biologi dengan Matematika. Alkindi membuat orang-orang kagum waktu itu. Ketika ada adu kecepatan berhitung, ternyata dia lebih cepat dibandingkan yang jurusan Matematika itu sendiri. Hal itu yang membuat orang semakin sadar akan kejeniusannya. Tak terkecuali Anggita, kesadarannya akan kejeniusan Alkindi telah berubah menjadi cinta. Sejak itulah dia selalu berusaha agar bisa menjadi kekasihnya Alkindi.

Anggita dengan gaya centilnya selalu berusaha mengejar Alkindi. Hingga pada suatu hari, dia berniat ngasih tau Alkindi tentang isi hatinya. Habis gak tahan kalau nunggu ‘si dingin’ itu untuk mengatakan apa-apa, apalagi kata cinta, sangat mahal banget deh bagi dia. Anggita kemudian menemui Laura, orang yang dianggap adiknya Alkindi. Dia mengatakan sesuatu.

“Adik yang bernama Laura, kan?”
“Ya, benar. Kakak siapa dan ada apa ya?”
“Ehm….” Kata Anggita malu-malu.
“Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?”
“Ya, ada banget, adek bukan pacarnya Alkindi, kan?”
“Bukan, terus ada apa?”
“Ehm.. gini, aku… ehm.. aku. Kok aku jadi malu ya. Begini adek, adek mau gak kasih tau kak Alkindi, kalau aku suka sama dia. Kan adek dekat sama dia.”
Mendengar perkataan Anggita, jantung Laura seperti berhenti berdetak saking kagetnya. Lalu..

“Okkeh, kakak tenang aja, nanti aku kasih tau makhluk aneh itu.” Kata Laura dengan santai sekali.
“Wah, kok bilang kak Alkindi makhluk aneh?”
“Ya, dia memang aneh. Dia dikejar-kejar perempuan. Tapi, gak termasuk aku yah. Gak ada yang mampu buat dia jatuh cinta. Jenius kok gak bisa jatuh cinta. Kasian deh.” Laura mengomel. Tiba-tiba Alkindi datang. Anggita tampak salah tingkah. Lalu dia meninggalkan Laura bersama Alkindi.

“Gadis kecil, dia siapa?” Tanya Alkindi pada Laura sambil memegang kepalanya.
“Ih, makluk aneh, enak aja bilang Laura yang udah gede gini gadis kecil. ”
“Ya, sudah gede. Tapi tingkahnya kayak anak SD. Wo..”
“Biarin, tapi kan, anak SD yang hebat. Bisa dekat sama si jenius dan ngomong apapun maunya. O ya, dia itu calon istrinya kakak.”
“Calon istri? Oo.. berarti itu calon kakaknya Laura ceritanya, Laura setuju kalau kakak sama dia?”
“I..i iyaa.. terserah kakak sih, kok nanyanya sama Laura.”
“Ya, kan Laura yang bilang kalau dia calon istri kakak.”
“Ia, dia kan suka sama kakak. Hatinya jatuh buat kakak. Jatuh cinta gitu ceritanya Tadi dia minta Laura untuk bilang hal itu ke kakak.” Terang Laura dengan bahasa kekanakannya. Ditambah lagi mimiknya yang tak kalah kekanakannya membuat Alkindi semakin melihatnya seperti anak SD. Alkindi tersenyum kecil. Senyum misterius.

“Waduh, kok dia suka sama kakak?” Respon Alkindi sambil tersenyum lagi. Aduuuh, senyumnya membelah beton deh, eh membelah dada.
“Ih.. Pake nanya lagi kenapa dia suka, kakak gak nyadar bangat sih kalau kakak itu kayak kacang goreng yang laris manis di pasaran,”
“Astaga, laris manis di pasaran, emang kakak barang dagangan apa.”
“Ya. Adik penjualnya” Kata Laura dengan gampangnya. Dia sudah terbiasa bercanda berlebihan dengan Alkindi, jadi Alkindi selalu memahaminya. “Ee.. lalu kakak responnya gimana? Soalnya kakak itu nunggu kabar dari Laura.” Lanjutnya.
“Hmm.. mau respon apa ya, tapi kalau masalah hati, tentu saja kakak gak merasakan seperti yang dia rasakan.”
“Jadi kakak nolak nih ceritanya?”
“Ya bisa dibilang gitu. Kakak gak suka melihat perempuan yang nembak cowok. Berani sekali sih.”
“Nah.. itu karena kakak gak paham apa itu cinta. Jenius kok gak tau cinta. Kasian deh. Mereka mengatakan perasaan mereka karena sudah gak kuat membendungnya. Kalau nunggu kakak mengatakannya, bisa pegal hati mereka karena harus nunggu satu abad. Itu pun belum tentu kakak akan mengatakannya.” Omel Laura.
“Ya, nona Laura. Kakak ngerti. Tapi gak mungkin kakak akan mengatakan sesuatu yang tidak kakak rasakan.”
“Ugh.. pusing deh bicara sama orang yang anti jatuh cinta kayak kakak. Bikin sebel. Hmm.. tapi ya udahlah, yang penting Laura udah dapat jawabannya. Ntar Laura kasih tau kakak itu.”

Suasana hening sejenak tiba-tiba Laura ngomong lagi, “O ya, gimana dengan kak Anisya Muslimah? Kakak udah berikan jawaban pada dia?”
Alkindi terperanjat mendengarnya. Dia baru ingat kalau dia belum mengatakan apa-apa pada Anisya Muslimah. Perempuan cantik dan solehah. Satu tingkat di bawah Alkindi. Orang-orang selalu bilang kalau Alkindi sangat cocok dengan dia. Tapi, bagaimana perasaan Alkindi terhadap Anisya masih menjadi rahasia yang belum terungkap.
“Adik tau tentang itu? Kakak belum bilang apa-apa sama dia.”
“Kakak jawab aja secepatnya. Kasian dia kan nunggu.” Ucap Laura dengan nada rendah. Keceriannya hilang. Entah mengapa.
“Nanti saja deh,”
“Aneh ya, kalau yang tadi kakak langsung menolak, kalau kak Anisya, kakak masih mikir-mikir. Yeah.. Laura paham kok. Mungkin saatnya kakak sadar kalau kakak sudah jatuh cinta sekarang. Pada kak Anisya. Kakak sangat cocok sama dia. Dia solehah, dewasa, cerdas lagi. Sangat berbeda dengan adik yang selalu kakak bilang kayak anak SD. Selamat ya, kak.” Kata Laura sambil menunduk.
“Eeii… Kok wajahnya tampak sedih begitu, Laura cemburu, ya?”
“Ih, gak. Kakak PD sekali. Siapa yang cemburu. Laura gak cinta sama kakak.” Jawabnya mantap, membuat Alkindi terdiam sejenak. Lalu dia merespon ucapan Laura, “Waduh, baru kali ini kakak mendengar ada seorang gadis yang secara langsung mengatakan gak cinta sama kakak, cuma Laura yang bilang gitu. Yeah.. Laura memang hebat! Tapi sama kok, kakak juga gak cinta sama Laura, adil, kan?” Respon Alkindi dengan tegas.
“Ya sudah kalau gitu. Ngapain masih berdiri di sini. Pergi!” Laura membentak Alkindi. Suasana agak memanas secara tiba-tiba.
“Ya, kakak akan pergi adik, begitu banget sih sikapnya. Ehm..”
“Ehm… apa? Kakak mau bilang kalau kakak juga mencintai kak Anisya? Ya, adik sudah paham kok, bukankah adik sudah bilang kalau kakak sangat cocok sama dia? Ya udah, kakak jadian aja sekarang…” Laura bicara dengan nada tinggi. Alkindi tampak tidak enak melihatnya.
“Tapi, adik.. Kakak tidak….”
“Kakak gak apa? Kakak mau bilang kalau kakak gak mmencintainya? Betapa banyak alasan untuk mencintai gadis seperti dia, dia solehah dan cerdas, tapi kakak mau bilang gak mencintainya? Kakak itu mahal banget sih jadi orang, Laura semakin benci sama kakak”.
“Semakin benci? Yeah.. Lauraa…”
“Apa? Kakak mau bilang kalau kakak juga benci sama adik? Ya, Laura sudah tau”.
“Kakak malu mengakuinya, tapi ini penting untuk diakui.”
“Kakak malu mengakuinya? Oh.. jadi benar kalau selama ini kakak benci sama adik? Tega sekali kakak ini, jahat..!”
“Maafkan aku Laura, tapi aku harus mengakuinya sekarang,”
“Kejam! Kenapa kakak gak mengakuinya dari dulu?”
“Dengarkan dulu anak SD! ngomel-ngomel aja dari tadi.”
“Apanya yang mau didengerin? Gak mau! Males!”
“Laura.. kakak sudah mempunyai seorang gadis di hati kakak. Dia satu-satunya gadis yang mampu menyentuh hati kakak. Laura harus tau itu, jadi tolong dengarkan kakak dek..”
Alkindi menghela nafas pelan, kemudian dia melanjutkan kata-katanya. Laura hanya menunduk mendengarnya. Hatinya terasa perih.

“Sebelumnya kakak pikir kalau kakak tidak bisa jatuh cinta. Tapi ternyata kakak salah. Kakak bisa jatuh cinta, sama seperti laki-laki yang lain. Gadis itu, gadis yang kakak cintai, sungguh hebat telah membuat Alkindi jatuh cinta…”
Laura tiba-tiba menyela perkataan Alkindi, “Siapa gadis yang beruntung itu kakak? Siapa gadis hebat yang telah mampu membuat kakak jatuh cinta itu? Adik ingin kenalan sama dia.”
“Ya, kakak akan memberitau adik, karena adikku harus tau itu. Senyumnnya dulu dong, mana? kakak pingin liat,” Kata Alkindi sambil mengangkat wajah Laura yang dari tadi tertunduk. Wajah Laura pun kelihatan, dia tersenyum, tapi ada beberapa tetes air mata mengalir di pipinya.
“Astaga.. adikku nangis, ada apa sayang? Ada kata-kata kakak yang menyinggung perasaanmu? Maafin kakak dek, seandainya calonnya kakak ada di sini, dia pasti bisa menghibur Laura, jangan nagis lagi, cup cup,” Hibur Alkindi, seperti ia menghibur adik kandungnya sendiri. Air mata Laura semakin deras, Alkindi bertanya lagi, “Laura kenapa? Kok tiba-tiba nangis?”
“Laura gak apa-apa, Cuma kok mata Laura tiba-tiba perih ya, sakit mungkin,” Kata Laura disertai sedikit senyuman, Aklindi tersenyum melihatnya.
“Siapa gadis itu kak?” tanya Laura lagi.
“Gadis yang kakak cintai itu?” Alkindi balik nanya.
“Ya, gadis yang kakak cintai yang kakak ceritakan tadi”
“Gadis itu adalah… gadis yang sedang menangis di depanku sekarang ini, Dia adalah Laura.” Jawab Alkindi penuh kejutan.
What?? Laura mau pingsan mendengarnya, kalimat yang sama sekali tidak dia sangka akan keluar dari mulut Alkindi, sebuah kalimat yang baru pertama kali diungkapkan oleh Alkindi.

“Kakak jangan bercanda, Laura mau pingsan mendengarnya.”
“Kakak tidak bercanda dek, kakak tidak bisa menolak kalau kakak jatuh cinta sama adik. Seorang Laura yang tampak kekanakan dan polos, tetapi sebenarnya cerdas dan kritis. Seorang Laura yang berpenampilan biasa-biasa saja, tetapi sebenarnya sangat solehah. Menjaga harga diri dan tetap menjadi perempuan yang sebenarnya. Kakak sangat kecewa, ketika melihat perempuan yang tampaknya solehah, tetapi tidak sesungguhnya. Adik memuji Anisya Muslimah, tetapi maaf dengan kerendahan hati, kakak tidak suka dengan sikapnya yang tanpa rasa malu mengatakan perasaannya ke kakak. Kakak memilih Laura, karena gimanapun hati adik, adik selalu bisa mengendalikan diri. Terimakasih karena adik telah membuat kakak jatuh cinta, terimakasih karena telah mampu meluluhkan hati kakak dek..” Alkindi menjelaskan dengan panjang lebar. Laura terdiam, dia seakan tak bisa berkata apa-apa. Dia hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang. Laura berusaha menguasai dirinya.

“Kak Alkindi…”
“Apa adik? Adik tidak usah mengatakan apa-apa, karena kakak sudah tau perasaan adik yang sebenarnya.” Alkindi menatap Laura dengan tatapan yang dalam, tiba-tiba Laura tersenyum..
“Hehe..”
“Senyum apa itu, bahagia atau apa?”
“Sebenarnya adik gak hanya ingin tersenyum, tapi adik ingin tertawa,”
“Tertawa kenapa?”
“Menertawakan kakak donk, kakak PD sekali bilang kalau kakak sudah tau perasaan Laura yang sebenarnya, bukannya Laura sudah bilang kalau Laura benci sama kakak?”.
“Ya, Laura benci sama kakak tapi di bukunya bilang, ‘Kak Alkindi… kita liburnya kok lama banget ya, Laura seperti kekurangan oksigen nih tanpa kakak, gak bisa bernapas, hati adek seperti tas yang penuh, terasa sesak karena rindu sama kakak, Laura Terpaksa Jatuh Cinta nih, alias tak bisa menolak kalau Laura benar-benar jatuh cinta sama kakak, waduh kok Laura menulis kayak gini di buku pelajaran ya, Laura sudah gila kayaknya, ya, gila karena kak Alkindi, hehe…’ Begitu kan tulisannya? Masih mau bilang benci sama kakak lagi?” Tantang Alkindi, Laura tersipu malu,
“Dan… Laura yang nangis saat kakak bercerita tentang gadis yang kakak cintai…? Apa itu? Cemburu kan? Kok ada ya, orang yang cemburu pada dirinya sendiri, waduh…”
Laura tersipu malu, wajahnya merah.
“Yeah… habis Laura gak tau kalau itu adalah Laura, dasar jahat, udah buat Laura nangis,” Omel Laura.
“Yaa.. maafin kakak dek. Kakak nyesel dah buat Laura nangis, karena Laura jelek banget kalau nagis, hehe..” Laura hanya tersenyum malu mendengarnya. Gadis kecil itu begitu bahagia karena telah mampu menaklukkan Alkindi, Mr. Cool yang super duper cerdas itu.

Cerpen Karangan: Laty Rinjani
Blog / Facebook: apaazza.blogspot.com / Laty

Cerpen Mr Cool Terpaksa Jatuh Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harapan Kosong

Oleh:
Semua berawal ketika di parkiran, aku bertemu dengan dia. Tak ada perasaan yang aku rasakan, hanya biasa dan sebatas teman yang sering dilihat tetapi tidak pernah saling menyapa. Entah

Sungguh Luar Biasa Cintanya

Oleh:
Ada sesorang wanita yang menyukaiku dia bernama “Novelinda”. Dari mulai MOPD hingga sekarang aku tahu dia menyukaiku, tapi aku tak menyukainya. Aku mempunyai seorang pacar dia bernama wiendi, sebenarnya

Broken Heart Twice

Oleh:
Hari ini aku pulang dengan membawa tanda tanya besar di kepalaku. Tanda tanya yang selama ini memenuhi kepalaku. Setelah meletakkan tasku di atas ranjang kecilku. Aku langsung menutup pintu

Sebuah Kalimat Untukmu

Oleh:
Aku menyukaimu. Walau kau tak pernah tau… Dan aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Tak pernah ada keberanian pada diri ini untuk mengatakannya. Seperti saat ini. Aku kembali menaruh

Hey, Apa Kabar Kamu

Oleh:
Hari ini waktu begitu panjang. Aku masih saja tetap terjaga dengan jari menciptakan bunyi-bunyian ketikan di atas papan laptop. Teringat lagi kisah yang masih tersisip lama di otakku. Sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *