Mr. Smile

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 February 2017

Pagi itu, hujan membasahi kotaku yang membuat beberapa guru memutuskan untuk tidak mengajar. Begitu juga siswa dan siswinya yang mendadak meliburkan diri. Aku yang datang lebih awal sebelum hujan turun merasa sepi di ruang kelasku. Aku berusaha tersenyum tipis, untunk mengisi kekosonganku aku kembali menorehkan sajak. Sajak-sajak kerinduan, sajak-sajak atas penantian dan keraguan. Hujan bisa membuat hatiku tenang, dentingannya mampu mendorongku menuliskan semua sajak tentangnya.

September 2012 Yah, waktu itu tepatnya aku baru menginjak kelas XI sekolah menengah atas sekolah yang sebagian banyak orang berpendapat bahwa kita akan memulai cerita baru, awal yang indah, dan mengukir cerita-cerita yang akan mulai dijalani bersama teman-teman baru, pada saat itu aku menginjak usia 17 tahun usia yang masih sangat muda. Cinta? Kurasa, aku sudah mulai dewasa untuk mengenal kata itu tetapi aku masih dibuat bingung akan kata Cinta. Aku masih terjebak dalam uraian kata Cinta.

Dengan berjalannya waktu kurasa sangat singkat akhirnya aku tahu dan mengenal apa itu Cinta? Rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Indah? Tentu, keindahan yang sebelumnya tidak pernah aku lihat, kebiasaan yang belum pernah aku lakukan, senyam-senyum sendiri, menatap wajahnya adalah kebahagiaan untukku. Yah, setelah sesosok laki-laki telah mampu membuatku menjatuhkan hatiku, dia Cinta pertamaku.

Sebenarnya aku tak yakin apakah aku jatuh cinta?. Ada seseorang yang menarik perhatianku dan aku belum bisa melupakannya. Dia pria yang baik, ramah dan menyenagkan tetapi di depan umum dia lebih suka diam. Jangankan untuk mengobrol seperti yang lain, betegur sapa saja bisa kuhitung berapa kali. Status kita, mungkin itulah yang membuatnya lebih memilih diam. Dia tidak kaya, apalagi tampan, tetapi dia terlihat smart. Sejak dia meperkenalkan diri di depan kelasku, aku tidak begitu tertarik dengannya. Tapi suatu hari entah setan apa yang merasukiku, atau aku geger otak, atau aku salah makan entah apalah itu.

Aku mulai merubah sikap acuhku padanya. Ruang kelas begitu ramai, suara hiruk pikuk terdengar di setiap sudut ruangan. Pinjam ini, pinjam itu semua nampak begitu riuh. Aish, aku mendesah kesal mendapati pulpenku satunya hilang. Afi, seingatku dia yang meminjamnya, aku segera menghampirinya dengan wajah kesal.

“Fi kalau sudah dikembalikan, jangan diam aja.” Gerutuku kesal.
“Hehehe. Maaf ay lupa.” Rengeknya manja.

Aku pergi ke luar kelas, setelah beberapa langkah keluar dari kelas, aku melewatinya, lelaki yang mampu membuatku jatuh hati. Bukan Raya jika tidak jahil, aku membalikkan badanku hendak melihat apa yang ditulisnya di atas kertas itu tapi usahaku gagal. Aku mencoba berdiri tepat di belakangkanya berharap dapat melihat apa yang sedang ditulisnya, namun nihil tulisannya sudah disimpan ke dalam tasnya. Mungkin dia tahu aku hanya berpura-pura lewat, entahlah. Dengan raut wajah yang kesal aku langsung berbalik arah kemudian kembali ke kelasku.

“Ngapain sih dolphin? Udah sana masuk.” Lagi-lagi kata itu ke luar dari bibirnya.
“Cie… Cieee… Ciee…”

Kami terdiam saat terdengar sorak Afi dan Aini kepada kami. Sejak kejadian itu aku benar-benar telah berubah. Setiap kali bertemu dengannya aku selalu tersenyum, aku bahkan berani menggodanya dengan kekonyolanku, dan hal apapun yang aku lakukan di sekolah selalu kuceritakan padanya termasuk pertengkaran-pertengkaran yang sering terjadi padaku dan sahabatku afi dan aini, keterlambatanku yang hampir setiap pagi bahkan sampai hal-hal yang bersifat pribadi.

“Fi mintain nomor handphonenya donk.” Pintaku.
“Serius? Suka ya… Kenapa gak minta sendiri, cie.. Ada yang jatuh cinta nih.” Ejeknya
“Mau gak nih?” Tanyaku mempertegas permintaanku.
“Iya.. Gampang itu mah, tunggu aja besok juga dapat. Kenapa gak minta sendiri sih bilang aja mau konsultasi apa gitu.”
“Males, malu dong gue. Ntar dikirain gue mau ngapain.”
“Lah.. Kan mang iya hehe. Cie.. Gak nyangka gue selera lu tinggi.”
“Apaan sih, kalo suka wajar kali hehe.”
“Dulu aja sok cuek, karma kan lu.”
“Aduh.. Udah dong fi godain gue mulu..”
“Iya deh.. Hehe.”

Setelah kudapati nomor handphonenya aku semakin dekat dengannya, tanpa memikirkan status kita yang berbeda, tapi aku merasa sedih. Aku sedih semakin hari aku semakin intim berkomunikasi dengannya ada sesuatu yang mengusik hatiku yang amat aku sadari itu. Cinta? Aku jatuh cinta padanya haruskah itu terjadi, mengingat siapa aku, siapa dia, apa rasa ini boleh terjadi? Yang aku takutkan bukan perbedaan status kita, tapi aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan atau salah perasaan atas perhatian yang dia berikan secara tidak langsung. Sampai akhirnya kuu putuskan untuk menjauhinya agar rasaku tidak semakin dalam. Sesak yang kurasa satu hari tidak bicara dan berkomunikasi dengannya aku begitu kosong, sepi dan tak bergairah. Saat dia menegurku aku hanya tersenyum, saat dia mengejekku aku hanya tersenyum. Inikah nasib cintaku?. Hubungan kami semakin renggang, saat aku mulai menyadari bahwa perasaan ini salah. Aku mulai membiasakan diriku tanpanya, tetapi kemudian dia datang memintaku menemuinya lewat pesan singkat yang kuterima.

“Came here I have something for you, library.” Aku langsung menemuinya di perpustakaan. Hening, kami berdua terdiam dalam hening.

“Nih buat ay.” Mimikku terlihat bingung dengan pemberiannya.
“Janji waktu itu.” Ucapnya sambil memberikanku 2 buah coklat kesukaanku.

Aku tidak dapat berkata-kata, lidahku terasa kelu. Setelah 5 bulan terakhir kedekatan kami, dia tak tampak lagi di sekolahku, kucari dia di antara keramian sekitar sekolah, tetapi tidak ada. Aku mendengus sedih karena tidak mendapatinya di antara keramaian itu. Aku berjalan tanpa tahu arah, aku benar-benar sedih. Tiba-tiba langkahku terhenti di depan gerbang, kulangkahkan kakiku keluar. Kulihat sosok lelaki tengah duduk santai di depan percetakan di depan gerbang sekolahku, dia melirik ke arahku dan tersenyum. Kubalas senyum manis itu. Aku berjalan mendekatinya semakin dekat lelaki itu semakin menghilang.

Halusinasi, aku berhalusinasi. Aku duduk di kursi sebuah kedai kecil di samping percetakan itu, mengingat saat dia melemparkan senyuman manisnya. Tanpa sadar bibirku berkata “I Think I Love You”. Aku memasan segelas juice kesukaanku kemudian memasangkan headset ke telingaku memutarkan sebuah lagu band favoritku ungu – cinta dalam hati. Aku masih ingat ketika aku memintanya membelikanku sesuatu karena aku dan teamku memenangkan lomba futsal perempuan waktu class meeting semester lalu. Tanpa sadar air mataku menetes, begitu sedihkah cinta pertamaku. Sesulit inikah Jatuh Cinta, sesakit inikah Jatuh Cinta? Cinta, aku tidak begitu paham apa itu cinta. Bicara soal cinta aku benar-benar payah. Bahkan di usiaku yang 18 tahun aku belum pernah pacaran. Menyedihkan, bukan? Apa aku tidak laku atau aku telah mati rasa?, jangan sampai itu terjadi dalam hidupku. Mungkin karena aku masih menunggunya kembali ke kota ini. Maka kututup pintu hatiku.

Cerpen Karangan: Oktaviani
Facebook: Oktaviani

Cerpen Mr. Smile merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hal Yang Tidak Bisa Kukatakan

Oleh:
Hari itu, hari pertama ku di SMP. Aku sangat senang karena aku sekarang sudah SMP, teman baru, kehidupan baru, bahkan cinta pertama.. seseorang yang aku sangat cintai.. dia adalah

Satu Menit Pandangan

Oleh:
Udara pagi yang sejuk, membuatku semangat untuk menyambut hari yang bahagia ini. Setelah 3 minggu kita berlibur sekolah, meskipun libur sekolah kemarin bukanlah hari yang membahagiakan bagiku. Karena saat

Saat Kau Kembali

Oleh:
Dia sesekali melihat jam tangannya, rona merah di wajahnya serta peluh yang sedikit demi sedikit turun dari pelipisnya karena terik matahari di pinggir jalanan ini membuatnya terlihat semakin kesal.

Dilema

Oleh:
Hai.. pria yang jauh dari pandangan setiap sudut. Bagaimana keadaanmu saat ini, apakah masih terlihat lebar senyuman itu di wajah mungilmu? Semakin hari, makin tak menentu perasaan ini. Resah,

Cinta Anak Pramuka

Oleh:
Setetes peluh yang ku keluarkan hari ini mengiringi perpisahanku di tempat ini, di mana tempat ini adalah tempatku menimba ilmu. Yang mempelajari bagaimana kerja lapangan sebenarnya, namaku Safanti Ranah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *