Patah Hati Diam Diam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 20 June 2019

D: Gadis yang menikmati lukanya sendiri.
U: Lelaki yang tidak pernah tau luka itu selalu ada.
DU: Hai, apa kabar?

Aku ingin menyampaikan sesuatu.
Sesuatu yang mungkin tidak ada artinya bagimu, tapi sangat mendatangkan kelegaan bila sudah aku katakan.
Tentu saja, kelegaan itu hanya milikku seorang.

Aku bingung harus mulai dari mana, karena kau sendiri tidak pernah tau bagaimana semuanya bermula.
Kalau aku ceritakan dari awal, tidakkah kau bosan mendengarnya?
Jangan tanyakan aku, tentu saja aku bersukacita membagi kisah ini dari awal terbentuknya.
Bohong. Aku bohong. Pedih adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang kurasa.
Pedih. Dan akan selalu begitu.

Siapa yang patut disalahkan ketika waktu pertama kali melihatmu mataku enggan berpaling?
Kata orang cinta pada pandangan pertama.
Aku tidak pernah percaya pada kalimat yang terdengar dangkal itu, sampai kau hadir membuktikan kebenarannya.
Dari kejauhan, aku mencoba mendekat untuk sekadar tau warna kedua bola matamu.
Namun aku tergoda untuk menikmati lebih jauh, merasa tertantang untuk merekam seperti apa senyum yang kau punya.
Hingga sosokmu seutuhnya benar-benar menguasai pikiranku. Aku yang salah, tentu saja.

Aku bukan perempuan yang memiliki keberanian untuk mengajakmu berkenalan.
Lagipula, aku pikir aku akan segera melupakanmu seiring berlalunya waktu.
Bukankah merupakan peristiwa yang biasa mengagumi wajah manis lawan jenis,
Karena toh kemudian bayangan itu akan terbang melayang meninggalkan ingatan diambil alih oleh kesibukan beraktivitas?
Terhempas, tak membekas. Itu yang kuharapkan.
Rindu, candu. Itu yang dinamakan kenyataan.

Setiap detail tentang dirimu berusaha aku jangkau tanpa pernah mengusikmu, atau membuatmu sekadar menyadari keberadaanku.
Namamu, hobimu, tempat tinggalmu, angka favoritmu dan beberapa hal lainnya tentangmu sungguh mudah aku dapatkan.
Tidak, aku tak akan pernah mengganggumu. Aku tak akan berusaha masuk dalam kehidupanmu.
Aku masih berada dalam lingkaranku. Tidak akan melangkah keluar untuk menggapaimu.
Tapi mengapa rasanya semakin menyakitkan? Aku pikir begini akan lebih baik. Ternyata aku salah menerka.
Perlahan-lahan terasa semakin tidak masuk akal.

Bagaimana bisa kau betah bersemayam dalam pikiranku, padahal aku hanya melihatmu sekali saja.
Sekali saja, satu semester yang lalu. Sekali saja sampai saat ini.

Kita berada dalam kota yang sama, namun tak pernah kutemui saat dimana takdir mempertemukan kita untuk kedua kalinya.
Bukankah itu sudah termasuk jawaban, bahwa kau memang harus segera beranjak dari pikiranku?
Kumohon mengertilah, lama-lama rasanya seperti luka. Karena aku semakin terluka.
Aku tidak punya cara untuk menghapus luka ini, aku hanya punya kata-kata untuk menumpahkan segala apa yang kurasa.
Kupikir kau berhak tau, bukankah begitu?
Tapi ternyata aku masih punya malu.

Tulisan di atas kertas ini aku selipkan dalam sebuah amplop berpita biru.
Tak usah khawatir, kau tidak akan pernah menerima apapun dariku.
Karena surat ini hanya akan bernasib sama seperti ratusan surat untukmu lainnya yang telah menjelma menjadi abu.

Cerpen Karangan: Natanya Aloifolia Munthe
Blog: natanyanya.tumblr.com
Natanya Aloifolia. Perempuan berzodiak Leo dan bersyukur terlahir kidal.

Cerpen Patah Hati Diam Diam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love Hour (Part 1)

Oleh:
“Na, bukannya itu kecengan kamu?” Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Lauren saat gadis itu menatap ke luar jendela kelasku. Sontak aku menoleh padanya dan memelototinya. “Jangan keras-keras!”

Friendzone or Friendzonk

Oleh:
“One of the saddest thing that can happen is when one falls in love while the others wants nothing more than friendships” – quote Masih ingat kala kita pertama

Hello To Myself

Oleh:
Quqila Mataku menatap sesosok pria yang sedang asyik memainkan piano, sambil sesekali aku menuangkan pemandangan indah itu pada secarik kertas yang kugenggam. Pria itu adalah Kevin. Ya, aku menyukainya

Menderma Cinta di Bilik Sirna

Oleh:
Sesore itu, tepat di bilik serambi kudapati ada seorang wanita sedang membenarkan jilbabnya sembari menatap pada brosur yang tertempel di mading sebuah mushola tempat ku biasa memilin doa pada-Nya,

Pengorbanan Cinta

Oleh:
Secarik kertas putih di hadapanku, kugerakan tanganku, mulai menggoreskan tintaku dan merangkai kata. Seulas senyum dan semburat merah jambu menghiasi wajahku. Saat ini, aku tengah menulis surat cinta, iya..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *