Perasaan Yang Harus Dipendam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 June 2017

“Citra, kamu tau ini punya siapa?” kata Aldo yang tiba-tiba datang tepat di depan mejanya bersama Erga dan Yogi, sambil menunjukkan buku tulis bercover warna merah dengan bentuk hati di tengahnya.
“Itu.. punyaku!” jawab Citra segera sambil berusaha mengambil buku yang ada di tangan temannya yang terkenal menjadi ketua geng yang suka mengganggu orang lain di kelasnya itu.
Aldo segera menarik tangannya menghindari usaha Citra yang berusaha meraihnya. “Karena sekarang buku ini ada di aku. Ada syaratnya kalo kamu mau buku ini balik sama kamu.” Kata Aldo yang merasa senang bisa mendapat target untuk ia ganggu.

Aldo pun mulai membuka lembar per lembar dari buku itu. Citra khawatir apa yang akan dilakukan teman badungnya itu
“Baca ini dengan keras!” kata Aldo sambil menunjukkan satu kalimat yang tertulis dengan deretan huruf kapital.
Melihat hal itu, raut wajah Citra menjadi pucat, ia tau, ia tak mungkin menuruti perintah Aldo itu.
“Kalo kamu nggak mau, berarti kamu sama aja nyuruh aku untuk ngebuang buku ini,” kata Aldo dengan memasang senyum kemenangan.
“Jangan!” teriak Citra mencegahnya.
“Ya udah cepat lakuin! Oh iya, satu lagi. RENDI! BANGUN!” teriak Aldo kepada seseorang yang terlihat sedang terkelungkap kepalanya di meja pojok belakang sana.
Citra ikut menoleh ke arah seseorang yang diteriaki oleh Aldo, dan ia baru sadar, di kelas itu hanya ada dirinya, 3 anak nakal itu, dan temannya Rendi di meja pojok belakang sana, karena memang saat itu sedang waktu istirahat.

Mendengar namanya disebut, Rendi langsung menoleh tanpa suara.
“Dengerin, Citra mau ngomong sesuatu,” kata Aldo kembali tersenyum licik pada Citra. Sementara Citra hanya kembali tertunduk diam.
“Ayo cepet ngomong! Susah banget sih!” kata Erga yang mulai tak sabar namun juga menunjukkan wajah licik pada Citra.
“Mungkin, dia mau kalo kamu yang ngebacain dengan keras dari awal sampai akhir,” kata Yogi yang ikut menggoda mengerjai Citra.
“Oh, gitu,” jawab Aldo menyetujui Yogi. “Dear Diary, setiap manusia…”
“Jangaaannn!!!” teriak Citra mulai ketakutan.
“Makanya, cepet!” bentak Aldo yang sudah tidak sabar. Aldo menoleh ke arah pojok depan kelas dekat meja guru, di situ ada sebuah ember yang berisi air, bekas pembersihan kelas di jam pertama tadi. “Aku hitung satu sampai tiga, kalau kamu tetep diem, aku lembar buku ini ke ember itu. Satu… Dua…” Kata Aldo mulai menghitung, “Tig..” tangannya sudah bersiap untuk melempar.
“IYA, AKU MENYUKAI RENDII!!!” teriak Citra yang sudah tidak tahan dengan perlakuan Aldo, hatinya berdegup kencang.

“Hmm.. Ren, gimana? Kamu denger?” tanya Aldo pada Rendi yang dari tadi hanya diam.
“Denger.” Jawab Rendi singkat, ia berdiri dan pergi meninggalkan kelas.
Hati Citra masih berdegup kencang, wajahnya pucat, ia merasa bersalah pada Rendi.

Jam pelajaran kosong. Citra mendekati Rendi yang masih terduduk di bangkunya sambil membaca sebuah buku, entah buku apa itu.
“Emm.. Rendi.. ak.. akuu.. minta maaf soal tadi, aku gak bermak.. “ Kata Citra dengan rasa takut-takut, takut temannya itu akan marah padanya.
“Gak papa, orang yang berkata jujur gak salah kok,” kata Rendi memotong pembicaraan Citra, tak ada senyum dari wajahnya, ia melanjutkan lagi bacaannya.
“Kamu.. marah ya?” Tanya Citra yang masih ragu.
“Buat apa marah?” kini seutas senyum kecil terlihat dari wajahnya. “Mending, kamu gak usah sering sendirian lagi, biar mereka gak bisa ganggu kamu” katanya dengan tetap fokus pada buku yang sedang dibacanya.
Citra hanya mengangguk, sesaat hanya diam yang ada di antara mereka. “Mmm.. aku pergi dulu ya..” ucap Citra sembari pergi menjauh dari tempat itu.
Rendi hanya menatap Citra yang pergi menjauh sejenak, kemudian kembali fokus pada bukunya.

3 hari kemudian…
“Ren! Citra suka kamu!” teriak Arin memecahkan suasana khusyuk mereka di ruang tengah ketika mengerjakan tugas sekolah masing-masing. Ya, setelah beberapa hari demam, Arin baru masuk sekolah tadi pagi. Sebenarnya ia bingung, bagaimana bisa teman dekatnya bisa menyukai saudaranya itu?
“Tau kok..” jawab Rendi singkat seolah menghiraukan apa yang dikatakan Arin.
“Eh.. dasar cuek banget sih! Kasih respon ke dia dong.. kasian tuh! Dia ngerasa bersalah, dia terus berpikir kalo kamu marah sama dia gara-gara semenjak kejadian itu kamu selalu bersikap dingin di hadapa..” marah Arin pada Rendi.
“Respon kayak apa?!” Potong Rendi, ia sudah merasa kesal “Karena.. aku juga menyukainya..” ungkapnya yang langsung membuatnya menundukkan kepala.
“Itu.. Itu respon yang harus kamu kasih ke dia! Kena.. kenapa kamu gak langsung jawab aja kalo kamu suka dia ketika dia mengungkapkan perasaannya?” Tanya Arin yang merasa gemas pada saudaranya.
“Ra, aku minta tolong sama kamu. Tolong.. jangan penah kasih tau hal ini sama dia,” kata Rendi yang menatap serius pada Arin.
“Lho, kenapa?” tanya Arin kebingungan.
“Apa yang kamu rasain kalo kamu tau ternyata orang yang kamu suka selama ini juga mempunyai perasaan yang sama untukmu?” tanya Rendi.
“Pastinya seneng bukan main lah, bakal kepikiran terus! Dunia bakal serasa milik sendiri” jawab Arin atas pertanyaan Rendi yang gampang terjawab itu.
“Nah itu, aku gak mau dia kepikiran sama hal yang gak penting kayak aku, masih banyak hal penting yang harus ia pikirkan. Keluarganya, Agamanya, masa depannya…” Jelas Rendi menjawab kebingungan Arin. “Sebenarnya aku marah sama dia, kenapa dia harus ungkapkan perasaannya itu. Tapi rasa marahku langsung hilang ketika aku baru sadar, kalau bukan karena 3 anak itu, dia pasti masih dan akan terus menyembunyikan perasaannya dariku.”
Arin mulai mengangguk paham.

Cerpen Karangan: Qorina Oktasanefani
Facebook: facebook.com/qorina.choirunisa

Cerpen Perasaan Yang Harus Dipendam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebatas Mimpi

Oleh:
Bermimpi, berkhayal dan berimajinasi merupakan rutinasku setiap hari, dengan berkhayal semua yang ku inginkan terjadi walaupun hanya dalam khayalanku, hahaha. — “Mika, apa kau tahu, hari ini ada siswa

Ku Mengagumi Senyummu Rey

Oleh:
Hari-hari tetap kulewati seperti biasa, kumengayuh santai sepedaku sambil kubernyanyi kecil. Kumasuki pintu gerbang besi itu dan ku menuju kelasku, tetap saja mata ini tak bisa terlepas dari sosok

Buat Kamu Saja

Oleh:
Sore hari di gazebo kampus, “hatiku, mana hatiku?, sepertinya hatiku sudah direbut olehnya” ucap Desy sambil menekan dadanya kuat-kuat, kepada teman-temannya, “kamu sakit?” ucap Linda sambil memegang dahi Desy

Melepas Cinta

Oleh:
Aku bagai tersihir oleh seyuman dan tatapannya. Oh God apa yang harus aku lakukan? Aku tak dapat mengontrol lagi perasaanku kepadanya, dia benar-benar telah mengalihkan duniaku. Aku sekarang merasa

Dilema

Oleh:
“Ttit… tit… tit… tit…” suara handphone ku berbunyi. “Hmmm… siapa ya yang ngesms ku, mungkin dari my chiby” kataku dalam hati sambil berjalan ke kamar untuk mengambil handphone. “Desta,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *