Rasa ini (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 31 March 2020

Aku tersenyum-senyum saat Nia berkata “Rima, ada Bagas itu di lapangan, dia mau main bola,” “Ahh… jangan bohong!” jawabku. Berulang kali dia berkata begitu namun aku masih belum juga percaya. Sampai teman-teman yang juga sama-sama sedang menonton pertandingan bola meyakinkanku kalau ada Bagas di sini, di lapangan ini. Akhirnya aku percaya juga walaupun dari jauh aku belum melihat dengan jelas wajahnya karena aku berada di tribun supporter sedangkan Bagas sedang berdiri di ujung lapangan di belakang gawang yang letaknya lumayan jauh dari pandanganku.

Sebenarnya dari awal Nia bilang seperti itu aku sudah percaya hanya saja aku tidak mau percaya dulu. Lagipula, aku nonton pertandingan sepakbola ini juga karena mengikuti kata hatiku yang tiba-tiba ingin aku untuk ke lapangan menonton pertandingan ini. Padahal, sampai beberapa hari sejak pertandingan sepakbola ini dimulai aku tidak ada niat untuk menonton, tidak tahu kenapa, kalau bilang karena pekerjaan rumah, tidak juga, karena aku tidak terlalu sibuk. Malahan hari ini ketika aku ingin menonton pertandingan ini sebenarnya adikku sedang sakit, seharusnya aku yang menjaganya agar mama, papa dan kakakku bisa ke kebun untuk bekerja. Tapi, tidak tahu kenapa mama mengizinkanku menonton dan akhirnya yang pergi kakak dan mama sedangkan papa yang menjaga adikku yang sedang sakit.

Aku punya dua orang adik, satu laki-laki dan satu perempuan dan seorang kakak laki-laki. Aku anak kedua di keluargaku, Namaku Rima Nur Hikma. Yang sedang sakit itu adikku yang laki-laki jadi ketika aku pergi nonton aku mengajak adikku yang perempuan karena aku kurang suka kalau berjalan sendiri.

Aku sungguh tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengan Bagas. Aku semakin bingung bercampur bahagia dengan kata hatiku yang bisa seperti ini? Karena apa yang sedang kupikirkan dan kuyakini ketika aku mengikuti kata hatiku ternyata benar terwujud. Tadi, ketika masih di rumah aku selalu membayangkan seandainya kalau aku pergi menonton mungkinkah aku akan bertemu Bagas? Apakah dia mengikuti pertandingan sepakbola ini juga? Atau apakah dia juga menonton? Namun, sebesar apapun aku terus membayangkannya akupun dengan sendirinya mengakhiri khayalanku itu yang ternyata menjadi kenyataan.

Di kampungku sedang diadakan PORSENI (Pekan Olahraga Seni dan Budaya) dalam rangka mengumpulkan dana untuk pembangunan masjid di kampung kami. Beberapa kampung sebelah juga ikut berpartisipasi, karena itulah hatiku berkata bahwa kampung Bagas juga ikut berpartisipasi. Kampung Bagas belum sebuah kelurahan masih sebuah Dusun. Dusun dengan pemandangan yang begitu indah.

Ketika aku datang ada dua tim yang sedang bertanding, tidak lama kemudian mereka selesai. Dan ternyata yang bertanding berikutnya adalah timnya Bagas. Aku sungguh senang karena bisa melihat wajahnya walaupun dari jauh lagi. Iyah LAGI, aku jarang sekali bertemu dengan dia. Bisa dihitung kalau dalam setahun itu paling banyak sekali dan paling sedikit tidak sama sekali. Karena beda tempat sekolahlah yang membuat kami jarang bertemu. Di tahun ini aku sudah melihatnya dua kali. Kedua kalinya hari ini, karena yang pertama kalinya itu ketika aku pulang dari sholat Idul Fitri beberapa hari yang lalu. Mungkin Dewi Cinta sedang berpihak padaku. Karena tahun lalu aku bertemu dengan dia hanya sekali. Itupun hanya sekilas karena dia lewat tiba-tiba dengan motor ketika aku pergi sholat Idul Adha.

Kalau dipikir-pikir aku merasa lucu juga karena aku selalu bertemu dengan dia ketika pergi sholat Eid. Ketika pertandingan mulai, mataku tidak berhenti menatap setiap gerak-gerik Bagas, yang aku perhatikan hanya Bagas, sampai-sampai Nia yang berulang kali berbicara padaku hanya kujawab dengan “Mmm…”. Aku sungguh merindukan dia. Dia bukan Pacarku, dia itu temanku. Teman yang kupunya rasa padanya. Dan aku merasa dia juga punya rasa padaku tapi aku takut terlalu yakin karena aku takut terluka kalau ternyata dia tidak punya rasa padaku.

Namanya Bagas Sebastian. Aku masih serius melihat setiap gerak-gerik Bagas. Tiba-tiba ingatan tentang pertemuan pertama kami 6 tahun yang lalu melintas dan membuat aku kembali mengenangnya.

Flashback On…
Hari ini adalah Ujian Nasional hari terakhir untuk Sekolah Dasar. Untuk ujian nasional tahun ini sekolahku bergabung dan ujian sama-sama dengan sekolah di kelurahan tetangga karena tahun sebelumnya sekolah mereka yang datang ujian sama-sama dengan kakak kelas kami. Karena ini hari terakhir jadi diadakan sesi foto bersama.

Ketika aku akan duduk di tempat duduk taman sekolah itu seorang anak laki-laki dari sekolah ini yang tidak kukenal membersihkan daun-daun yang berserakan di tempat duduk itu dan mempersilahkan aku duduk dengan wajah yang penuh senyuman. Karena waktu itu aku masih kecil dan tidak terbiasa dengan orang yang belum aku kenal aku segera menjauh dari samping laki-laki itu dan meminta temanku yang berada di sebelahku untuk bertukar tempat denganku, dia mau dan kami bertukar tempat.

Aku tidak terlalu ingat jelas wajah anak laki-laki itu karena menatapnya saja aku tidak berani, aku hanya meliriknya sebentar. Di usiaku yang baru menginjak 12 tahun itu aku sudah mulai mengenal yang namanya Cinta Monyet. Tidak bisa kupungkiri bahwa aku sepertinya tertarik dengan anak laki-laki itu. Tapi, aku tidak menceritakannya kepada temanku dan hanya memendamnya sampai selesai ujian.

Setelah pulang di rumah aku mencoba mengingat-ingat wajah anak laki-laki itu. “Ternyata dia ganteng juga yaa…” kataku dalam hati. Tiba-tiba aku merasa menyesal karena menolak kebaikannya tadi. Kalau aku mau pasti aku sudah tahu namanya dan berteman dengannya. Aku merasa kalau aku menyukainya, tapi aku tidak tahu namanya. Tiba-tiba aku ingat kalau tadi ada yang memanggil dia kalau tidak salah Bagas. “Hmmmm… mungkin namanya Bagas” pikirku.

Setelah itu semuanya berlalu begitu saja sampai tiba waktu pengumuman dan kami semua lulus 100%. Aku lanjut di sebuah sekolah negeri yang letaknya 1 km dari rumahku. Dan Nia sahabatku melanjutkan di sekolah negeri yang cukup bergengsi di kota kami yang letaknya 2 km dari rumah. Jadi, kami beda sekolah tapi itu tidak menghalangi persahabatan kami. Karena kami selalu bertemu ketika pulang di rumah.

Sampai ketika kami mengumpulkan formulir pendaftaran, aku bertemu dengan anak-anak dari sekolah yang ujian sama-sama dengan sekolah kami. Tapi, aku lupa wajah anak laki-laki yang waktu itu. Ada anak laki-laki lain dari sekolahnya yang namanya hampir sama dengan Bagas. Namanya Bagus Pratama. Aku tidak sengaja bertemu dengan Bagus ketika berjalan mengintari sekolah baruku. Awalnya aku kira orang yang kucari adalah Bagus tapi setelah aku mengingat-ingat senyum anak itu, Bagus bukan orang yang kucari.

Tibalah saatnya MOS (Masa Orientasi Siswa) untuk siswa baru. Hari pertama dan kedua kami dipisahkan menurut gugusnya masing-masing. Baru ketika hari terakhir MOS kami dikumpulkan di ruang Aula, guru yang membimbing kegiatan MOS sedang memberikan pengarahan di depan. Tiba-tiba dia memanggil sebuah nama yang tidak asing di telingaku untuk maju ke depan. “Bagas Sebastian” iyah Bagas Sebastian. Orang yang selama beberapa hari ini ini aku cari-cari.

Dia segera berjalan maju ke depan dengan wajah yang penuh senyum malu-malu. Ternyata dia di minta menyayikan lagu yang tadi dinyayikannya di ruangan ketika masih bersama dengan gugusnya. Aku sungguh tidak menyangka ternyata suaranya bagus juga. Dia menyayikan lagu yang sedang populer pada waktu itu “Aku bukan Gayus Tambunan”. Lagu itu sedang populernya ketika aku masih kelas 1 SMP. Ketika dia kembali ke tempat duduknya, aku merasa seperti dia senyum padaku, karena dia melihat ke arahku. Aku sungguh senang.

Hari-hari terus berlalu. Aku melewatinya dengan belajar keras disamping diam-diam aku masih mengagumi Bagas Sebastian. Sampai pada suatu hari ketika aku ke kamar mandi, aku tidak sengaja bertemu dengan kakak kelasku yang juga masih keluargaku. Namanya Rahma Wijaya. Dia juga cukup akrab dengan Bagas. Dia sudah kebelet sekali, jadi aku mempersilahkannya duluan masuk kamar mandi. Dia langsung memberikan kertas yang dipegangnya padaku.

Setelah dia masuk, diam-diam aku membuka kertas itu dan membacanya. Aku sangat kaget, benar-benar kaget. Bagaimana tidak, di kertas itu ternyata berisi surat dan pengirimya ternyata Bagas Sebastian. Aku membaca berulang kali dan ternyata pengirimnya memang Bagas Sebastian yang aku kenal. Dan penerimanya adalah Sakina Ramadani. Seorang perempuan yang termasuk cewek cantik di sekolah kami. Isi surat itu kurang lebih menyatakan perasaan Bagas terhadap Sakina. Aku sungguh kecewa, sakit hati dan hampir-hampir air mataku jatuh membasahi pipiku.

Tiba-tiba aku kaget karena Rahma langsung merebut kertas itu dariku dan mengatakan padaku kalau aku tidak boleh membacanya.

Ketika pulang di rumah aku langsung menuju ke kamar dan tidak tahu kenapa air mataku langsung membanjiri pipiku. Aku tidak berhenti menangis, tiba-tiba ada yang memutar lagu yang begitu sesuai dengan keadaanku sehingga membuat aku tidak berhenti meneteskan air mata. Kalau saja papa tidak memanggilku pasti aku masih menangis. Aku langsung menyeka air mataku dan keluar. Setelah mengerjakan yang papa minta, aku masuk kamar lagi dan langsung melihat ke kaca, ternyata mataku sudah merah-merah karena terlalu menangis. Aku tidak tahu kenapa. Mungkinkah karena aku terlalu menyukainya sehingga ketika aku mengetahui hal itu aku sedihnya begitu mendalam. Besoknya aku berangkat sekolah seperti biasanya.

Cerpen Karangan: Rusna Abdullatif
Blog / Facebook: Rusna Abdullatif
Seseorang yang bercita-cita cerpennya bakal jadi novel.

Cerpen Rasa ini (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dalam Hati

Oleh:
Tempat ini masih sama. Persis ketika aku meninggalkannya sepuluh tahun yang lalu. Hampir tidak ada perubahan sedikitpun. Setiap sudutnya, detailnya, masih sama. Hanya saja, rumah yang dulu pernah aku

Hujan Dan Air Mata (Part 2)

Oleh:
Sore itu aku jadi tahu, apa alasanmu mempertahankan kesendirianmu dan menolak banyak Royal Prince yang berusaha untuk memilikimu. Aku biarkan kau diam. Ya… ya, dan akhirnya lagu Jamrud itu

Dialah Kesunyian Ku

Oleh:
Apakah kalian tahu bagaimana rasanya mencintai dalam kesunyian? Inilah yang aku rasakan. Aku mengaguminya sejak lama, tapi tak ada seorang pun yang tahu bahwa aku menyukainya. Apa yang bisa

Puisi Terakhir

Oleh:
Aku kalah dalam sebuah pertaruhan. Pertaruhan konyol yang sudah diketahui pemenangnya. Gio. Bodohnya, aku tetap mengikuti keinginannya untuk bertaruh. Dan sebagai akibatnya, sekarang aku harus menuangkan isi pikiranku di

Alien Dan Penyihir

Oleh:
Pagi yang benar-benar cerah, hh.. badanku benar-benar segar pagi ini. Aku ke luar dari kamarku dan berjalan menuruni tangga dengan senyum yang merekah, semangatku benar-benar menggumpal hari ini, pasalnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *