Rasa ini (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 31 March 2020

Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk fokus belajar dan tidak terlalu memikirkan hal yang tidak penting seperti itu. Toh, perjalananku masih panjang. Namun, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku masih menyimpan perasaan untuk Bagas. Aku dan dia tidak sekelas. Jadi, ketika aku akan ke Ruang Guru selalu diam-diam aku melihat ke dalam kelasnya untuk sekedar melihat wajahnya. Aku tidak tahu apakah Sakina menerima dia atau tidak karena aku sudah memutuskan untuk tidak mencampuri urusan orang. Baru beberapa hari kemudian aku mengetahui kalau ternyata Sakina berpacaran dengan kakak kelas itu berarti dia menolak Bagas. Aku sungguh senang ketika mengetahuinya.

Karena kampungku dan kampung Bagas bersebelahan jadi kadang-kadang ketika berangkat sekolah kami selalu menaiki mobil angkutan umum yang sama. Jadi, sudah bisa dipastikan aku akan senang sekali kalau satu mobil dengan Bagas. Tidak tahu kenapa, aku sepertinya tidak pernah mengobrol dengan Bagas, padahal teman-teman yang lain mengobrol dengannya dan biasa-biasa saja. Tapi tidak tahu kenapa juga aku merasa kalau kami marahan. Karena beberapa bulan kemudian ketika pulang sekolah kalau aku yang duluan masuk ke dalam mobil dan Bagas masuk dan melihat ada aku dia tidak naik mobil itu dan malah keluar menunggu mobil yang lain. Aku tidak tahu kenapa, aku benar-benar bingung dengan situasi ini.

Sampai tibalah Ulangan Semester dan aku fokus untuk Ulangan Semester. Tibalah pembagian rapor. Di sekolahku untuk juara umum setiap tingkat hanya juara 1 2 3. Ketika nama-nama yang masuk juara umum dibacakan aku sungguh tidak menyangka kalau temanku yang dulu SD denganku meraih juara umum 1 padahal dia dulu nomor 2 di sekolah dasar dan aku nomor 1 ketika pengumuman kelulusan. Aku menunggu sampai juara umum 3 tapi ternyata aku tidak mendapatkannya. Aku hanya juara 3 kelas. Aku sungguh kecewa karena tidak masuk Juara Umum, padahal aku merasa sudah melakukan yang terbaik dengan belajar sekeras dan serajin yang aku bisa. Aku menangis sejadi-jadinya ketika pulang di rumah dan bertekad melakukan yang terbaik di semester berikutnya.

Tibalah libur semester dan aku menjalaninya dengan baik di rumah dengan membantu orangtuaku. Sampai akhirnya libur semester selesai dan semester Genap pun dimulai. Aku memutuskan untuk fokus pada sekolahku dan melupakan Bagas sejenak. Tapi aku tidak benar-benar melupakannya karena diam-diam aku masih sering memperhatikannya ketika lewat di depan kelasnya.

Tidak terasa Ulangan Semester Genap tiba. Aku benar-benar fokus pada belajarku untuk mencapai targetku dan kebiasaanku memperhatikan Bagas diam-diam benar-benar aku hentikan sementara. Ketika ulangan hari terakhir aku yang selesai makan di kelas pergi mencuci tangan di keran yang terletak di sebelah kelas Bagas. Ketika aku kembali di kelas Bagas sudah dibagi hasil Ulangan Semester dan aku masuk untuk melihat hasil ulangan sepupuku yang sekelas dengan Bagas, namanya Melati.

Aku bertanya pada Melati “Mel, kamu dapat nilai berapa”, ada suara yang menjawab “60.80” aku bertanya lagi dan suara itu menjawab lagi dengan jawaban yang sama namun, tidak kuhiraukan. Akhirnya aku bertanya untuk ketiga kalinya dan orang itu masih menjawab “Dia dapat 60.80”. Aku langsung menjawab “Kamu kan marah padaku, kenapa aku tidak bertanya sama kamu malah terus kamu jawab?” kataku pada Bagas. Iya, orang yang sedari tadi menjawab pertanyaan yang bukan tertuju padanya itu adalah Bagas Sebastian. Dia langsung menjawab “Baiklah, aku minta maaf yaa” kata Bagas sambil mengulurkan tangannya padaku untuk minta maaf. Aku sungguh kaget bercampur senang dan langsung berkata padanya “Tapi, tanganku basah” dia bilang tidak apa-apa dan langsung menjabat tanganku. Kami langsung berjabat tangan dan dia tidak berhenti menatapku dengan senyum khasnya yang membuat aku langsung mati gaya. Kalau saja aku tidak melepas jabatan tangannya mungkin dia belum juga melepas tanganku.

Aku lalu kembali ke kelasku dengan wajah merah merona dan senyum-senyum sendiri saking bahagianya. “Ya Allah, mimpi apa aku semalam” kataku dalam hati. Setelah itu ketika pulang sekolah kami satu mobil dan dia duduk tepat di sebelahku. Sungguh aku benar-benar bahagia. Aku lebih bahagia lagi ketika pembagian rapor aku berhasil meraih juara umum 1. Perjuangan yang tidak sia-sia. Aku benar-benar bersyukur kepada Allah.

Dan libur semester genap pun tiba. Namun liburnya tidak terlalu lama hanya seminggu. Dan aku kembali melakukan aktivitasku seperti biasanya di sekolah. Sudah beberapa hari ini Bagas tidak masuk sekolah. Aku benar-benar sedih karena tidak bertemu dengannya. Aku mendengar kabar bahwa dia pindah sekolah. “Ya Allah kenapa lagi ini, baru saja aku merasa bahagia karena berbaikan dengan dia, tapi kenapa lagi ini?” kataku dalam hati.

Setelah beberapa hari sejak Bagas tidak masuk sekolah, suatu hari aku melihat seorang laki-laki yang umurnya sekitar 30an yang wajahnya mirip dengan Bagas datang ke sekolah dan kata hatiku mengatakan bahwa itu adalah kakak Bagas yang mengurus kepindahan Bagas. Dan ternyata benar. Karena beberapa hari kemudian dia benar-benar sudah pindah sekolah. Aku benar-benar sedih. Siapa lagi yang akan aku lihat ketika lewat di depan kelasnya? Dimana lagi aku bisa melihat senyum indah itu? Aku benar-benar merasa kehilangan.

Aku merasa seperti tidak bersemangat lagi belajar tapi aku tidak boleh seperti itu karena perjalananku masih panjang. Kalau memang dia jodohku kami pasti akan bertemu di waktu yang tepat. Aaaamiiiinnnn… kalimat itulah yang selalu kuyakini.

Setelah Bagas pindah sekolah, aku kembali menjalani hari-hariku seperti biasanya. Tapi, kadang terbersit kerinduan ingin melihat senyuman Bagas selalu muncul, namun aku mencoba untuk mengabaikannya. Ketika naik kelas 3, aku menyukai seorang anak laki-laki, dia masih dibawahku, maksudnya dia juniorku karena dia adik kelasku. Dia kelas 2. Namanya Bayu Saputra. Aku tidak tahu kenapa aku menyukainya. Tapi, tidak apalah aku menjalaninya saja. Sejenak aku melupakan Bagas. Ketika aku lulus dari SMP aku melanjutkan ke sebuah Sekolah Menengah Kejuruan yang cukup bergengsi di kotaku. Pada saat aku masuk itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Jadi, kami MOS di bulan Ramadhan.

Tibalah saatnya Idul Fitri. Pada hari ke-2 Idul FItri aku bersama dengan Nia dan beberapa orang temanku bersilaturahmi ke rumah kakak sepupuku yang menikah dengan seorang wanita yang sekampung dengan Bagas. Dan wanita itu masih keluarganya Bagas. Ketika pergi aku tidak terlalu berharap akan bertemu dengan Bagas karena aku tidak yakin kalau dia ada di kampungnya.

Namun, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata Bagas ada, dia pulang kampung ketika lebaran. Rumah istrinya saudaraku dekat dengan mushallah di dusun itu. Ketika aku datang, Bagas sedang duduk di muka mushallah dengan seseorang. Aku sungguh senang karena bisa melihatnya. Ketika masuk ke dalam rumah sepupuku, aku tidak berhenti keluar masuk hanya untuk sekedar melihat Bagas. Temanku Melati juga ikut-ikutan melihat sehingga kakak sepupuku mengira Melati menyukai Bagas dan memanggil Bagas masuk ke dalam rumah.

Aku dan teman-temanku yang sedang berada di ruang tengah menyantap hidangan yang dihidangkan pindah ke ruang tamu. Dan kakakku, Bagas dan temannya yang bercerita di ruang tengah. Aku tidak berhenti memperhatikan Bagas. Salah satu temanku minumannya habis dan meminta untuk diambilkan lagi. Aku menyanggupi untuk mengambilnya. Aku ke ruang tengah dengan terus memperhatikan Bagas. Sebelumnya aku lihat dia memperhatikan temannya dan kakakku yang sedang berbicara namun ketika aku ke ruang tengah dia langsung menunduk dan tidak mengangkat kepalanya sebelum aku kembali ke ruang tamu. Aku menyimpulkan sendiri kalau dia malu padaku. Karena ketika temanku yang ke ruang tengah dia tidak menundukkan kepala seperti yang dilakukannya ketika aku kesana.

Aku benar-benar bahagia bisa melihat Bagas karena tidak terasa sudah 2 tahun aku tidak bertemunya. Dan rasa itupun muncul kembali. Rasa yang kusimpan rapi-rapi muncul kembali dengan kemasan baru namun dengan rasa yang tetap sama, malah rasanya lebih baik. Aku benar-benar menyukainya. Bisa aku katakan dia Cinta Pertamaku. Orang pertama yang kusukai. Sejak kepergiannya beberapa kali aku menyukai beberapa orang namun rasaku pada mereka tidak seperti rasaku padanya yang terus bertambah setiap harinya. Rasaku pada mereka hanya bertahan sebulan dua bulan. Namun tidak seperti rasaku padanya yang terus bertambah. Aku berharap semoga aku bisa bertemu dengannya lagi. Aaaamiiiinnn…

Cerita masa putih abu-abuku dimulai. Di awal-awal kelas aku tidak tertarik dengan teman-teman laki-laki dari sekolahku karena di hatiku sudah ada nama yang tertulis. Bagas Sebastian. Iyah, Bagas Sebastian, walaupun aku tidak yakin kalau dia juga menyukaiku tapi aku ingin menyimpan rasa ini.

Aku belajar keras untuk mempertahankan prestasiku. Dan usahaku tidak sia-sia karena pada saat pembagian rapor semester ganjil aku meraih juara 2 umum dari 10 umum per tingkatnya. Dan aku mulai terus belajar untuk mempertahankan prestasiku. Di semester genap kelas satu, aku bergabung dengan peserta Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI. Sebuah lomba beregu yang bergengsi di kalangan siswa SMA/SMK. Waktuku terbagi untuk latihan menghafal materi lomba dan belajar untuk mempertahankan prestasiku. Aku benar-benar melupakan soal laki-laki dan benar-benar melupakan Bagas Sebastian. Namanya hampir bahkan hilang dari hidupku walaupun rasa untuknya tersimpan rapi di sini, di hatiku.

Perjuanganku dengan teman-temanku tidak sia-sia karena ketika Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI tingkat kota dilaksanakan, sekolah kami meraih juara satu dan berhak mewakili kota ke tingkat provinsi. Untuk tahun-tahun sebelumnya jumlah pesertanya 10 orang namun di tahun ini 2015 jumlah pesertanya hanya 9 orang.

Cerpen Karangan: Rusna Abdullatif
Blog / Facebook: Rusna Abdullatif
Seseorang yang bercita-cita cerpennya bakal jadi novel.

Cerpen Rasa ini (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nostalgia di Putih Abu Abu

Oleh:
Masih ku ingat saat-saat aku masih memakai seragam putih abu-abu, saat ku jatuh hati pada guru ku sendiri, pacaran bersama pacar sahabatku, saat ku menangis karena lelaki yang sangat

Kupendam Saja

Oleh:
Di depan kesekretariatan tua itu, aku pertama melihat kamu, iya waktu pertama kamu menjadi MaBa (Mahasiswa Baru). Disaat itu aku tertarik denganmu, dengan tingkah humorismu kamu membuat aku lebih

Pelangi Dari Matematika

Oleh:
Matematika adalah pelajaran yang membuat 2 insan yang satu ini menjadi lebih dekat. Kisah seorang siswi yang banyak bicara seperti emak-emak dengan seorang siswa yang cuek-cuek bebek. Matematika ini

Perasaan itu

Oleh:
Pukul 15:45, kegelisahan mulai terlihat di wajahku. “15 menit lagi” kataku dalam hati. Setelah salat ashar, aku mulai gelisah menunggu hasil SNMPTN yang resmi diumumkan pada pukul 16:00 wib.

28 Maret

Oleh:
Aku memang hanyalah seorang cowok yang tak bernyali besar untuk menatap matamu. Melihat wajahmu. Merasakan keindahan yang terpancar dari dirimu saat ini. Dan di sini, aku hanya bisa memandangi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *