Rasa ini (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 31 March 2020

Beberapa bulan kemudian berembus kabar bahwa jumlah peserta cerdas cermat adalah 10 orang. Lama kami menanti lomba tingkat provinsi namun tidak kunjung dilaksanakan. Sampai pada tanggal 22 Mei 2015 ada panitia Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI dari pusat yang datang di sekolah ke kami untuk sosialisasi lomba sekaligus menunjuk sekolah kami untuk mewakili provinsi ke Lomba Tingkat Nasional. Aku dan teman-temanku, kami semua menangis bahagia. Dan kabar itu benar jumlah pesertanya 10 orang.

Akhirnya setelah diseleksi dari dua calon yang terpilih adalah Kak Arif Rahman. Ketua Osis di sekolahku. Oh iyah, Kak Arif adalah orang yang kusuka di masa putih abu-abuku ini. Orang yang berhasil menggantikan posisi Bagas Sebastian di hatiku. Ternyata dia juga menyukaiku. Dia berjanji padaku akan menembakku ketika selesai kegiatan lomba cerdas cermat. Aku sungguh senang. Namun, tidak tahu kenapa setelah selesai kegiatan Kak Arif bukannya menembakku malah membuat aku marah besar padanya karena katanya sikapku manja, menyebalkan, cerewet dan sok pintar. Siapapun pasti akan marah kalau dikatai seperti itu. Aku menghapus dan membuang semua rasaku padanya.

Ketika aku naik kelas 3, aku turun praktek setelah lebaran Idul Fitri. Aku praktek selama 3 bulan. Dan di bulan kedua praktek itu bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Sudah lama aku tidak menyukai siapa-siapa. Walaupun nama dan rasa untuk orang itu tersimpan rapi di hatiku. Namun aku sama sekali tidak sadar. Sampai ketika aku pergi sholat Idul Adha aku bertemu dengannya yang juga pergi sholat Idul Adha. Dia lewat tiba-tiba dibonceng temannya dan aku tidak bisa melihatnya lama-lama. Aku tersadar ketika dia sudah lewat. Siapa lagi kalau bukan Bagas Sebastian. Iyah, Bagas Sebastian.

Rasaku untuknya masih tersimpan rapi. Tidak peduli berapa laki-laki yang singgah tapi hanya dia yang menetap di hatiku. Yah, walaupun kata itu belum terucap darinya namun rasaku untuknya tidak pernah pudar di makan waktu. Air mataku hampir menetes ketika bisa melihatnya lagi karena selama hampir 3 tahun ini aku tidak melihatnya lagi sejak pertemuan kami di kampungnnya 3 tahun lalu. Aku benar-benar bahagia melihatnya.

Ketika pulang dari sholat Eid aku bersilaturahmi ke rumah Melati dan ada Nurma temanku sedang bercerita dengan Melati. Ketika aku bergabung dengan mereka, Nurma langsung berkata padaku bahwa Bagas sudah menikah. Sekejap saja wajahku yang tadinya penuh senyum bahagia dan semangat tiba-tiba sirna. Bagai petir di siang bolong ketika kalimat itu terucap dari Nurma. Aku hampir menangis namun kutahan jangan sampai Melati dan Nurma melihatku menangis. Aku tidak bisa berkata-kata dan langsung percaya.

Aku langsung berpikir yang macam-macam. Namun ketika aku kembali ke rutinitas praktekku aku langsung melupakan hal itu dan membiarkannya berlalu begitu saja. Baru setelah selesai praktek aku memastikan kebenaran info itu di tetanggaku yang sekampung dengan Bagas namun dia menikah dan tinggal di kampung kami. Ternyata info itu palsu, Nurma membohongiku karena dia tahu aku menyukai Bagas. Tetanggaku mengatakan padaku kalau kakak-kakak Bagas itu adalah orang-orang yang berpendidikan jadi tidak mungkin mereka akan membiarkan si bungsu tidak berpendidikan. Iyah Bagas anak bungsu dari 6 bersaudara. Pantas saja, wajahnya penuh kebahagiaan, ternyata dia begitu disayang.

Setelah aku tahu bahwa info itu tidak benar, aku mulai menata kesalahpahamanku dan mulai mendatangkan kembali rasa itu. Sebenarnya rasa itu tidak pernah pergi hanya saja dia terabaikan olehku, karena aku tidak terlalu peduli soal asmara di saat aku sibuk-sibuknya menghadapi ujian demi ujian sampai putih abu-abuku ini berakhir.

Akhirnya ujian demi ujian telah kulewati dan tiba saatnya pengumuman. Aku sangat bahagia ketika namaku dibacakan sebagai salah satu siswa dengan nilai UN (Ujian Nasional) tertinggi di sekolahku. Aku mendaftar di salah satu perguruan tinggi di daerahku. Beberapa hari sebelum Idul Fitri kakakku yang baru pulang dari pulau seberang mengatakan padaku bahwa dia tadi bertemu dengan Bagas yang mendaftar kuliah di kampus yang sama dengan kakakku. Aku benar-benar senang mendengar info itu dan bertanya jurusan apa yang dipilih Bagas. Ternyata dia memilih jurusan Informatika.

Setelah puasa selama 1 bulan kami umat Islam jalani, tibalah hari raya kemenangan, Hari Raya Idul Fitri. Ketika aku pulang dari sholat Idul Fitri aku melihat teman-teman Bagas yang baru pulang sholat eid di kampung sebelah. Dari jauh ada motor yang menuju ke arahku dan kuyakini itu Bagas. Dan ternyata benar itu Bagas. Aku benar-benar bahagia bisa melihatnya. “Masya Allah, dia ganteng sekali dengan pakaian kokonya itu” gumamku sambil terus melihatnya namun dia tidak melihatku. Ingin rasanya kuhentikan waktu agar dapat terus melihat wajahnya. Wajah yang selalu ingin kulihat setiap harinya namun tak kesampaian karena ruang dan waktu.
Flashback Off…

Itulah pertemuan pertamaku dengan Bagas di tahun ini, 2017. Rasanya aku ingin tertawa terus-menerus kalau mengingat pertemuan kami yang selalu di hari raya kemenangan umat islam. Aku masih terus memperhatikan setiap gerak-gerik Bagas. Di awal-awal permainan, Bagas selalu jatuh. Yang paling parahnya adalah dia menabrak tali pembatas dan terbanting. Untung saja tali pembatas itu hanya dibuat dari tali plastik, coba kalau bukan tali plastik pasti dia sudah terluka. Aku sampai berteriak karena kaget. Permainannya sangat bagus. Aku tidak peduli yang lainnya yang kulakukan hanya memperhatikannya. Karena aku jarang bahkan tidak pernah bertemu dengan dia, hanya nasib yang mempertemukan jadi kesempatan ini tidak kusia-siakan untuk melihatnya walaupun dari jauh.

Selama 90 menit permainan itu yang kulakukan hanya menatap setiap gerak-gerik Bagas tanpa berkedip sedikitpun. Di akhir-akhir permainan ketika waktu hampir habis, mungkin karena dia sudah sangat lelah akhirnya dia keluar dan digantikan dengan temannya. Hasilnya permainan yang tadinya seru jadi tidak mengasyikkan menurutku. Ternyata bukan aku saja yang berpikir begitu, teman-teman yang lain pun berpikir begitu.

Ketika selesai pertandingan timnya Bagas langsung meninggalkan lapangan. Aku terus menatapnya sampai dia lewat tepat di depanku. Dia melihat kearahku, aku yang sedang menatapnya kaget. Aku tidak tahu apakah dia melihatku atau tidak, yang pasti tadi dia melihat ke arahku. Aku sangat senang karena bisa melihat dia dari dekat.

Setelah mereka berlalu aku segera mengajak adikku untuk pulang. Kami lewat jalan lain ketika pulang, bukan jalan ketika kami datang. Aku tidak menyangka ternyata di jalan yang kulalui itu ada Bagas dan teman-temannya yang sedang beristirahat. Aku berjalan di depan mereka sambil terus menunduk sampai berlalu dari depan mereka. Namun, mataku melirik-melirik mungkin ada Bagas tapi aku tidak melihatnya. Setelah aku agak jauh dari mereka baru aku melihat ke belakang dan ternyata Bagas membelakangi aku, pantas saja aku tidak melihatnya.

Agak lama juga mereka beristirahat di jalan ini dan aku masih belum pergi. Aku berdiri menunggu sambil mengusap-usap layar handphone seperti orang yang sedang memainkan handphonenya padahal aku hanya mengusap-usap layarnya agar kelihatan seperti itu. Dari jauh aku terus memperhatikannya. Tidak tahu kenapa aku tidak pernah bosan untuk melihat wajahnya.

Akhirnya tidak lama kemudian mereka pergi. Aku juga langsung beranjak dari tempatku. Sambil berjalan aku terus memperhatikan satu-persatu teman Bagas yang lewat dengan motor, namun Bagas belum juga muncul. Ternyata dia paling terakhir. Aku langsung menuju ke jalan sambil ekor mataku yang terus tertuju padanya. Tepat, saat dia di depanku dia langsung menatapku dan tiba-tiba langsung mengangkat baju yang dipakainya untuk menutupi wajahnya. Hatiku langsung berkata kalau dia malu padaku makanya dia menutupi wajahnya. Tapi, tak tahulah aku bukan orang yang bisa membaca pikiran orang lain. Aku sangat senang.

Di tengah jalan aku bertemu temanku Nina yang langsung berkata padaku “Rima, tadi ada Bagas!”, “Hah, mana?” jawabku pura-pura tidak tahu. “Iiii ampunnnn… Pergi tidur sana. Tadi baru saja dia lewat” Jawab Nina. “Oohh, benarkah?” jawabku sambil tersenyum-senyum karena senang.

Aku benar-benar bersyukur karena akhirnya aku bisa juga bertemu dengan Bagas. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya dengan akhir dari perasaanku. Apakah Bagas juga menyukaiku? Aku juga tidak tahu, yang pasti aku hanya ingin dia tahu bahwa sejak 6 tahun lalu sampai sekarang hanya dia yang menetap di hati ini.

Dia Cinta Pertamaku. Orang yang membuat hati ini berdetak kencang tak henti-hentinya saat dia melihatku. Orang yang senyumannya begitu berharga untukku. Orang yang akupun tidak tahu kenapa rasa ini untuknya bertahan selama itu, padahal begitu banyak hati yang singgah di hati ini, namun hanya dia yang menetap. Walaupun dia tidak tahu tentang perasaanku tapi tak apalah karena dengan melihatnya tanpa dia menyapa, tanpa dia tersenyum seperti yang dilakukannya pada orang lain, namun aku sungguh-sungguh bahagia karena memiliki rasa ini untuknya.

Aku tidak berharap banyak untuk saat ini, aku hanya ingin menyelesaikan studiku, baru kemudian memikirkan soal jodoh. Toh, TULANG RUSUK TAKKAN TERTUKAR. Jika memang aku adalah tulang rusuknya yang hilang, jika memang dia adalah orang yang namanya tertulis bersamaku di lauhul mahfuds pasti kami akan bertemu jika sudah tiba saat dan waktunya. Jadi karena alasan itulah yang membuat aku selalu bersabar menunggu sambil terus memperbaiki diri.

SELESAI

Cerpen Karangan: Rusna Abdullatif
Blog / Facebook: Rusna Abdullatif
Seseorang yang bercita-cita cerpennya bakal jadi novel.

Cerpen Rasa ini (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bayangan Yang Tak Mungkin

Oleh:
Mengagumi seseorang adalah hal yang wajar, apalagi yang dikagumi itu adalah seorang pria yang sangat tampan. Ya, tampan menurut Luna si gadis lugu yang tinggal di seberang desa, ya

Sarung Coklat

Oleh:
Pesona senja enam sore di ibukota memang cukup cantik. Namun tak sedikit pun memikat Zizi yang sedari tadi membujukku setengah mati untuk menaruh sajadah ke masjid. “Bia… Febia, ayo

Aku dan Dia

Oleh:
Ini hari pertama aku masuk SMA Islamic School setelah berpindah ke sekolah aku yang elite. Banyak alasan sulit aku jelaskan tentang mengapa aku berpindah setelah kelas dua? Kelas masih

Rei Oh Rei

Oleh:
Sejak dulu aku selalu terpaku ketika menatap Rei, sahabatku yang selalu mengenakan seragam putih lusuh yang agak jorok, rambut cokelat tua gondrong yang dihighlight kuning, lengkap dengan matanya yang

Hanya Harapan Ku Semata

Oleh:
Dimanakah Kau Ada – Ratu, Salah satu lagu yang masih bertahan selama tujuh tahun ada di handphone, laptop dan pikiranku yang setiap hari ku nyanyikan di rumah, kamar mandi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *