Rasa Terlarang (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 29 April 2021

“Kenapa kamu nangis..?”
Suara seorang perempuan di belakangku kepada temannya. Akupun membalikkan badan dan aku tau kalo itu adalah Wati dan Siti bawahanku yang baru saja selesai closing toilet malam ini. Sebetulnya aku bukan atasan mereka langsung, karena atasan mereka tentu saja temanku pengawas toilet sementara aku pengawas area belanja di mall ini bersama 3 rekanku yang lain.

Aku adalah Sandy, pria berusia 24 Tahun yang sudah menjabat sebagai pengawas area atau foreman di salah satu mall tertua di kotaku. Tentu saja bukan sebagai pegawai dari management mall tersebut, namun hanya pegawai outsourcing cleaning service yang disewa untuk menangani kebersihan di Mall tersebut.

Kembali pada kejadian yang tadi, Aku sebagai atasan ingin tahu lebih lanjut kenapa Siti sampai bisa menangis.
“Kenapa kamu Siti?” Tanyaku… Siti hanya diam menundukan kepala dan bersandar pada wati sepanjang jalan menuju kantor Cleaning Service. Wajar saja dia tak menjawab karena memang aku tak dekat dengan Siti, Semua teman-temannya bergantian bertanya apa yang terjadi sebenarnya, Namun Siti tetap diam.

“Kemari kamu Siti” Ucap Santi teman sejawatku sesama foreman yang bertanggung jawab atas kebersihan toilet.
“Ada apa sebenarnya? kenapa kamu sampe nangis begitu?” Lanjut pertanyaan Santi.
“Nggak apa-apa Bu.” jawab Siti lirih… “cuma ada masalah keluarga.” ucapnya lagi.
“Ooo, saya pikir kenapa… kalo mau curhat bisa kok sama Ibu.” Ucap Santi dengan lembut ingin menenangkan Siti yang masih mengusap air mata di pipinya.
“Nggak apa-apa kok Bu, lain kali saja ceritanya, ini sudah malam, nanti Ibu kemalaman pulangnya.” Ucap Siti.
Hanya itu percakapan yang kudengar dari mereka berdua, karena aku pun berlalu meninggalkan Kantor menuju parkiran motor untuk pulang.

Kunyalakan mesin motor dan menunggu panas mesin. Sekarang memang jam pulang karyawan mall para pekerja di mall pun bergantian keluar meninggalkan parkiran hingga hampir habis kendaraan di basement 3 ini. Akhirnya aku tancap gas dan pergi keluar melalui 2 rampway menuju pintu keluar parkir.

Saat itu sudah jam 10.30 malam, niatku tancap gas saat menyentuh aspal jalan di luar mall namun terdengar teriakan Santi,
“Pa Sandy…!!!”. Aku melihat 3 orang sedang berbincang di pinggir jalan depan mall.
“Eh, Bu Santi, Pak Anto, Siti…” kusapa mereka sambil mematikan motorku. Pa Anto adalah suami Bu Santi. Terjadi sedikit perbincangan antara kami.
“Ada apa Bu…?” tanyaku pada Bu santi.
“Gini Pak Sandy, bisa tolong antarkan Siti pulang? kalo ga salah rumah Siti searah Rumah Pak Sandy ya?” Pinta Santi.
“Oh iya gitu searah?” Tanyaku keheranan…
“Iya Pa, saya pernah lihat Bapak saat saya pulang kerja dibonceng sama suami saya.” ungkap Siti berbicara pelan.
“Ohya? aku keheranan, karena selama ini aku merasa belum pernah berpapasan dengan mereka.
“Tapi nggak usah sampe diantar Pak Sandy Bu, saya ga enak merepotkan jadinya.” Ucap Siti.
“Udah ga apa-apa, Pak Sandy orang baik Kok Siti.” Santi menekankan pada Siti.
“Hari ini Siti ga dijemput Pak, karena suaminya ada pekerjaan di luar kota, jadi tolong ya Pa antarkan dia, kasian jam segini udah ga ada angkot.. masa harus jalan kaki?” Santi memohon karena semua teman Siti sudah pulang.
“Ok baiklah, gakpapa. Sekalian saya mau tau rumah Siti dimana.” Gurauku dengan senyum kecil.

Singkat cerita akhirnya Aku dan Siti pun berboncengan, Siti tetap menjaga jarak duduknya saat dibonceng, mungkin merasa malu atau tak biasa dibonceng selain dari suaminya, dan Saat itu sudah pukul 11.15 malam sampailah di depan gang rumahnya tanpa ada perbincangan di sepanjang jalan. Kami masing-masing hanya menutup mulut, karena tidak terbiasa dengan apa yang sedang terjadi.

“Disini aja Pak, udah deket rumah saya tuh di ujung gang ini.” Kata Siti sambil menunjuk ke arah dalam gang.
“Oh iya..”
“Makasih ya Pa.” Ucap Siti lembut dengan senyum kecil yang manis.
“Sama-saaa…” aku terdiam melihat wajahnya yang cukup membuat jantung berdetak kencang. karena kebetulan disitu terdapat lampu neon yang tergantung di tiang listrik di bibir gang yang menambah efek cahaya pada wajahnya.

Siti adalah perempuan bersuami, berusia 2 tahun di atas aku, dandanannya yang natural sederhana membuatnya terlihat seperti masih remaja. cantik, wajah mungil yang imut, rambut sebahu, tinggi badan 150 cm, pipi cabi, mata sipit, kulit putih, namun belum punya anak.

“Paaa…” guncangang tangan Siti di stang motorku, seakan membangunkanku dari mimpi indah.
“Eh iya, kenapa?” jawabku
“Kok memandang Siti seperti Itu? emangnya ada apa sama muka Siti?” Tanya Siti malu-malu.
“ng..ng..nggak apa-apa.” Jawab ku gelagapan..
“Sekali lagi makasih ya Pa.”
“Mmm Iya..” Aku pergi tancap gas tanpa basi basi. Entah bagaimana reaksi Siti kutinggal pergi begitu saja. Sepanjang jalan aku hanya kepikiran serupa wajah yang kulihat begitu melekat di mata ini meski dengan mata sembab tapi terlihat mempesona.

Esok harinya Aku pergi kerja seperti biasa dengan motor matic kesayangan yang baru dibeli 1 tahun yang lalu, saat itu motor matic ini menjadi primadona. Saat melewati gang rumah Siti sekilas aku melihat ada gadis di depan toko pinggir jalan sedang berbelanja dengan pakaian terusan selutut. Begitu indah dipandang mata meskipun dilihat dari belakang. “Apa itu Siti?” Benakku bertanya sendiri. tapi tak kuhiraukan lebih lanjut karena aku harus segera sampai mall.

Waktu menunjukan Pukul 13.45, waktunya briefing shift 2 yang akan memulai pekerjaan pukul 14.00. Semua Cleaner (sebutan pegawai cleaning service yang bekerja di area) berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dari Supervisor atau Foreman, namun saat itu aku tak melihat Siti dan aku baru tahu kalo hari ini day off nya Siti setelah aku melihat jadwal kerja cleaner toilet setelah briefing selesai.

“Kok liat-liat day off anak toilet Pak Sandy?” Tanya Santi padaku dan membuat aku kaget setengah mati.
“Ng..ng..nggak, saya liat day off anak area..” aku ngeles kaya bajaj.
“Hmmm, Palingan nyari Siti ya..?” tanya Santi penuh curiga.
“Gimana tadi malam? Siti utuh kan sampe ke rumahnya? Nggak mampir ke mana-mana dulu kan? Ga diapa-apain kan? berendelan pertanyaan Santi Padaku
“Apaan Bu Santi ini, ya nggak lah, Siti saya antar sampe depan gang rumahnya dengan selamat, kalo ada apa-apa setelah itu ya bukan tanggung jawab saya…” sanggahku.
“Iiihh, gimana Pak Sandy ini, Siti kan perempuan cantik. Kenapa ga dianter sampe depan rumahnya, gimana kalo terjadi apa-apa? sekarang dia ga masuk kerja kan?” Goda Santi padaku.
“Loh, kenapa jadi saya yang salah, Siti kan libur hari ini jadi mana ada di tempat kerja.”
“Nah loh, bener kan liat-liat day off nya anak toilet…” Goda Santi lagi.
“Udah aahhh saya mau ke area aja..” Aku pergi meninggalkan Santi dan kantor dengan kesal, sementara Santi masih tersenyum dengan tatapan penuh curiga padaku.

Yaaaa, sebenarnya kuakui memang sedikit ada rasa yang berbeda setelah kejadian tadi malam. Semalam pun sebelum aku tidur bayangan wajahnya sempat membuatku terjaga, rasa ingin bertemu dengan Siti sangat besar dan berharap segera bisa bertemu Siti hari ini.
“Aaarrgghhh… ada apa dengan kepalaku ini, kenapa senyum kecil Siti semakin jelas saat aku menutup mata… oh Tuhan, jangan sampai ada rasa terlarang di hati ini.” Gumamku sendiri.

Bersambung

Cerpen Karangan: Jaka L Hakim

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 29 April 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Rasa Terlarang (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Not Your Choice

Oleh:
Namaku Aldy, aku memiliki masa kuliah yang sangat membosankan, karena rutinitas yang selalu begitu-begitu saja setiap harinya. Namun aku bertemu dengan mahasiswa transferan yang menarik perhatianku. Setelah beberapa kali

Tertipu

Oleh:
Guyuran air dingin mengembalikkan kesadaranku hingga penuh. Bulir air yang menghantam kepala dan pundakku mental tak beraturan, kadang membasahi handuk yang ku gantung di dekat pintu. Suara hempasan air

Hati dan Rembulan

Oleh:
Kurentangkan tangan di antara karang karang dangkal di dasar laut. Kututup mataku untuk sesaat saja. Hiruk pikuk hidup ini telah aku cicipi. Aku lelah dengan semua ini. Mengapa aku

Setetes Tinta (Part 1)

Oleh:
Dion mendesah keras. Alissa selalu saja seperti ini. Buku-buku berserakan di ruang tamu. Dion berkacak pinggang. “Adek. Kalo habis belajar buku-bukunya di beresin dong”. Omelnya dengan suara keras. Mengingat

Kisahku Yang Tak Berjalan Mulus

Oleh:
Perkenalkan namaku Revan, sekarang aku kelas XI di Madrasah yang terkenal di kotaku. Aku akan menceritakan sebuah kisah cintaku yang berakhir dengan kebencian dan tidak berjalan lancar. Sebut saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *