Remember Summer (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 June 2016

Apa yang akan kalian pikirkan jika mendengar kata “SUMMER?” Pasti yang ada di pikiran kalian adalah sebuah musim panas di daerah empat musim selain Indonesia. Lalu bagaimana bila Summer itu adalah sebuah nama? Menurut kalian apakah ia seorang wanita ataukah seorang lelaki?
Aku mengenal satu. Ia seorang pemuda berusia tujuh belas tahun dan namanya ‘Summer’. Tanpa embel-embel apapun. Teman-teman sering kali mengoloknya dengan memanggilnya “SUM”. Namun ia tampaknya selalu cuek dan tidak perduli. Ah, ya dan ia adalah salah seorang sahabat terbaikku.
Aku mengenalnya sejak aku duduk di bangku kelas satu. Ia adalah teman sebangkuku. Aku yang tidak terbiasa bersama lelaki cukup gugup karena baru kali itu aku duduk di samping lelaki. Maklum saja, aku memang dikelilingi oleh para teman wanita. Teman lelaki pun hanya sekedar menyapa dan tahu namanya saja. Dan kegugupan itu sirna ketika mengetahui ia adalah pemuda yang sopan dan supel. Ditambah ia memiliki sifat humoris yang menyenangkan. Semenjak itu kami bersahabat. Ketika istirahat sering kali ia mengajakku ke kantin bersama, bahkan melindungiku dari olok-olok teman-teman sekelas. Seperti namanya “SUMMER” ia pribadi yang hangat, menyenangkan dan selalu bersinar. Hanya satu masalah, aku jatuh cinta padanya yang hanya menganggapku sebagai sahabatnya.

Perasaan itu selalu kusimpan hingga kami berada di bangku kelas tiga. Entah mengapa takdir selalu membuat kami sekelas. Dan setiap kali kami sekelas, ia selalu memilih untuk duduk di sampingku. Selama itu pula aku tak berani merusak persahabatanku dengannya. Menyedihkan? Tidak. Karena bagiku berada di sisinya sudah cukup menyenangkan. Selain itu aku tahu, aku tak akan ada celah mendapatkan hatinya. Ia sudah menyukai seseorang. Seseorang yang lebih diatasku. Dan kau tahu? Mereka selalu terlihat cocok bersama.

“Kaly!” panggilan akrab itu membuatku menoleh dan menemukan raut wajah Sofi yang memberikanku cengiran lebarnya.
“Ada apa?” tanyaku menyipitkan mata merasa curiga akan senyum lebarnya yang penuh akan maksud tersembunyi.
“Pinjam Pe-er Geografimu dooong.” Nah, benar bukan dugaanku. Aku hanya mendesah pelan kemudian mengeluarkan buku tulis berwarna biru dari laci meja dan meletakkannya di atas meja Sofi.
“Terima kasih. Kamu memang sahabat terbaikku.” Ucap Sofi yang kubalas dengan cibiran namun diacuhkannya dan secepat kilat berusaha menyalin tugas geografi yang memang harus dikumpulkan di jam pertama. Sofi adalah salah seorang sahabatku lainnya, kami akrab karena merasa cocok. Ia duduk di belakangku bersama teman sebangkunya, Dana. Selain itu Sofi satu-satunya yang mengetahui perasaanku.
“Kaly.” Suara panggilan yang mendayu itu menarik perhatianku dan mendapati sosok gadis bertubuh langsing semampai berjalan menghampiriku.
“Hey Sell.” Sapaku pada salah seorang primadona sekolah ini. Ia menganggukkan kepalanya kemudian menatap sekeliling dan tanpa ia berkata apapun aku tahu siapa yang ia cari.
“Dimana Summer?” tanyanya membuatku tersenyum miris akan terbuktinya dugaanku.
“Summer belum datang, Sell. Mau titip pesan?” Sella menatapku sesaat kemudian mendesah pelan.
“Nanti tanyain dia dong, aku bisa nebeng pulang atau engga. Hari ini supirku sakit. Tadi aku dianter sama ayahku. Tapi pulangnya ga ada tebengan. Tolong ya?” aku terdiam sesaat namun kemudian berusaha tersenyum padanya.
“Nanti akan aku sampaikan.” Ucapku yang diikuti anggukan gadis itu kemudian berbalik pergi kembali ke kelasnya.
“Heran aku. Apa sih yang membuat cewek-cewek suka sama cowok macam Sum-sum itu sih?” ucapan Sofi yang pelan tepat di belakangku membuatku menoleh dan mendapati dirinya yang sedang manyun.
“Ya ampun aku lupa. Kalau yang depan ini juga sama aja.” Ucap Sofi yang dibalas olehku dengan memutar kedua bola mataku.
“Yah, apapula yang kamu lihat dari Steven.” Balasku menyebutkan salah seorang gebetannya yang memang menjadi salah seorang cassanova di sekolah.
“Bedalah. Steven itu kan memang ganteng. Mukanya bule. Nah, si Sum-sum? Mukanya itu indo banget alias muka kampung!”
“Oh, maaf deh kalau muka aku kampungan.” Selaan itu membuat kami tersentak dan menoleh bersamaan ke sumber suara yang sudah berdiri di sampingku. Ia menyipitkan mata menatap Sofi dengan kesal.
“Engga usah tersinggung gitu Sum. Masih mending aku gak bilang kamu jelek.” Ucap Sofi ketus yang membuatku tersenyum. Begitulah Sofi dan Summer setiap hari. Seperti anjing dan kucing yang selalu mengisi hariku. Meski terkadang kesal namun kalau tidak melihat mereka adu mulut rasanya ada yang kurang.
“Kalau gitu makasih pujiannya. Tapi sayang, aku gak butuh.” Balas Summer dengan sarkastik kemudian meletakkan tasnya di bangku sebelahku. Tatapannya beralih ke arahku yang kusambut dengan senyuman ceria.
“Pagi Sam. Kok telat?” sapaku. Matanya berbinar kemudian menjatuhkan tubuhnya di bangku. Entah mengapa ia sangat menyukai ketika aku memanggilnya Sam dan tidak ikut menggunakan “Sum” seperti yang lainnya.
“Pagi Lyn. Biasalah main game.” Jawabnya yang kubalas dengan anggukan kemudian terkekeh pelan. Kebiasaannya bermain game memang sudah sangat aku kenal. Terlebih ia sangat suka menceritakan permainan-permainan itu padaku. Bisa dibilang aku adalah pendengar setianya.
“Tapi sudah buat pe-er?”
“Udah dong. Emangnya Sofi yang cuma bisa ngecengin cowok.”
“Ehhh Sum, kalau mau ngegosipin orang jangan pas orangnya di sini dong.” Celutuk Sofi kesal seraya melemparkan kertas yang mengenai rambut cepak Summer.
“Pantesan aja Steven lari liat kamu, lha kamunya galak banget. Jadi tuh kaya Lyn. Halus, lembut, pendiam.” Summer yang tak mau kalah melempar kembali kertas yang sudah diremas dan berbentuk bola itu ke arah Sofi.
“Ih. Biarin. Lagian apaan sih Lyn-Lyn-Lyn. Namanya Kalynaaa, Sum-sum. Nyebelin amat nih anak, ngeganti nama orang seenaknya.”
“Yee. Lyn aja gak keberatan. Situ yang nyolot. Emang situ siapanya? Emaknya?” aku yang tak bisa menahan tawa akhirnya terbahak mendengar adu mulut mereka yang begitu akrab di telingaku.
“Udah. Tuh Pak Baroto udah datang.” Ucapku menyela pertengkaran mereka sembari menunjuk sosok gempal guru geografi yang terbilang killer-teacher itu. Melihat Pak Baroto yang melangkah memasuki kelas akhirnya membuat keduanya terdiam dan mulai sibuk mengeluarkan buku pelajaran.

“Ah, Sam.” Bisikku pelan yang hanya dapat didengar oleh Summer. Ia yang tengah mengeluarkan buku menghentikan kegiatannya dan menatapku dengan alis terangkat.
“Eng, tadi Sella ke sini. Dia bilang mau nebeng pulang. Supirnya sakit.” Jelasku lirih berusaha tidak menatap matanya yang aku tau akan berbinar setiap mendengar nama gadis itu.
“Sungguh?” nada antusias tersirat di dalamnya. Aku hanya mengangguk sambil menundukkan kepala dan pura-pura sibuk mencari sesuatu di dalam tasku.
“Ah. Tapi aku gak bisa ya.” Ucapannya membuatku seketika menatapnya dengan heran.
“Kenapa gak bisa? Kamu ada acara?”
“Kamu. Kan aku antar kamu pulang dulu.” jawabnya santai namun saat itu juga mampu membuatku terbang setinggi-tingginya. Aku terdiam sesaat berusaha kembali berpijak di bumi.
“Aku tidak apa-apa kok.” Kataku lirih setelah menemukan suaraku.
“Tentu saja kamu tidak akan apa-apa. Tapi aku sudah berjanji dengan Bunda untuk mengantarkanmu pulang.”
“Tidak. Aku bisa pulang dengan Sofi. Lagipula ini kesempatanmu bersama Sella bukan?” aku menatapnya dengan senyuman tulus sekalipun hatiku seakan retak.
“Apa.. kamu yakin?” tanya Summer ragu. Aku mengangguk untuk meyakinkannya.
“Lagipula hari ini aku dan Sofi berencana melakukan kegiatan perempuan.”
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih Lyn. You’re the bestfriend i ever have.” Dan aku sekali lagi hanya mampu tersenyum.

“Kalau ada yang tanya siapa orang yang aku kenal yang paling bodoh sedunia itu jawabannya kamu, Kal.” Sofi menatapku sambil menyuapkan sesendok besar eskrim vanilla ke dalam mulutnya.
“Apa maksudmu mengatai aku bodoh?” aku menyipitkan mataku ke arahnya.
“Ya bodoh aja. Bayangin kamu nyuruh si Sum-sum tulang itu nganter pulang Sella. Sama aja kamu ngasih daging bagianmu ke monyet.”
“Ya gak apa-apa lagi Sof. Toh memang Sam sama Sella saling suka. Lagian monyet gak makan daging. Mereka makan pisang.”
“Iya, tapi kalau kaya gitu kamu kan bisa menghalangi mereka. Emang monyet makan pisang tapi gimana kalau monyet itu bermutasi jadi karnivora? Bisa ajakan.”
“Ah kamu itu kebanyakan nonton kartun Sof. Lagipula aku bukan seperti itu orangnya. Aku memang suka sama Summer. Lalu kenapa? Apa karena aku suka terus aku harus maksa Sam suka padaku? Perasaan itu gak bisa dipaksa, Sof. Kalau Sam dan Sella memang sama-sama suka. Aku lebih baik mundur. Aku tidak mau menyakiti Sam. Bukannya itu yang dinamakan mencintai?”
“Hah. Ribet kali jadi hidupmu Kal. Cinta itu kaya t*i. Sakit-sakit gimana tapi ujung-ujungnya ya keluar.” Mendengar gerutuan Sofi sarkastik membuatku tertawa dan menggelengkan kepala.
“Udahlah gak usah dibahas. Aku ke sinikan mau jalan sama kamu. Bukan bahas perasaanku.” Sofi hanya memutar kedua bola matanya kemudian mengangkat bahunya dengan acuh.

Apa yang dikatakan oleh Sofi memang benar. Mungkin aku adalah orang terbodoh di dunia. Ketika orang yang aku cintai berada di dekatku aku tidak berusaha menggapainya namun melepaskannya. Meski itu membuat hatiku hancur namun senyumannya jauh lebih berarti untukku. Untuk apa memiliki jika dia tidak mencintaimu?
“Lyn.” Panggilan itu membuatku tersentak dan menemukan pemuda yang selalu dalam bayangku sudah duduk manis di sampingku. Matanya berbinar hangat dan senyumnya begitu ceria. Ia terlihat begitu bersemangat hari ini.
“Sam. Gimana kemarin?” sapaku ikut tertular semangatnya.
“Jangan bilang-bilang ya. Kemarin aku jadian sama Sella.” Bisiknya pelan dengan senyum sumringah. Aku langsung terpaku mendengarnya seakan baru mendengar kabar terburuk dalam hidupku. Tenggorokkanku terasa kering dan hatiku seakan-akan baru saja ditusuk dengan begitu kuat hingga terasa begitu menyakitkan.
“Lyn?” ia menyenggol lenganku perlahan membuatku tersentak. Dengan segera aku memasang senyum meskipun aku tahu senyum itu tak akan berhasil.
“Begitukah? Kalau begitu selamat ya. Bukankah selama ini kamu memang mengejar Sella?” ucapku berusaha terdengar riang. Ia terdiam sesaat matanya seakan menyelidikiku tapi kemudian ia tersenyum membuatku semakin sesak melihatnya menganggukkan kepala.
“Terima kasih. Ah, Hem, mungkin aku tidak bisa mengantarmu pulang hari ini. Tidak apa?” dan seperti orang bodoh aku hanya bisa mengangguk (lagi).

Semenjak hari itu, Summer berubah. Ia yang biasanya selalu mendahulukan kepentingan diriku, kali ini selalu berusaha memenuhi kebutuhan Sella. Dan aku maklum akan hal itu. Meski begitu aku tetap mencintainya diam-diam. Hubunganku dengan Summer sedikit merenggang ditambah gosip mengenai dirinya yang berpacaran dengan Sella langsung menyebar begitu cepat. Yang membuatku sedikit bingung adalah gosip tambahan mengenai diriku yang dicampakkan oleh Summer dan beralih kepada Sella. Walau aku tahu Summer membantah hal tersebut dan membelaku aku tetap berusaha tidak mempedulikan gosip itu. Toh, memang Summer menganggapku sebagai sahabatnya dan tidak lebih.
“Kalyn!” aku menoleh dan menatap sosok tegap tampan menghampiriku dengan kaos basketnya yang basah. Rambut cepaknya yang basah karena keringat tampak jatuh melekat di keningnya.
“Hay Steve.” Sapaku meski sedikit bingung karena tidak biasanya lelaki yang menjadi idola nomor satu di sekolah ini menghampiriku.
“Aku dengar kamu menjadi panitia perpisahan ya?” tanyanya seraya melap keringat yang masih bercucuran di wajah tampannya.
“Iyap. Aku jadi seksi konsumsi nih. Gimana?”
“Ah, kalau begitu salam kenal. Aku juga ditunjuk jadi seksi konsumsi.” Ucapannya membuat mataku membulat.
“Kamu?” tunjukku kemudian membayangkan dirinya yang membagikan kotak-kotak makanan kepada para siswa perempuan yang pastinya akan heboh.
“Iya, memang kenapa?” ia menatapku heran kemudian aku tak bisa menahan kekehanku.
“Hey, apa kamu mentertawakanku?” ia menyipitkan mata dan membuatku menjadi tertawa lebar.
“Tentu saja aku tidak bisa membayangkan seorang cassanova membagikan makanan kepada para siswa? Itu akan membuat semua heboh.” Jawabku disela tawa membuatnya mendengus kemudian menjitak kepalaku pelan.
“Kamu bahkan belum mengenalku sedekat itu dan sudah menuduhku seorang cassanova. Panggilan itu sebaiknya lebih cocok untuk sahabatmu.”
“Sahabatku? Maksudmu Summer?”
“Iyalah. Siapa lagi.” aku tertawa lagi melihat wajah cemberutnya. Ah, jika Sofi disini ia pasti akan histeris melihat pemuda tampan ini berbicara denganku. Steven dengan wajah tampannya berkat darah australia dan manado membuat wajahnya sedikit kebaratan. Ditunjang dengan tubuhnya yang tegap dan berbentuk. Meski tingginya masih dibawah Summer. Summer tidak setampan Steven. Ia justru memiliki raut wajah tegas dan kasar. Namun pribadinya yang hangat dan riang serta ramah membuatnya begitu diidolakan setelah Steven tentunya.
“Maafkan aku. Baiklah. Mohon bantuannya selama beberapa hari ke depan” Aku mengulurkan tangan ke arah pemuda tampan itu. Steven menatapku sesaat kemudian senyumnya mengembang dan ia membalas jabat tanganku.
“Mohon bantuannya juga, mungil.” panggilannya membuatku menyipitkan mata.
“Aku tidak mungil.” bantahku sembari menyentak jemarinya. Kini gantian ia yang tertawa.
“Kamu memang mungil, seperti bocah smp.”
“Hey, aku tidak..”
“Lyn.” Suara berat itu menyela percakapanku dan aku menoleh ke belakang untuk melihat Summer yang tengah berdiri dan menatapku dengan tatapan yang aneh. Pandangannya beralih ke Steven kemudian kembali kepadaku.
“Ah. Sam. Ada apa?” sapaku berusaha terdengar riang.
“Kamu dipanggil Pak Baroto.” Kali ini suara feminim yang menjawab dan sosok perempuan muncul dari belakang tubuh Sam, gadis itu Sella.
“Begitukah? Oh. Terima kasih sudah memberitahuku.” Ucapku berusaha terdengar biasa saja. Tiba-tiba Steven menahan lenganku.
“Ayo kuantar.” Ucapnya membuatku menoleh ke arah pemuda itu.
“Ah.. “
“Dia bisa pergi sendiri.” Lagi-lagi Sam menyela membuatku kembali menatapnya dengan bingung. Tatapannya kali ini tidak tertebak. Begitu datar dan ia mengalihkan tatapannya ke tangan Steven yang menggenggam lenganku.
“Tidak apa-apa. Kamu tidak keberatan kalau aku mengantarmu sampai ruang guru?”
“Dia bukan anak kecil lagi dan ia tidak perlu diantar.” Aku menatap Sam dengan bingung karena seolah ia yang menjawab pertanyaan Steven.
“Aku tidak bertanya padamu.” Nada ketus Steven sedikit mengejutkanku. Entah mengapa aku langsung merasa tanda alarm berbahaya berbunyi di benakku.
“Dia benar Steven. Aku bisa pergi sendiri. Terima kasih untuk tawarannya.” Aku menepuk tangannya yang masih memegang lenganku dengan pelan.
“Tapi..”
“Lagipula tidak sopan kamu berkeringat seperti itu masuk ke ruang guru. Kamu tahu secinta apa Pak Baroto pada kebersihan.” Selaanku membuat Steven terdiam kemudian mendesah. Perlahan sikap santainya kembali dan ia tersenyum padaku.
“Kau benar. Kalau begitu sampai ketemu, mungil.” Setelah mengatakan itu ia menepuk kepalaku dan berjalan menjauh meninggalkanku yang hanya bisa terngaga akan sifatnya yang sok akrab dan itu di depan Summer pula (Ralat! di depan Summer dan pacarnya)
Tatapanku kembali pada Summer namun kali ini aku melirik Sella yang seakan menatapku dengan tajam dan tidak suka?! “Eh, Em. Sebaiknya aku segera ke ruang guru. Sampai jumpa, Sam.” Ucapku canggung kemudian berjalan melewati pasangan itu dan merasa dua pasang mata yang masih menatapku dengan lekat. Aku berusaha menahan langkahku agar tidak berlari dan mendesah pelan saat sudah berada di depan ruang guru. Hari itu adalah kali pertama aku melihat Summer yang seperti itu dan sama sekali tidak mengerti alasan ia bersikap seperti itu. Seperti seseorang yang cemburu? Ah, itu tidak mungkin. Sangat tidak mungkin.

Cerpen Karangan: yvonemelosa
Blog: www.duniadalamimajinasi.com
Facebook: https://web.facebook.com/yvoniaphenomenic

Wanita berusia twenty-something yang masih berjuang mencari kerja dan dalam sela waktu luangnya suka berkhayal dan menuangkannya dalam bentuk cerita. Masih belajar membuat cerita yang membuat pembaca terhanyut di dalamnya. Saat ini sedang aktif menulis di Watty berusaha belajar membuat cerita yang lebih panjang. Ditambah memiliki anxiety disorder membuat kegiatan menulis sedikit terganggu.

Cerpen Remember Summer (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Temukan Hati Yang Tak Biasa

Oleh:
Aku wanita yang tak begitu peduli dengan cinta. Entah mengapa aku sendiri pun terasa tak punya alasan untuk menjawabnya. Ketidakpedulianku ku buktikan hingga saat ini, aku masih betah sendiri

Awkward Couple

Oleh:
Ini bukan sepenuhnya salahnya, aku juga turut andil dalam hal ini. Aku pusing. Sudah seharian ini dia tak memberiku kabar. Aku juga tak cukup berani untuk sekedar menanyakan kabarnya.

Demam Korea

Oleh:
“Yun, nanti pulang sekolah anter aku ke toko buku ya” kata Regina, Sahabatku yang sedang menyantap satu piring bakso di kantin saat istirahat “males ah, pasti mau beli buku

Cinta Datang Terlambat (Part 1)

Oleh:
Namaku Clara Sylonica. Nama yang cukup aneh bagiku. Kota Manchaster City adalah kota kelahiranku sekaligus kota tempat aku tinggal. Aku adalah anak dari pasangan Pak Aryo, seorang perantau asal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *