Remember Summer (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 June 2016

“Sejak kapan kamu akrab dengan Steven?” pertanyaan itu terlontar dari bibir Sam. Hari itu hari paling terbahagia untuk seluruh siswa kelas tiga. Hari terakhir ujian nasional telah berakhir dan tinggal menanti pengumuman kelulusan. Saat itu aku orang yang paling terakhir keluar dari ruangan dan sedikit mengejutkan karena Sam juga belum pulang. Aku memang ada urusan harus mengerjakan proposal konsumsi perpisahan nanti. Sedikit merepotkan namun tidak sulit dan tidak terlalu menyita waktu. Sedangkan Sam? Aku tidak tahu alasannya dan sedikit heran karena Sam seharusnya sudah pulang dari tadi. Apalagi biasanya ia mengantarkan Sella pulang bukan?
“Oh. Steven ditunjuk jadi seksi konsumsi begitu pula aku.” Jawabku menatap raut wajah Sam yang tak terbaca.
“Ditunjuk? Benarkah?” ucapannya begitu lirih namun tetap saja aku dapat mendengarnya.
“Steven sendiri yang bilang seperti itu.” Sam terdiam sejenak. Keheningan menyeruak membuatku merasa tidak nyaman. Sebelumnya Sam sama sekali tidak pernah besikap seperti ini.
“Em. Kenapa kamu masih di sini? Tidak mengantar Sella pulang?”
“Sella pergi dengan temannya. Aku akan mengantarmu pulang.” Aku sedikit terkejut meskipun seharusnya tidak. Hanya saja semenjak ia punya pacar, Sam sudah tidak lagi mengantarku pulang.
“Ah. Tidak perlu. Aku bisa kok pulang sendiri.” Tolakku halus. Aku tidak ingin gosip kembali beredar. Meskipun aku tidak peduli, namun mengingat tatapan Sella tempo hari rasanya tidak nyaman.
“Tidak apa. Lagipula kita sudah jarang pulang bersama. Ada yang ingin aku tanyakan juga.” Ucapnya Sam sembari menatapku dengan tatapan mata yang tak mampu kutolak. Aku terdiam sesaat sebelum mengiyakan ajakannya.
“Kalau begitu aku bereskan proposal dulu dan menyerahkannya ke Pak Baroto baru pulang.”
“Akan kutunggu.” Ucapnya kemudian mengeluarkan smartphone dan mulai tenggelam dalam kesibukkannya. Aku sempat menatapnya sesaat merasa sedikit aneh dengan tingkah lakunya kemudian mengangkat bahu dan kembali mengerjakan proposal yang harus diserahkan kepada Pak Baroto hari itu juga.

“Jadi, kamu sudah memutuskan akan kuliah dimana?” tanya Sam ditengah deru sepeda motornya yang berisik. Aku sampai harus mencondongkan tubuh ke arahnya agar dapat mendengar ucapannya. Meski itu berarti aku harus sangat dekat dengannya bahkan memegang pinggangnya.
“Belum.” Jawabku setengah berteriak. Meski sebenarnya aku berbohong padanya. Karena sejujurnya aku bahkan sudah diterima di salah satu universitas negeri melalui jalur khusus. Hanya saja itu bukan di Semarang dan entah mengapa aku tidak ingin ia mengetahuinya.
“Negeri atau Swasta?” tanyanya lagi dan aku tidak tahu ia sengaja atau tidak namun Sam melajukan sepeda motornya yang sebesar gajah itu semakin cepat membuatku semakin tergeser ke depan dan mau tidak mau harus memeluknya agar tidak kehilangan keseimbangan.
“Negeri. Bisakah kamu pelan-pelan saja?” teriakku sedikit gemetar ketika ia menyelipkan motor besarnya itu di tengah apitan dua bus besar.
“Kenapa? Bukankah ini asik?” ia balas berteriak.
“Tidak. Ini menakut.. hyaaaa.” aku kembali berteriak ketika Sam malah menambah kecepatannya diiringi tawanya yang menyebalkan.

“Kamu gilaa, Sam!” sungutku kesal sembari melompat turun dari atas motor. Sam terbahak melihat wajahku yang pasti semerah kepiting rebus.
“Jangan tertawa!” aku mencubit lengannya untuk membuatnya menghentikan tawanya dan itu sangat berhasil. Ia langsung mengaduh dan meminta ampun.
“Kalau aku jantungan itu salahmu.” Ucapku kesal kemudian Sam hanya mengangkat bahu acuh. Aku tak bisa melihat raut wajahnya karena terhalang akan helm yang hanya memperlihatkan kedua bola matanya.
“Itu akan tetap membuatmu hidup.” Jawab Sam membuatku kembali memukulnya tapi kali ini ia mengelak dan kembali tertawa.
“Sampai jumpa, Lyn.” Setelah mengatakan itu ia mengulurkan tangan dan mengacak rambutku membuatku berteriak. Belum sempat aku membalas, Sam sudah memacu motornya meninggalkanku yang hanya bisa berteriak marah.
“Sudah kubilang jangan mengacak rambutku!!”

Hubunganku dengan Sam memang tidak berubah. Dekat namun tak sedekat dulu. Hanya aku tahu betapa ia berusaha tetap menjaga persahabatannya denganku. Akulah yang menjaga jarak dengannya. Rasanya aku tahu bahwa Sella sama sekali tidak menyukai kedekatanku dengan pemuda itu. Bahkan ketika pesta perpisahan dimulai sebenarnya Sam mengajakku datang bersamanya namun aku menolak meskipun ia berkata akan meminjam mobil ayahnya. Tetap saja kecanggungan karena Sella pasti berada di sana membuatku tak nyaman. Jadilah aku berangkat bersama Sofi.
Sedikit repot karena ketika pesta perpisahan yang diadakan malam hari di sebuah hotel cukup mewah serta dengan dresscode ‘formal party’ membuatku harus menggunakan dress selutut dan tanpa lengan sambil mengurus konsumsi anak-anak agar cukup ketika perpisahan berlangsung.
Yang membuatku terkejut MC perpisahan ini adalah Sella yang memang ditunjuk oleh anak-anak. Ia sering kali meramaikan acara dengan menjadi pembawa acara jika ada event di sekolah. Saat itu aku tidak berpikir bahwa Sella merencanakan sesuatu. Dan hal itu yang menghancurkan hubunganku dengan Sam.

Pesta perpisahan diawali dengan doa, kata sambutan dan acara formalnya. Begitu para guru pulang. Barulah pesta untuk para siswa dimulai. Acara dimulai dengan band-band pembuka kemudian diselingi dengan berbagai permainan dan tentu saja tidak lupa acara makan bersama. Namun saat acara perpisahan hampir berakhir, Sella memberikan permainan yang merusak malam itu.
“Sebelum acara ini berakhir. Saya ingin memberikan permainan. Permainan yang sangat menarik.” Perkataan Sella menarik seluruh siswa yang asik mengobrol riuh. “Di dalam kotak ini ada nama-nama yang pada awal acara sudah diminta pada para siswa untuk menulis namanya kemudian memasukkannya ke dalam kotak kaca ini.”
“Sebelumnya saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kalian pasti pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang. Atau marah dan benci pada seseorang. Namun secara diam-diam. Disini saya memberikan kesempatan pada kalian untuk mengungkapkannya pada seseorang itu. Nah, Saya yang akan menarik nama itu dari kotak kaca ini dan membacakannya. Nama yang saya sebut silahkan maju ke depan.” Sella memasukkan tangan ke dalam kotak. Kemudian meraih gulungan kertas yang berada di bagain atas. Semua siswa terdiam melihat Sella membuka gulungan itu dan membacanya. Gadis itu terdiam selama beberapa menit membuat kesunyian semakin mencekam.

“Kalyna Aaliyah.” Berapa ratus pasang mata langsung menoleh ke arahku yang tengah asik mengunyah kue cokelat di samping Sofi. Hampir saja aku tersedak begitu menyadari namakulah yang disebut.
“Kaly. Namamu tuh.” Seorang gadis dari kelasku menepuk pundakku. Sofi melotot ke arah gadis itu.
“Mundur saja. Cuekin saja.” Ucap Sofi seraya menahan tanganku. Aku terdiam sesaat kemudian menggelengkan kepala.
“Ini hari terakhirku.” Bisikku pelan kemudian menyerahkan piring kecil itu ke arah Sofi yang diterima gadis itu dengan pasrah. Aku berjalan menuju panggung. Namun begitu aku berdiri di atasnya. Tekadku goyah. Apa yang aku lakukan di sini? Apa aku bodoh? Disaksikan ratusan mata, terlebih hal ini bisa merusak persahabatanku. Ditambah Sella berdiri di sini. Menjadi MC acara.
“Jadi, kepada siapa kamu akan mengungkapkan perasaanmu?” tanya Sella.
“Eh..itu.. tidak.. tidak ada.” Ucapku.
“Sungguh? Hmm.. bagaimana kalau kepada sahabatmu saja? Kamu bisa menyampaikan keluh kesahmu.”
“Eh.. tidak. aku tidak..”
“Tidak apa. Summer, bagaimana kalau kamu maju ke depan?” Sella melambai ke arah Summer yang berdiri di samping panggung. Ia melotot ke arah Sella. Seakan enggan untuk maju. Namun beberapa orang mendorongnya ke depan membuatnya terpaksa melangkah ke atas panggung. Bahkan Sella menariknya ke hadapanku.
“Jadi? Bagaimana? Mungkin Kaly memiliki perasaan terpendam kepadamu.” Nada Sella yang pedas membuatku tersentak begitu pula dengan Sam. Ia menatapku dengan tak nyaman dan berusaha menarik tangannya dari Sella.
“Sell. Aku gak suka caramu.” Ucap Sam berusah menarik Sella.
“Lho. Kenapa? Aku yakin satu sekolah bertanya-tanya akan hubunganmu dengan Kaly. Dan bukankah ini saat yang tepat untuk menegaskan siapa pacarmu yang sebenarnya?” suara Sella yang bernada kesal membuat seluruh siswa langsung riuh.
“Sell. Kaly itu sahabatku.” Ucap Sam berusaha menarik Sella.
“Kalau begitu tanyakan padanya. Dia melihatmu seperti apa!” Aku terdiam saat pandangan Sam beralih ke arahku. Tatapannya terasa begitu tersiksa dan membuat hatiku terasa retak dan jatuh ke lantai. Aku menatap mata hitamnya. Bayangan akan kebersamaan kami terbayang di benakku. Dan aku tahu, sampai kapanpun aku tak akan bisa menganggapnya hanya sekedar sahabat. Suatu saat perasaan ini akan meluap dan tetap merusak hubunganku dengannya. Jadi ketika aku sudah terlanjur basah, mengapa tidak sekalian saja aku menyelam?
“Itu benar.” Bisikku perlahan sambil tetap menatapnya dengan mantap. Ia terpaku mendengar bisikku.
“Lyn. Apa maksudmu?” tanyanya dengan tatapan tak percaya.
“Itu benar. Aku memang menyukaimu.” Ucapku kali ini lebih keras dan membuat seluruh siswa langsung bersorak. Namun dengan sisa kekuatanku aku berusaha tetap berdiri.
“Kalyna.” Ucapnya yang membuatku sadar baru kali itu ia memanggil namaku, bukan Lyn yang hanya sekedar panggilan. Perlahan aku berusaha tersenyum meski aku tahu senyum itu akan terlihat jelek.
“Aku memang menyukaimu. Namun aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Dan aku tahu kamu menyukai Sella.” Jelasku pelan. Sam terdiam. Ia masih tetap menatapku dengan tatapan sedih dan terluka. Membuat perasaan bersalah menyusup ke dalam hati.
“Maaf. Maafkan aku.” Sam menutup matanya dan menundukkan kepala. Meskipun aku tahu jawabannya entah mengapa aku merasa aku kehilangan pijakan. Dan tiba-tiba saja Sofi sudah berdiri di sampingku.
“Sejak awal aku sudah tahu kamu memang bukan lelaki baik-baik. Apa kamu sudah puas mempermalukan Kaly?” Sofi merangsek maju ke arah Sam menghalangi pandangannya ke arahku.
“Aku tidak..” suaranya sarat akan kepedihan.
“Jangan banyak alasan. Aku memang membenci pemuda flamboyan sepertimu terlebih pacar primadonamu itu.” tiba-tiba saja Sofi berjalan menuju Sella dan merebut kertas kecil dalam genggaman gadis itu. Aku tidak bisa melihat seperti apa ekspresi Sofi ketika ia menunjukkan kertas itu ke arah Sam.
“Lihat. Apa ini nama Kaly? Cewekmu itu hanya cemburu dengan Kaly! Dan ingin mempermalukan Kaly. Dengar Sam. Mulai sekarang jangan dekat-dekat dengan Kaly! Dia sudah cukup tersakiti. Sudah cukup ia menahan perasaannya. Kaly itu terlalu baik! Bahkan untuk sekedar menjadi sahabatmu. Karena kamu cowok berengsek!” Sofi mendengus kemudian berbalik ke arahku yang masih berdiri seperti patung. Ia meraih tanganku dan menarikku turun dari panggung.
“Ayo pulang. Jangan sampai aku menghajarnya.” Sofi menyeretku melewati para siswa yang menatapku dengan penuh simpati. Namun saat itu aku tak menyadarinya. Aku tak bisa menangis dan tak mampu bereaksi apapun. Gerakanku terasa seperti robot usang yang sudah hancur. Aku hanya melangkah karena Sofi menarikku. Samar-samar aku mendengar Sam meneriakkan namaku. Namun Sofi tak memperlambat langkahnya. Ia bahkan mendorongku masuk ke dalam taksi. Aku juga tak menyadari Summerlah yang terus mengetuk pintu kaca mobil milik Sofi. Namun Sofi malah melajukan mobilnya dan meninggalkan Summer yang terus memanggil namaku.

Aku tak mampu menangis hingga Sofi menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan menarikku ke dalam pelukannya. Saat itulah seluruh beban perasaanku tumpah dan meluap. Aku menangis dan terus menangis hingga rasanya lelah dan tanpa sadar aku tertidur dalam perjalanan pulang. Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu Summer, karena hari selanjutnya aku langsung terbang menuju Jogjakarta tinggal bersama nenekku untuk menenangkan diri sekaligus mempersiapkan kebutuhan kuliahku. Meski awalnya terasa begitu berat, namun Sofi selalu memberikan dukungan padaku. Terlebih Ayah dan Bunda berusaha menghiburku. Mereka tahu kondisi hatiku, mungkin Sofi sudah menceritakan garis besarnya pada mereka. Dan sejak itu aku berusaha mengumpulkan kepingan hatiku yang seakan berceceran.

Bagiku persahabatan dengan Sam begitu indah. Ia adalah lelaki pertama yang memperlakukan dan menjagaku dengan lembut selain ayahku sendiri. Dan selain itu ia adalah cinta pertamaku. Seseorang yang mengajariku untuk jatuh cinta. Dan seperti kata orang kebanyakan. Cinta pertama itu tidak selalu indah dan sangat menyakitkan. Hanya saja jatuh cinta kepadanya tidak pernah aku sesali. Kenangan akan dirinya nantilah yang membentuk karakterku beberapa tahun ke depan. Ya, mengingat Summer membuatku jauh lebih berhati-hati dalam memilih dengan siapa aku jatuh cinta. Untukku Summer adalah musim panasku yang begitu indah sekaligus menyakitkan dan akan selalu tersimpan di sudut kecil hatiku.

Cerpen Karangan: yvonemelosa
Blog: www.duniadalamimajinasi.com
Facebook: https://web.facebook.com/yvoniaphenomenic

Wanita berusia twenty-something yang masih berjuang mencari kerja dan dalam sela waktu luangnya suka berkhayal dan menuangkannya dalam bentuk cerita. Masih belajar membuat cerita yang membuat pembaca terhanyut di dalamnya. Saat ini sedang aktif menulis di Watty berusaha belajar membuat cerita yang lebih panjang. Ditambah memiliki anxiety disorder membuat kegiatan menulis sedikit terganggu.

Cerpen Remember Summer (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apakah Ia Seorang Psikopat? (Part 2)

Oleh:
Aku mengantongi HP di saku celanaku, aku terkejut mendapati ada dompet di sakuku. Ternyata itu dompet Rukov, aku lupa mengembalikannya saat ia mengembalikan HP-ku. Aku merasa orang yang paling

Cinta Mengenal Rasa Bukan Usia

Oleh:
Hari ini hari pertama MOS, tapi gue ke sekolah bukan sebagai peserta melainkan sebagai kakak OSIS yang memang sebagai panitia acara MOS tahun ini. Kenalin nama gue Anatasya, kelas

Karena Kita (Part 2)

Oleh:
Hatiku yang hancur! Ketika cinta kita bergetar di hatiku! Sekarang, ketika kita telah usai, kau hancurkan hati itu! Ketika anda menghancurkan hati yang mencintai anda. Itu s-s-s-s-sakit sekali! Bagaimana

5 Hari Tanpa Dirimu

Oleh:
Saat itu tengah diselenggarakan Raimuna Cabang. Aku dan teman teman berada di homestay. Saat itu aku sedang belajar untuk LCTP. Kulihat dia sedang bergegas untuk pulang. Aku bersandar di

Nasi dan Ayam

Oleh:
Nasi dan ayam, makanan favoritku. Tidak ada yang bisa mengalahkan betapa enaknya ayam goreng yang berkulit gurih dengan nasi hangat yang tersedia setengah bundar di atas piring putih bermotif

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Remember Summer (Part 2)”

  1. nadya says:

    cerpennya bagus mengharukan kalau bisa ada lanjutannya dong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *