Rindu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 13 April 2016

Tak selamanya kangen itu untuk seorang mantan pacar, tak selamanya kangen itu pada kenangan indah yang dibuat pada masa lalu bersama orang yang dulunya disayang. Juga tak selamanya kangen itu, buat seorang yang dulunya sangat sulit buat dilepaskan. Tapi nyatanya dia lepas, dan pergi sendiri tanpa disuruh dengan alasan kebosanan. Terkadang kangen itu timbul kepada teman yang dulu sering sekali membuat kita jengkel dengan tingkah lakunya. Tetapi sekarang kita malah tidak bertegur sapa dengannya, karena suatu hal yang membuat keduanya berjauhan seakan tidak pernah kenal satu sama lain.

Padahal mereka dulu pernah akrab, mereka dulu pernah dekat, mereka dulu pernah tersenyum bahagia, mereka dulu sering sekali membuat kelas terasa penuh, ribut bahkan kelas menjadi kotor karena mereka berdua sering sekali bersenda gurau, berlemparan kertas bahkan penghapus papan tulis pernah mendarat di kepala mereka berdua. Mereka dulu pernah memancarkan senyum kebahagiaan di antara bibir-bibir mereka. Bahkan mungkin dulu keduanya, pernah merasa terpesona saat di antara satu sama lain tersenyum dengan manisnya. Dulu juga mereka pernah saling berpegangan tangan tanpa sengajanya, lalu mereka dulunya juga pernah saling pandang dalam pandangan yang sangat dalam, tajam, dan terasa kehangatan di antara pandangan-pandangan itu. Tetapi semuanya hilang, semuanya berubah, semuanya pupus.

Saat di antara mereka tidak dapat mengontrol emosi, tidak dapat mengontrol kata-kata mereka, tidak dapat mengontrol tingkah laku mereka. Lalu yang terjadi di antara keduanya setelah itu adalah seperti orang tidak kenal, seperti orang asing bagi mereka, seperti orang yang yang sudah lama menanam dendam saat mereka tak sengaja saling pandang. Bahkan saat nama mereka disebut satu sama lain, mereka seakan muak mendengar nama itu, mereka seakan sangat benci dengan nama itu, mungkin gendang telinga mereka juga seakan pecah saat mendengar nama di antara salah satunya saat dipanggil ke depan oleh guru yang sedang mengabsens kelas. Dan dari saat itulah mereka tidak pernah lagi seperti dulu.

Lalu dengan keadaan kelas? Yah! Akhir-akhir ini kelas terasa sepi, kelas masih tampak bersih seperti sedia kala, penghapus di kelas pun masih tertata rapi terletak dengan indah di singgasana tempat perletakan barang dan alat-alat kelas. Di kelas tak ada lagi yang ribut, tak ada lagi suara lantang di antara keduanya saling berlomba menjerit mengucapkan kalimat ejekan yang dikeluarkan dari mulut-mulut mereka, tak ada lagi kata-kata yang selalu dilontarkan dari teman kelas mereka, “Cieeee hati-hati lo, biasanya dari seejekkan, kejahilan, dan segilaan ini… jadinya cinta loh!! Hati-hati, nanti kalian jatuh cinta lagi.” dan tak ada lagi bekas gumpalan kertas yang dulunya sering sekali mereka lempar untuk saling berbalas-balasan. Ya. Kelas tidak sebising dulu, kelas tak sekotor dulu, dan tak ada lagi bekas gumpalan kertas seperti dulu.

Sekarang kelas masih tampak sedia kala, ejekan dari teman-teman juga tak terdengar di telinga mereka berdua. Lalu banyak juga teman-teman yang bertanya kepada mereka berdua, “Kok lo enggak lagi kayak dulu sama dia, enggak sejahilan, enggak saling kejar-kejaran. Kenapa?” keduanya hanya diam saat ditanya begitu, kedua mungkin tidak ada kata-kata yang dirangkai untuk menjawabnya. Jantung keduanya juga mungkin berdegup saat pertanyaan yang sama meluncur di telinga mereka. Kini keduanya terasa menabung dendam yang sangat dalam. Keduanya nampaknya tidak ada yang ingin memulai perdamaian. Banyak sudah nasihat-nasihat yang didapat dari teman keduanya untuk bertegur sapa lagi, untuk saling tolong menolong lagi, untuk saling meramaikan kelas lagi.

Sebenarnya salah satu di antara mereka berdua ingin sekali seperti dulu, dia ingin sekali menegurnya seperti dahulu, dia ingin sekali memulainya terlebih dahulu. Tetapi seorang ‘DIA’ itu adalah seorang “Perempuan” apa daya perempuan yang enggan memulai terlebih dahulu, yang sangat segan untuk memulai semuanya terlebih dahulu. Dia hanya bisa menunggu, menunggu, dan menunggu. Perempuan itu hanya bisa menunggu orang itu untuk menegurnya terlebih dahulu, perempuan itu hanya bisa menunggu orang itu memulainya terlebih dahulu. Orang itu, orang itu adalah seorang “Lelaki” yang memulai semuanya terlebih dahulu, yang memulai seejekan dengan perempuan itu terlebih dahulu, yang memulai melempar kertas kepada perempuan itu terlebih dahulu, dan yang memulai mendaratkan penghapus ke kepala perempuan itu terlebih dahulu. Mereka. Mereka adalah kedua orang tadi lelaki dan perempuan yang dulunya telah dijabarkan di atas, yang dulunya pernah seejekan, yang dulunya pernah saling lempar kertas, yang dulunya pernah saling mendaratkan penghapus ke kepala lelaki, dan kepala perempuan.

Dalam lubuk hati yang paling dalam, dalam lubuk hati yang paling rendah, dan dalam hati yang sangat bersih sebenarnya si Perempuan itu ingin sekali kembali mengulang masa-masa seperti dulu, Perempuan itu ingin sekali menegurnya terlebih dahulu, Perempuan itu ingin sekali menjeritkan nama Lelaki itu terlebih dahulu. Dan satu hal yang paling dinginkan perempuan itu adalah menikmati senyum Lelaki itu hanya untuk dirinya diri Perempuan itu bukan untuk dinikmati bersama oleh teman-teman kelas. Perempuan itu sudah menyesal pada saat itu tidak dapat mengontrol kata-katanya yang sangat membuat lelaki itu sakit hati dan terjadilah seperti ini bahkan sampai saat ini. Jujur perempuan itu sudah lama ingin memperbaiki kesalahannya, perempuan itu ingin mengulang masa-masa konyol di antara keduanya. Tetapi dia hanya perempuan yang enggan, yang sulit, yang penuh gengsi untuk memulai terlebih dahulu. Ya. Dia hanya bisa menunggu lelaki itu untuk memulai terlebih dahulu.

Perempuan itu bahkan pernah mengisi perbuatannya terhadap lelaki itu, dia sangat menyesal sungguh menyesal. Dia mengisi kenangan konyol, gila, dan lucu yang dulunya pernah dibuat bersama dengan lelaki itu. Perempuan itu sangat rindu sekali dengan tingkah laku, kekonyolan yang dulunya pernah terjadi di antara keduanya. Sampai rindunya perempuan itu dengan lelaki itu, dia pernah salah sebut nama dia tersebut nama kau lelaki yang dia rindukan itu. Apakah mungkin lelaki itu juga merasakan kerinduan itu, apakah juga lelaki itu pernah berpikir untuk menyapa terlebih dahulu perempuan itu, apakah juga lelaki itu mempunyai naluri yang dewasa untuk melupakan kejadian dulu dan memulai lembaran pertemanan baru dengan perempuan itu? Dan yang menjadi pertanyaan besar itu apakah lelaki itu, pernah menangis karena kerinduannya kepada perempuan itu. Entahlah! Mungkin iya, dan mungkin kebanyakan tidak.

Tak tahu perempuan itu harus bagaimana supaya bisa memperbaiki hubungannya dengan lelaki itu, perempuan itu sudah menceritakan semua kejadian yang dialaminya dengan lelaki itu. Dan apa yang didapat nasihat dari teman dekatnya yaitu, supaya si perempuan itulah yang harus memulainya terlebih dahulu. Tapi apa day. Perempuan itu malu untuk memulainya, perempuan itu penuh dengan rasa gengsi untuk memulai semuanya. Jadi sekarang rasa rindu, rasa ingin mengobrol, dan rasa ingin bercanda hanya bisa dipendam di dalam hati oleh perempuan itu. Karena satu hal yaitu kegengsian. Entah sampai kapan mereka diam mematung satu sama lain, sampai kapan mereka saling pandang dalam diam, sampai kapan juga benih-benih perdamaian akan terucap di antara mulut salah satu mereka. Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu semua ini, hanya waktu yang menjawab dan hanya alam yang akan menyeleksinya. Semua akan terjadi begitu cepat, semua akan terulang dengan cepat, semua akan hilang dengan cepat, semua akan musnah begitu cepat. Tetapi di balik itu semua, akan indah pada waktunya.

Cerpen Karangan: Hafazhatilmadani
Facebook: Tilma
Assalamualaikum. Cerita ini adalah kisah nyataku, semoga yang ada di dalam tulisan-tulisanku ini dapat membuat orang yang sedang rindu mengucapkan bahwa kalian benar-benar sedang merindukannya.

Cerpen Rindu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kupendam Saja

Oleh:
Di depan kesekretariatan tua itu, aku pertama melihat kamu, iya waktu pertama kamu menjadi MaBa (Mahasiswa Baru). Disaat itu aku tertarik denganmu, dengan tingkah humorismu kamu membuat aku lebih

Kenapa Harus Kamu? (Part 2)

Oleh:
Kami pun sama-sama memacu kendaraan kami masing-masing. Aku yang merasa agak canggung, entah kenapa kami jadi membisu kembali. Aku pun memulai pembicaraan dikala itu, dengan kendaraan bergandengan. “maaf ya

Hidupku Berawal Dari Sini

Oleh:
Kenalin namaku Sharita Sania, di sekolahan aku sering dipanggil dengan Rita. Aku duduk di kelas 3 SMP, waktu itu umurku masih 13 tahun yang lebih muda dari teman-temanku karena

Happy Ever After

Oleh:
Ini dia, tempatku. Tempat dimana semua cerita tercipta. Tempat Tuhan membuka mataku tentang arti kebahagiaan. Tempat dimana ada air mata yang tak beralasan dan bahkan tanpa penyesalan. Banyak cerita

Sebuah Isyarat

Oleh:
Pecahan gelas Sobekan buku-buku Serakan baju Bantal Selimut Kacau.. Inef cuma bisa mengacak-acak rambutnya sambil menangis, sejenak berhenti, lalu menangis lagi. Rasa kesal yang teramat berat sedang dirasa olehnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *