Rumah Kaca dan Tulip Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 4 September 2017

Hampir setiap pagi aku memandangimu. Di saat sinar mentari menerpa wajahmu, di saat kau tersenyum kepada tukang koran yang lewat di depan rumahmu setiap pagi, di saat kau mengantarkan secangkir teh panas kepada ibumu yang sedang duduk di kursi roda, aku selalu memandangimu walau kau tidak pernah menyadarinya.

Selalu ada banyak cara yang aku lakukan untuk menunjukkan betapa aku mencintaimu. Seperti menaruh sebatang cokelat di lokermu yang mulai berdebu karena kau jarang membukanya, mengirimkanmu sepaket novel detektif yang tidak pernah bosan kau baca, ataupun mengirimkanmu seikat bunga tulip merah yang aku petik dan kurangkai dengan segenap jiwaku. Ketika kau menerima semua itu, kau akan terlihat antusias dan tersenyum riang. Wajahku akan memerah ketika kau mendapatiku tersenyum bersamamu. Tidak ada yang lebih kuinginkan darimu melebihi senyum indah di wajahmu yang membuat denyut nadiku semakin berdetak liar tak terarah. Karena kau begitu indah.

Aku ingat pertama kali aku bertemu denganmu. Saat itu, aku sedang memakan roti panggang yang ada dalam kotak makan siangku seorang diri. Ya, aku memang selalu sendiri. Tiba-tiba saja, kau mendekatiku dan langsung duduk di sampingku.
“Itu roti panggang?” kau bertanya antusias.
Aku mengangguk, kemudian menunduk. Aku tidak pernah berani menatap wajahmu sedekat itu, karena jantungku terasa akan melompat keluar.
“Boleh aku mencicipinya?” kau bertanya lagi. Dan sekali lagi, aku hanya mengangguk.

Kau semakin mendekatkan tubuhmu ke arahku, dan aku bisa mencium aroma jagung manis pada tubuhmu. Kau mencomot satu iris roti panggang lalu memasukkannya dalam mulut.
“Mmm…mmm… ini enak sekali. Roti panggang ini yang paling enak yang pernah aku cicipi.” kau tersenyum ke arahku dan memperlihatkan satu lesung pipit di pipi kananmu. “Siapa yang membuatnya?”
“A..a..aku yang membuatnya.” akhirnya aku bersuara dengan susah payah.
Matamu berbinar jenaka dan menampakkan keterkejutan. “Benarkah? Benarkah kau yang membuatnya?”
Aku mengangguk.
“Kau mau mengajariku?” kau bilang. Aku mendongak menatapmu, terkejut dengan permintaanmu.
“B…boleh saja.” kataku.

Kau tersenyum lagi dan berkata, “Namaku Rose, dan siapa namamu?”
“Jack.” kubilang. Matamu membulat terkejut ketika kubilang namaku Jack.
“Benarkah? Apakah ini takdir?” kau berkata antusias. “Kau adalah Jack, dan aku Rose. Kita seperti berada dalam film Titanic saja. Tanpa akhir yang tragis perahu tenggelam, tentunya.” kau tergelak.
Aku ikut tergelak, lalu kubilang padamu, “Aku bohong. Namaku Gilang.”
Tawamu terhenti, dan seakan kau berpikir sejenak, kau menaikkan salah satu alismu yang berwarna cokelat muda, lalu kemudian kau tergelak lagi. “Astaga, Gilang. Aku tidak menyangka kau sangat pandai melucu.”

“Ngomong-ngomong, Rose. Apakah kau suka dengan bunga mawar, sesuai dengan namamu?” aku memberanikan diriku bertanya. Sejujurnya, aku memang penasaran dengan namamu itu.
“Mmm… tidak. Aku sama sekali tidak suka bunga mawar. Aku lebih menyukai bunga tulip merah. Kau tahu Gilang? Bunga tulip merah melambangkan cinta abadi yang tak pernah mati. Karena itu, aku sangat menyukainya.” garis bibirmu tiba-tiba saja membentuk baris datar. Kau tidak tersenyum riang seperti sebelumnya. Pandanganmu mengarah ke batas cakrawala yang tak berujung, menatap dalam ke arah sana, dan aku tidak tahu apa yang kau pikirkan.
“Oh begitu.” aku bergumam. Kupikir, aku akan memberikanmu bunga tulip merah setiap hari, dan kuharap kau menyukainya.
“Kenapa kau menanyakannya? Kau mau memberiku bunga tulip merah?” seakan bisa membaca pikiranku, kau bertanya tanpa basa-basi.
Aku tersenyum dan berkata, “Kupikir itu ide yang bagus.”
Akhirnya kau memperlihatkan seulas senyum riang, bukan senyum datar seperti tadi, dan aku tidak pernah bosan melihat senyumanmu itu.

“Gilang, kau ikut aku. Akan kuperkenalkan kau kepada teman-temanku. Aku yakin, mereka akan menyukaimu.” Tiba-tiba, kau menarik tanganku, lalu aku menghentikanmu.
“Maafkan aku, Rose. Sepertinya… aku tidak bisa pergi bersamamu.” aku menunduk dalam.
“Kenapa?” kau balik bertanya. Aku melirik kakiku dan pandanganmu pun beralih mengikuti pandanganku. Lama kau terdiam. Ini yang aku takutkan ketika aku memiliki teman. Aku memang sudah siap jika kau tidak mau berteman denganku. Aku siap dengan apa yang akan kau katakan padaku.
Lalu kau berkata, “Jangan khawatir. Mereka tidak akan meledekmu. Aku jamin itu. Akan kubantu kau berjalan.”
Seperti sebuah angin segar bagiku, seperti setitik air hujan yang menyiramiku setelah bertahun-tahun kemarau panjang melanda, seperti sebuah oase di tengah gurun, seperti air yang mengalir di tenggorokanku setelah dua hari tidak minum, seperti itulah yang aku rasakan saat kau kembali menarik tanganku.

Kau mengambil tongkatku, kemudian menyampirkannya. Sebagai gantinya, kau bersedia menjadi tongkatku. Tahukah kau kalau sikapmu itu semakin membuatku menyukaimu? Tidak. Bukan. Aku tidak menyukaimu, tapi aku mencintaimu.

Sejak orangtuaku meninggal, aku selalu melakukan segala sesuatu seorang diri. Kau tahu kenapa? Karena tidak ada orang yang bisa kuandalkan. Semua temanku tidak menerimaku karena aku tidak mempunyai kaki. Si kaki buntung, itulah julukan yang selalu kuterima saat aku masih kecil hingga saat ini.
Dan saat itu, tiba-tiba saja kau datang, memakan roti panggang buatanku, mengajakku berkenalan, dan mengenalkanku kepada teman-temanmu. Kau benar. Teman-temanmu tidak meledekku. Mereka menyalamiku dan memperlakukanku seperti perlakuanmu padaku. Mereka sangat baik dan tulus. Aku salah. Tidak semua orang tidak mau menerimaku. Tidak semua orang seperti teman-temanku waktu kecil. Kau dan teman-temanmu berbeda, karena kalian begitu tulus padaku.

Kau orang pertama yang mau berbicara padaku dan mengenalkanku pada dunia luar yang selama ini aku takuti. Tahukah kau, jika detik itu juga aku merasa begitu berharga? Kau mengubahku, mengubah perasaan rendah diriku menjadi perasaan begitu dihargai. Aku merasa beruntung berada di sisimu.

Sejak saat itu, aku selalu mengamatimu, menaruh batang cokelat di lokermu, mengirimkanmu novel terbitan terbaru, dan mengirimkanmu seikat tulip merah setiap hari, seperti yang sudah aku janjikan. Tahukah kau, kalau sejak aku bertemu denganmu, aku membuat rumah kaca yang kutanami dengan bunga tulip merah kesukaanmu? Aku menanam benih bunga itu dan setiap hari aku sirami mereka hingga mereka tumbuh begitu subur. Kulakukan itu semua dengan segenap jiwa dan ragaku.
Apakah aku sudah mengatakan kalau aku mencintaimu sejak saat itu hingga saat ini? Ya, sepertinya aku memang sudah mengatakannya. Maafkan aku jika kau bosan mendengarnya. Tapi sungguh, aku sangat mencintaimu sejak saat pertama kali kita bertemu, hingga saat ini, saat dimana jiwaku tak lagi berada di dunia, dan ragaku terbaring damai di antara ribuan bunga tulip merah kesukaanmu.

Maafkan aku karena harus meninggalkanmu. Luka pada kakiku yang buntung sudah menjalar ke seluruh tubuhku. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Aku menyadari itu sesaat setelah aku benar-benar mencintaimu hingga aku rela mati karenamu. Tapi jangan khawatir, aku tidak benar-benar meninggalkanmu.

Seperti yang kau bilang, tulip merah melambangkan cinta abadi yang tak pernah mati. Oleh karena itu, aku ingin bersemayam di antara ribuan bunga tulip merah kesukaanmu, karena cintaku padamu tak pernah mati. Tak ada yang bisa menghalangiku mencintaimu bahkan kematian.

Kau ingat? Pernah suatu hari kau bertanya padaku.
“Gilang, apakah kau percaya dengan cinta abadi?”
Saat itu, aku tidak menjawabmu, karena aku tidak yakin kau membutuhkan jawabanku atau tidak. Tapi sekarang ini, aku akan menjawab pertanyaan itu, Rose. Ya, aku percaya dengan cinta abadi. Aku sangat percaya. Oleh karena itu, kupersembahkan rumah kaca milikku ini padamu. Bukti jika aku sangat percaya dengan cinta abadi.

Setiap kali kau merindukanku, kau bisa datang ke rumah kaca itu karena jiwa dan ragaku terbaring di antara ribuan bunga tulip merah ini. Jangan pernah menangisiku karena aku akan merasa jauh lebih sakit dari rasa sakit yang kau rasakan. Tersenyumlah setiap kali kau mendatangiku. Tersenyumlah selalu, Rose, karena kau tidak akan menyangka kalau aku selalu memandangimu walau kau tidak pernah menyadarinya. Kupersembahkan pula ribuan tulip merah untukmu, Rose, pertanda cintaku padamu adalah cinta yang abadi.

SELESAI

Cerpen Karangan: Fakhriyah HS
Facebook: Rya Fakhriyah

Cerpen Rumah Kaca dan Tulip Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hurt

Oleh:
Awalnya kita teman sepermainan. Selalu merangkai impian masa depan. Matanya sipit senyumnya manis dia jago inggris! Sementara aku… jago matematika! itu pun kata nya. Sepuluh tahun lengkap rasanya sekian

Cinta Dalam Hati

Oleh:
Semua ini berawal dari pertemanan itu, aku menyukainya dari pertemanan kita. Arif nama cowok itu. Aku suka sama dia sejak kelas 1 smp semester akhir. Tapi aku selalu memendam

Ternyata

Oleh:
“Arin” teriak Dimas saat memanggilku. Aku mendengar suara itu dari belakangku, lalu aku membalikkan badanku melihat ke arahmu dan menjawab “Dimas, ada apa?”. Jantungku mulai berdetak, begitu terpesonanya aku

Mencintaimu Dalam Diam

Oleh:
Aku tidak tahu kenapa perasaan ini bisa datang? Dan kapan perasaan ini berakhir? Mungkin ini cinta pertamaku? Atau hanya cinta monyet? Yah karena umurku masih sangat remaja, yakni hanya

Sebatas Mimpi

Oleh:
Cowok pemegang kamera canon itu terus saja menatapku dan bahkan, ia mengambil gambarku tanpa meminta izin terlebih dulu padaku. Cowok itu terus saja menyorotkan kameranya ke arahku. Ia berdiri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Rumah Kaca dan Tulip Merah”

  1. Lisa T says:

    Kereeeen

  2. Sinon says:

    Kyak cerita di anime :)))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *