Ryan, Aku Mencintaimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 September 2017

Sulit ku mengartikan rasa ini. Padahal terlihat jelas di mataku saat semua terlukis jelas di hadapanku. Kau tebarkan beribu kata-kata indah untuk dia… dia… dan mereka… Mungkin aku adalah salah satu korban cintamu. Kamu benar-benar sang penakluk hati, aku mengaku kalah.

Ryan, cowok yang kukagumi sejak november 2016, dia cowok yang tampan dan menarik. Siapa sih yang gak kagum sama dia. Sejak pertama bertemu, aku langsung ada rasa dengannya. Tapi mana mungkin dia juga ada rasa samaku. Sedangkan dia cowok tampan yang dikelilingi beribu wanita-wanita cantik. Yahhh, aku memang tertarik kepadanya, setiap tutur katanya, tatapan matanya, sentuhan tubuhnya membuatku tak kuasa menahan diri untuk menjadi wanita idamannya.

Kami sering bertemu dan makan bareng, setiap kali dia mengajakku bertemu hatiku berbunga-bunga. Di dalam perjalanan dan menikmati suasana malam, dia tak pernah berhenti bercerita tentang wanita-wanita yang didekatinya, dia selalu menceritakan tentang mereka dan mereka kepadaku.

“Mus, malam kemarin aku jalan sama cewek trus dia baper karena aku bawa mobil.” ujarnya dengan wajah polos.
“oh… iya enaklah jalan-jalan terus sama cewek.” ujarku dengan hati kecewa.
“Mus, dengarlah ini suara ngajinya merdu kali, aku jadi minder dengan suara merdunya.” Ujar dia lagi tanpa rasa memikirkan hatiku.
“supaya apa dikasih tau samaku?” sahutku dengan wajah pucat.
“ciyee… cemburu ya?” tanyanya padaku sambil ngeledek.
“enggak ah… ngapain pulak aku cemburu.” Jawabku dengan nada emosi.

Hari pun sudah menunjukkan kami harus pulang, dia pun mengantarkanku pulang ke kosku. Aku berjalan menuju kamar dengan wajah yang lemas dengan hati yang berantakan. Terkadang aku merasa tidak sanggup harus menyimpan rasa ini berlarut-larut, tapi bagaimana mungkin aku bisa mengutarakan rasa ini kepadanya, sedangkan dia masih menikmati bahagianya dengan wanita wanita yang didekatinya.

Ryan, aku benar-benar menyukaimu, merindukanmu, bahkan aku selalu menghabiskan waktuku hanya untuk memikirkanmu. Kapan kau bisa mendengar suara hatiku? kapan kau bisa melihat ketulusan cintaku? aku hanya ingin kau mengerti sedikit saja betapa aku menanti cintamu.

Aku merindukanmu yang dulu selalu menemaniku setiap kali aku ke perpus. Walaupun sebentar lagi dosenmu masuk tapi kau sempatkan menjumpaiku sebentar. Bahkan setelah kau pulang kuliah dan perpus pun sudah mau tutup kau sempat datang lagi menjemputku untuk pulang bersama. Aduhh.. aku semakin tak bisa nahan dengan sikapmu yang dulu terhadapku.

Tapi kini sudah tidak terlihat seperti itu lagi. Kau sekarang lebih menghabiskan waktumu dengan dia yang jauh di sana, dan aku hanya bisa diam melihatmu. Kau begitu bahagia saat kulihat dia memujimu dan menghumbar-humbarkan cintanya untukmu yang belum pasti tulus tidaknya.

Aku terpuruk? Iya.. tapi aku tetap kuat. Bagiku kau bukan hanya kuinginkan sesaat tapi kubutuhkan untuk selamanya. Bodoh? Iya aku emang bodoh! Egois? Iya aku bahkan egois sekali, sehingga aku harus mempertahankan kau yang kucinta yang mencintainya. Aku bahkan tidak peduli siapa yang kau cinta saat ini, bagiku aku hanya ingin menahan rasaku dengan kediamanku dan bersabar dalam menantimu.

Aku di sini yang masih menantimu, disaat aku melaksanakan pengabdian masyarakat di suatu desa di kampungku bersama sahabat kembar umsu, aku tak sengaja membuka handphoneku dan aku melihat kau mengganti foto profilmu foto wanita yang tidak aku kenal itu siapa. Ya… lagi lagi selain diam apa yang dapat kulakukan, tiap jam tiap menit ku terus lihat foto wanita itu. Sungguh hancur dan teriris sebagian hatiku.

Keesokan harinya, kau kulihat lagi dengan cerianya menceritakan dia. Oh Tuhan… rasa cinta apa yang kau berikan kepadaku saat ini? Sehingga dia yang kucinta sudah bahagia bersama wanita lain, sedangkan hatiku masih saja menantinya dan tidak peduli dengan wanita itu. Inikah yang benar dikatakan cinta? Disaat aku menanti cintanya disaat itu pula dia menanti cinta yang lainnya. Sesulit inikah yang harus aku hadapi? Dan setegar apa lagi yang harus aku diamkan semuanya? Ini sungguh menyiksa batinku yang tanpa salah.

Tanpa rasa ragu aku bertanya kepadanya.
“wess… wesss… Uda punya pacar baru aja ya?” tanyaku penuh kecurigaan.
“tidak akh… bukan pacarku itu.” Jawabnya padaku.
“jadi… itu siapa?” tanyaku lagi dengan hati yang semakin penasaran.
“teman, cuma sudah dekat aja.” Jawabnya yang masih tidak mengatakan itu pacarnya.
“ohhh… iyalah ya, semoga bahagialah ya.” Ujarku dengan rasa sakit yang mendalam.
“iya…” jawabnya dengan singkat.

Dalam beberapa hari kami tidak ada komunikasi lagi, karena dia masih sakit hati dengan perkataanku waktu itu. Iya aku mengerti dia marah, tapi kenapa dia harus menjauhiku seperti ini, tanpa menasehatiku terlebih dahulu. Aku cemburu, cemburu sekali dengan wanita itu dengan mudahnya bisa tersenyum bahagia dengan dia yang kucinta. Sedangkan aku hanya bisa diam dan diam serambi menanti cintanya yang tak akan pernah datang.

Waktu sudah jauh berjalan, dia masih saja tidak menghubungiku lagi. Aku bingung. “Haruskah aku utarakan rasaku ini kepadanya?” Tanyaku dalam diam. Hati berkata “ya” sedangkan pikiran berkata “tidak”. Jika kuutarakan rasa ini, bagaimana aku ungkapkan? Apa yang harus aku mulai? Jika dia biasa saja, bagaimana kondisi hatiku nanti? Apa aku sudah sanggup menerima resikonya?. Ah bagiku semua harus kujelaskan dengan uratan kata.

Mengingat dia akan berulang tahun tanggal 1 februari nanti, aku ingin memberinya sebuah kado dan kejutan kecil. Dan di dalam kado itu akan ku selipkan sehelai kertas yang berisikan ucapan untuknya yang berulang tahun sekaligus pengungkapan rasa yang selama ini kupendam. Aku dengan hati yang tulus menulis kata-kata indah untuknya, mengharapkan semoga Tuhan selalu menyambut doaku untuknya.

Kata-kata itu penuh makna, aku di sini bukan anak alay yang seperti mereka-mereka, ini hanyalah pengungkapan rasa yang tak sanggup lagi kupendam. Jika kau sudah baca suratku, jika responmu biasa saja dan hatimu memang tidak pernah ada untukku. Kumohon jangan jauhi aku dan tetaplah jadi teman baikku meski cintamu tak kunjung kudapatkan. Aku tidak terlalu berharap menjadi pacarmu, aku hanya ingin kau tau betapa dalamnya aku menanti cintamu sedari dulu.

Aku berusaha sabar dan diam saat kau acuhkan diriku. Saat kau selalu bersama mereka yang mungkin juga mencintaimu, aku di sini tetap menantimu. Aku sampai saat ini hanya menantimu dan menantimu. Disaat mereka para laki-laki yang sudah banyak ingin menjadikanku wanita idamannya selalu kuabaikan hanya untuk menanti cintamu. Ryan… coba saja kau lihat mataku, dengarkan detak jantungku, rasakan suhu tubuhku saat berada di dekatmu. Semua terasa beda dan indah. Aku tak peduli seburuk apa orang menilai tingkahmu yang selalu mematahkan hati perempuan, bagiku kau tetapku nanti.
Ryan, aku mencintaimu… jika kau tak ditakdirkan bersamaku tetaplah jadi bagian terindah dalam puing-puing hatiku. Jangan pernah retakan satu saja bagian jantungku. Ryan, aku sungguh mencintaimu. Jika kau juga mencintaiku datanglah segera, dekap aku yang selama ini menantimu.

Cerpen Karangan: Musdalifah
Facebook: Musdalifah Sarifah
Nama: Musdalifah
Status: MahasiswI FKIP Bimbingan Konseling UMSU semester VI
Besar harapan saya tulisan saya dapat diterima dan diterbitkan.

Cerpen Ryan, Aku Mencintaimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teman Dalam Sepekan (Part 2)

Oleh:
Tak terasa hari-hari dimana yang katanya paling indah dimulai. Sekarang, aku telah menjadi siswi Sekolah Menengah Atas. Banyak orang beropini kalau masa SMA adalah masa-masa yang paling indah dan

Mr Sooneth A.K.A Smith (Part 2)

Oleh:
Benar ternyata malamnya aku diajak nona biduan untuk menyanyikan lagu kesukaannya dia lagi, yaitu dangdut. Aku rasanya ingin pergi saja dari tempat ini, tapi mana mungkin. Dia masih punya

Air Menjadi Saksi

Oleh:
Sungguh mengecewakan, biasanya aku di atas pipa di lapangan untuk menikmati sinar matahari sambil tidur-tiduran. Tapi, ada seseorang yang datang dan tidur di situ lebih dulu dan akhirnya aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *