Sarung Coklat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 21 March 2017

Pesona senja enam sore di ibukota memang cukup cantik. Namun tak sedikit pun memikat Zizi yang sedari tadi membujukku setengah mati untuk menaruh sajadah ke masjid.

“Bia… Febia, ayo cepet! Hari pertama salat Tarawih itu biasanya rame, ntar gak kebagian tempat.” rewelnya sambil mengulang-ulang namaku.
“Mager Zi!”
Percuma saja, berulang kali pun aku ucapkan si cewek yang lumayan alim itu tetap ngotot juga.
“Iya deh, yuk ke masjid.” Aku lesu.
Zizi cengengesan.

Dengan tenaga yang tersisa hari ini, aku berusaha berjalan tegak menuju ke masjid, tentunya bersama Zizi-ku yang “pengertian”. Aduh sahabatku Zizi, andai kamu tau, begitu payahnya diriku hari ini.

Ekskul menyebalkan yang dengan bodohnya aku ikuti itu tak punya belas kasihan. Ia menjemurku dan yang lainnya di terik siang bolong nan menusuk-nusuk sekujur tubuh. Demi sebuah acara karnaval Ramadhan. Menyuruh kami memukul-mukul benda tabung pendek ratusan kali, si tabung pendek itu tak pernah protes pula.

“Bia, liat deh itu!” ujar Zizi sambil menunjuk-nunjuk seseorang. “Itu Ferdi, ya?”
“Hah. Mana?” kataku spontan.
“Huuu… Kalo ada Ferdi langsung melotot 100 watt.” ledeknya.
Hehehe. Tau aja sobatku ini.
“Ferdinya mana Zi?”
“Dasar, cantik-cantik kok rabun. Itu loh, yang pake sarung cokelat.” unjuknya.
“Yang di ujung itu Zi?” Aku memastikan.
Zizi mengangguk pelan.
“Dasar, cantik-cantik kok rabun. Itu bukan Ferdi. Eh, tapi yang itu lebih ganteng tau! Iya, beneran lebih ganteng. Zi, jalannya tegap banget lagi. Seriusan!” cerocosku.

Sepulang salat Tarawih di masjid, aku segera bertanya ini-itu tentang si “sarung cokelat”, ke sahabatku Zizi. Untungnya Zizi punya pengetahuan lebih tentang tetangga-tetangga se-RT maupun di luar RT kami. Kata Zizi, cowok itu namanya Dimas, rumahnya di RT sebelah, dia kayaknya orang rumahan banget: jarang main keluar rumah (pantesan aja kulitnya putih bersih), umurnya… gak tau (tapi aku yakin dia sebaya denganku, masih teen gitu), sekolah dimana?… gak tau juga, rumahnya yang mana?… udah dikasih tau sama Zizi tadi.
Oke, sempurnalah sudah. Letih seharian ini terbayar kontan. Rabb-ku telah menurunkan seorang pangeran nan tampan sekali di awal bulan suci ini.
Ferdi, oh gebetanku, sepertinya dengan berat hati aku akan move on darimu.

Mulai malam pertama Tarawih itu, aku kian semangat menjalani untaian hari demi hari di bulan Ramadhan. Karena ada Dimaskah? Sepertinya. Aku agak khawatir juga. Aku takut, jangan-jangan aku melakukan semua ibadah di bulan suci berlandaskan “Dimas” bukannya iman!
Itu sungguh niat yang tidak baik. Aku mulai membenahi arah tujuanku, jangan sampai semua kebaikan yang kulakukan di bulan suci ini sia-sia.
Baiklah, artinya aku gak boleh terlalu fanatik ke Dimas. Boleh sih, asal sedikit aja!

Dimas makin tampan saja. Sementara aku makin tersihir. Dia seperti mendapat kutukan ketampanan dari peri cinta.
Perkembangan suka-sukaanku kepadanya gak terjadi satu arah saja. Pernah suatu malam selesai salat Tarawih, Aku dan Dimas beradu pandang. Denting waktu berhenti. Jarak kami hanya beberapa meter saja. Dia mematung. Kutatap lekat pupil cokelatnya, senada dengan warna sarungnya yang selalu tampil rapi. Dari air mukanya aku yakin, dia menyimpan rasa yang sama denganku. Ah, mungkin sugestiku saja.
Hal itu terjadi dua kali, selang sehari saja.
Aku menaruh hati kepadanya bukan hanya karena “kutukan” ketampanannya saja, tapi juga karena ketaatannya dalam beribadah. Ia belum pernah meninggalkan serakaat pun salat Tarawih, maka jangan tanya soal salat wajibnya, Ia selalu berjamaah subuh di masjid, bersamaku dan Zizi. Pakaiannya selalu terlihat segar.
Sungguh aku jarang melihat ada pemuda seperti itu. Kurasa Ferdi juga tak ada apa-apanya dibanding pangeranku itu.
Bisa kalian bayangkan, bagaimana aku gak kelepek-kelepek sama Dimas. Tapi tetap gak boleh terlalu fanatik banget. Harus konsekuen.

Aku bertemu dengannya lebih kurang 2 kali sehari. Saat berjamaah Tarawih dan Subuh di masjid. Selebihnya bertemu di luar masjid. Itu pun jarang, jarang sekali. Kadang, aku berpapasan dengannya ketika menaruh sajadah di masjid ba’da maghrib. Oh no, dia menaruhkan sajadah untuk Mamanya. Anak yang berbakti.
Anehnya, aku belum pernah mendengar suara Dimas secara langsung. Kecuali saat dia menjadi bilal di masjid, lagipula dia memakai microphone, kayaknya suara Dimas jadi beda. Dalam frekuensi pertemuan yang lumayan banyak itu, Dimas sepertinya masih belum mengenalku.

“Bia, ajak Dimas kenalan aja sana!” ide yang cukup gila dari Zizi.
“Thanks a lot, mybestfriend. Idemu itu cerdas. Tapi jika aku cowok. Aku tuh cewek. Ya kali, ngajak kenalan duluan.” sanggahku.
“Terus, sampai kapan kamu bakal jadi fans gelapnya Dimas? Sampai dia punya pacar duluan? Sampai dia udah menikah?” ungkapnya. “Pilihannya cuma dua. Kamu ajak dia kenalan, atau move on selamanya dari Dimas.” tegasnya.
Aku gak memilih salah satu dari multichoice itu. Mengambil pilihan tengah. Menunggu. Aku akan menunggunya.

“Bia, ngapain sih jinjit-jinjit gitu?”

Aku cengengesan. “Mau liat Dimas.”
Zizi geleng-geleng.
Aku dan Dimas memang dihalangi sebuah kain pembatas kaum laki-laki dan perempuan. Jadi harus jinjit-jinjit kalo mau liat dia.
“Bia, please. Bosan aku liat kamu nguntit Dimas terus.” kesal Zizi.
“Nggak kok Zi.” Gak salah lagi maksudnya.
Zi, aku ini fans gelap yang gak muluk-muluk kok. Bisa liat dia dari belakang juga udah senang.
Sebenarnya sih emang karena aku cuma bisa melakukan itu untuk diriku sendiri. Aku terlalu gengsi untuk mengajaknya kenalan. Jadi tolong biarkan aku melakukan ini.

Sebulan penuh telah kulalui Ramadhan nan indah bersama Zizi dan Dimas. Dan sebuah kejutan telah menantiku dalam diam. Kejutan yang entah harus kusyukuri atau kubenci.

Kejutan itu diantar sendiri oleh kedua orangtuaku tersayang. Aku akan dikirim ke pondok pesantren untuk melanjutkan sekolah SMA di sana, nan jauh dari ibukota. Itu dia kejutannya.

Lalu, bagaimana dengan Dimas-ku?

7 tahun kemudian…
Ayah mengajakku dan Ibu ke sebuah restoran. Ia bilang ada janji ketemuan sama teman lamanya sewaktu di pesantren. Lalu kenapa aku diajak? Aku kan sudah besar, bukan anak kecil lagi.

Di sebuah meja yang sudah dipesan teman lama ayahku itu, duduk sepasang suami istri dan seorang pemuda yang sebaya denganku.
Dari gestur tubuh pemuda itu, tampak sekali ia sedang gelisah.
“Assalamu’alaikum akhi. Kenalkan, ini putri sulung kami. Febia Elisha.” Ayah mengenalkanku kepada temannya itu.
Pemuda gelisah itu membalikkan badan tegapnya nan proposional. Deja vu, seperti deja vu. Parasnya tidak asing bagiku. Pupil itu masih cokelat. Air mukanya masih sama, menyimpan tumpukan kasih rindu bertahun-tahun. Dia pangeranku. Dimasku yang kutunggu selama 7 tahun. Kini ia datang.

Ayah dan ayahnya Dimas telah lama menjodohkan kami, sejak masih di pondok pesantren. Namun mereka kehilangan jejak masing-masing setelah lulus pondok. Meskipun Dimas dan Mamanya telah lama tinggal di RT sebelah, Ayahku tidak mengetahuinya. Karena ayahnya Dimas tidak tinggal bersama keluarganya, ia sedang merantau ke Timur-Tengah. Ia baru pulang ke Tanah Air sebulan yang lalu.

Dan aku telah menjadi miliknya. Begitu juga sebaliknya. Dulu, ia hanya bintang di angkasa yang sukar kuraih. Sekarang, dia malah berada di dekatku. Dia bahkan memanggilku dengan sebutan “Cinta”. Zizi pasti gak percaya dengan semua ini.
Gak ada yang impossible di dunia ini. Semua mungkin. Tergantung bagaimana cara kita menatapnya.

End

Cerpen Karangan: Bunga Prameswari Putri

Cerpen Sarung Coklat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Kau (Part 1)

Oleh:
“Dear Bestfriend, You’re the best, and I just can be your friend… Hopefully more than that… ” 🙂 Kamu.. Lelaki misterius yang selalu tampil rapih di depanku… Misterius? Ya..

Aku, Kamu dan Dia

Oleh:
Sore yang indah dengan paparan cahaya senja yang menyinari. Saat itu di lapangan, Aldi sedang asyik latihan bermain bola bersama teman-temannya. Sambil istirahat dan sesekali meneguk air yang sudah

Happy Ever After

Oleh:
Ini dia, tempatku. Tempat dimana semua cerita tercipta. Tempat Tuhan membuka mataku tentang arti kebahagiaan. Tempat dimana ada air mata yang tak beralasan dan bahkan tanpa penyesalan. Banyak cerita

Alien dan Pribumi

Oleh:
Hujan saat itu adalah Hujan di awal bulan Agustus, tidak mengenal pagi, sore atau malam hari, hujan memang tak bisa diajak bernegoisasi untuk berhenti. Banyak orang yang gembira saat

Shiori dan Bunko

Oleh:
Langit Kyoto tergulung kelam birunya tak lagi mewarnai sudut-sudut jumantara, kakiku masih berdiri di depan toko dekat sekolah SMA. Tubuh menggigil satu per satu rintik hujan berjatuhan mirip gerimis.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *