Semanis Senyummu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 1 November 2017

Kulihat weker, ternyata jam 5 pagi aku bergegas bangun setelah itu aku sholat, dalam sholat aku berdoa semoga hari ini lebih baik dari kemarn.

Kenalkan namaku Annisa. pagi ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan diantar ayahku. Hari senin, kami akan melaksanakan upacara bendera. Upacara adalah momen yang selalu aku nantikan karena saat berbaris di lapangan aku dapat melihat seseorang yang aku kagumi.

“kamu lagi nyari siapa Ca?” pertanyaan itu membuatku kaget dan menghentikan mataku yang terus mencari seseorang sejak tadi.
“Mhh,.. gak lagi nyari siapa-siapa kok Din” jawabku
“Masak sih? Kamu jujur aja deh Ca?”
“Tapi aku gak lagi nyari siapa-siapa, suer deh”
“Iya deh aku percaya.”

Aku memang belum menceritakan tentang seseorang yang aku kagumi itu kepada siapapun termasuk si Dinda sahabatku yang mulutnya ember banget. Dia gak bisa menyimpan rahasia dalam satu minggu pun. Aku takut menceritakan pada Dinda tentang pria itu. Bisa-bisa Dinda akan menyebarkannya dalam dua hari saja, dan aku gak mau itu sampai terjadi. Aku selalu memendam perasaanku ini hingga tak seorang pun yang tau. Oh ya aku lupa ada seseorang yang tau, dia adalah sahabatku sewaktu SMP dan sekarang dia sudah berada jauh di luar kota untuk melanjutkan sekolahnya. Terkadang aku merasa sakit dan butuh teman curhat namun rasa takutku dipermalukan jauh lebih besar. Jadi aku lebih memilih menyimpanya rapat-rapat dalam hatiku. Selain temanku waktu SMP tak ada lagi yang tau perasanku selain aku, Tuhan dan diaryku.

Pada awalnya aku tak percaya cinta pada pandangan pertama itu ada, mana mungkin seseorang akan jatuh cinta saat dia baru pertama kali melihat seseorang tersebut dan bahkan belum mengenalnya, bagaimana bisa jatuh cinta?. Namun semua itu hilang saat aku mengalaminya sendiri.

TIGA TAHUN YANG LALU…
Hari ini adalah hari pertama sekolah sejak aku naik ke kelas VIII. Karena hari pertama jadi tidak ada pelajaran tapi karena kos ku sagat dekat dengan sekolah aku tetap datang setidaknya untuk melihat siswa kelas VII yang sedang melaksanakan MOS.

“Ca temanin ke kelas kak Sri ya?” ajak Tari sahabatku.
“Mau ngapain Ri? Nanti pulang sekolah kamu juga ketemu kan?” jawabku. Aku merasa malas harus berjalan siang ini.
“Iya tapi aku pengen liat anak-ank yang lagi MOS. Lagian ngapain kita duduk aja di kelas dari tadi.” Dia terus membujuk.
“Ya udah deh. Yuk” akhirnya aku tak menolak lagi.

Sesampai di kelas kak Sri, Tari langsung menemui kak Sri. Aku hanya menunggu di depan kelas. Karena bosan menunggu aku berjalan menuju kelas di sebelah kelas kak Sri yang merupakan kelas VII yang sedang melaksanakan MOS. Namun karena hari sudah siang mereka sudah istirahat, namun pandanganku tersita oleh sebuah senyuman di sana, seseorang yang tengah terenyum pada perempuan yang berdiri di depannya. Aku terpaku karena senyuman itu, jantungku berdegup sangat kencang, lidahku terasa kaku dan keringat membasahi tubuhku seperti hujan. Aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang melandaku.

“Aku kembali ke kelas ku dulu ya” ujarnya pada perempuan di depannya lagi-lagi tersenyum yang membuatku detak jantungku tak menentu.
“Ya, hati-hati” balas perempuan itu.

“Kamu di sini toh Ca? Aku nyariin tau” Tari datang mengejutkanku dan membuyarkan lamunanku barusan.
“Eh, udah Ri?” jawabku gugup
“Udah, bagaimana kalau kita keliling dulu liah anak-anak lagi MOS.” Ajak Tari.
“Ini kan udah jam istirahat Tar, mereka pasti lagi nyari makan karena habis dikerjain.”
“Iya juga ya Ca. Trus kita mau ke mana?” tanya Tari.
“Terserah kamu.”
“Gimana kalau kita ke kantin juga, laper nih.”
“Boleh tuh.” Jawabku.

Semenjak hari itu aku jadi sering memperhatikan pria yang memiliki senyuman indah itu dari kejauhan, tapi aku tak berani untuk mendekatinya ataupun bertanya tentang dia pada seseorang. Pada awalnya untuk mengetahui namanya saja sangat sulit bagiku yang tak berani menanyakan perihal pria yang membuatku jatuh hati saat pertama melihat senyumannya. Untung saja kakak kos ku adalah sahabat dari kekasih pria itu sehingga darinya lah aku mengetahui nama pria itu.

Kakak kos ku selalu menceritakan kisah cinta lelaki itu dengan kekasihnya yang tak lain adalah sahabat kak rani. Aku adalah pendengar yang setia dari perjalan kisah cinta pasangan itu. Meskipun memiliki pacar yang dua tahun lebih tua darinya tapi aku tau dari cerita kak Rani mereka merupakan pasangan yang sangat romantis. Dan aku makin mengagumi lelaki itu mendengarkan kisah cintanya. Aku benar-benar menikmati sekali cerita kak Rani dengan topik yang sama, bahkan aku selalu menanti- nanti karena dengan mendengarkan cerita kak Rani aku mengetahui banyak hal tentang dirinya meski tanpa mengenal dirinya. Meskipun terbesit rasa cemburu yang sebenarnya tak wajar aku rasakan padanya karena aku hanyalah pengagum rahasia lelaki itu.

“Hari ini Yoli mutusin Randi.” Kata kak Rani tampak senang.
“Kenapa kak?” aku mendekati kak Rani untuk bertanya lebih jelas.
“Entahlah, aku sendiri gak tau apa masalah mereka.”
“Tapi bukannya mereka itu pasangan yang romantis kak?” aku masih merasa bingung.
“Aku sendiri juga bingung, tapi Yoli bilang dia gak mau pacaran sama anak kecil dan Yoli gak nganggap bahwa dia pernah pacaran sama Randi.” Jelas kak Rani.
“Tapi aku merasa sangat senang, karena pasti anak jahil itu lagi patah hati sekarang.” Ucap kak Rani terlihat senang.
Perasaanku saat itu campur aduk antara sedih, senang dan kasihan membayangkan orang yang aku kagumi sedang patah hati dan pasti dia dalam suasana hati yang buruk. Tapi dibandingkan rasa senang aku jauh merasa sedih mengetahui hal itu karena aku gak mungkin bisa bahagia atas kesedihannya, karena kesedihannya adalah kesedihanku juga dan melihatnya bahagia akan membuatku jauh lebih bahagia. Apa mungkin ini yang disebut cinta?. Semakin hari aku semakin memperhatikan pria itu dari kejauhan tanpa sepengetahuannya dan tanpa sepengetahuan siapapun.

Waktu terasa berjalan sangat cepat, kini aku sudah duduk di kelas IX dan sebentar lagi akan meninggalkan sekolah ini. Aku merasa takut tidak bisa melihat Randi lagi, aku takut tak bisa melihat senyuman indahnya lagi aku benanr-benar merasa takut.

Hari ini aku dan Tari sedang berjalan pulang. Aku dan Tari bertemu dengan Randi yang sedang nongkrong dengan teman-temannya.
“Kok pulangnya lama sekali kak?” kata Randi sambil tersenyum ke arah kami. Mungkin itu adalah sapaan pertamanya untukku meskipun bukan khusus untukku.
“Masalah buat Lo” jawab Tari enteng.
Sedangkan diriku jangankan untuk menjawab sapaan itu untuk tersenyum saja terasa kaku.

“Kamu kenapa Ca?” Tanya Tari setelah kami berlalu darinya
“Gak apa-apa kok.” Jawabku sambil tersenyum pada Tari
“Jadi dia?” tanya Tari
Aku hanya mengangguk lemah. Tari mungkin melihat pipiku memerah karena sapaan itu atau tubuhku yang gemetar mendengar suaranya.

Hari itu datang juga. Hari kelulusanku, aku merasa bahagia karena aku dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama ini tapi aku juga merasa sedih karena mungkin aku tak bisa lagi melihat senyuman Randi, tak dapat lagi melihat dirinya meski hanya dari kejauhan. Aku merasa sangat sedih untuk meninggalkan semua kenangan yang kulalui di sekolah ini, aku sedih meninggalkan mimpi-mimpiku, aku sedih meninggalkan cinta pertamaku. Cinta pada pandangan pertamaku. Dan cintaku tertiggal di SMP aku harap dia akan menyusulku ke SMA yang sama setidaknya untuk melihat senyuman itu lagi.

SETAHUN KEMUDIAN…
Dalam satu tahun itu aku tak pernah bisa melupakan Randi. Sampai saat ini aku masih mengingat senyuman pertamanya walaupun senyuman itu untuk Yoli tapi sedikitpun aku tak pernah bisa melupakannya. Dan aku masih berharap dia akan menyusulku ke sekolah ini tak mengapa aku hanya menjadi pengagum rahasia seperti dulu asalkan aku dapat melihat senyum itu sekali lagi.

Harapanku dikabukan oleh Tuhan. Randi benar-benar sekolah di sini. Aku tidak sanggup untuk tidak melihat senyuman itu, senyuman pertama yang meninggalkan kesan selamanya di hatiku. Sekarang senyuman itu masih sama seperti tiga tahun yang lalu dan senyuman itu masih sama bukan untukku melainkan untuk seseorang yang entah siapa.

Pemilik senyum itu masih orang yang sama, orang yang tak pernah menganggap keberadaanku yang tak pernah tau perasaanku terhadapnya dan aku juga berharap dia tak mengetahui perasaanku saat ini karena aku masih belum benar-benar melupakannya.

Aku bahagia karena Tuhan izinkan aku mengenalnya. Aku tak merasa menyesal walaupun aku hanya menjadi pengagum semata. Aku juga tak berniat untuk melupakan Randi begitu saja, aku hanya ingin menghapus rasa cintaku padanya yang tak semestinya aku miliki. Terima kasih Ran, kamu membuat aku mengerti arti cinta sesungguhnya. Aku tak harus memilikimu untuk mencintaimu.
Aku hanya berharap suatu saat nanti Randi akan mengerti perasaanku terhadapnya, dia tak perlu membalas perasaan itu cukup dia mengetahui bahwa dirinya pernah bersemayam sangat lama di hati ini dan merupakan kenangan termanis dalam kisah cintaku semanis senyuman pertamamu.

TAMAT

Cerpen Karangan: Yulia
Facebook: Yulia Mardesi

Cerpen Semanis Senyummu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan Cinta Pertamaku

Oleh:
“Chi, bangun!” teriak mama dari luar kamar. “Sebentar ma, sekarang masih pukul 6.10 am pun!” kataku yang masih memeluk bantal, seketika pula aku langsung beranjak dari tempat tidur dan

Aku, Kamu dan Sahabatku

Oleh:
Waktu pertama kali ku melihatmu, tak ada sebersit rasa apapun padamu. Bahkan aku tak ingin kelasku diajar olehmu. Aku juga gak peduli teman-teman yang lain sangat antusias mendengar ceramahmu.

Terbelahnya Hati Daku

Oleh:
Saat mentari mulai menampakkan wujudnya, semua makhluk memulai aktifitasnya. Daku yang masih duduk di sekolah negeri Yogyakarta segera bergegas ke sekolah guna menuntut ilmu. Hari demi hari daku lewati

Bahagiakan Rasaku ini

Oleh:
Hari-hari kulalui tanpa aku melihatnya Mr. B Tanggal 22 Desember 2013 dia berangkat pulang ke kampungnya untuk merayakan Natal bersama keluarga, dia beragama Nasrani, mulai saat itu aku tak

My First Love

Oleh:
Hay, perkenalkan. Aku Gabby Fadilla, panggil saja Dilla. Hari ini hari pertamaku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). “Hey! Apa kau baik-baik saja?” Teriak seseorang. Aku tak mengenalnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *