Senyum Yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 December 2017

Senyum itu kembali kurindukan.
Senyum yang selalu membuat hariku lebih indah. Dan sekarang tanpa kata senyum itu lenyap tak tersisa.
Dia yang kusayang telah hilang dari pengawasan mataku.
Dia yang kini aku rindu.
Yang ingin aku peluk sangat erat.
Agar dia tahu, bahwa aku begitu merindukannya.

“Fa! Lo tuh kenapa, sih?! Secara tiba tiba lo berubah 180 derajat dari biasanya. Lo jadi lebih pasif tau, gak?!” Omel Rena dengan tatapan tajam saat mendapatiku menatap kosong ke lapangan voli. Aku tersenyum menatapnya. “Ah, enggak juga tuh! Gue cuma pengen berubah jadi orang yang kalem aja.” Jawabku, lalu kembali menatap lurus ke depan. Kudengar Rena menghembuskan nafas jengahnya. “Kalo udah dari lahir berisik, lebay, gak bisa diem, ya mau diubah sekeras apapun biar jadi orang kalem pun bakalan gagal kali, Fa!” Sergah Rena tanpa menatapku. Kali ini aku yang menatapnya tajam. “Kalo orang yang mau berubahnya sungguh sungguh, ya bisalah, Ren!” Timpalku yang merasa benar. Rena hanya mengedikan bahunya acuh. Tanpa disadari, ternyata bell masuk telah berbunyi. Dan saatnya untuk kembali memaksa otakku untuk berpikir lebih gencar.

Syukurlah! Bell yang kudambakan selama 4 jam lamanya kini telah berbunyi. Bell pulang lebih tepatnya.
“Fa, lo pulang naik apa?” Tanya Rena saat kami sedang berjalan di depan koridor kelas. “Naik jaka.” Jawabku seceplosnya. Mata Rena membulat kaget. “Jaka?! Anak kelas C itu? Yang badannya kayak senar gitar?!” Tanyanya bertubi tubi. Aku tertawa saat Rena mengucapkan kalimat terakhirnya. “Lo ini! Ya, bukanlah! Mana tega gue naikin punggung dia yang cuma tersisa tulang belulangnya aja, Haha…” Jawabku yang membuat Rena tertawa hingga cekikikan. “Maksud gue, gue pulang jalan kaki.” Lanjutku yang diangguki Rena. “Oh.” Jawab Rena yang masih terdengar nada suara ingin tertawanya. “Bareng gue aja gimana? Gue naik motor soalnya.” Ajak Rena padaku dengan wajah penuh harap. “Enggak apa apa kok. Gue bisa pulang jalan kaki.” Tolakku halus. “Yakin? Dengan kondisi lo yang kayak gini lo pengen pulang jalan kaki sendiri?” Tanya Rena yang menatapku khawatir. Khawatir kenapa? Batinku bertanya. “Kondisi gue? Kenapa emangnya? Gue baik baik aja tuh!” Jawabku sedikit bervolume. “Lo yang suka bengong bengong gak jelas.” Jelas Rena dengan suara yang datar. “Gak papa. Gue bisa pulang sendiri. Believe me,” Ucapku menatapnya dengan tatapan dibuat sendu. Dia menghela nafas pasrahnya. “Gue duluan. Ati ati lo!” Ucap Rena pada akhirnya. Rena telah melesat pergi dengan sepeda motor maticnya, dan aku pun harus segera pulang agar Bunda tak khawatir.

“Assalamualaikum. Fanya pulang!” Ucapku sedikit berteriak. Hening.
Pasti Bunda, Ayah sama Kak Wanda masih di luar rumah, Batinku menyaut. Kuayunkan kakiku menuju kamar, menutupnya dengan lemas, lalu terkapar tak berdaya di atas ranjang empuk milikku. “Entah kenapa, tiba tiba gue rindu lo!” Ucapku lirih pada diriku sendiri. Memoriku melayang jauh ke masa lalu. Mengingatkanku tentang…

Kebahagiaan bersama dia yang entah sedang apa sekarang. Tanpa disadari, air mataku menetes. Segera kuseka air mata yang sempat jatuh itu, lalu beranjak pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang lengket. Namun, tiba tiba mataku tertuju pada satu bingkai foto yang tersimpan foto lelaki sebayaku. “Lo! Selalu buat gue rindu!” Makiku pada foto lelaki yang tersenyum ke arah kamera tersebut. Segera kusimpan kembali foto yang mengundang air mata itu, lalu berjalan pergi menuju kamar mandi.

“Fanya bangun! Udah sore, cepetan ngambil wudhu!” Terasa suatu guncangan pada tubuhku. Yang membuatku mau tidak mau harus membukakan mataku yang terasa berat ini. “Jam berapa?” Tanyaku dengan suara khas orang baru bangun tidur. “Jam 6 sore! Bangun cepetan!” Jawab Kak Wanda yang sudah stand by menanamkan tangannya di pinggang. Dari pada kena amukan macan betina yang lagi bunting, lebih baik gue buruan ngacir ke kamar mandi deh, Ucapku berbisik dalam hati. Segera kutancap gas menuju kamar mandi sebelum mendengar Kak Wanda berteriak sekeras kerasnya. Hingga piring piring tetangga pada pecah.

“Sholat udah, belajar udah, ngerjain PR apalagi, udah. Ngapain, ya enaknya?” Tanyaku pada diriku sendiri. Kududuki tepi ranjangku dengan rasa kebingungan. Deg! Tiba tiba senyum itu hadir. Senyumnya, Senyum dia! Teriak Batinku histeris. “Stop, Fa, Stop! Stop bayangin cowok rese itu!” Gerutuku pada diriku sendiri. Segera ku berlari menuju ruang makan, siapa tahu bayangan tentang dia bisa terhapuskan.

“Kenapa, Fa? Kayak yang habis ngeliat setan aja.” Ucap Kak Wanda dengan mangkok berisikan sup ayam bawang kesukaanku. “Emang!” Jawabku asal. Kududuki singgasanaku di meja makan, lalu mengambil piring beserta nasi dan lauk pauknya, lalu menyantapnya hingga habis.
“Selalu aja ganggu!” Ucapku sedikit keras saat meja makan sedang hening. Ayah, Bunda dan Kak Wanda pun menatapku penuh heran. Mampus gue! Ucapku dalam batin. “Kenapa?” Tanya Ayah bingung. “Enggak, ini… apa? Nyamuk ganggu terus. Hehe…” Jawabku seadanya. Mereka pun kembali sibuk dengan makanannya masing masing. Aku mengusap dadaku, merasa aman.

“Ini masih pagi woyy! Jangan ngelamun kenapa!” Teriak Rena tepat di telingaku. Kupukul bahunya kencang, ia meringis. “Bisa bisa gue pergi ke THT, deh pulang sekolah! Suara lo kayak toa mesjid tau, gak?!” Ucapku berteriak membalasnya. “Nggak!” Sergahnya menjengkelkan. “Masih mikirin si Trisno?” Tanya Rena yang membuatku mengerenyitkan dahiku heran. “Siapa Trisno? Murid baru?” Tanyaku polos, tak tahu apa apa. “Bukan. Itu, murid kelas A kecil. Trisno, kan namanya?” Tanya Rena yang kini tengah tertawa. Aku mendelik. “Nama sebagus itu lo jadiin nama jadul! Kelas itu adanya nama Tristan Bukan Trisno!” Jawabku tanpa mengalihkan pandangan. “Ya, terserahlah! Tapi iya, kan?” Tanya Rena mendesak. “Iya!” Secara spontan aku mengiyakan. Segera kututup mulutku. Rena tertawa nyaring sekali. Memalukan!

“Eh, tapi, dia udah 2 hari ini gak sekolah, ya? Atau gue yang gak ngeliat dia?” Tanyanya kebingungan. “Dia emang gak masuk.” Lirihku kalut. Kembali rasa rindu ini menjalar. Tuhan, aku rindu dia!
“Kenapa gerangan?” Tanyanya lagi. Aku mengedikan bahuku tak tahu. “Ya udahlah, mungkin dia sakit, butuh istirahat.” Ucap Rena menepuk bahuku, menenangkan. “Iya, gue juga mikir kesitu. Gue ngerasa dia sakit. Tapi baru kali ini gue denger dia sakit.” Ucapku jujur. “Ya, kali, Fa! Dia juga, kan manusia. Bisa sakit, bisa mati!” Ucap Rena asal. Aku kembali mendelik tajam. Rena nyengir merasa tak berdosa. “Iya, sih. Tapi, Ren gue rindu dia.” Ucapku lagi dengan suara lesu. “Lo pake acara rindu segala lagi, Fa. Baru juga gak ketemu 2 hari udah kangen, apalagi ditinggal kawin sama dia!” Kembali ucapan Rena membuatku naik tensi. “Jangan asal, deh kalo ngomong! Kawin kawin! Nikah dulu baru kawin!” Timpalku sewot. “Iya, deh… cewek yang lagi nahan rindu…” Ledek Rena menyenggol bahuku pelan. Aku malas menanggapi ocehannya. “Tapi percaya deh sama gue–” Belum selesai Rena bicara, aku sudah memotongnya. “Omongan lo gak bisa di percaya, Ren..” Jawabku datar. Ia mengerucutkan bibirnya. Ingin rasanya ku menepok bibirnya itu hingga bonyok, Haha… Batinku jahat. Bercanda kok, lanjutku dalam hati. “Dengerin dulu! Pasti dia besok masuk. Dia, kan paling anti nyalin buku orang.” Ucap Rena percaya diri. “Bener! Otak lo sama otak gue selalu sepaket, ya, Ren!” Ucapku dengan wajah sedikit sumringah.

Entah kenapa pagi ini aku begitu sumringah. Ada kejutan membahagiakan apa hari ini? Batinku bertanya. “Bunda, Fanya berangkat. Assalamualaikum.” Setelah berpamitan dengan Bunda ku ayunkan kakiku menuju sekolahku tercinta.

Saat ku duduk di bangku putih depan lapangan basket untuk menunggu Rena datang, tiba tiba sosok yang kurindukan datang. Kucubit pipiku keras. Aku meringis, sakit rasanya. “Ini nyata! Dia kembali!” Teriakku histeris. Persetan dengan mereka yang menatapku aneh! Aku tak peduli!
Dia melewatiku, melihatku sebentar lalu kembali menunduk saat ku membalas tatapan itu. Tak apa, yang terpenting kamu kembali! Dan mengembalikan senyumku yang hilang kemarin.
Aku bahagia, sungguh! Sangat bahagia!

Selesai

Cerpen Karangan: Hana Nur A
Facebook: Hana Nur Aini

Cerpen Senyum Yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Still Waiting

Oleh:
Awalnya aku hanya bingung melihat seorang siswi yang satu ini. Dalam benak aku bertanya “Apa yang terjadi dengan dia? Kenapa tingkahnya berbeda dari yang lain?” Sewaktu aku menjadi siswa

The Love Story of My Life

Oleh:
Sembari duduk di pinggir sungai, Aku menghabiskan waktu istirahat sekolah yang sangat membosankan, angin-angin genit mulai menghembus kecil seraya membisikan kepadaku bahwa selama aku masih bernafas, aku akan menunjukkan

Hidup Yang Kedua

Oleh:
Sudah lebih dari dua tahun aku merasakan kepedihan hidup ini. Disaat yang sama, di tempat yang sama, bahkan dengan orang yang sama. Sungguh, aku tak habis pikir, aku bingung

Buku Pertamaku

Oleh:
Sudah satu jam lebih aku berkeliaran di perpustakaan ini. Sebagai orang desa, aku kagum dengan perpustakaan ini. Aku, yang notabene hanya anak petani, bisa kuliah di IPB inipun, karena

Your Fault

Oleh:
Aku punya cerita. Ini cerita kenyataan, salah satu bagian dalam hidupku. Namaku Rania Larasati, panggil saja Ran. Aku akan menceritakan salah satu bagian hidupku dimana aku ditembak salah satu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *