Seperti Detektif Conan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 July 2019

“Tak bisakah kau menerimaku? Aku hanya ingin menjadi temanmu!” Kalimat yang selalu terngiang di telingaku. Sebuah kalimat yang terlontar dari mulut pendiam Evan, takkan hilang dari ingatanku. Meski hanya sebuah pementasan drama untuk tugas sekolah, tapi aku terbawa suasana waktu itu atau istilah jaman sekarang sih ‘baper’. Itu memang salahku karena aku baper pada hal yang tak pantas aku baperkan.

Evan Aditya Fairuz, cowok yang berhasil merebut perhatianku tanpa dia melakukan sesuatu heroik apapun. Bahkan tanpa kalimat sapaan apalagi gombalan darinya. Aku menyukainya entah karena apa, aku pun tak mengerti dengan perasaanku. Hanya kalimat drama itu yang merupakan kalimat terpanjang dan paling menyentuh yang pernah dia utarakan padaku. Selama ini dia selalu diam, tak pernah berbincang seperti yang lainnya. Aku selalu berkhayal bahwa aku dan Evan selalu berbincang panjang lebar hingga tak ingat waktu. Tapi ya itu hanya anganku yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan kenyataannya.

Ditambah berita tak mengenakkan yang kini sedang hangat beredar di sekolahku, mengenai kedekatan Evan dan Zila sahabatku. Zila memang sudah berteman dengan Evan sebelum mereka masuk SMA, jadi wajar saja jika mereka mempunyai perasaan lebih, terutama Zila. Aku semakin takut dengan perasaan ini. Setiap hari aku hanya bisa memandangnya, memperhatikan gerak-geriknya dan setiap tingkahnya secara diam-diam.

Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar adanya. Dia juga memperhatikanku secara diam-diam. Saat itu, sedang jam pelajaran Sejarah. Aku dengan sengaja melihat jam dinding yang menempel di dinding belakang karena aku tak mengenakan jam tangan hari itu – juga sembari melihatnya. Saat kulihat, dia juga sedang melihat ke arahku, mataku dan matanya bertemu -saling memandang untuk waktu yang tak lama, kemudian dia mengalihkan pandangannya sesegera mungkin. Itu hanya satu contoh kejadian dari puluhan kejadian yang sama. Bahkan setelah itu, mata kami bertemu lagi- mengalihkan lagi dan terus seperti itu dalam satu waktu. Kantin, lapangan dan perpustakaan pun tak absen dari daftar kejadian itu.

Ingin rasanya kuhampiri dia dan menatapnya dari dekat, agar aku bisa melihat matanya yang bulat sempurna dan mendengar seberapa kencang detak jantungnya. Tapi aku tak punya cukup nyali untuk melakukannya. Hanya mampu memata-matai layaknya seorang detektif profesional.

Hari itu, Evan tampak berbeda dengan kacamata yang ia kenakan. Bukan untuk menambah gaya seperti senior, melainkan untuk memperjelas pandangannya pada papan tulis yang berjarak cukup jauh darinya. Saat memakai benda itu, dia terlihat sedikit lebih menarik, auranya sangat terasa. Dia terlihat sangat mirip dengan tokoh komik- anime Detektif Conan. Mungkin bisa dibilang, dia itu Conan versi dunia nyata dan lebih tampan dari versi animenya. Dalam satu hari itu otakku tak bisa berhenti memerintahkan untuk terus memperhatikannya. Dengan alasan apapun kulakukan.

Beruntungnya, setiap aku melihat ke arahnya, dia juga sedang melihatku. Entah ini hanya kebetulan atau memang sudah rencana Tuhan. Aku dan Evan bahkan terlihat seperti dua orang detektif yang sedang mengintai musuhnya- yang tak mau melewatkan satupun geriknya. Bedanya, kami tidak mengintai untuk mencari info sebagai bukti lalu menangkapnya, kami hanya mengintai dan terus mengintai tanpa ada tindakan lanjut dari masing masing. Aku hanya bisa seperti ini, menunggunya mengungkap kebenaran pada dunia, apa yang sebenarnya dia rasakan padaku. Pada siapa hatinya terpaut, aku ataukah Zila.

Seperti detektif yang selalu bersembunyi, itulah aku dan perasaanku.

Cerpen Karangan: Almass Nafis
Blog / Facebook: Almass Mallete

Cerpen Seperti Detektif Conan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta dan Sahabat

Oleh:
Ayam berkokok membangunkanku di pagi ini. Aku berjalan menuju pintu kamar mandi dan siap-siap pergi ke sekolah. Ternyata ke empat temanku sudah menungguku di depan kelas. Sebelum masuk ke

Karena Pena

Oleh:
Masih terngiang jelas di pikirannya, bayangan mengenai adik tercintanya yang sangat menginginkan sepeda baru. Namun si gadis pemilik nama Erli Indriyani itu sadar betul bahwa ia bukanlah dari kalangan

Jangan Cintai Aku Karena Dia

Oleh:
Wanda masih saja memandang sebuah foto yang terpampang di layar handphonenya itu sambil senyum-senyum sendiri. Sampai-sampai ia tak melihat ada Fathir yang sedari tadi melihatnya dengan aneh. “Kamu kenapa

Pulang Sekolah

Oleh:
“Pulang sekolah” adalah sebuah kata yang menyenang untuk didengar, diucapkan, bahkan untuk dilakukan. Selama masih berstatus pelajar “pulang sekolah” merupakan tujuan akhir bagi semua pelajar saat masuk sekolah, bagiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *