Tak Seindah Harapan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 September 2017

Aku berjalan menuju ke kelas sambil tersenyum-senyum, tanpa aku sadari temanku Lusi sudah berada di sebelahku dan berkata “Ciiieee… Ciieee… Hahaha…”, Aku kaget dan berkata “Haaa? Maksuudddnya? Kamu nggak apa-apa kan Kawan?”. Dia berkata “Nggak, nggak apa-apa. Hahaha…” Lagi-lagi aku bingung dan menjawab “Nggak apa-apa tapi kenapa kamu aneh gitu?”. “Hahaha… Nggak apa-apa kok, santai aja” Jawabnya.

Sesampainya di kelas aku langsung duduk di kursiku. Tanpa aku sadari ternyata aku tidak henti-hentinya tersenyum sampai salah satu teman sekelasku menegurku dan berkata “Syah, kamu nggak apa-apa kan?”. Aku bahkan tidak menyadari kalau dia menegurku sampai dia mengulang lagi pertanyaannya. Aku terkejut dan berkata “Haaa? Nggak, aku nggak apa-apa kok!”. “Kalau nggak kenapa-napa? Trusss… Kenapa dari kamu masuk aku perhatikan kamu senyuuummm terus, senyuumm terus? Kenapa sih?” Katanya. Jawabku “Benaran kok, aku nggak apa-apa”. “Ya udah, kalau gak apa-apa!” katanya lagi.
Aku juga bingung dengan diriku sendiri, kenapa aku senyum-senyum terus dari tadi. Jangan-jangan? Aahhh… Tau ah… Malas aku mikir-mikir begitu? Bagaimana orang lain akan mengerti dengan diriku jika aku sendiri saja bingung dan tidak mengerti dengan diriku. Hmmm… Mau bagaimana lagi? Itulah aku, aku terlalu keras dengan diriku sendiri. Aku tidak mau diriku berpikir yang lain selain belajar belajar belajar dan belajar. Karena untuk saat ini bagi seorang Aisyah Putri tidak ada yang lebih penting selain belajar demi membahagiakan kedua orangtua.
Tapi, hari ini benteng pertahanan itu roboh karena sekarang aku sadar bahwa ternyata diriku memiliki rasa itu. Iyaahh, “Rasa Itu” Rasa yang seharusnya tidak dimiliki seorang Aisyah Putri. Namun, hari ini aku benar-benar tidak menyangka kalau aku memiliki rasa itu. Aku kembali mengingat semua kejadian yang pernah aku lalui bersama dengan Kak Bayu. Semua tampak jelas kalau dia menyukaiku tapi aku ragu kalau dia menyukaiku. LCC 4 PILAR, sms, Isra Mi’Raj, 8 Mei, Salamin semuanya tampak sangat jelas. Tapi, aku benar-benar tidak yakin kalau dia menyukaiku. Ahhh… pusing pusing? Tau ahhh, sadar Aisyah! Sadar! Kamu nggak boleh kayak begini?! Gerutuku dalam hati.

Hari-hari terus berlalu sejak kejadian terakhir kali. Hari-hari aku lewati tanpa memikirkan hal itu lagi, namun kadang-kadang jika memikirkannya aku merasa terganggu. Karena tetap saja seperti kejadian terakhir kali setiap pagi ketika aku sampai di sekolah dan giliran jaganya Kak Bayu pastilah ketika aku menyalaminya dia tidak juga melepaskan tanganku dan terus menatapku sampai-sampai aku bahkan tidak bisa balik menatapnya hanya tertunduk saja tanpa bisa berbuat apa-apa.
Hatiku berkata jika benar Kak Bayu juga memiliki rasa itu berarti rasa yang yang kupunya untuk dia ini tidak sia-sia. Namun, jika tidak aku akan melupakan ini dan menganggapnya sebagai salah satu kenangan terindah diriku dengannya. Walaupun nanti semuanya tidak akan semudah yang kubayangkan tapi aku yakin aku akan baik-baik saja dan semuanya akan baik-baik saja. Semoga…

Sejak kejadian terakhir kali setiap bertemu dengan Kak Bayu jujur aku sangat gugup. Jantungku tak berhenti berdetak dan keadaan di hati ini pun tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Namun, sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak menunjukkan emosi itu kepadanya. Karena itu sangat tidak mungkin. Sebagai seorang wanita aku sangat menjaga imageku. Ketika aku menyadari bahwa aku punya rasa itu untuknya pun aku sangat menyesal karena kenapa begitu cepat aku menyadarinya. Sedangkan aku sendiri belum siap dan bahkan tidak siap dengan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Kemungkinan apakah dia memiliki rasa itu juga atau tidak. Karena jujur aku adalah tipe orang yang tidak suka disakiti hatinya. Aku bahkan sangat takut jika aku sampai sakit hati dan juga patah hati. Tapi, aku tidak terlalu berharap bahwa perasaan itu akan terbalas. Karena aku terlalu takut untuk berharap. Takut kalau semuanya ternyata Tak Seindah Harapanku. Ya Allah… bantulah aku? Jangan biarkan aku mencintai hambamu melebihi cintaku kepadaMu. Aaaamiiinnnn…

Aku sangat berharap sampai nanti Kak Bayu lulus dari sekolah ini dia tidak boleh tahu tentang perasaanku kepadanya. Karena itu sangat memalukan. Pernah sekali aku mengidolakannya karena dia rajin sholat. Aku berkata begitu karena setiap waktu sholat Duhur aku selalu bertemu dengannya di musholla sekolah. Tapi itu hanya perasaan simpati saja, tidak lebih tapi ternyata sekarang berkembang di luar perkiraanku. Aku mengidolakannya sebelum dia jadi ketua Osis. Aku bahkan bertanya pada diriku sendiri apakah setelah dia jadi ketos aku masih mengidolakannya? Aku rasa jawabannya sudah jelas, semua itu lebih dari rasa simpati yang aku bahkan tidak bisa membayangkannya.

Setelah kejadian 8 Mei aku merasa bahwa Kak Bayu juga punya rasa itu. Karena setiap aku lewat di depan kelas Kak Bayu dia selalu memanggilku tapi, bukan memanggil namaku lebih tepatnya dia terlihat seperti seseorang yang ingin merayuku. Dia selalu menshut-shutku. Ketika aku menyadari ada orang yang memanggilku, aku berbalik arah dan melihat dalam kelas Kak Bayu dan orang yang memanggilku ternyata itu Kak Bayu. Itu selalu terjadi setiap kali aku lewat di depan kelasnya. Aku lewat bukan karena ingin melihat Kak Bayu tapi aku ada urusan yang mengharuskan aku lewat di depan kelasnya selain karena aku pergi sholat. Yang paling aku heran dari Kak Bayu adalah dia melakukan hal itu hanya kalau yang ada di tempat itu hanya aku dan dia. Kami sering bertegur sapa sejak aku mengsms dia. Tapi, yang mengherankan adalah sama seperti dia mengshutku dia juga hanya menegurku kalau di tempat itu hanya ada aku dan dia. Karena ketika kami berjalan dan tidak sengaja berpapasan dia terlihat cuek banget kalau aku berjalan dengan teman-temanku. Tapi, kalau aku berjalan seorang diri, olalalala… Sudah tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Yang bisa kami lakukan hanya saling pandang-memandang, senyam-senyum nggak jelas sampai kami berlalu. Aku nggak tahu alasan dia apa, tapi menurutku dia hanya ingin menjaga imagenya sebagai seorang Ketua Osis dan aku hanya bisa memakluminya walaupun aku tidak bisa menyangkal kalau aku sedikit kecewa dengan sikapnya yang seperti itu. Walaupun, hanya seperti itu aku tidak bisa menyangkal kalau hatiku merasa senang. Dan itu tidak hanya sekali dua kali tapi berulang kali.

Seperti hari ini, ketika aku akan pergi sholat dan lewat di depan kelasnya Kak Bayu kulihat dia hendak mencas laptopnya. Tapi, ketika aku kembali kulihat dia sedang duduk di depan meja guru dan sedang berhadapan dengan laptopnya. Awalnya kukira dia tidak melihatku tapi ternyata dia sudah melihatku dan menshutku lagi sambil tersenyum. Aku sangat malu karena di dalam kelas ada teman-temannya untung saja mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing sehingga tidak memperhatikan kami. Aku hanya berbalik melihatnya dan membalas senyummannyaa kemudian berlalu meninggalkannya.

Hari ini, kami anak-anak 4 pilar harus berbahagia karena kami kedatangan tamu Panitia LCC 4 PILAR MPR RI dari pusat. Kami benar-benar penasaran dengan maksud kedatangan mereka. Ternyata oh ternyata kedatangan mereka untuk memberikan pembekalan kepada kami persiapan untuk LCC MPR RI tingkat Nasional. Sekolah Kami ditunjuk langsung karena di Provinsi kami hanya sekolah kami yang sudah melaksanakan lomba tingkat kota. Alhamdulillah… Terima kasih Ya Allah karena sudah mengabulkan permintaan kami.

Kedatangan mereka juga memperjelas kalau peserta lomba sebenarnya 10 orang. Karena kami baru 9 orang Pembina kami akhirnya mencari tambahan 1 peserta lagi. Dan orang yang beruntung itu adalah Kak Bayu. Akhirnya Kak Bayu bergabung dengan kami. Pada saat itu juga, ketika kami sedang latihan dan tiba waktunya sholat Asar kami menuju ke musholla sekolah untuk sholat. Dan aku berjalan bersama dengan Uni dan juga Kak Bayu. Kami berjalan sambil berbicara-bicara sampai ketika topik pembicaraan kami sampai di lomba tingkat kota Kak Bayu berkata kalau dia menyaksikan kami berlomba sampai selesai tapi aku menyangkalnya. Aku berkata kalau dia bohong. Dia bilang dia menyaksikan sampai akhir tapi aku tetap menyangkalnya. Kami terus beradu mulut sampai tidak menyadari sejak tadi Uni terus menatap kami dengan tatapan yang penuh kecurigaan. Aku hanya bisa balik menatapnya kemudian menatap Kak Bayu dan kemudian tersenyum dengan sendirinya sampai akhirnya kami bertiga tertawa. Aku kemudian berjalan mendahului mereka ke tempat pengambilan air wudhu.

Ketika aku sudah di depan keran aku belum juga mengambil air wudhu, sampai Uni bertanya “Syah, kamu nggak wudhu?” “Wudhu kok, tapi nanti aja, setelah Kak Bayu selesai soalnya aku nggak nyaman kalau ada laki-laki” jawabku. “Yelah bohong, buktinya kemarin-kemarin biarpun ada aku kamu tetap berwudhu” Kak Bayu nyerocos secara tiba-tiba sambil tertawa. “Kapan? Perasaan setiap aku wudhu Kak Bayu udah selesai wudhu deh, lagipula berapa hari kemarin Kakak juga nggak sholat” jawabku. “Iiihh… perasaan kemarin Kak Bayu sholat” katanya. “Di mana? Aku nggak lihat tuh? Emangnya Kakak sholatnya di luar tembok musholla ini. “Kakak sholat kok, kamunya aja yang nggak lihat lagipula kakak sholat setelah di musholla sepi orangnya” timpalnya lagi. “Yelah, ketahuan deh bohongnya, kemarin itu aku orang terakhir yang keluar dari musholla, karena setelah selesai sholat bel pulang langsung berbunyi” Ledekku padanya. Dan perdebatan di antara kami pun tidak terelakkan sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya karena Kak Bayu mengakhiri pembicaraan karena dia segera membaca do’a sebelum wudhu.

Tak kusangka Kak Bayu ternyata bukannya membaca do’a sebelum wudhu tapi malah mencipratkan air dari keran kepadaku. Belum sempat aku membalas Kak Bayu langsung membaca do’a sebelum wudhu dan langsung berwudhu. Aku menunggu-nunggu Kak Bayu selesai berwudhu karena ingin membalas perbuatannya. Setelah kulihat dia selesai membaca do’a selesai wudhu aku langsung mencipratkan air kepadanya dan kami akhirnya saling mencipratkan air. Kami belum juga berhenti kalau saja Uni dan Intan tidak berdehem melihat kelakuan kami. Aku hanya bisa menatap keduanya sambil tersenyum.

Cerpen Karangan: Rusna Abdullatif
Facebook: Rusna
Seseorang yang bermimpi menjadi seorang penulis Novel Terkenal. Novelis yang ingin novelnya di filmkan

Cerpen Tak Seindah Harapan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Scouts Selamanya (Part 2)

Oleh:
Jam sudah menunjuk pukul 12:10, kami sudah berkumpul di tengah lapangan, begitu juga dengan peserta lainnya, kami membentuk barisan, dimana setiap barisan berisi anggota dari sangga masing-masing. Kali ini

Antara Cinta dan Cita Citaku

Oleh:
Namaku Agnes, usiaku 17 tahun. Dilihat dari usiaku saja kalian pasti sudah tau bahwa aku masih duduk di bangku sekolah. Dan itu memang benar, aku duduk di kelas XII

Sedih Atau Bahagia

Oleh:
Jum’at ini aku seneng banget karena aku bakal ketemu sama Fiki, karena kemarin aku ijin gak masuk sekolah. Siang-siang kaya gini panasnya kebangetan. Yup aku termasuk murid siang karena

Akankah Cinta Dalam Hati

Oleh:
Cinta dalam hati ya mungkin itulah kata terbaik. Tapi aku sendiri tak begitu menganggap sosoknya. Aku masih sangat labil menentukan siapa sebenarnya yang aku suka. Begitu banyak sosok yang

Petaka Dalam Cinta

Oleh:
What’s Up, Guys? Gue Nui. Gue bahkalan kasih tahu ke lo tentang masalah cinta. Yap! Cerita ini gue rangkum dalam judul Petaka dalam Cinta. Lo pasti pernah ngerasai jatuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *