Tak Terucapya Sebuah Kata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 26 November 2017

Hari kedua paska MOS (Masa Orientasi Siswa) berakhir. Pelajaran berlangsung sebagaimana mestinya. Jiwa muda para siswa SMA terlihat dari wajah mereka, termasuk jiwa muda salah satu murid yang sedang merasakan gejolak di dada. Wajar rasanya bila merasakan jatuh cinta pada masa putih abu-abu ini. Seorang siswa laki-laki terlihat sedang memandang salah satu siswa perempuan satu kelasnya. Aldo memandang Lala yang tengah asyik bercanda bersama siswi perempuan lainnya. Merasa ada yang memandang dirinya, Lala memalingkan kepala ke arah kanan, arah dimana Aldo memperhatikannya. Didapatinya Aldo sedang menatapnya. Dua pasang mata bertemu. Menumbuhkan benih-benih asmara di taman hati mereka. Sesuatu memang tak bisa ditebak datangnya apalagi yang berhubungan dengan hati. Tak seorang pun dapat menebaknya dan tak seorang pun dapat menolaknya.

Bel tanda istirahat berbunyi. Aldo berjalan ke arah Lala, tapi langkah kaki terhenti tatkala Aldo melihat Dirga mendekati Lala. Mereka berdua tampak asyik mengobrol. Aldo pun pergi meninggalkan Dirga dan Lala. Lala terlambat menyadari kehadiran Aldo yang telah pergi meninggalkannya.

Di kantin, Lala mengisi perut yang kosong dengan segelas jus apel dan sepiring siomay kesukaannya. Di kejauhan sana, tepatnya di lapangan basket yang letaknya berdekatan dengan kantin Dirga asyik menggoda dengan melambaikan tangannya ke arah Lala. Lala sempat tersenyum sampai ia menyadari kehadiran Aldo bersama siswi perempuan satu kelasnya, Luna. Mereka asyik mengobrol. Terdengar samar di telinga Lala, tampaknya mereka membicarakan segala sesuatu tentang Jepang. Mulai dari makanan khas masyarakat Jepang, anime (film kartun khas Jepang) yang mereka sukai sampai hobi melukis anime yang sama. Menguping perbincangan Luna dan Aldo, membuatnya tak sadar ia telah selesai menyantap makan siangnya. Makan siang yang semula segelas jus apel berubah menjadi segelas kecemburuan. Yang semula sepiring nasi menjadi sepiring kemarahan. Lala sudah tak tahan mendengar semua pembicaraan Luna dengan Aldo. Ia memutuskan untuk segera kembali ke kelas, Saat akan berdiri dari meja duduknya, Lala mendapati Aldo tengah menatapnya seakan berkata
“Aku pun bisa bercanda dengan siswi perempuan lainnya”

Bak mendapat hantaman besar, tubuh Lala goyah. Sontak Lala merasakan sakit di dadanya. Bunga di taman hatinya jatuh berguguran. Mata Lala berkaca-kaca. Tak bisa berkata apa-apa dengan tatapan Aldo, Lala berlari menuju kelas. Aldo yang baru mengerti apa yang terjadi akibat tatapan anehnya itu, berusaha memanggil Lala, tapi terlambat untuk melakukannya.

Kelas berikutnya akan dimulai lima menit lagi. Aldo mencoba mengatakan apa yang sebenarnya terjadi
“Maaf aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya cemburu kamu asyik bercanda dengan Dirga”
Tapi kata-kata itu tak sanggup keluar dari mulutnya. Untuk apa itu semua dikatakan, toh sudah terjadi. Pikirnya

Di seberang meja Aldo, ia mendapati Lala yang tertunduk sedih.
“Maaf aku juga tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya lelah menunggumu untuk mengatakan yang sejujurnya kepadaku”

Wanita hanya bisa menunggu. Tapi pria membutuhkan waktu yang tepat untuk mengatakan semua kepada wanitanya
Wanita hanya bisa memendam perasaannya, ia butuh seseorang yang mengerti isi hatinya tanpa harus mengatakannya. Tapi pria bukanlah seseorang yang mengerti isi hati wanita tanpa mereka mengatakannya
Pria dan wanita yang akhirnya bersama adalah mereka yang meninggalkan gengsi untuk mengatakan yang sejujurnya kepada pasangannya

Karena kata-kata mereka yang tak kunjung terucap, benih-benih asmara di taman hati mereka tak kunjung berbunga.
Karena kata-kata mereka yang tak kunjung terucap, kesalahpahaman itu tak kunjung usai.
Semua ini karena semua terlambat memulainya. Karena terlambat untuk memulai, maka akhir tak kunjung terlihat.
Aldo telah menjadi milik Luna. Dan Lala telah menjadi milik Dirga

Malam sebelum Lala menerima pernyataan cinta dari Dirga, ia meninggalkan gengsinya untuk menanyakan semua kepada Aldo.
“Apa saat ini telah ada seseorang yang mengisi hatimu?”
“Ya” Jawaban singkat dari Aldo telah merubah pemikirannya.
“Untuk apa aku menunggu seseorang yang bahkan tidak menempatkanku di hatinya”
“Atas dasar apa aku harus sakit hati, jika itu memang yang dikatakannya padaku?”
“Bukankah itu sudah jelas, dia tidak menyukaiku, aku tidak ada dalam hatinya, dan jawaban singkatnya itu telah meperjelas semua keadaan ini”
“Memang aku yang salah. Selama ini aku menunggu hal yang tak pasti. Menunggu seoang pria yang bahkan tak bisa jujur dengan perasaannya sendiri”
Mulai dari pemikiran-pemikiran seperti itulah, Lala berusaha merelakan Aldo dengan orang lain.

Waktu yang tepat bagi Dirga karena ia menyatakan perasaannya kepada Lala saat pulang sekolah. Seperti sudah ada dalam skenario, malam hari Aldo mengakui bahwa ada orang lain selain Lala di hatinya. Dan siang hari Dirga datang mengisi kekosongan hati Lala.

Tanpa berpikir panjang Lala mengiyakan pernyataan Dirga. Lala tak berpikir jauh ke depan. Yang ia pikirkan saat ini adalah seseorang yang mengisi hatinya. Lala tak berpikir bahwa bukan hanya seseorang yang ia butuhkan. Tapi perasaan yang tulus darinya untuk membiarkan orang lain singgah di hatinya. Ia melewatkan perasaan tulus itu.
Perasaan terpendam seseorang tak ada yang tahu, kecuali mereka mengatakannya.

Cerpen Karangan: Lutfia Nur Azizah Diah Hidayati
Facebook: LutfiaNurAzizah
Nama: Lutfia Nur Azizah D.H
Saat ini bersekolah di SMKN 1 TUREN

Cerpen Tak Terucapya Sebuah Kata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Terbalas

Oleh:
Saat aku menginjak kelas 8, aku bertemu dengan orang orang baru yang belum kukenal seluruhnya. Dari berbagai kelas. Hanya beberapa orang yang kukenal, tentu saja orang orang yang berasal

Cinta Diam Diam

Oleh:
Awalnya jantung ini masih berdetak normal seperti biasanya saat pertama kali melihatmu. Namun tiba-tiba saja saat pertama kalinya kamu berbicara padaku, rasanya jantung ini siap-siap lepas dari tempatnya. Aku

Penggemar Rahasia Aisyah

Oleh:
Mungkin ini surat dan bunga yang ke seratus kalinya kuletakkan di lacinya. “Assalamualaikum Ukhti, Ana Inni uhibbuki fillah. Aku berharap engkau tersenyum membaca suratku.” “Dari: Penggemar Rahasiamu” Itulah isi

Menyebut Namanya Dalam Sujudku

Oleh:
Hari ini, aku sungguh tak percaya dengan takdir allah. Bagaimana tidak? Dia satu kelas denganku. Ketika kelas 10, tak jarang aku menyebut namanya dalam sujudku, salah satunya agar dia

Ku Ingin Namaku di Hatimu

Oleh:
Awalnya kita dipertemukan dalam suatu keadaan yang tak memungkinkan kita bertegur sapa, hanya melihat dan mendengar sentakan kaki mu saat engkau lewat di hadapan ku. Senyumanmu membuat hatiku hilang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *