Ternyata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 August 2016

“Arin” teriak Dimas saat memanggilku. Aku mendengar suara itu dari belakangku, lalu aku membalikkan badanku melihat ke arahmu dan menjawab “Dimas, ada apa?”. Jantungku mulai berdetak, begitu terpesonanya aku karenamu. Tanpa tersadar kau telah menjawab pertanyaanku. Tanganmu melambai-lambai di depan wajahku. “Arin, kamu dengar kan, aku tadi bilang apa? Arin! Kamu ngelamun, ya? Hei, di depanmu ada orang! Kamu kenapa sih?”. Mungkin karena kau mulai kesal, akhirnya kau menepuk pundakku. “Hah? I.. i.. ya, iya. Aa.. a a…pa? Apa?” kataku gugup saat menjawab pertanyaanmu itu. “Tuh kan, kamu melamun. Nggak baik lagi kamu melamun pagi-pagi. Nanti kerasukan setan, gimana?” dengan nada tertawa kau berkata. “Eh, kamu kok bilang gitu sih? Kamu do’ain aku yang gak bener” Aku mulai kesal dengannya. Aku memasang wajah cemberutku. “Jangan ngambek dong! Nanti cantiknya ilang loh” dia mengatakannya dengan nada menggoda. “Oh iya, kamu sudah beli buku latihan soal itu?” dengan menunjuk ke arah teman-teman yang sedang memegang buku itu. “Belum, kenapa emangnya?” tanyaku kepo. “Wah sama, aku juga belum beli. Gimana kalau kita beli bareng?” gayamu sambil menaikkan alis. Hatiku berdebar, rasanya ingin menampar wajah tampanmu itu karena telah membuatku tersipu malu. Aku terkejut mendangar kata-kata itu. Tanpa tersadar aku berteriak di telingamu “Apa?”. Dengan muka marah, tanganmu menutupi telingamu itu. “Arin! Suaramu di telingaku” teriakmu. Belum sempat aku menjawab, dia berkata kembali “Kamu mau nggak, sih?”. Aku hanya mengangguk, dengan senyuman yang begitu membara “Tentu saja aku mau, siapa coba yang nggak mau sama cowok pinter yang ganteng dan baik hati itu. Mungkin hanya orang buta saja yang tak bisa melihatmu” gugamku dalam hati.

Dimas telah memasuki ruang kelas, sedangkan aku masih termenung di kursi taman. Tiba-tiba saja Ana datang menepuk pundakku “Woi!. Kamu ini aku cariin dari tadi, eh taunya ada disini. Pak Anto bilang besok olahraganya libur karena Pak Anto mau ke Surabaya”. Lalu aku menjawab “Oh, ya sudah ayo kita masuk kelas”. Akhirnya aku dan Ana sahabatku bersama-sama berjalan menuju kelas.

Bel sekolah telah berdering, tanda pembelajaran telah selesai. Murid-murid berlarian keluar kelas. Bersama Ana, aku keluar dari kelas menuju pintu gerbang. Kuhentikan langkahku sejenak guna menengok ke belakang, nampaknya kau berlari mengejar langkahku. Setelah kau sampai di hadapanku kau berkata “Jangan lupa ya nanti, aku langsung tunggu di rumah kamu!” begitulah kau mengingatkanku. “Iya iya, kamu tunggu aku ya!” jawabku dengan senyuman. “Ya udah, aku pulang dulu kamu hati-hati di jalan ya daah” Dimas meninggalkanku sambil melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangannya. “Ciyeee..” goda Ana padaku. “Apaan sih na?” jawabku malu. “Kapan jadiannya? Pajaknya mana, nih?” tanya Ana. “Hah? Siapa yang pacaran?” aku terkejut. “Kamu sama Dimas keles” seru Ana. “Ah, enggak kok kita cuma mau beli buku latihan aja kok” balasku. “Ciye ciye, ihiy” Ana membuatku tersipu.

Aku nggak sabar nih nungguin jemputan, rasanya ingin cepat-cepat pulang. Kira-kira gimana ya ekspresiku nanti? Aku pasti bahagia. “Haaaaah…” tarik nafas yang dalam lalu ku tersenyum manis. Sumpah, tak pernah terbayangkan hal ini sebelumnya. Dan akhirnya, ayah tiba menjemputku. Sesampainya di rumah, ayah berkata “Arin, ayah masih ada tugas kantor yang harus diselesaikan. Mungkin ibu kamu masih sibuk meeting” katanya begitu. “Yaaa, Arin sendirian di rumah dong” ucapku. “Ini kunci rumahnya, kalau kamu mau pergi-pergi rumahnya dikunci dulu ya!” dengan memberikan kunci rumah tersebut kepadaku. Aku menunggu Dimas menjemputku, rasanya tak enak bila menjadi anak tunggal.

“Tin tin” terdengar suara sepeda motor Dimas, tampaknya dia sudah datang. Kubuka pintu rumahku, dan kau sedang tersenyum manis di depan gerbang. Aku segera mengunci rumah dan menemuimu. “Akhirnya sampai juga” katamu setiba di toko buku. “Selamat datang” kata seorang pegawai menyambut kedatangan kita. Aku menatapmu sejenak “Apa?” tanyamu, “Nggak ada” jawabku dengan ekspresi datar dan melangkah meninggalkanmu. “Eh, Arin!” kau memanggilku, tapi kali ini kau memanggil dengan memegang tanganku seraya aku tak boleh pergi meninggalkanmu. Dan ku melihatmu, “Kamu mau kemana?” nadanya seperti penasaran. Lalu aku mengerenyitkan dahi “kamu mau tau aja, apa mau tau banget?” seperti orang pelit saja ku berkata begitu. “Mau tau banget” wajahmu mendekat ke wajahku, “Iiiih.., apa’an sih?” sambil mendorong wajahnya dan kutinggalkan dia.

Aku yang sedang mencari buku tiba-tiba saja dikejutkan olehnya “Bukan nyari buku latihan, kok malah nyari novel?” tanganmu mengambil buku yang sedang kupegang. “Emang kamu udah nyari buku latihannya?” dengan memangangku tangan kuberkata begitu. “Emang kenapa kalau aku nyari seperti ini? Nggak boleh, ya?” sahutku. “Ya boleh sih, tapi tugasnya dulu dong kerjakan biar cepat selesai” pintanya. “Lagi pula kamu belum menemukan buku latihan itu” aku mulai marah. “Aku mau cari ke lantai 2 dulu barangkali bukunya ada disana”. Aku pergi meniggalkanmu, lalu tak lama kemudian kau menyusulku “Eh, tunggu dulu! Aku ikut dong!”

Dan akhirnya kita pun menemukan buku latihan yang kita maksud. “Makasih ya Arin, kamu udah temani aku membeli buku” aku tersenyum mendengarnya “Iya sama-sama kamu hati-hati di jalan ya! Jangan ngebut-ngebut!” kau segera menaiki sepedamu sembari meninggalkanku di depan rumah.

Malam harinya, aku membuka ponselku. Disana tertulis “3 pesan baru” lalu ku membuka pesan tersebut, ternyata Dimas. Aku membalas pesan darinya “Maaf Dimas, tadi aku ketiduran. Ada apa ya kamu sms aku?”. Tak lama kau membalas “Besok ada tugas, tidak?” tanyanya lewat pesan “Tidak, kenapa?”. Setelah tertulis Delivered, ponselku berdering “Gak ada apa-apa kok” secepat itu kau membalas pesanku. Banyak pesan darimu yang kubalas sampai aku terlupa isi pesannya apa. Hingga larut malam pun tiba, kata “Good Night” terketik dalam pesanku. Aku menunggu lama balasan terakhir darimu, mungkin dia sudah tidur ya sudahlah. Ternyata kau membalas “Selamat malam, Arin”.

Kujalani hari-hariku di sekolah dengan riang gembira, menyambut indahnya mentari. Ku tersenyum bahagia. Dengan pandangan curiga Ana pun bertanya “Kenapa kamu senyum-senyum?”. Kubalasnya hanya dengan senyuman. “Habis kesambet, ya?” Ana kembali bertanya. Kuletakkan ranselku di bangku tempatku duduk dan menjawab pertanyaan Ana “Ngapain aku kesambet?” tawaku padanya “Kamu bisa aja deh” ucapku. Ana tak menjawab.

Besok hari Sabtu, tapi aku tak belajar di malam Sabtu. Aku merenungkanmu di kamar sambil menyalakan TV, betapa borosnya aku. Seharusnya kan, aku matikan TV itu jika aku merenungkanmu. Eh, tunggu dulu deh. Kenapa waktu itu aku nggak nanya siapa yang dimaksud Dimas saat ia mencari cara menembak cewek tersebut, ya? Aaah.., betapa begonya aku. Kenapa ya, Dimas mencari hal itu? Apakah ada cewek yang akan dia tembak untuk menjadi pacarnya? Yaah.., sayang sekali padahal aku sedang mengaguminya saat ini. Huuuwaaaaaah…, aku menangis mengeluarkan air mata.

Setelah pelajaran berlangsung, jam istirahat pun tiba. Aku berlari menuju kantin, lagi-lagi Dimas menghentikan langkahku. “Apa lagi, Dimas?” tanyaku kesal. “Kamu marah?” paniknya. “Nggak, kenapa?” tiba-tiba bibirku melebar tersenyum padamu. “Nggak ada sih, kok sendirian? Ana mana?” tanyanya. “Ana?” aku terkejut, “Kenapa tiba-tiba Dimas menanyakan keberadaan Ana? Apa jangan-jangan…” batinku belum selesai berkata, Dimas menyadarkanku dari renungan. Lalu ku menjawab “Eeeh…, anu…, aaa…, Ana lagi ke kamar mandi” ku melirik sana sini dan kembali berkata “Iya, dia sekarang berada di kamar mandi”. Tapi, dia hanya menjawab “Oh” dan kembali bertanya “Kamu sendirian aja nih ceritanya?” aku melirik-lirik ke belakangnya, siapa tau ada teman yang bisa mengalihkan pembicaraanku dengan Dimas karena jantungku berdebar begitu dahsyat seakan ku tak mampu menghirup udara segar. “Arin” Dimas memanggil namaku. “Aa.., iya apa?” jawabku. Dimas belum sempat membalas, aku bertanya padanya “Kamu nggak ke kantin? Aku mau ke kantin nih!” lalu dia membalas “Oh iya, maaf ya!” katanya. “Kenapa minta maaf?” tanyaku. “Yaaa…, karena aku sudah menghalangi kamu. Kamu mau ke kantin, kan?” tanyanya. Aku hanya mengangguk dan dia berkata “Eeee…, kamu ke kantin aja deh aku mau kembali ke kelas!” dia memberikanku sebuah senyuman dan ku terpukau. “Ya…, daah..” dia melambaikan tangannya.

Aku belum selesai makan, bel masuk telah berdering. Setelah aku kembali ke kelas, ternyata tak ada guru. Namun, tetap saja ada tugas. Beberapa jam kemudian, akhirnya pun waktu pulang tiba. Aku memaparkan tubuhku terlentang di kasur “Haaah…” ku tarik nafasku. Tiba-tiba ponselku berdering, lalu aku membukanya “Satu pesan masuk dari Dimas” batinku. Aku dan dia saling membalas pesan hingga bercanda tawa, itu membuatku senang. Hingga dia mengirimkan pesan yang begitu menyentuh hatiku. Oh, baper.

Keesokan harinya di sekolah, dia juga mengajakku bercanda. Dimas mengambil buku milikku saat aku menulis, dan aku berlari mengejarnya. “Dimas mana buku aku” aku berlari tak mau kalah. “Lari Arin! Lari! Ayo ambil bukunya kalau bisa!” kau mengeluarkan lidahmu sambil mengejekku. Kita saling kejar-kejaran dan tertawa bersama. “Jangan cepat-cepat dong! Ah, kamu mah curang!” teriakku ingin menghentikan langkahnya. “Enak aja. Sini kalau bisa!” namun kau tetap menginginkanku mengejarmu. Aku terus berlari. Semakin ku berlari, semakin kau berlari kencang. Semakin ku mendekat, semakin kau menjauh dariku. Daaan…
Aku menyerah. “Capek” dengan nada terengah-engah aku menghentikan langkahku dengan menunduk dan kedua tanganku memegang lutut. “Duduk dulu ah” aku menyandarkan badanku di tembok kelas. “Kok nggak ngejar aku sih? Aku ngambek nih” sambil memasang wajah yang ingin kucubit. “Mana bukunya” aku meminta bagaikan pengemis dengan memasang wajah yang memelas. Tetapi, cara ini gagal. Kamu membelakangiku dengan pundakmu. Aku beranjak dari tempat dudukku berpindah di depanmu. Aku tersenyum lebar dan memainkan bulu mataku seraya menggodamu agar mau mengembalikannya.

“Kuraskan indah bersamamu, Dimas” gumamku. Ku rasakan kehadiran cintamu. Tapi, aku curiga dengan sikapmu. “Kenapa belakangan ini kau selalu bertanya tentang Ana? Dan Dimas… iya dia sekarang jarang mengirimiku sms, Boro-boro sms bicara langsung aja jarang” gumamku melamun sambil mengayunkan kaki di atas kolam ikan. Di sekolah belakangan ini Ana selalu membahas tentang Dimas, ada apa sih dengan mereka? Dan belakangan ini aku tak sering bersamanya. “Arin, ke kantin yuk” tiba tiba seorang teman mengajakku “Dimas?” gumamku. Aku sangat terkejut dan menampakkan wajah melongoku. Dan akhirnya kita bersama-sama pergi ke kantin. Karena belakangan ini Ana selalu memikirkan Dimas.. apa jangan jangan… “Hei, kamu lagi ngelamunin siapa? Ngelamunin aku, ya?” ucap Dimas mengagetkanku. “Iiih.. apa’an sih? Siapa coba yang suka sama kamu? Enggak lah ya!” dengan mengulurkan lidah ku berkata layaknya mengejek Dimas. “Suka? Siapa yang bilang suka?” Dimas mengerjitkan dahi. “Ya kamu tuh tadi” jawabku santai. Tampaknya aku tak tau yang dimaksud Dimas. Setelah selesai makan, kita kembali ke kelas bersama-sama.

Terdengar nada dering telepon ponselku berbunyi. Aku segera mengambilnya “Hah? Ada apa Dimas telepon aku siang-siang bolong gini? Kurang kerjaan aja nih anak!” batinku. “Halo? Arin?” ucapnya setelah ku angkat panggilan darinya. “Iya, ada apa, ya?” tanyaku kepo. “Nanti aku jemput kamu ya jam 3 sore, kamu dandan yang cantik!” katanya bersemangat. “Hah? Ngapain pakek dandan? Emang mau diajak kemana akunya?” dengan mengerenyitkan dahi ku berkata begitu. “Ya udah, bye” belum sempat ku menjawab dia sudah mematikan panggilan “tuuut.. tuuuut… tuuut…” kudengar suara itu.

Setelah jam 3 sore Dimas datang ke rumahku dengan rapi dan kelihatannya seperti ingin berpesta. “Ngapain kamu rapi banget sore ini?” tanyaku. “Kamu udah siap? Ayok naik!” pintanya. “Emang mau kemana sih?” aku penasaran. Sepanjang perjalanan pun Dimas tak mau memberi tau kemana tujuannya. Dan jawabnya hanya “Udah santai aja, nanti juga kamu tau sendiri” begitu. “Kenapa sih, kamu nggak mau memberi tau kemana kita akan pergi?” berulang kali ku bertanya begitu. Setelah sampai, ternyata tepat di rumah Ana dan hari itu Ana sedang melangsungkan pesta ulang tahunnya. Dimas menembakku pada saat acara makan-makan. Aku menerimanya. Dan semua temanku bertepuk tangan menggembirakanku. Ternyata dugaanku selama ini salah.

Cerpen Karangan: Aulya Anharini
Facebook: Aulya Anharini/Uly

Cerpen Ternyata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hiduplah Indonesia Raya

Oleh:
“Hiduplah Indonesia Raya..”, begitu lagu itu berakhir aku langsung menurunkan tanganku kembali yang tadinya kudekatkan di alis kananku. Ingin rasanya aku berada di gedung itu bersama dengan anak-anak lainnya

Melodi Cinta Penuh Makna (Part 2)

Oleh:
Hari berganti hari dan tiba saatnya dimana hari ini aku memiliki janji bersama sahabat-sahabatku untuk berkumpul tetapi lagi-lagi aku lebih memilih bersama Arif dan membatalkan janjiku. “Maaf aku tidak

Hello To Myself

Oleh:
Quqila Mataku menatap sesosok pria yang sedang asyik memainkan piano, sambil sesekali aku menuangkan pemandangan indah itu pada secarik kertas yang kugenggam. Pria itu adalah Kevin. Ya, aku menyukainya

Senyuman Senja Terakhir

Oleh:
Kucabut satu per satu kesepian di ruang kelas baruku ini. Kutatap tajamnya sinar mentari pagi yang menembus kelambu biru langit di sampingku. Aku duduk di bangku paling belakang. Kesunyian

Raja Matematikaku

Oleh:
Menurutku anak smp belum pantas mengenal cinta. Walaupun sudah tiga tahun berlalu sejak kejadian itu, tapi hatiku tetap saja bergetar ketika kudengar kabar tentangnya. Semua berawal dari matematika. Dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *