Tertipu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 12 January 2016

Guyuran air dingin mengembalikkan kesadaranku hingga penuh. Bulir air yang menghantam kepala dan pundakku mental tak beraturan, kadang membasahi handuk yang ku gantung di dekat pintu. Suara hempasan air di lantai bersahut-sahutan tanpa jeda. Sisa tetesan yang mengalir di kulit mengiringi sensasi menggigilnya tubuhku. Walaupun tak sampai membuat gigi ini gemeletuk tapi cukup untuk menyingkirkan rasa malas yang sering menyerang banyak orang setelah bangun tidur. Aku selalu menyambut hari dengan melawan dinginnya pagi.

Sambil mengeringkan rambut, aku menyetel radio yang ada di ponselku, mengecek ada headline apa hari ini, tapi malah rekaman iklan yang aku dengar, aku tak habis pikir kenapa TV dan Radio sama-sama banyak iklannya bahkan di pagi hari seperti ini. Aku menghampiri lemari pakaian, mengambil blazer yang baru kubeli minggu kemarin, lalu ku masukkan ke dalam tas kerja. Dompet, charger, botol minum, dan piranti make-up, semuanya sudah lengkap.

Aku sudah mengunci pintu pagar kostan saat beberapa tetangga baru pulang dari masjid. Wajah mereka masih samar oleh gelap, kadang satu-dua ibu-ibu menyapaku, “Berangkat Mbak?” Aku hanya menjawab pelan, tanpa bisa menyembunyikan raut muka yang sedang tergesa. Ku susuri jalan berbatu ini, kadang jika pagi itu cerah aku sedikit terhibur dengan sisa-sisa kecantikan venus yang mulai pudar kalah oleh rekahan matahari terbit, kebetulan arah jalan ini adalah ke timur. Sepanjang satu kilometer itu hanya ku tempuh dalam beberapa menit, karena langkahku lebar dan cepat.

Sampai di ujung jalan desa, aku harus menunggu angkot. Jarang sekali angkot lewat di sini, mungkin dalam satu jam cuma 3 angkot, itulah kenapa aku sering buru-buru, takut ketinggalan dan nunggu lama lagi. Setengah jam menunggu, angkot baru datang, ini lebih lama dari biasanya. Sejam perjalanan, aku baru tiba di perempatan kecamatan. Sebenarnya jaraknya tak jauh, tapi karena jalannya sempit dan banyak kelokan menjadikan mobil tak bisa memacu kecepatan penuh. Dengan kondisi kaki yang agak kesemutan, aku turun dari angkot dan melanjutkan berjalan ke arah tempat kerjaku.

Suasana sekitarku ramai, maklum ini merupakan tempat dengan peradaban paling maju di kota ini, pusat kota. Beberapa mobil hilir mudik menimbulkan angin kencang sesaat yang meniup beberapa helai rambutku. Gerombolan anak sekolah dengan seragam merah-putih nampak berlarian senang saling kejar. Beberapa penjual sarapan di sekitar alun-alun menatapku, mungkin sambil berharap aku mampir untuk beli sesuatu. Tapi aku tetap dengan langkahku yang lebar dan cepat.

Sampai di depan papan bertuliskan “Kantor Kecamatan Dompu”, aku berhenti dan menyeberang jalan. Tepat di situlah tempat kerjaku, sebuah bank milik pemerintah yang cukup besar. Sejujurnya aku tak menyangka akan ditempatkan di daerah ‘pelosok’ seperti ini, tapi aku cuma bisa menerima keputusan. Dan ini minggu ketiga aku tinggal di pulau ini.

Bangunan ini memiliki dua tingkat, dengan cat dominan silver dan jendela kaca oranye. Pelatarannya luas, cukup untuk parkir sekitar belasan mobil. Di sisi kiri terdapat bangunan kecil khusus untuk tiga mesin ATM. Sebelum pintu masuk ada beberapa anak tangga, yang ketika kita sampai di ujung kita akan disambut oleh satpam baik hati, mereka mahir melemparkan senyum yang tulus. Kontras dengan atribut pakaiannya, apalagi kelegaman kulitnya.

Seperti biasa, Pak Daus kepala satpam menyapaku sambil terkekeh, “Pagi Mbak Tantri, sendirian aja?”
“Pagi Pak, nggak ada pertanyaan lain Pak? Haha.” Aku menjawab dan memaksa tertawa. Ini hiburan paling nyata sejauh ini.

Aku meninggalkan laki-laki berumur 30an itu, masuk ke ruangan kantor paling belakang. Aku menaruh tas di loker, kemudian ke toilet sebentar, setelah itu aku segera memoles penampilanku agar terlihat formal. Pertama aku ambil tisu, lalu berturut-turut pelembab, foundie, bedak, eyeshadow, lipgloss, dan blush on. Blazer baruku aku kancingkan, dan senjata terakhir adalah sisir, memastikan ujung rambutku tergerai menyentuh bahu dengan anggun. Setelah merasa ‘oke’, aku ke luar menuju ruang meeting bersiap untuk briefing pagi.

Hari ini adalah hari senin, bank pasti lebih ramai dari hari lainnya. Benar juga, tepat jam 8.00 satu per satu nasabah berdatangan. Aku duduk di balik meja teller, yang di atasnya terdapat papan fiber bertuliskan namaku. Aku siap bekerja, memasang topeng keramahan walau seburuk apa pun suasana hati saat itu. Semakin siang, kursi antrean semakin penuh, kadang-kadang sampai ada yang rela berdiri karena kehabisan tempat. Kesejukan AC di ruangan terasa semakin berkurang. Suara gaduh tapi pelan, sesekali diselingi oleh bel dan suara mesin pemanggil nomor antrean. Sejenak pandanganku menyapu di antara orang-orang yang duduk, mereka nampak punya aktivitas masing-masing selagi menunggu giliran.

“Ting-Tong! Nomor antrean, dua puluh empat, silakan ke counter tiga.” suara mesin pemanggil antrean mengembalikan fokusku untuk menyapa nasabah yang mulai berjalan mendekat.

Selesai melayani keperluan nasabah itu, mataku kembali menyapu ruangan. Kali ini pandanganku tertuju pada sepasang pria-wanita yang sedang mengobrol asyik. Nampaknya mereka datang bersama. Yang pria masih muda dan cukup ganteng, yang wanita tampak lebih muda dengan wajah yang cantik.
“Nomor antrean, dua puluh tujuh, silakan ke counter dua.” Pria itu berdiri dengan sempurna. Hatiku berdesir.
“Selamat pagi Bapak, ada yang bisa saya bantu?” Jessie, petugas teller yang berada di sebelahku segera menyapanya. Pria itu membalas dengan senyuman tipis. Hatiku kembali berdesir.

Aku tak punya kesempatan lagi karena nasabah selanjutnya juga sedang menuju ke counter-ku. Ah, baru kali ini hal sepele bisa mengganggu konsentrasi kerjaku. Setelah pria itu pergi, aku sempat melihatnya bercakap dengan Pak Daus di pintu, dari caranya bicara mungkin mereka sudah saling kenal. Hingga sore hari, semuanya berjalan seperti biasa. Tubuhku yang cape tapi tak berkeringat, agak malas membereskan kerjaan administrasi yang harus kelar setelah jam pelayanan habis.

“Sindrom senin ya Tan?” Jessie menyapaku, jari dan sorot matanya masih sibuk di antara monitor dan berkas-berkas.
“Kenapa emang Jes?”
“Barangkali, soalnya dari pagi diem aja.” Jessica tersenyum menyindir.
“Ah nggak, biasa aja.”
“Atau jangan-jangan maag-mu lagi kambuh?”
“Nggak kok Jes, aku baik-baik aja. Eh, aku udah beres nih, aku duluan ya.”
“Oke, hati-hati di jalan Tan.”

Aku mengambil tas, dan pamit kepada kepala cabang. Sampai di pintu, suara khas itu kembali menyapaku, “Sudah selesai Mbak Tantri?”
“Udah Pak. Oiya Pak, tadi siang siapa yang ngobrol sama Bapak? Bapak-bapak muda pakai kemeja dan celana jeans, sama cewek.”
“Oh maksudmu Pak Yudha? Iya beliau kepala proyek pembangunan mall Dompu seberang alun-alun itu. Kenapa emang Mbak?”
“Cuma nanya sih Pak.”
“Iya, saya kenal beliau karena Adik saya kerja di sana. Eh Mbak Tantri nggak takut ketinggalan angkot?”
“Eh iya, saya duluan ya Pak.”

Aku berjalan terburu-buru menuju perempatan kecamatan. Sebenarnya inilah yang membuat aku bete hari ini, aku mulai mengeluh kenapa berangkat-pulang selalu harus dikejar waktu. Kadang aku mengutuk kenapa kota ini udik sekali, apa jangan-jangan pejabat di sini korup semua, pikirku. Langkahku melambat ketika melewati bangunan beton yang berdiri kokoh di seberang alun-alun, yang kata Pak Daus akan jadi mall. Aku mengamati beberapa pekerja yang sedang di sekitar lokasi, tapi tak nampak ada pria yang tadi siang. Aku meluruskan pandangan sambil mempercepat kembali langkahku.

Sebelum menyetop angkot, aku sempat mampir ke rumah makan Padang, membeli sebungkus nasi rendang untuk makan malam. Hari sudah mulai gelap ketika aku menyusuri jalan desa. Lagi-lagi aku tidak bisa menampilkan wajah yang cerah, kali ini karena kondisi fisik yang sudah low-bat. Kalau sudah begini biasanya aku tak berharap berpapasan dengan tetangga. Sebenarnya bisa saja aku kredit sepeda motor biar perjalanan lebih mudah, tapi aku pikir nanti malah nambah boros pengeluaran. Biasanya kalau punya kendaraan pribadi jadi mudah sekali tergoda untuk jalan-jalan.

Aku tak mengira kerja di tempat terpencil akan menyiksaku seperti ini, sepi, sendiri. Ketika rekan kerjaku, Jessie misalnya, selalu diantar jemput oleh pacarnya, lah sedangkan aku? Di sini aku tidak kenal siapa-siapa. Tiap weekend, aku sengaja jalan ke pusat keramaian, namun tanpa tujuan penting, hanya melihat-lihat, mampir restoran, dan pulang. Ah aku jadi kangen masa kuliah dulu, selalu ada seseorang yang bisa aku ajak jalan.

Malam ini aku tak melakukan apa-apa selain berbaring, ada beberapa hal melintas di benakku. Pertama, pria tadi siang, kira-kira berapa ya umurnya? Masih muda, ku taksir sekitar 26 tahun. Terus cewek yang bersamanya itu siapa? Pacarnya? Bisa jadi. Kedua, karirku, apa aku bakal terus bekerja? Bahkan setelah menikah? Ah calonnya saja belum ada. Kebuntuan berpikir seperti inilah yang menggiringku kepada kantuk.

Pagi sudah menjelang ketika alarm ponselku meraung. Dan siklus hidupku pun dimulai kembali. Bedanya, sekarang aku selalu memperlambat langkahku ketika melewati alun-alun, sengaja agar mendapat kesempatan lebih untuk memperhatikan kesibukan proyek itu. Kadang aku malah mampir sarapan di tenda bubur ayam sekitar alun-alun, hanya untuk hal tak penting ini, tapi aku tak pernah merasa bosan melakukannya. Ini bisa menjadi hiburan tambahan selain cahaya venus di jalanan desa dan sapaan hangat Pak Daus.

Bulan berikutnya, pria yang bernama Pak Yudha itu datang lagi ke bank. Kali ini dia sendirian. Entah kenapa, aku mulai deg-degan ketika dia mengecek tiket antrean di tangannya dan mulai duduk di kursi antrean. Kalau biasanya nasabah laki-laki curi-curi pandang ke karyawan perempuan muda (teller ataupun customer service), ini malah kebalikannya, aku gelisah curi-curi pandang ke seorang nasabah.

“Kamu kenapa Tan? Kebelet?” Jessie berbisik di telingaku.
“Ssssttt, nggak kok. Nggak kenapa-kenapa.”
“Jangan boong Tan.” Nampaknya Jessie sudah curiga dengan gelagatku.
“Entar deh aku ceritain.” Balasku menyudahi percakapan ilegal ini.

Jujur saja aku berharap sekali pria itu masuk ke counter-ku. Kesempatan tak datang dua kali kan? Kalau hari ini lepas, bisa jadi aku harus nunggu sebulan biar ada kesempatan lagi. Bola mataku tak bisa diam setiap mesin panggilan itu berbunyi. Butiran keringat mulai menyembul di beberapa bagian wajahku. Aku tegang.

“Ting-Tong! Nomor antrean-lima belas, silakan di counter tiga” Pria itu berdiri. Yes!!! Aku bersorak dalam hati. Aku tak berkedip melihat cara dia jalan, terlihat gagah. Dia semakin dekat, dan saat dia berhenti, aku bisa menikmati pesona wajahnya dengan sempurna.
“Selamat pagi, Bapak. Ada yang bisa saya bantu?” Sudah jelas aku harus memberikan best service ever.
“Iya, saya mau membayar cicilan kredit rumah saya.” Suaranya halus dan sopan. Keramahan alami.
Percakapan berlanjut sebatas pelayanan nasabah.

“Kok tumben sendirian saja Pak?” Kalimat bodoh itu meluncur begitu saja dari mulutku, sambil menyodorkan bukti pembayaran cicilan. Dia mengernyitkan dahi dan matanya memicing.
“Iya. Kok tahu?”
Aku gelagapan, “Ah nggak Pak, maaf. Saya kira mungkin biasanya Bapak bersama istri Bapak.”
Dia hanya tersenyum. Senyum yang misterius.
“Ada lagi yang bisa saya bantu?”
“Cukup Mbak, makasih.”

Fiuuh. Energiku terasa langsung habis hanya untuk melayani pria ganteng itu. Jessie yang dari tadi mengamati, berbisik lagi, “Oh jadi karena pria tadi toh.. ”
“Apaan sih Jes…” Aku mencubit pinggangnya.
“Pantesan.. Kalau pun tadi dia masuk counter-ku, aku mau kok kita tuker tempat sementara, haha, biar kamu nggak perlu salting gitu.” Aku mencubitnya lebih keras lagi.

Minggu berikutnya, Pak Yudha bersama cewek itu lebih sering datang ke sini. Yang aku dengar, banyak yang harus diurus menjelang akhir periode cicilan kredit rumahnya. Aku tak terlalu berharap lagi dia masuk di counter-ku, tapi tetap saja bola mataku bergerilya selama dia duduk di kursi antrean. Semoga Pak Yudha atau cewek itu tak menyadari kelakuanku selama ini.

Suatu sore, Jessie memberitahuku berita penting.
“Tan, udah tahu belum, ternyata kemarin urusan Pak Yudha di sini udah beres.”
“Oh.. terus?” Aku pura-pura santai.
“Jadi dia sekarang nggak ke sini lagi. Sabar ya. Hahaha.”
“Ih gaje…”

Aku tak berminat menanggapi candaan Jessie. Mood-ku sedang jelek. Tadi pagi bangun kesiangan. Sejak jam istirahat perutku terasa mual. Aku curiga maag-ku bakal kambuh, mau makan siang pun seleraku sudah telanjur hilang. Sore itu jalanan kota ramai seperti biasa. Tenda-tenda warung makan mulai didirikan oleh penjualnya. Sepanjang trotoar kota, aku tak bisa berjalan cepat, rasa perih di lambung membuat tubuhku terasa lemas. Lewat di depan alun-alun pun aku tak menoleh ke seberang seperti biasanya, kepalaku pening. Aku masih ingat langit sore itu cukup cerah, entah kenapa tiba-tiba yang aku lihat hanyalah gelap dan sesuatu membentur pelipisku.

“Malem Mbak.. Udah sadar?”
Mataku terbuka separuh. Aku mengenal wajah di depanku. Dia cewek yang selalu bersama Pak Yudha.
“Aku di mana?”
“Kamu di rumahku Mbak, kamu nggak inget tadi pingsan di pinggir jalan?”
“Ah iya, maaf jadi merepotkan, tadi maagku kambuh, gak tahan sakitnya.”
“nggak apa-apa, gimana sekarang udah baikan? Sebentar saya ambilkan obat maag dulu.”

Aku melihat sekeliling. Kamar ini terbilang sempit untuk ukuran rumah pribadi. Aku melihat meja kayu di samping tempat tidur, di atasnya tersusun banyak buku secara vertikal. Kalau aku tidak salah eja, buku-buku itu tentang ilmu bahan bangunan. Mungkin milik Pak Yudha? Kalau begitu, si cewek ini tinggal satu rumah dengan Pak Yudha? Mereka suami-istri? Aku tak punya keberanian untuk memastikan itu.

“Namaku Rossi Mbak.” Katanya sambil memberikan satu butir tablet berwarna hijau dan segelas air minum. Aku segera mengunyah dan menelannya, isi gelas itu ku habiskan.
“Aku Tantri. Makasih obatnya. Makasih juga Mbak udah nolong saya.”
“Iya sama-sama. Tadi yang bawa Mbak ke sini itu Mas Yudha, tapi dia pulang ke sini lagi tengah malem nanti. Mbak tadi pulang kerja ya? Aku inget mbak kerja di bank deket kecamatan itu kan.” Aku hanya mengangguk, rasanya tubuhku masih lemas. Aku membayangkan adegan Pak Yudha menolongku, sempat terpikir jika aku bisa pura-pura pingsan saja.
“Mbak juga tahu kan kalau Mas Yudha sering bareng aku ke bank?”
“Iya.”

“Soalnya Mas Yudha cerita kalau Mbak pernah nanyain saya pas dia sendirian ke bank.”
“Eh iya, maaf, itu nggak sopan banget.”
“Haha, nggak apa-apa Mbak.”
“Kalian tinggal berdua di rumah ini?” Lagi-lagi aku menanyakan hal bodoh.
“Iya Mbak, ada apa emang?”

“Oh nggak, cuma nanya, maaf.” Aku berpura-pura menahan sakit agar wajah maluku tidak terlihat.
“Aku ngambil makan dulu ya, laper kan? Pasti dari pagi belum makan.”
Dalam hati, siapa pun cewek ini, pasti orang terdekat Pak Yudha. Tunanganlah minimal, atau bahkan istri yang baru saja dinikahi. Rasanya seperti patah hati, lagian bodohnya aku berharap sesuatu yang tak mungkin, jelas orang seperti Pak Yudha sudah ada yang punya.

Rossi datang membawa sepiring nasi dan lauknya. Menaruhnya di atas meja. “Ini Mbak, nggak usah malu. Habis makan, Mbak Tantri istirahat ya, besok masuk kerja lagi kan? Besok kita berangkat bareng aja. Mbak pakai baju saya aja, kayaknya saya punya yang pas buat Mbak.” Aku tak bisa menolak. Aku ambil piring itu dan menyuapkan nasi ke dalam mulut, sambil melamun. Ya Tuhan, apa yang terjadi esok hari itu bakal membuatku makin pedih. Aku masih beruntung, ini semua terjadi sebelum aku benar-benar suka pada Pak Yudha. Tapi dibanding Rossi, aku masih kalah beruntung, dia bisa mendapatkan Pak Yudha. Dan.. ah sudahlah.

“Apa kabar? Udah ngerasa sehat? Kenalin saya Yudha.” Pak Yudha mengulurkan tangannya, aku ragu-ragu menjabatnya, sambil mengangguk pelan tanda hormat.
“Aku kagum padamu, jalanmu cepet banget. Makanya aku ngerasa aneh kenapa kemarin sore kamu pelan-pelan, eh ternyata mau jatuh.” Lanjut Pak Yudha.
Kok Pak Yudha bisa tahu jalanku cepet, gimana caranya? Kataku dalam hati.

“Ros, udah siap? Ayo berangkat sekarang, ini Tantri udah siap dari tadi.” Pak Yudha menyeru Rossi yang sedang berjalan ke arah kami.
“Iyaaa, udah kok. Mbak Tantri duduk di depan ya.” Katanya sambil menunjuk pintu mobil SUV Pak Yudha. Aku cuma nurut. Kami semua masuk ke mobil, dan Pak Yudha mulai menyalakan mesin. Aku masih setengah melamun ketika Pak Yudha bertanya kepadaku.

“Mau sarapan di mana?”
“Eh, terserah Bapak.”
“Jangan panggil Bapak, masih single gini, saya orang Jawa juga kok, panggil aja Mas. Gimana kalau di tukang bubur ayam deket alun-alun itu? Langgananmu kan?” Deg! Dia bahkan tahu aku sering sarapan di situ. Sekarang aku benar-benar syok.

“Mulai sekarang kamu tinggal di sini aja bareng Rossi. Tempat tinggalmu jauh bukan? Cape pasti. Lagian setelah saya pindah ke rumah baru, Rossi sendirian di sini.”
“Makasih Pak tawarannya, saya nggak mau ngerepotin Bapak, eh Mas Yudha.” Mana mungkin aku menerima tawarannya, malu.
“Jadi karyawan itu harus profesional Tantri, jangan campurin urusan perasaan dengan pekerjaan. Jadinya ya gitu tuh, curi-curi pandang ke nasabah, bener nggak Ros?”
“Hahahaha, iyaaa beneeerrr bangeetss!!”

Jeder!! Rasanya seperti tersambar petir.
“Rossi ini sepupuku, dia kuliah jurusan Teknik Sipil, sekarang lagi magang di proyekku. Kebetulan orangtuanya punya rumah bekas di sini.”
Aku cuma bisa bengong. Dari kaca spion tengah, aku melihat Rossi menutup mulutnya menahan tawa. Sial. Jadi, selama ini aku tertipu.

Tamat

Cerpen Karangan: Achor Mohammad
Facebook: Achor Mohammad

Cerpen Tertipu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Datang dan Pergi

Oleh:
Pada waktu malam hari yang begitu sunyi, aku menyendiri di suatu tempat. Tempat yang menurutku yang bisa membuatku tenang. Sambil kumainkan piano. Entah bagaimanan isi hati dan perasaanku saat

Janji di Pelabuhan

Oleh:
Sore itu ia duduk di teras rumah, bertemankan kopi yang sekali-dua diseruput dengan mata tetap tertuju pada deretan abjad dari sebuah novel. Tiba-tiba pandangannya berkhianat pada sosok perempuan muda

Diammu Adalah Pertanyaan Terbesarku

Oleh:
Perkenalkan namaku Senja Alyandra Yussuf aku seorang siswi di sekolah ternama di Bandung. Aku menyukai dunia pramuka selain itu aku masuk pramuka karena dia yaa, dia orang yang selama

Real Story First Love

Oleh:
Disini aku berdiri… Disini aku menanti dengan tatapan kosong dan dengan hati rapuh. Mendungnya awan seolah mewakili perasaanku saat ini, membayangkan suatu hal yang telah bertahun-tahun berlalu saat itu…

Virus Merah Jambu

Oleh:
Di pagi yang cerah, aku menuju sekolah ku yang berlokasi tepat di depan asrama kami. Aku pun pergi sendirian, dan aku ingat hari ini adalah jadwal piket kelasku. Dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *