The First Time We Talk

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 August 2020

Dulu aku tidak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama. Karena kupikir cinta pada pandangan pertama hanya ada di dalam sinetron dan juga drama yang sering kulihat di tv. Tapi, kali ini aku benar-benar percaya dengan cinta pada pandangan pertama.

Sekarang aku tahu, ketika pertama kali aku melihatnya. Dia lelaki berkulit sawo matang dan bermata minimalis itu, yang bahkan aku sendiri pun tidak tahu namanya. Lomba futsal antar kelas bulan lalulah hari dimana untuk pertama kalinya aku melihatnya. Saat itu tim kelas kami sedang bertanding satu sama lain untuk memperebutkan juara 1 yang pada akhirnya dimenangkan oleh kelasnya. Kekalahan waktu itu merupakan kekalahan yang menyakitkan karena kami menganggap bahwa keputusan yang diambil wasit dengan memberikan tendangan pinalti kepada lawan saat itu, sangat merugikan tim futsal kelasku yang akhirnya kami harus menderita kekalahan dengan skor 2-1.

Selain itu, yang lebih menyakitkan adalah karena kelas kami kalah dari kelas 11 Mipa 6 yang mana kami dari kelas 11 IPS 3 yang bisa dibilang dari dulu antara kami anak Ipa dan Ips sudah mempunyai hubungan yang tidak baik. Tetapi entah mengapa aku malah merasa hal itu biasa saja dan malah ikut senang atas kemenangan timnya. Ya ironis memang padahal dari dulu aku sangat membenci anak Ipa karena aku selalu merasa bahwa kami selalu dibanding-bandingkan. Tetapi aku malah merasa bahagia atas kemenangannya.

Aku sendiri bingung dengan hal ini, yang jelas setelah perlombaan itu aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Caranya menendang dan mengoper bola serta senyumnya yang begitu manis saat ia berhasil mencetak gol pertama untuk timnya. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Seperti yang aku lakukan pagi ini aku berdiri di ambang pintu kelasku sambil memegang gumpalan kertas dan menatap ke depan dengan penuh harap sambil sesekali melihat arloji di tanganku. Sudah pukul 07.05 seharusnya dia sudah terlihat tapi kenapa dia tidak muncul juga? Apa dia sakit lalu tidak berangkat? berbagai pertanyaan bermunculan di pikiranku.

Terhitung ini sudah pagi ke sepuluh aku melakukan rutinitas ini. Ya rutinitas menunggunya lewat di depan kelasku karena memang letak kelasku yang berdekatan dengan area parkir siswa otomatis setiap paginya banyak siswa yang akan lewat depan kelasku begitu juga dengan dirinya.

Sekitar lima menit kemudian akhirnya yang kunantikan muncul juga. Dia lelaki bermata minimalis itu sedang berjalan bersama temannya sesekali ia tertawa bersama temannya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan tapi yang jelas aku tidak bisa berhenti melihat ke Arahnya. “Manisnya” gumamku. Begitu melihat senyum manis yang terukir dari bibirnya. Mungkin karena ia sudah menyadari bahwa sedari tadi aku memperhatikannya dia langsung melihat kearahku. Seketika itu juga aku langsung mengalihkan pandanganku dan kulempar gumpalan kertas yang sedari tadi kupegang dan bertingkah seolah-olah hanya sedang membuang sampah. “Huh dia melihat kemari bagaimana ini? apa yang aku lakukan” gumamku gugup. “Oke. Tenang Audy cobalah untuk bersikap biasa jangan sampai membuatnya bertambah curiga. Sekarang yang harus lo lakukan adalah masuk ke dalam kelas dan berjalan pelan-pelan saja” kataku kepada diriku sendiri.
Kutarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi kegugupanku. “Baiklah” kataku. Lalu aku berbalik ke belakang dan perlahan masuk ke dalam kelas.

“Kamu kenapa sih, kok ngos-ngosan gitu. Kayak habis lari marathon aja”. tanya Vania teman sebangkuku. “Biasa” kataku. “owh. Pasti habis mata-matain si mata minimalis itu kan. Tapi kok kelihatannya gugup gitu sih kenapa?” tanyanya. “Tunggu. Nggak usah dijawab dulu pasti tadi kamu ketahuan kan?” katanya. “Hampir” jawabku singkat.

Tet… tet… tet… bel masuk sudah berbunyi. Hari ini pelajaran berjalan seperti biasa dan pukul 09.30 tiba waktunya untuk jam istirahat.
“Audy, temenin aku ke perpus yuk”. ajak temanku Mutia. “Duh sorry banget nih Mut, kayaknya aku nggak bisa deh soalnya tadi udah janji mau ke kantin sama Vania. Maaf ya” jawabku sambil memasukkan buku kedalam tas. “Please. Temenin aku ya. Lagian Vania kan bisa ke kantin sama yang lain” katanya. “hmm gimana ya”. “Mau ya? Tadi aku udah ngajak yang lain tapi nggak ada yang mau. Lagian kamu suka baca novel kan. Nanti sekalian kamu bisa pinjem novel diperpus” bujuk mutia. “Udah kamu temenin Mutia aja. Nanti aku ke kantin sama yang lain” kata vania. “Ya udah kalu gitu. Maaf ya Van” kataku. “Santai aja” jawab vania. Lalu aku pergi menemani Mutia ke perpus.

Sesampainya disana aku langsung memilih buku novel kesukaanku. Ya aku memang sangat suka membaca novel sejak kelas satu SMP dulu dan aku juga bercita-cita menjadi penulis novel.

“Beneran ada nih?” samar-samar terdengar suara seorang remaja laki-laki. “Suara itu… sepertinya sangat familiar. Apakah itu dia?” ucapku dalam hati kemudian aku langsung mencari arah sumber suara itu. Dan dugaanku benar ternyata memang dia si mata minimalis itu. Dia dan temanya ternyata sedang berada di perpustakaan. “Dia ke perpus? ngapain? mungkin dia mau meminjam buku” pikirku. “Tapi tunggu, kenapa dia berjalan kearahku?” kataku mulai merasa gugup. “Oh tidak! Dia semakin mendekat kemari bagaimana ini” aku hanya bisa berdiri mematung melihatnya berjalan kearahku.

Kegugupanku semakin bertambah melihatnya semakin mendekat kearahku. Seketika itu aku langsung menutupi wajahku dengan buku dan pura-pura sedang membaca buku. Tap! terdengar suara langkah kaki berhenti tepat di hadapanku. Aku menelan ludah. Aku tahu bahwa dia saat ini sudah berada di depanku. “Permisi” katanya. “i-iya” jawabku. Lalu menurunkan buku yang dari tadi menutupi wajahku. “Eh, kamu itu yang tadi pagi kan?” tanyanya sambil tersenyum. Aku memasang tampang tidak mengerti. Padahal sebenarnya aku tahu apa maksudnya. “Maksudku kamu yang tadi pagi berdiri di kelas 11 Ips 3 sambil ngelihatin aku kan?” tanyanya. Aduh keahuan kan. “Eh, enggak kok. Aku cuma mau buang sampah aja terus lihat kamu. Aku lihat kayaknya muka kamu familiar banget. Kamu kelas 11 Mipa 6 kan?” kataku berdalih. “Iya. Tahu darimana?”. “Lomba futsal antar kelas dulu” jawabku. “Owh, bisa tolong ambilin novel itu?” tanyanya sambil menunjuk sebuah novel yang berada di sampingku. “Iya Ini” kataku sambil menyerahkan novel kepadanya. “Terimakasih Audy” katanya sambil tersenyum kepadaku. “Eh darimana kamu tahu…” belum sempat aku melanjutkan perkataanku dia memotong perkataanku. “Itu” katanya sambil menunjuk tanda pengenal yang ada di seragamku. “Owh, sama-sama Rama” jawabku. “Eh, darimana kamu tahu…” lalu aku menjawab “Itu” sambil menunjuk tanda pengenal yang terpasang di seragamnya. “Eh iya aku lupa”. katanya kemudian kami tertawa karena tingkah konyol kami. Maklum mungkin kami kurang A*u* hehehe. “Ya udah kalau begitu. Sampai berjumpa kembali” katanya. “Hah, apa dia bilang? sampai berjumpa kembali?” gumamku.

Kemudian Mutia datang menghampiriku “Audy udah dapat bukunya belum?” tanya mutia “Eh, pipi kamu kok merah gitu sih kenapa? Habis ditembak cowok ya atau baru ketemu sama seseorang ya? Uh.. siapa tuh. Kasih tahu dong” katanya melihat pipiku yang memerah karena perkataan Rama sambil menyenggolku pelan dengan sikunya. “Eh, nggak kok. Udah yuk aku udah dapat bukunya nih” kataku. “Yah” kata Mutia dengan nada sedikit kecewa. Lalu kami pergi ke pengurus perpus untuk meminjam buku.

Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagiku. Karena dihari ini adalah hari dimana aku dan dia mulai berbicara satu sama lain untuk pertama kalinya. Aku berharap semoga dikesempatan lain kita bisa bicara dengan nyaman tanpa harus merasa gugup. Semoga saja waktu akan cepat mempertemukan kita kembali sehingga kita bisa berbicara lebih lama dan lebih mengenal satu sama lain. Hanya sekedar ucapan terimakasih ku ingin lebih dari itu.

Cerpen Karangan: Archima
Blog / Facebook: Archimatulmubarokah
Hai salam kenal!
Namaku Archimatul mubarokah.
Bersekolah di SMA Negeri 1 Kradenan
Jurusan IPS (kelas XI IPS 3).
Semoga kalian suka cerpen ku. Tp maaf kalo ceritanya agak Gaje

Cerpen The First Time We Talk merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berawal Dari Suara Langkah Kakinya

Oleh:
Mentari tak lagi memancarkan cahaya yang terang, kini butiran-butiran air hujan mulai menetes. Pelajaran olahraga yang melelahkan, harus mengitari lapangan sebanyak 7 kali putaran karena telat mengganti baju. Namun

I Love You You Love Me

Oleh:
“Kalian so sweet banget sihh” Yahh, begitulah kata-kata mereka jika melihat hubungan kami berdua. “Selamat yah Ai, juga An. Moga semakin langgeng semakin cinta dan semakin sayang satu sama

Hani Si Miss Free

Oleh:
Dengan lesu siang itu sepulang sekolah Hani berjalan menuju halte tempatnya biasa berteduh dari terik maupun hujan sambil menunggu angkutan umum. Tepat pukul dua siang ketika sejenak ia menengok

Life Isn’t an Imagination

Oleh:
01.30 pm Gadis itu, termenung seorang diri. Menelungkup di atas kedua tangannya pada meja kuliahan yang tengah ia duduki. Ia tak sendiri. Ia ada di antara teman-teman kelasnya yang

Meet You

Oleh:
Jomblo, adalah status yang sulit dirubah, tak semudah merubah status di facebook. Kata Jomblo seolah adalah sebuah kata yang sangat menyeramkan untuk diucapkan. Tapi itulah kata yang tertancap padaku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *