Wa’alaikusalam Akshay Kumar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 January 2017

Aku, siswi kelas XI IPS 1 di SMAN Aek Natas, Labuhanbatu Utara. Aku mengambil jurusan itu karena aku tidak suka sains. Bukan berarti juga aku menyukai ilmu sosial. Beberapa orang bilang Aku anak terkuper di sekolah. Bayangkan, aku berbicara di kelas bila guru bertanya padaku, jika tidak aku hanya diam. Kebisuanku bertahan hingga jam sekolah berakhir. Padahal aku ada di jurusan sosial yang seharusnya orang-orangnya mampu bersosial. Namun siapa sangka, saat kelas XI SMA seseorang memberi warna baru untuk hari-hariku di sekolah. Kuas pertama membubuhi cat ke kanvas hidupku di sekolah adalah seseorang yang mirip artis India, Akshay Kumar. Iya aku menyukainya karena dia mirip Akshay Kumar. Entahlah, mataku mungkin yang salah. Dia Bambang, siswa kelas XI IPA 1 yang artinya kelas kami berhadapan, namun masih dipisahkan lapangan sekolah.

Aku rasa masa puberku datang padaku karena aku juga terlalu muda dengan tingkat kelas sekarang. Hari Jum’at tepatnya awal pertemuanku dengan Bambang. Laki-laki itu berjalan di hadapanku saat jam istirahat. Dia dan teman-temannya sengaja tebar pesona di hadapan kami.
“Lihat, anak-anak cerdas lagi lewat.” Ujar temanku.
“Iya mereka cerdas, kita jenius.” Jawabku pendek.
Aku hanya melihatnya sekilas lalu menunduk, memikirkan pelajaran akuntansi. Karena bosan, teman dekatku, Tari menarik tanganku agar aku berdiri.
“Rin, kita ke koperasi, yuk.” Ajaknya.
“Sorry, aku gak mood.”
“Nanti Akuntansi. Buk Munthe pasti marah-marah karena tugas belum selesai.” Jelasnya.
“Apa hubungannya?” jawabku heran.
“Maksudnya kita harus ngisi energi buat mendengar omelannya.”

Tanpa mendengar jawabanku, Tari langsung menarikku. Koperasi berubah menjadi swalayan saat jam istirahat. Saking ramainya cendikiawan muda di dalam ruangan agak sempit itu, aku terdorong ke belakang. Kuakui tubuhku memang kecil. Aku terus terdorong ke belakang hingga menabrak seseorang yang sedang duduk.
“Maaf ya.” Ujarku sambil membalik.
Aku terkejut melihat dua bola mata menatap tajam ke arahku. Aku menelan ludah. Tidak pernah aku bertatapan mata langsung dengan seorang laki-laki. Benar-benar mengoyak hatiku. Dag dig dug suara pemompa darah di tubuhku. Laki-laki itu hanya tersenyum. Aku langsung berbalik lagi, tak sanggup melihat bola mata mirip Akshay Kumar itu menatapku lagi. Setelah memilih makanan penawar omelan ibu Akuntansi, kami keluar. Aku tak berani lewat di depan orang yang kutabrak tadi.

Diam-diam hati ini mulai membisikkan nama seorang laki-laki untukku simpan. Dari lahir hingga sekarang aku tak pernah berpikiran untuk suka dengan lawan jenis. Aku hanya menjalani hari-hariku di rumah dan sekolah dengan mengerjakan semua perintah orang-orang yang lebih berkuasa daripada aku. Perintah Ibu di rumah, dan perintah guru di sekolah. Satu lagi, perintah Allah di mana dan kapan saja. Jadi aku tak pernah ingat kalau manusia pasti mempunyai nafsu.

Wajah Bambang dan senyumannya masih terekam jelas di mataku hingga malam tiba. Aku memukul kepalaku, sedikit pelan agar wajahnya hilang dari mataku. Kumatikan lampu, lalu tidur. “Malam yang aneh.” pikirku.

Hari Senin, hari terberat bagi hampir semua siswa. Panas, dan lelah saat upacara bendera kami rasakan. Apalagi barisan kelas IX menghadap ke timur dimana matahari pagi memanaskan tubuh kami. Wajah pasti berbelang karena semua siswi yang beragama Islam wajib mengenakan jilbab. Namun aku sudah terbiasa dengan semua itu. Lagian Allah akan mengganti wajah belang ini dengan sesuatu yang lebih baik kelak. Aku tetap fokus memperhatikan jalannya upacara.
Pemimpin barisan dan ketua kelas melapor kepada pemimpin upacara. Aku terpelongo saat para ketua kelas berbaris di hadapanku dengan membelakangiku. Kulihat Bambang dengan senyuman khas gigi memagari bibirnya sedang berjalan tegap kemudian berdiri tepat di depanku.

“Tar, itu ketua kelas ya?” tanyaku berbisik.
“Yang mana?”
“Yang tepat di depanku.” Jawabku.
“Ya elah Airin, kemana aja kamu? Tiap hari Senin baris di depan tapi sampai sekarang gak tahu siapa saja yang melapor ke pemimpin upacara?” Ledek Tari.
Aku menggeleng.
“Makanya, kebiasaan menunduk di rubah, dong.” Nasehatnya.
“Iya.”

Para ketua kelas kembali ke tempatnya masing-masing. Aku memperhatikan dia hingga ia masuk ke barisan kelasnya. Aku kembali tersenyum seperti orang gila. Aku menantang sengatan matahari dengan senyuman. Panas matahari itu terasa sejuk sejak hari itu. Sejak hari itu aku senang berbaris di barisan paling depan agar bisa melihat Bambang. Hanya dengan itu aku bisa melihatnya karena jarak kelas kami agak jauh. Hari Jum’at dan Sabtu acara pagi di sekolah itu adalah senam jasmani. Bambang begitu antusias bila berhubungan dengan olahraga. Entahlah, mungkin hal itu juga pendapatku saja.

Hampir setahun berlalu, aku masih menjadi secret admirernya. Hasil yang kutemui dari stalkinganku membuatku bertambah kagum padanya. Dia laki-laki yang rajin shalat. Aku tahu itu karena ia selalu ada di Mushalla saat waktu zuhur tiba. Selanjutnya, dia orang yang disiplin. Tidak pernah terlambat dan aktif di OSIS, bertolak belakang denganku. Memang aku tidak pernah terlambat, tapi aku menjadi artis tak terkenal di sekolah, termasuk OSIS. Walaupun aku begitu mengenalnya, aku yakin seratus persen dia tak mengenalku. Wajar saja, aku kan artis figuran sedangkan dia aktor utama.

Awal pelajaran baru dimulai. Aku sekarang ada di kelas XII, masih di jurusan yang sama. Di DPR, “Di bawah Pohon Rindang” aku duduk sendiri. Memperhatikan orang berlalu lalang dengan buku Geografi di tanganku. Aku membaca kembali bagian pembahasan atmosfir bumi. Kembali otakku memutar kenangan saat perlombaan HARDIKNAS. Untuk pertama kalinya namaku dipanggil di depan seluruh rakyat SMAN Aek Natas. Aku meraih dua gelar, atletik 800 meter dan hadiah cerdas cermat mewakili teman-teman tim cerdas cermat sekolah. Saat itu aku berharap Bambang melihatku, mencari tahu siapa aku. Tapi aku tak tahu apa harapanku itu terwujud atau tidak.
Aku menghela nafas. “Airin bodoh. Suka sama orang tapi tak berani bertemu dengan orang itu. Jangankan mengenalku, dia tahu namaku saja, tidak.” gerutuku.

Tiba-tiba,
“Rin, nanti jam istirahat ke kelasku, ya.” Seseorang mengejutkanku.
Aku membalik mengarah asal suara, ternyata Rosa mengejutkanku. Hatiku kembali menciut. Bambang ada di samping Rosa. Rosa adalah teman satu SMPku dan sekarang dia adalah teman sekelas Bambang. Dulu aku sempat mengatakan ke dia kalau aku menyukai seseorang. Dia sangat ingin tahu siapa orang itu, tapi aku tidak mengatakannya karena laki-laki itu sekelas dengan Rosa. Gemuruh di hatiku memuncak saat Rosa dan Bambang mendekat.

“Buku Bahasa Inggrismu masih aku pakai sampai istirahat nanti, tapi pas istirahat aku gak bisa keluar, kami ada tugas dari wali kelas mau bersihin kelas untuk lomba kebersihan.” Jelas Rosaa panjang. Mata Rosa berharap aku meng-iyakan kemauannya.
“Iya.” jawabku tersenyum. Namun mataku hanya melihat Rosa. Aku tak berani menatap ke arah Bambang yang sekarang ada di sampingku.
Keduanya berlalu. Bambang sama sekali tak menyapaku. Dia hanya tersenyum di sisi Rosa. Aku tak tahu hubungan mereka. Tapi hatiku sudah terbakar cemburu. Cemburu? Tidak aku tak cemburu, hanya kurang enak di hati.

Bel istirahat berbunyi. Aku mengajak Tari ke kelas XII IPA 1. Aku mencari Rosa ke kelasnya. Aku sempat mengucap “Bismillah” ketika hendak masuk kelas. Aku lakukan itu karena aku takut bertemu dengan Bambang. Aku takut hatiku copot saat melihatnya. Kuperhatikan isi kelasnya, Rosa tidak ada. Syukur Bambang juga tidak ada. Tari mengajakku ke belakang kelas mereka. Aku menurut. Tiba-tiba mataku perih melihat pemandangan yang disuguhkan oleh dua orang yang kukenal. Aku melihat Bambang sedang bercanda dengan Rosa. Mereka terlihat akrab. Hatiku mulai mengerut dan ciut. Nama Bambang terhapus seketika dari benakku. Aku membalik, tak sanggup melihat kedekatan mereka berdua.

Tanpa disuruh, Tari memanggil Rosa. Setelah buku di tangan, Tari dan Aku masuk ke kelas kami. Aku menunduk di mejaku. Aku memutar kembali kenangan yang ada dengan Bambang. Aku menelusuri semua yang kualami hingga kejadian saat istirahat tadi. Aku tersenyum. Otakku yang mementingkan logika ini akhirnya muncul setelah setahun perasaanku menuntunku tanpa kompromi dengan akalku. Setelah banyak berpikir, aku sadar. Kenangan yang kuanggap kenanganku dengan Bambang hanyalah kejadian yang istimewa, menurutku saja. Sedangkan dia tak tahu menahu tentang aku. Mulai dari memperhatikan dia setiap pagi di barisan, saat acara lomba pendidikan, hiking ke bukit barisan di belakang sekolah, hingga berenang, semua itu hanya kenangan indahku saja tanpa si aktor utama tahu walaupun dia terlibat.

Kini aku tak lagi merasa sakit hati, karena Bambang memang tak menyakitiku. Aku bersyukur karena aku tak membiarkan orang tahu perasaanku. Aku tak menyesali itu. Selain itu, Aku bisa membedakan kagum dan suka itu seperti apa. Bukan saat yang tepat bila masa SMAku dihabiskan dengan menyukai laki-laki, bermain bebas dan pacaran. Di samping itu, aku bisa kembali ke diriku yang dulu. Pribadi yang tak ambil pusing masalah laki-laki dan pacaran. Fokusku hanya belajar dan melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya. Aku menutup lembaran SMAku dengan Wa’alaikusalam Akshay Kumar.

Cerpen Karangan: Anisyah Ritonga
Blog / Facebook: Aisy07october / Anisyah Ritonga
alamat: Padangsidimpuan, Sumatera Utara

Cerpen Wa’alaikusalam Akshay Kumar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga

Oleh:
Bunga, siapa yang tak kenal dia… tak ada yang mampu berkata tidak untuk perempuan cantik yang satu ini. Bibirnya yang indah menawan kaum lelaki, pipi lesungnya yang memikat roh-roh

Halusinasi

Oleh:
Sebagian besar orang bilang aku adalah anak yang aneh, Aku duduk di tempat paling belakang karena dipindahin sama wali kelasku. Dulunya duduk agak ke depan atau bisa dibilang tengah-tengah,

Izinkan Aku Mencintainya

Oleh:
Malam ini rasanya mataku begitu sulit untuk dipejamkan. Aku tak tahu apa sebabnya. Mungkin karena aku sudah tak sabar menantikan hari esok dan menyongsong Natal untuk yang kesekian kalinya

Kabut Putih Tahun Baru

Oleh:
27 Desember 2013 Tak terasa sudah mau tahun baru lagi, begitu cepat waktu berlalu. 29 Desember 2013 “Kamu yakin untuk mendaki juga? Cuaca akhir tahun ini buruk sekali.” Protes

Asam Manis Cinta

Oleh:
Masa remaja ialah masa yang menyenangkan, dimana kita dapat memperoleh sahabat maupun seseorang yang spesial. “Di tolong kerjakan soalku” ucap Lina berbisik. “oke, tapi syaratnya belikan aku pulsa” ucap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *