Waktu Di Balik Senja (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 February 2016

Saat sampai ke gedung belakang sekolah, aku ditolak sampai tubuhku terhempas ke tembok.

“Aauu..” teriakku kesakitan.
“Kenapa? Sakit? Hah!” Bentak kakak ketua geng tadi. Aku hanya merunduk ketakutan.
“Heh! Gue lagi ngomong! Kalau orang lagi ngomong itu dilihat! Ada diajarin sopan santun gak dengan ketua osis itu hah?” Aku tetap merunduk. Entah apa yang sedang aku pikirkan sekarang. Tapi aku berharap seseorang datang untuk menyelamatkan aku dari situasi seperti ini.
“Kok lo canggung gitu sih sama gue. Oh atau mungkin karena lo belum kenal sama gue? Oh iya gue lupa perkenalin diri. Nama gue Claryssa.” Ucapnya sambil menjulurkan tangannya.

Aku hanya melihat tangan kakak itu. Aku tetap merunduk. Tuhan, sejak kapan aku jadi penakut seperti ini? Ini seperti bukan diriku. Tiba-tiba tangan Kak Claryssa memegang daguku dan mengangkatnya sampai matanya berpapasan dengan mataku. “Lo tuh ya, gue ngomong dari tadi! Lo cuman merunduk doang? Bales dong! Gue pengen tahu, sehebat apa sih adeknya ketua osis yang berani melawan Kakaknya sendiri.”
Aku hanya terdiam mendengar perkataan itu. Tuhan, apa yang sudah aku perbuat? Aku bukan hanya mempermalukan diri sendiri, tapi juga membuat reputasi kakakku menjadi hancur.
“Gue ingetin ya sama lo, jangan sok jadi pahlawan, dan jangan berani-berani lagi lo deketin Adit lagi!”
Mataku terbelalak. Ternyata semua ini gara-gara Adit? Oh Tuhan, kenapa tidak terpikir olehku dari tadi?

“Lo lagi ngomongin gue?” Suara itu.. tiba-tiba muncul seseorang dari balik tembok, yang tidak lain itu Adit! Kak Claryssa tertegun. Adit mendekat ke arahku, dan tiba-tiba memegang tanganku. Aku melihatnya heran. Dia menarik tanganku dan ingin membawaku pergi. Pemandangan yang luar biasa yang tidak pernah dilihat oleh Kak Claryssa dan teman- temannya. “Adit!” panggil Kak Claryssa. Adit tak menghiraukannya. Dia tetap dan membawaku pergi. Saat di depan kelas yang bertuliskan Laboratorium Kimia, dia memberhentikanku. Aku pun melepaskan pegangannya.

“Lain kali kalau diajak main itu lihat dulu orangnya, jangan langsung mau.” Ucapnya lalu meninggalkan aku di depan Laboratorium. “Hah? Apaan sih, orang mereka yang narik tangan gue, bukan gue yang mau kok. Ih nyebelin.” Omelku saat Adit sudah berlalu. Tiba-tiba Kak Raffa datang dari kejauhan.
“Lo gak apa-apa Ray?” Tanya Kak Raffa. Aku hanya mengangguk.
“Bener kan lo gak apa-apa? Ya udah sekarang kita pulang aja deh, yuk!” Aku mengangguk pertanda setuju dengan kakakku. Saat di perjalanan, aku hanya terdiam. Aku mengingat kejadian yang cukup membuatku kaget bukan main. Untuk pertama kalinya aku dilabrak tidak berani berbuat apa-apa, dan untuk pertama kalinya ada seorang cowok yang menyelamatkanku dari kejadian itu.

– Kak Raffa, Maaf..
Malam ini masih sama seperti malam biasanya. Aku berdiri bersandarkan pagar di balkon depan kamarku. Melihat bintang seperti rutinitasku. Entah kenapa, kejadian di sekolah tadi masih terlintas di pikiranku. Aku memejamkan mata, dinginnya malam sungguh ku rasakan. Dengan perlahan, angin itu membelai rambutku. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang memelukku dari belakang. Aku tersentak dan membuka mataku.

“Udah, jangan keasyikan dibelai sama angin. Entar masuk angin, besok gak bisa sekolah.” Ucap Kak Raffa.
Dia memelukku erat. Ku rasakan kasih sayang yang teramat darinya. Tanpa ku sadari, air mataku menetes.
“Maafin gue Kak. Gue gak sadar dengan apa yang gue lakuin tadi. Itu meluncur begitu saja, Kak. Gue…” ucapanku terputus saat Kak Raffa membalik tubuhku dan memelukku lagi.
“Udah, gak apa-apa kok. Gue ngerti.” Kata Kak Raffa berusaha menenangkanku.
“Maafin gue Kak. Maafin gue.” Aku terus meminta maaf sambil menangis sejadi-jadinya di pelukan hangat Kak Raffa.

– Secret Admirer
“Ray, cepetan. Telat nih entar.” Teriak kakakku yang sudah tak sabar karena ini hari terakhir MOS.
“Iya Kak, bentar. Sabar dikit ngapa sih.”
“Oh iya Ray, ambilin buku gue dong di meja tamu.”
“Iya Kak.” Setelah aku ambilkan buku catatan osisnya itu, kami pun segera berangkat. Saat di perjalanan..

“Inget?” Tanya Kak Raffa.
“Nanti di sekolah jangan ikut MOS, gue gak ngizinin!” jawabku sambil meniru ucapan Kak Raffa tadi pagi.
“Hahaha.. pinter adek gue.” Katanya sambil mengelus kepalaku. Tak butuh waktu lama, kami tiba di SMAN Nusa Jaya Bandung. Saat sudah di parkiran, aku segera turun dari mobil. Namun sewaktu aku berbalik, ada seseorang yang datang menghampiriku. Siapa lagi kalau bukan Adit.

“Minggir, gue mau lewat.” Ucapku malas sambil beranjak pergi. Namun langkahku terhenti, dia memegang tanganku.
“Apa?” Tanyaku sinis. Tanpa menjawab dia menarik tanganku dan membawaku pergi. Semua yang melihat terbelalak heran. Saat tiba di Laboratorium Kimia, Adit melepas tanganku.
“Lo satu-satunya cewek yang pernah singgah di kehidupan gue.” Ucapnya yang cukup membuatku sedikit tertegun. “Jadi, tetaplah seperti itu.” Selesai mengucapkan kata-kata yang asing ku dengar, dia pergi dan meninggalkanku di depan Laboratorim Kimia. Sejak saat itu aku putuskan untuk tetap menjadi secret admirer Nathan Aditya. Saat dia berlalu, aku pun kembali ke kelasku. Saat tiba di kelas, semua mata menatapku aneh. Termasuk Fany.

“Lo kenapa?” Tanya Fany.
“Gue? Lo tuh yang kenapa? lihat gue kayak lihat setan.” Jawabku sinis.
“Lo ada apa sama Adit?”
“Oh jadi gara-gara Adit? Aduh, gak ada apa-apa.”
“Serius lo?”
“Sumpah.”
“Terus kenapa kemaren dia nolongin lo dan kenapa tadi dia pegang tangan lo?”
“Lo tuh lama-lama kayak tamu ya. Nanya mulu.”
“Whatever.”

Hari ini hari terakhir MOS. Berhubung aku udah janji sama Kak Raffa, jadi aku gak akan ikut Masa Orientasi Siswa untuk hari ini. Alhasil? Aku sendirian. Gak tahu mau ngapain. Aku hanya diperbolehkan duduk di kursi depan lapangan. Ya, tempat ini adalah tempat yang biasa dikunjungi Adit. Kalau mau nyari Adit gampang banget. Tinggal pergi aja ke sini. Kursi di depan lapangan, yang lebih tepatnya kursi di taman depan lapangan. Walaupun di sini selalu tersedia kursi, Adit gak pernah duduk. Dia selalu berdiri dengan kaki yang satunya terlipat di dinding. Hampir setiap akitivitasnya Adit selalu di sini. Entah apa istimewanya tempat ini. Tapi aku jadi makin penasaran dengan Adit.

Aku memang lagi duduk di taman, bukannya menikmati taman yang sejuk, atau bunga yang wangi, atau indahnya bunga yang sedang mekar, namun mataku tetap tertuju pada satu pria, Nathan Aditya. Aku selalu memperhatikannya, mataku tak pernah lepas sedikit pun darinya. Tepat pukul 13.00, Masa Orientasi Siswa dinyatakan selesai. Aku pun ke parkiran sambil menunggu Kak Raffa selesai dengan tugas osisnya. Tak lupa mataku berkeliling mencari Adit. Namun kali ini Adit tidak ada di tempat biasanya.

Khawatir, entah pikiran apa yang sudah memasuki otakku, aku ingin mencari Adit, memastikan bahwa dia baik-baik saja. Dengan segera aku melangkahkan kakiku. Entah ke mana aku pun tak tahu. Adit, lo di mana? Saat tiba di gedung belakang sekolah, aku melihat anak kelas 3 sedang mengerumuni seorang pria. Oh Tuhan, itu Adit. Salah satu dari mereka sangat aku kenali yang tak lain kakakku sendiri, Kak Raffa. Mau ngapain sih mereka? Tanyaku dalam hati. Tiba-tiba satu pukulan melayang di pipi kiri Adit.

“Aahh!!” Adit meringis kesakitan.
“Aduh, gue harus ngapain nih?” “Ahaa.” Aku tersenyum dan menemukan sebuah ide cemerlang.
“Tolong tolong Pak. Tolong Pak ada yang berantem di gedung belakang sekolah, Pak tolong!” aku menjerit berusaha agar Kak Raffa dan teman-temannya tidak mengeroyok Adit.
Mereka pun lari ketakutan. “Awas lo. Kali ini lo boleh selamat. Tapi tidak lain kali.” Ucap Kak Raffa.

Aku masih mengintip dari balik tembok. Saat aku melihat Adit sedang kesakitan, aku ingin sekali membantunya untuk berdiri. Namun, aku takut berurusan dengannya lagi. Takut nanti dia akan lebih parah lagi. Saat aku sedang mengintipnya, mata Adit memergokiku. Dengan cepat aku berlari menuju parkiran agar tidak ketahuan oleh kakakku.
“Ke mana aja lo?” tanya Kak Raffa.
“Kamar mandi. Habis lo lama sih Kak.”
“Oh, buruan naik.”

Malam ini aku ingin sedikit bermanja sama mama. Ku tinggalkan rutinitasku melihat bintang. Mumpung papa sedang tidak ke luar kota, jadi aku bisa tidur bareng mama. Aku tidur di pangkuan mama sambil menonton televisi mama mengelus rambutku manja.

“Ma, apa semua orang yang kelihatannya baik itu baik Ma?” Tanyaku.
“Tidak juga, sayang. Ada orang yang kelihatannya baik, tapi terkadang ada maunya.” Jawab mama.
“Terus, apa semua orang yang kelihatannya jahat itu jahat Ma?” Tanyaku lagi.
“Belum tentu juga sayang. Mana tahu ada maksud baik di balik sikap jahatnya. Emangnya anak mama ini kenapa sih? Kok nanya gitu? Tumben.”
“Gak apa-apa Ma. Cuma berusaha untuk mengerti hidup.”
“Aduh, udah dewasa ternyata anak Mama.” Begitulah hidup. Ada pahit ada manis. Ada asin ada asam. Ada jalan yang lurus namun ada juga jurang yang curam.

– Orang Baru, kehidupan baru
Pagi ini, matahari menyambutku dengan baik. Burung bernyanyi seakan senang melihatku tak terlambat bangun hari ini. Entah mengapa tidak seperti biasanya. Aku hanya ingin mengubah pola hidupku. Sayang Kak Raffa sama mama kalau setiap pagi harus paduan suara dulu untuk membangunkanku. Sudah lama aku tak duduk di meja makan sejak papa pergi terlalu pagi, membuat aku malas untuk makan bersama keluarga yang tak lengkap siapa kepalanya. Tapi tidak pagi ini, papa berusaha untuk sedikit terlambat ke kantor hanya untuk bisa makan bersamaku di meja makan ini. Kami mengambil posisi masing-masing untuk menyantap roti selai blueberry kesukaan keluarga ini. Tawa canda ria menghiasi rumah pagi ini. Sungguh, keluarga yang sangat diimpikan oleh seluruh anak di bumi ini.

Selesai sarapan, aku, Kak Raffa, dan papa berangkat bareng. Namun tetap saja harus beda mobil. Kalau tidak mau pulang pakai apa nanti. Sampainya di sekolah, aku langsung berjalan menuju ruang kelasku, kelas X MIA 1. Tak lama, bel pertanda masuk pun dibunyikan. Saat berlangsungnya pelajaran pertama, dua orang utusan osis masuk ke kelasku meminta izin kepada guru matematika kami untuk memberi sedikit pengumuman.

“Baiklah adik-adik semuanya. Kami dari tim marching band sekolah akan merekrut anggota baru untuk memasuki marching band sekolah ini. Alat yang tersedia di antaranya ada senar drum, queen tom, bas, marching bell, terompet, trombon, mailophon, chainis, dan yang terakhir colour gad, ada yang berminat?” jelas kakak itu. Dengan segera aku mengacungkan tangan, berniat masuk marching band untuk memegang alat terompet.

“Rayya Arthamevia.” Kata kakak itu sambil menuliskan namaku.
“Ray, kok kakak itu tahu sih nama lo?” bisik Fany.
“Mana gue tahu. Ngefans kali.”
“Hihihi.”
“Baiklah sekian dari kami, bagi yang sudah mendaftar nanti sore ngumpul di lapangan jam setengah 3. Jangan ada yang terlambat. Sekian. Terima kasih.” Kakak itu segera pergi dan pelajaran pun kembali dilangsungkan. Setelah beberapa jam berlalu, bel tanda istirahat pun berbunyi.

“Ray, kantin yuk!” ajak Fany.
“Lagi males nih Fan, lo duluan aja deh.” ucapku sambil berusaha untuk tidak mengikuti keinginan Fany. Karena aku mau ke loker, namun dia jangan sampai tau. Kalau Fany tahu, deh, bisa hancur lokerku. “Ah Rayya mah gak asyik.”
“Terserah lo deh.”
“Hati-hati ada Kak Claryssa ya Ray.”
“Apaan sih lo.”

Setelah Fany pergi aku pun menuju lokerku. Loker sekolahku itu letaknya dekat taman yang biasa dikunjungi Adit. Makanya aku sering ke sini, biar bisa lihat Adit. Saat aku membuka lokerku, aku menemukan secarik kertas bertuliskan: ‘Thank you for anything’ -Nathan Aditya

Oh Tuhan, aku sangat senang mendapat kertas ini. Kertas berwarna merah yang dilipat dua membentuk hati. Aku melihat sekeliling, saat mataku berhenti di satu titik mataku enggan untuk berpindah. Adit yang sedang membaca buku duduk di kursi taman dengan rambut yang berantakan memakai kaca mata dan kancing baju yang dibuka menambah pesonanya. Entah apa yang membuat hatiku memilihnya. Tersadar dari lamunan, aku mengambil buku-buku dan beranjak pergi tak lupa ku selipkan surat itu di bukuku. Aku berjalan merunduk. Takut kalau Adit memperhatikanku. Haha Ge-er banget ya? Sedikit. Saat aku berjalan tiba-tiba ada seseorang yang menabrakku yang membuat semua bukuku terjatuh.

“Aaauu..” teriakanku membuat Adit berpaling melihatku.
“Up sorry, sorry, gue gak sengaja. Lo gak apa-apa?” aku tak menghiraukan perkataannya. Aku hanya terfokus memungut bukuku yang terjatuh.
“Sini gue bantu.”
“Gak usah, gak apa-apa.”
“Em, gue Bara Reanaldi, lo?” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Gue Rayya Arthamevia.” Jawabku seraya membalas uluran tangannya.
“Gue anterin ke kelas?”
“Gak usah, makasih.” Ucapku sambil pergi meninggalkannya.
Cantik juga. Siapa sih tadi namanya? Rayya. Kata Bara dalam hati sambil tersenyum lalu pergi.

Tepat pukul 1 bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku merapikan bukuku dan segera menuju parkiran untuk memberitahu Kak Raffa bahwa hari ini aku gak bisa ikut pulang bersamanya karena harus latihan Marching Band. “Kak, gue pulangnya entar sore, mungkin sekitaran jam 5-an.”
“Mau ngapain lo? Jaga sekolah?”
“Ih bukan, mau latihan Marching Band.”
“Oh gitu, yaudah deh. Gue duluan ya.”
“Oke Kak.”

Seperti biasa aku melihat kenarah taman agar bisa melihat Adit. Kali ini Adit masih di sana. Ah, senangnya bisa lihat dia hari ini. Saat pukul 2 aku bergegas menuju lapangan untuk latihan marching. Tiba saatnya pembagian alat. Terompet, alat yang selama ini aku idam-idamkan bukanlah milikku. Alhasil aku memegang alat senar drum yang besar dan berat itu. Oh tidak!
“Duh, kenapa harus senar sih?” gerutuku.
“Senar itu seru tahu.” Kata seseorang yang berdiri tepat di hadapanku, Bara Reanaldi.
“Apanya yang seru, berat tahu.”
“Dari situlah lo belajar untuk kuat.”
“Em.”
“Mulai sekarang, gue yang jadi guru lo buat ngajarin lo main senar.”
“Eh?”
“Main senar itu gak perlu kasar, lembut aja juga udah keras suaranya.”
“Iya.”

Selama dua jam aku dan Bara latihan bareng. Cape bener latihan ini. Setelah melepas penat aku pun berganti pakaian dan menuju halte depan sekolah untuk menunggu angkot yang lewat. Dari kejauhan tampak seorang pria mengendarai motor ninja hijau miliknya dengan gaya yang hampir sama seperti Adit, itu dia Bara.
“Nunggu siapa? Kak Raffa?” tanya Bara.
“Enggak, nunggu angkot.” Jawabku singkat.
“Bareng gue aja yuk!”
“Em..”
“Udah, gak usah kebanyakan mikir. Naik buruan..”
Aku melihat sekeliling, tak ada satu pun angkot yang lewat. Akhirnya dengan terpaksa aku pulang bersama Bara. Beberapa menit kemudian, kami tiba di rumahku.

“Makasih Bar.”
“Sama-sama Ray.”
“Em, mau mampir dulu?”
“Gak deh Ray, lain kali aja. Udah hampir malam nih.”
“Oke, gue masuk dulu.”
“Em Ray…” panggil Bara.
“Iyaa.”
“Boleh minta nomor handphone lo?”
“Oke.” Aku menuliskan nomor handphone-ku di handphone Bara.
“Oke thank’s. Gue balik dulu ya.”
“Iyaa.”

– Situasi Sulit
Setahun sudah kujalani hidupku di SMAN Nusa Jaya Bandung. Kak Raffa sudah lulus dari masa jabatannya yang sekarang sudah masuk perguruan tinggi yang sedang memperjuangkan gelar sarjana. Yah, sekarang aku sudah kelas 2 SMA. Gak terasa bukan? Setahun sudah aku menjalani hubungan tanpa status bersama Bara. Bagaimana dengan Adit? Aku akan tetap selalu menjadi Secret Admirernya. Masih ku perhatikan saat-saat dia duduk di taman, berdiri menatap kelapangan di tembok, sering ke depan Laboratorium kimia, ya tempat di mana dulu dia sering membawaku, dan tak lupa aku selalu memberinya surat untuk mengetahui berbagai macam kegiatannya. Semua suratku memang tidak berbalas, karena aku tak pernah mencantumkan namaku di surat itu. Tapi aku yakin bahwa dia pasti tahu itu surat dariku, Secret Admirernya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Ella Yolanda
Facebook: Yolanda Nakatsuka
Ella Yolanda Nakatsuka. umur 17 tahun. SMAN Unggul Aceh Timur. Jalan Tgk Yahya dan Utama Perumahan Thariq Permai Blok A nomor 13, Paya Bujok Tunong, Langsa Baro, Langsa, Aceh.

Cerpen Waktu Di Balik Senja (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Beri Aku Serupiah Saja

Oleh:
Siang ini matahari terasa membakarku, bulir-bulir keringat terus saja meluncur di permukaan kulitku. Ah, aku mengeluhkan rahmat Tuhan lagi. Kupikir lebih baik mencari cara untuk mendinginkan tubuhku agar mulut

Sulit Mengungkapkan Rasa Ini

Oleh:
Sasha melamun di sepanjang perjalanan liburan sekolah. Ravi, seorang pria tampan dan tinggi yang benar benar dicintainya sejak awal pertemuan mereka sampai saat ini. Ravi dan sasha adalah seorang

The Power Of Love

Oleh:
“Krriiinnggg” bel berbunyi keras, membuat para siswa berteriak “yes” dalam hatinya. “Ta.. lu gak pulang?” “Bentar lagi.. lu duluan aja” Tania Dwi Maharani, itu namaku. Biasa dipanggil Tania. Aku

Gara Gara Sekotak Bekal

Oleh:
Sekarang aku sedang berada di Rooftop, tempat biasa aku memakan bekal yang kubawa. Tapi hari ini aku sedang sial, bekal makan siangku dirampas Troublemaker-troublemaker menyebalkan yang ada di sekolahku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *