Adzan Indah Mas Faiz

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 2 January 2016

Namaku Ika umurku baru 18 tahun, aku baru saja lulus Sekolah Menengah Atas. Kini aku melanjutkan belajarku menjadi santriawati di sebuah pondok pesantren kecil tua yang berlantaikan keramik berwarna kuning serta tembok-tembok yang warnanya agak pudar dan sedikit mengelupas. Ini adalah pengalaman perdanaku yang baru ingin aku awali. Di sini aku belajar hidup sederhana bersama santri yang lain. Keluh kesah sering menghinggapi hati dan hariku, mulai dari makanan yang serba seadanya, tempat tidur beralaskan tikar dan batal keras yang membuat tidur tidak nyaman. Namun di sinilah aku dapat belajar menimba ilmu dan melatih diri menjadi pribadi yang lebih dewasa dan mandiri.

“Dug.. Dug.. Dug..”

Terdengar suara beduk telah dipukul, pertanda adzan akan berkumandang. Inilah yang selalu aku tunggu-tunggu yaitu mendengar suara adzan. “Allahuakbar.. Allahuakbar..” gema takbir adzan maghrib berkumandang, begitu jelas, lembut dan indah didengar. Sesekali ku tutup mataku untuk sekedar menikmati betapa indahnya suara adzan yang diberikan oleh Allah kepada hamba sahayanya. Itu adalah suara adzan guru ngajiku di pesantren, Mas Faiz namanya.

Sebelumnya ia juga seorang santriawan yang mempunyai tujuan yang sama denganku yaitu “Tholibul Ilmi” ia pintar baik dan penurut, sebab itulah Pak Kiyai yang sering kami panggil dengan sebutan “Abbah” memberikannya kepercayaan untuk mengajar kitab kuning pada santri-santri yang baru dan pemula sepertiku. Aku dan kawan-kawan santri lain terbiasa memanggilnya dengan sebutan yang bermacam-macam, kadang pak, mas, atau bahkan sebutan WA, yang menurut orang jawa itu adalah sebutan untuk orang yang sudah sangat tua.

Namun jangan salah. Mas Faiz bukanlah orang yang sudah tua atau lansia seperti kakek-kakek. Justru umurnya baru 23 tahun selisih 5 tahun denganku, mungkin panggilan tersebut untuk menghormati beliau sebagai guru ngaji kami. Namun aku lebih cenderung memanggilnya mas. Setiap kali Mas Faiz mengumandangkan adzannya rasanya aku ingin selalu memejamkan mataku sekedar untuk menikmati suara fasihnya.

Jujur saja suara adzan Mas Faiz berbeda dengan yang lain. Entah apa yang membuatku begitu mengagumi suaranya, yang jelas siapa pun orangnya jika mendengarkan suara adzan Mas Faiz akan terkagum-kagum. Sebenarnya bukan hanya suaranya saja yang aku kagumi dari sosok Mas Faiz akan tetapi pribadinya yang santun, arif, baik, dan saleh yang ia miliki.

“dooorr!!” dorongan dan hentakan keras dari belakang membuatku kaget seketika membuka mataku yang sedari tadi terpejam dan menyadarkanku dari lamunan tentang Mas Faiz.
“Haduh… Vani kamu bikin kaget aja!” bentakku agak kesal.
“hehe maaf deh ka, abis dengerin adzan segitunya” Ledek Vani yang seolah tahu kebiasaanku mendengarkan adzan.
“suaranya adem van, daleeemm banget hmm..” jawabku sambil menutup mata sekejap.
“haduh.. Haduh. Kamu ini” dicubitnya pipiku oleh tangan kanan Vani.
“aduuh sakit tahu!”
“hehe maaf ya, ya udah ayo kita salat jamaah,” ajak Vani menggeret tanganku menuju mesjid.
Belum sampai di depan mesjid ku hentikan langakahku secara mendadak.

“Tunggu, tunggu…” langakh Vani pun ikut terhenti.
“Ada ap?” tanya Vani dengan rasa penasaran.
“itu itu!” jari telunjukku mengarah pada sosok laki-laki berbaju rapi lengkap dengan sarung dan peci yang ia kenakan. Ia berdiri tepat di depan mesjid. Ia adalah Mas Faiz laki-laki saleh yang aku kagumi, tampaknya ia sedang menunggu seseorang, namun entah siapa yang ia tunggui.

“oh Mas Faiz. Pasti kamu gak pede ya?” ucap Vani sembari menunjuk jari telunjuknya tepat di wajahku.
“bukannya gak pede, tapi aku malu” lalu ku singakirkan jari telunjukknya dari hadapan wajahku yang mengganggu.
“ah sama aja, itu namanya gaakk pe-de” Vani terus saja meledekku, ia memang teman yang senang meledekku dan menjahiliku.
“ah kamu ini, jangan meledekku, sudah kamu duluan aja, nanti aku menyusul” ku dorong tubuh Vani dari belakang ke depan agar ia mau beranjak dari hadapanku dan berangkat duluan ke mesjid. “ya udah nanti nyusul yah ka, awas kalau gak nyusul!”
“iya iya, nanti aku nyusul.. sana duluan” Vani pun beranjak dari hadapanku dan pergi ke mesjid lebih dulu.

Entah kenapa setiap kali aku berpapasan atau melihat Mas Faiz aku merasa canggung dan grogi, mungkin itu perasaan yang wajar dari pengagum rahasia. Ku lihat Mas Faiz masih di depan mesjid menunggu seseorang. Sementara aku hanya mondar-mandir tidak jelas dari kejauhan, hendak masuk ke dalam namun terhalang oleh perasaan malu. Akhirnya ku tunggu Mas Faiz masuk ke dalam mesjid, namun beberapa menit berlalu Mas Faiz tak kunjung masuk ke dalam mesjid.

Akhirnya Abah datang, ternyata yang Mas Faiz tunggu adalah Abah Kiyai. Sampai waktu iqomah dikumandangkan ku beranikan langakahku menuju mesjid. Perasaan gugup, dan grogi mengiringi perasaanku. Dag-dig-dug jantungku terasa mau copot. Sesampainya di depan mesjid, Mas Faiz memberikan senyumnya kepadaku. Hal itu membuatku tambah gugup. Ku coba menenangkan perasaanku, agar perasaan gugupku tidak terlihat. Kemudian ku balas senyumnya dan bergegas masuk ke dalam mesjid.

Cerpen Karangan: Nurul Ikhfa
Facebook: http://dhinie.princessmoet[-at-]facebook.com

Cerpen Adzan Indah Mas Faiz merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tulang Rusukku Seorang Bidadari

Oleh:
Namaku Ahmad Muhammad. Kuinjakkan kakiku di kota ini untuk pertama kalinya. Cita-cita dan orangtua itulah alasanku merantau meninggalkan kampung halaman. Aku berjalan memasuki kosku, duduk sebentar kemudian bangkit lagi

Cerita Perjalanan Cinta (Part 2)

Oleh:
Hari ini cuaca terasa begitu panas, lebih panas dari hari-hari sebelumnya. Mungkin aku harus menghentikan perjalananku dan berhenti sebentar untuk berisitirahat. Tepat di halaman masjid aku memakirkan motorku, lalu

Winter In Khon Kaen

Oleh:
Aku menarik keluar kembali beberapa baju dari dalam lemari. Sudah 2 jam aku sibuk dengan baju dan beberapa lembar hijab beserta ciput lengkap dengan pelengkap lainnya. Entah kenapa, keberangkatan

Ramadhan Cinta Untuk Nya

Oleh:
“Citra, sini!!!”, teriak Risa Di kejauhan gue pun mengangguk dan berlari ke arahnya. Kenalin, temen gue yang satu ini. Dia adalah saah satu sahabat gue di rumah, kita udah

Ana Uhibbuki Fillah

Oleh:
Mungkin pertama kalinya seumur aku menjalani hidup, baru kulihat sosok seorang pria yang ku akui dia memang mempesona. Setiap kali aku melihatnya, aku merasa dia sosok yang sempurna di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *