Akad

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 14 December 2019

Malam ini begitu syahdu. Bulan menggantikan matahari untuk menyinari bumi. Ditambah indahnya bintang yang menghiasi langit. Sungguh, Ciptaanmu begitu Indah.

Aku tersadar dari lamunanku ketika ponselku berdering, dan pada layar ponselku tertera nama Ikhsan.
“Halo, assallamuallaikum?”
“Waalaikumsalam. Husna?” ucapnya
“Ya, ikhwan? Ada apa?” balasku
“Aku sayang sama kamu. Aku suka sama kamu sejak dulu. Apa kamu mau nerima aku?”
“Hehehe, aduh aduh ikhsan kamu apa-apaan sih”
“Aku serius husna”
“Kamu serius?” tanyaku
“Ya, sangat serius” jawabnya
“Jika kamu serius, temui ayahku”jawabku singkat
“Husna, aku serius sama kamu tapi aku belum berani temuin ayah kamu. Kamu tau sendiri kita masih sekolah, dan apa salahnya kalo kita pacaran sekedar untuk penyemangat” jelasnya
“Ikhsan, kalo kamu serius, temui ayahku. Entah hari ini, esok, lusa, bahkan beberapa tahun yang akan datang. Cukup kedua orangtuamu lah yang menjadi penyemangatmu. Jika hari ini belum saatnya, kita cukup saling menjaga hati saja. Aku yakin jika kita memang jodoh kita akan dipersatukan dalam sebuah akad. Kelak, tanganmu dan tangan ayahku berjabat tangan untuk menyatukan kita. Yakinlah!” jelasku meyakinkan pada Ikhsan
“Baik, jika ini maumu. Aku akan memperbaiki Akhlakku untuk kemudian menemui ayahmu dan benar-benar menjadi Imam yang baik untukmu. Tapi, bolehkah aku menemuimu meski beberapa detik?” tanyanya padaku
“Maaf, Jangan temui aku sebelum kamu menemui Ayahku. Dan, pertemuan yang indah adalah pertemuan di hadapan Kedua orangtua kita” jelasku
“Baiklah. Aku akan berjuang untukmu.”
“Terimakasih. Sudah dulu ya? Assallamuallaikum?”
“Waalaikumsalam”

Ikhsan. Lelaki baik hati yang pernah kukenal. Dulu, kita pernah saling memendam rasa namun tak ada sedikitpun nyali untuk mengungkapkan. Hingga kita hanya mengagumi dalam diam. Aku yakin, jika memang aku adalah bagian tulang rusuknya, kita akan bersatu dalam ikatan. Cukup saat ini kita menjaga hati satu sama lain dan saling menitip rindu pada doa.

6 tahun kemudian
Bagiku hari ini adalah hari yang istimewa. Aku menatap cermin kamarku, kutatap diriku berkali-kali. Dalam hati, aku sangat bersyukur. Akhirnya perjuanganku tidak sia-sia, aku mewujudkan mimpiku semasa sekolah dulu. Aku memakai pakaian toga, dengan riasan wajah sederhana. Sungguh, Ini adalah Bukti dari setiap Do’a yang Ayah dan Ibu panjatkan untuk gadis semata wayanhnya ini. Entah harus bagaimana aku membalasnya pada mereka.

Tokkk.. Tokkk.. Tokkk..
Suara ketukan pintu kamar menyadarkan aku yang sedari tadi tersenyum berbinar-binar menatap diri pada cermin

“Iya, masuk” ujarku
“Subhanallah nak. Kamu cantik sekali. Putri kecil Ayah Ibu sekarang jadi wanita Dewasa yang begitu cantik. Ibu bangga nak sama kamu” ucap ibu seraya memelukku penuh haru
“Ibu… Aku sukses karna Do’a Ayah dan Ibu selalu mengiringi setiap langkahku” jawabku
“Masyaallah nak (ucap ibu seraya mencium keningku) Oiya nak, ini ada kiriman Boneka Wisuda sama amplop”
“Dari siapa bu?” tanyaku
“Ibu kurang tau nak. Sebentar ya, ibu keluar dulu mau siap-siap ke acara Wisuda kamu” balasnya
“Iya bu, makasih ya bu”
Ibu mengangguk halus, tersenyum dan pergi meninggalkan kamarku. Aku masih berpikir, siapa yang mengirimiku boneka dan amplop ini. Setelah kubuka ternyata boneka dan surat tersebut dikirim oleh Ikhsan

Isi surat:
Assallamuallaikum Ukhty! Selamat ya ukhty sekarang mimpi ukhty tercapai. Aku ikut bahagia dan aku bangga sama ukhty. Ukhty, kali ini aku siap memenuhi permintaan ukhty 6 tahun lalu, yakni untuk menemui Ayah ukhty. Esok hari aku dan keluargaku akan menemui keluarga ukhty. Semoga Allah meridhoi rencana baik ini ya ukhty. Dan sekali lagi selamat untuk ukhty. Wassallamuallaikum

Begitu haru ketika aku membaca isi surat tersebut. Bagiku ini adalah kado terindah dihari istimewa ini. Aku tak berharap lebih untuk kedepannya, semua kuserahkan pada Allah dan aku hanya menggantungkan harapan pada-Nya.

Keesokan harinya
Ba’da Isya, kudengar suara mobil berhenti tepat di depan rumahku. Aku tak tahu, mengapa badanku menjadi gemetar. Ini pertama kalinya aku dipertemukan dengan laki-laki yang selalu kutitip dalam doa. Setelah lulus sekolah tepatnya 6 tahun lalu, aku memang tak pernah meluangkan sedetik oun waktu untuk dapat bertemu, bahkan untuk komunikasi pun hilang selama 6tahun tersebut, kita sama-sama fokus pada impian kita, dan hanya bisa berdo’a ketika rindu datang.

“Assallamuallaikum,” ucapan salam yang membuat hatiku berdebar, badanku pun bergetar
“Waalaikumsalam,” ucap Ayah dan Ibu seraya mempersilahkan keluarga Ikhsan untuk duduk

Awalnya semua terasa tenang, obrolan kami hanya obrolan biasa bahkan diselingi candaan. namun hingga pada akhirnya Ayah Ikhsan membuka obrolan serius.
“Langsung saja ya pak, jadi begini. Tujuan kami sekeluarga datang menemui Bapak, Ibu dan Husna. Tidak lain dan tidak bukan untuk rencana yang baik untuk keluarga kita” jelas Ayah Ikhsan yang kemudian disambung oleh sepatah dua patah kata dari Ikhsan
“Saya berniat untuk menikahi putri Bapak, Husna. Saya sadar saya bukanlah lelaki yang begitu sempurna tanpa kesalahan apapun. Dan hati saya mantap untuk segera menghalalkan putri Bapak agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Saya yakin Husna adalah pilihan yang tepat untuk saya. Saya berharap Bapak dapat mengizinkan saya untuk menjadi Imam dari putri bapak kelak” Jelas Ikhsan meyakinkan Ayah

Sejenak suasana hening
“Allhamdulillah. Ini adalah sosok lelaki yang saya harapkan untuk putri saya. Lelaki yang berani menghadap orangtua perempuan yang ia cintai. Bissmillahirohmanirrohim saya merestui kalian” jelas Ayah
“Allhamdulillah” ucapan syukur kami
“Terimakasih pak, Bapak sudah merestui saya dan mengizinkan saya. InsyaAllah saya akan menjaga putri bapak sebaik-baiknya” ujar Ikhsan
“Saya ucapkan terimakasih pak, karna bapak telah mempercayai anak saya. Untuk waktu bagaimana pak?” tanya Ayah Ikhsan
“Secepatnya. Lebih cepat lebih baik toh pak? Saya yakin Allah akan memperlancar rencana yang baik ini” jawab Ayah
“Bagaimana jika minggu depan pak, bu?” tanya Ayah Ikhsan kembali
“Jika kedua anak kita siap. Mengapa tidak? Gimana? Husna, Ikhsan siap toh?” Jawab Ayah singkat
Aku dan Ikhsan hanya membalas senyuman dan berkata “InsyaAllah siap”
“Allhamdulillah. Semoga Allah meridhoi rencana baik ini” ujar Ayah ikhsan
“Aaamiiin….” sontak kami pun penuh harap

Seminggu kemudian di hari pernikahan
Harus bagaimana aku mengungkapkan rasa syukur ini. Terimakasih ya Allah ya Rabb engkau telah mempermudah segala urusanku dan kedua orangtuaku. Hingga hari ini kebahagiaan masih mengiringi hatiku.

“Allhamdulillah ya Husna, penantian aku ga sia-sia, memang kadang pentantian itu melelahkan. Tapi, aku terus berusaha untuk bersabar hingga akhirnya life goal. Bertahun-tahun tak saling komunikasi, tak saling sapa dan kita dipertemukan pada sebuah akad” jelas Ikhsan mengungkapkan kebahagiaannya padaku, sembari duduk di kursi pelaminan menatap orang-orang yang selalu mendoakan yang terbaik untuk Aku dan Ikhsan
“Allhamdulillah aku pun bahagia. Setelah aku mendapat gelar yang aku impikan. Aku mendapat bonus dari Allah yakni sosok laki-laki yang telah sah menjadi Imamku” Jawabku

Kita saling menatap penuh haru. Pasalnya sejak malam itu, kita tak saling kabar. Dan terpisah jarak untuk mengejar mimpi dan kita kembali dipertemukan pada sebuah Akad. Aku bangga Imamku adalah orang yang tepat janji, dan selalu mengusahakan yang terbaik. Ia berhasil membuktikan pada Ayah hingga akhirnya Ayah merestui kita. Semoga Allah meridhoi Aku dan Ikhsan bersatu hingga lupa caranya berpisah. Syukron ya Allah ya Rabb

End

Cerpen Karangan: Pipit Pujianti
Blog / Facebook: Pipit Pujianti
Saya memiliki hoby menulis dan membaca. Dan saya bercita-cita untuk menjadi seorang Penulis. Semoga tulisan saya dapat diterima dengan baik untuk para pembaca. 🙂

Cerpen Akad merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Cinta Menghampiri

Oleh:
Ketika cinta menghampiri, dunia terasa lebih indah. Dan hati, merasa terisi. Namun, jika cinta hanya membawa luka, sebaiknya jangan pernah datang dan jangan pernah ingin tersentuh cinta. Cinta yang

Maaf Sayang ini Belum Saatnya

Oleh:
“indah”… Hanya itu yang bisa ku lafazkan untuk menggambarkan suasana pagi ini.. Burung-burung berkicau–kicau sahut menyahut seolah-olah ingin memperdengarkan pada ku betapa indahnya suara mereka… Angin lembut membelai tubuh

Harapan Sebuah Rasa

Oleh:
Aku tengah berjalan bersama teman-temanku menuju teras toko di depan gerbang sekolah kami. “Nay, aku duluan ya” pamit april yang sudah dijemput oleh ibunya. Aku berdiri, di atasku, sudah

Apa itu Cinta?

Oleh:
Bayang-bayang itu selalu menggangguku, menyelimuti aku dengan segala keresahananku. Aku masih ingat kejadian itu, di mana aku mengutarakan perasaan yang timbul sejak Aku tiba di pondok beberapa tahun lalu.

Halalan Sukabumi

Oleh:
Malam ini bis kembali membawaku ke Sukabumi. Ku nikmati setiap jalan yang dilalui. Jalan ini adalah jalan kenangan. Ketika aku tenggelam dalam cinta seseorang yang kini tak di sampingku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Akad”

  1. Dinbel says:

    sukses bikin baper saat membaca nya. walau singkst tapi didalam ceritanya tersimpan makna yang dalam

  2. Fildzah Ghaisani says:

    Aku suka,bener bener bikin baper ya

    Intinya yang jauh hanya pijakan bukan perasaan,yang berjarak hanyalah raga bukan rasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *